
"Jangan seperti itu Mas, kau tidak boleh memaksakan kehendak, terlebih lagi soal perasaan. Percuma kita menikah jika rasa cinta sudah tak ada. Lebih baik kau cari gadis lain yang lebih baik dan lebih cantik daripada aku." ucap Melati pelan.
"Aku hanya ingin kau yang menjadi istriku Mel, bukan orang lain. Sejak awal kita memang sudah bersama, lalu mengapa kau melupakan aku hanya demi Iyan Mel? Kau tidak tahu bagaimana Iyan sesungguhnya, kau baru mengenalnya Mel!" Arka membujuk dan meyakinkan Melati.
"Mas Arka, dia memang tidak lebih baik darimu. Dia juga tidak sekaya dirimu, dia hanya orang yang sederhana, mencintai aku dengan segala kekuranganku. Aku sadar diri Mas Arka, aku tidak sempurna dan penuh dengan dosa, dan itu kulakukan saat bersamamu. Jika sekarang Mas Iyan menerimaku, lalu mengapa aku tidak menerimanya sepenuh hatiku. Aku merasa tidak lebih dari sebongkah sampah yang baru di buang, meskipun masih bagus tapi lama-lama akan busuk dan bau. Beruntung dia mau menampungku di tempat yang lebih baik, di hatinya dan di sampingnya. Aku mohon padamu Mas, relakan masa lalu kita, bukan tak pernah aku memberi kesempatan padamu, bahkan lebih dari tiga tahun aku menunggu lamaran mu, aku tak banyak meminta, tak banyak berharap dengan hartamu. Tapi lebih kepada kau benar-benar mencintaiku dan memiliki aku. Nyatanya itu tak pernah terjadi, kau anggap aku tak punya perasaan, hanya menjadi pemuas bagimu setiap kau datang, lalu kau pulang dan aku bersedih karena dosa kita. Sekarang aku tidak mau lagi mengingat itu."
"Aku tidak akan menyerah Mel, Iyan harus tahu siapa aku." Arka masih berdiri berhadapan dengan Melati.
Namun Adi datang membuat pembicaraan mereka berhenti, membawa gorengan dan air mineral.
"Arka!" Adi menyapa pemuda tampan dengan wajah memelas itu.
Arka tak menjawab, seperti biasa dia hanya melirik dengan mata tak bersahabat, wajahnya menekuk minta di bujuk. Dia tidak akan pernah berubah.
"Aku juga lapar Paman." Melati meraih kantong plastik dari tangan Adi, membawanya masuk namun tangannya di tahan Arka.
"Mas masih ingin mengobrol Mel, kita makan di luar ya? kan kamu lapar?" bujuk Arka dengan sedikit memohon.
"Maaf Mas Arka, Ibu sedang istirahat, rumah berantakan dan tidak ada makanan di dalam. Melati harus masak buat Ibu." Melati mencoba tersenyum agar Arka tidak tersinggung.
"Kamu saja yang masuk, duduk dulu." Adi mengajak masuk, meskipun sikapnya menjengkelkan tapi sedikit menghargai agar pria penganut ilmu hitam itu tidak mengamuk.
Arka menurut, tadinya menatap tak suka setelah mendapat ajakan masuk dari Adi, bibir tebalnya sedikit tersenyum.
"Melati masak dulu ya." Melati berlalu ke belakang dengan sepotong kue dan air mineral yang di beli Adi.
Arka seperti tidak terima di tinggal Melati, tapi terpaksa diam karena gadis itu sudah berlalu, hanya terdengar dentingan piring dan suara sedang berkemas di dapur Melati.
Sedangkan Adi terus saja menikmati kue dan gorengan yang dibelinya, ia tak peduli dengan kegalauan Arka.
__ADS_1
Sementara di desa lain, Iyan baru saja sampai di rumah Aryo. Dia langsung mengetuk pintu rumah berwarna hijau itu.
"Assalamualaikum Paman." Iyan memanggil Aryo.
Tak lama kemudian terdengar jawaban dari dalam. "Wa'alaikum salam." suara Aryo menyahut.
Iyan tersenyum, sedikit membungkuk sopan.
"Masuk Yan." ucap Aryo melihat keluar namun tak menemukan Melati.
"Maaf Paman, Melati tidak pulang ke sini, Ibu sakit, lumayan parah sepertinya." jelas Iyan mengerti apa yang sedang di pikir Aryo.
"Mbak Nur? Demam?" tanya Aryo lagi, dia jadi khawatir.
"Bukan Paman, tapi sepertinya kesedihannya membuat ia sakit. Ibu kesulitan tidur dan tidak makan."
"Paman, aku ingin bicara serius, ini menyangkut hubunganku dengan Melati." ucap Iyan
"Katakan saja." Aryo membenarkan posisi duduknya.
"Aku ingin menikahi Melati secepatnya Paman, aku tidak bisa menjaga Melati dengan keadaan seperti ini. Aku takut Melati juga menjadi korban ke egoisan Arka, seperti Ibu. Arka tidak akan menyerah, bahkan semakin parah saat ini, dia sudah menguasai ilmu hitam yang lebih mengerikan. Dan itu dia pelajari hanya demi merebut Melati kembali." Iyan menjelaskan apa yang dia tahu.
"Tapi kau juga dalam bahaya jika memaksakan kehendakmu. Apa kau sudah memikirkan semuanya dengan matang? Ini bukan perihal Melati saja, tapi akan banyak yang akan menyulitkan mu nanti, Arka tidak sendiri Yan." Aryo terlihat khawatir, dia sendiri tidak yakin jika keponakannya akan baik-baik saja jika dibiarkan bersama Arka, tapi tidak bisa egois mengorbankan Iyan.
"Aku siap menghadapi Arka Paman, aku sudah lama ingin menikahi Melati, hanya terhalang keadaan yang semakin rumit ini. Jika Melati sudah menjadi istriku, aku bisa membawanya menjauh dari Arka, mungkin ke rumahku atau kemana saja, beserta Ibu." Iyan berkata sangat yakin.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, ku rasa memang sebaiknya kalian menikah. Agar keponakanku aman dan tidak sendirian menghadapi semua ini." Aryo setuju.
"Aku ingin pernikahan kami di rahasiakan saja, aku akan membawa Melati ke sini untuk melakukan akad, karena jika di rumah, Arka akan mengamuk."
__ADS_1
"Kapan kau akan menikahi keponakan ku?" tanya Aryo dengan suara tegasnya.
"Lusa, aku akan datang bersama Melati. Paman siapkan penghulu dan saksi saja, aku sudah membawa uang untuk mengurus keperluan pernikahan kami. Walaupun tidak banyak Paman, aku harap bisa membantu, dan tidak mengurangi restumu padaku." Iyan mengeluarkan amplop berisi uang, tampak lumayan tebal mungkin sekitar tiga jutaan.
"Uang ini kau berikan saja pada ibu mertuamu nanti, soal kebutuhan di sini biar aku yang mengurusnya. Kau siapkan saja kebutuhan kalian, karena paman tidak akan sempat mengurusnya." Aryo mendorong uang dari Iyan, mengembalikan pada pemuda yang sangat bersungguh-sungguh itu.
"Paman pegang saja. Tidak baik mengambil uang yang sudah di niatkan untuk biaya menikah malah diambil lagi." Iyan tersenyum lebar.
"Baiklah, biar aku yang memberikan kepada Mbak Nur." Aryo mengambilnya.
"Kalau begitu aku pamit pulang Paman, aku harus kembali ke rumah Melati, Adi masih ada di sana." ucap Iyan sangat sopan.
"Silahkan, dan hati-hati." Aryo selalu mengingatkannya.
"Terimakasih, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." jawab Aryo.
Iyan beranjak keluar, menghidupkan sepeda motornya dan segera pulang ke rumah Melati sesuai janji.
Tak berapa lama kemudian, beberapa puluh menit saja Iyan sudah tiba kembali di rumah Melati.
"Mas!" suara Melati memanggil dari belakang rumahnya, dia baru saja membakar sampah daun kering.
"Mengapa masih di luar, ini sudah mau Maghrib Mel." Iyan melepas helm dan Melati langsung memeluk lengannya.
"Baru selesai beres-beres Mas, aku juga sudah masak." Melati tersenyum manja, ia begitu bersemangat karena Iyan akan makan bersamanya.
"Ah, senangnya. Mas sudah lapar." Iyan hanya menolehnya dengan tatapan mesra, sedangkan Melati bergelayut manja.
__ADS_1