Main Dukun

Main Dukun
Arka


__ADS_3

"Makan sedikit ya?" Iyan membujuk Melati.


Beberapa hari terakhir nafsu makan Melati berkurang. Jangankan makan nasi bau nasi sedang mendidih saja dia langsung mual dan muntah, sungguh Iyan khawatir dengan keadaan istrinya.


"Aku ingin makan yang lain saja Mas." ucapnya lemas, hanya memandangi nasi dan lauk di atas meja.


"Makan di luar saja, Mau?" tanya Iyan mengusap pundak Melati seraya memeluknya.


Melati mengangguk, walau entah dia tak tahu akan makan apa nanti. Tapi mendengar tawaran keluar dan membeli sesuatu membuatnya bersemangat.


Siang itu Iyan membawa Melati berkeliling desa, kebetulan cuaca tidak sedang panas, mendung tapi tidak hujan. Membuat keduanya tak terburu-buru melajukan sepeda motornya.


"Mau makan apa Sayang?" tanya Iyan meraih tangan Melati, menggenggam dan memintanya memeluk semakin erat.


"Aku tidak tahu Mas." jawabnya menempelkan wajahnya di pundak Iyan.


Iyan membawanya menuju kedai di pinggir jalan, tempat makan yang enak dan bisa bersantai.


"Pilih apa saja yang kamu suka." Iyan menunjuk menu makanan yang tertulis di dinding kedai tersebut.


Melati menatapnya dari menu pertama hingga akhir.


"Ayam bakar pedas manis mau?" tanya Iyan lagi tak melepaskan pelukannya di pinggang Melati.


"Iya." jawab Melati tak punya pilihan, rasanya lebih senang ketika Iyan memilihkan makanan untuknya.


Mereka duduk berdekatan di meja sudut, namun lebih nyaman karena berdekatan dengan banyak tanaman di halaman kedai tersebut.


"Minumnya apa Mas?" tanya pemilik kedai tersebut.


Iyan melihat menu di atas meja, kemudian menoleh Melati.


"Mas minum apa?" tanya Melati dnegan suara halusnya.


"Jeruk. Melati mau?" tanya Iyan lagi.


Melati mengangguk, menyukai apa yang Iyan sukai.


Iyan tersenyum memandangi wajah pucat istrinya, cantiknya tidak berkurang, tapi sayangnya semakin bertambah. Iyan benar-benar bahagia sekali memiliki Melati, rasanya puncak kebahagiaan sedang berada di pihaknya. Tapi kekhawatiran terkadang menyerang, takut jika suatu waktu semuanya hilang.


Tak lama kemudian pesanan mereka sudah datang, lengkap bersama nasi hangatnya dan lalapan mentah yang menyegarkan.


"Ini enak Sayang." ungkap Iyan memancing Melati untuk mencicipinya lebih dulu.


"Mas belum coba." Melati enggan makan sebelum Iyan mencobanya.

__ADS_1


"Baiklah, Mas coba dulu." Iyan menuruti keinginan istrinya. Kemudian mengangguk-angguk mengacungkan jempolnya.


"Aaa'" Melati membuka mulutnya, meminta Iyan menyuapinya.


Dengan senang hati Iyan menyuapi Melati dengan tangannya.


"Benarkan yang Mas bilang?" tanya Iyan sambil menyuapi Melati.


Melati benar-benar menikmati makanan dari jari-jari Iyan, hatinya menghangat di setiap suaminya mengatakan sesuatu padanya, semakin menginginkan selalu dekat, Melati benar-benar merasa tak bisa hidup tanpa Iyan bersamanya.


"Habiskan." bujuk Iyan lagi, sambil terus memasukkan makanan ke mulut Melati.


"Sudah Mas." Melati menatap jus jeruk yang sengaja dijauhkan Iyan, agar Melati makan lebih banyak.


"Ya sudah." Iyan meletakkan piring lalu mengambil jus milik Melati.


Melati meraih dan meminumnya sendiri.


"Mas tidak makan?" tanya Melati melihat Iyan tak memesan apapun.


"Mas masih kenyang." jawabnya kemudian meminta beberapa potong ayam untuk di bawa pulang.


"Banyak sekali Mas?" tanya Melati mendengar pesanan Iyan.


"Biar nanti kalau kamu mau lagi tinggal di panaskan saja."


Iyan langsung menoleh siapa yang datang.


Iyan segera mengatur duduknya untuk menghalangi wajah Melati.


"Mas ini pesanannya." kebetulan sekali pemilik kedai sudah selesai mengemas pesanan. Iyan langsung meletakkan uang merah dua lembar di atas meja lalu segera mengajak Melati pulang.


"Kembaliannya Mas?" tanya pemilik kedai menatap uang dari Iyan.


"Buat bapak saja." jawab Iyan kembali menoleh pria yang baru datang, wajahnya terlihat lebih tampan, dan sungguh berkarisma.


Namun, yang sebenarnya yang di lihat Iyan bukan itu, melainkan ada makhluk lain yang sedang bersemayam di dalam diri Arka dan memanggil untuk melihat wajah Arka, berseru jika pria yang sedang di jaganya tampan dan sempura.


Arka masuk ke kedai tersebut dengan mata tak melepaskan Iyan dan Melati. Terutama Melati yang tampak menurut dengan Iyan dan selalu di peluk oleh suaminya itu.


Arka duduk di meja yang tak jauh dari keduanya namun sayang Iyan segera beranjak mengajak istrinya. Sepertinya dia tahu jika Arka sedang mengincar Melati dan ingin dirinya di lihat Melati.


Melati menoleh Arka yang baru datang.


Namun Iyan terus berusaha menghalangi dan mengalihkan perhatian Melati. "Mau beli apa lagi Sayang?" tanya Iyan sengaja agar Melati melihat dirinya saja.

__ADS_1


"Hem..?" Melati mendongak Iyan sesuai maunya, sambil terus merangkulnya keluar dari kedai tersebut.


Sementara Arka mengeratkan giginya, juga mengepalkan tinjunya, dada bidangnya sedang mendidih.


"Jalan-jalan ke rumah Ibu mau?" tanya Iyan lagi tak berhenti mengajaknya mengobrol hingga Iyan memakaikan helm di kepala istrinya.


"Mau Mas." jawabnya masih terdengar oleh Arka.


"Ya sudah, kita ke sana." Iyan meraih tangan Melati tak melepaskannya hingga sepeda motor mereka mulai melaju.


Arka juga keluar dari kedai tersebut dengan terburu-buru. Menghidupkan sepeda motornya dan ikut melaju.


Di tengah jalan Iyan dan Melati tetap berpelukan menikmati indahnya jalanan desa, terlebih lagi Melati sudah kenyang, itu membuat Iyan lebih tenang.


Namun kemudian Iyan melihat ada seseorang yang mengejar, dan itu adalah Arka.


Iyan menjadi khawatir lantaran Arka menatap tajam kepada mereka berdua. Tampak di spion motor Iyan jika Arka semakin mendekat.


Iyan langsung tancap gas dan masuk ke jalan yang lain, tangannya tak henti meminta Melati memeluknya, takut istri tercinta terjatuh.


Hari ini lolos dari kejaran Arka, tapi entah besok atau lusa, Iyan jadi lebih khawatir.


"Darimana Arka mendapatkan ilmu seperti itu?" Iyan bergumam sendiri.


Beberapa hari berikutnya, Iyan sedang pergi bekerja. Sedangkan Melati hanya di rumah saja bersama Ibu.


Hari-harinya habis hanya duduk santai di rumah, malas makan atau bahkan tidak makan sama sekali, ia hanya menonton Tv yang baru beberapa Minggu di belikan oleh suaminya.


Namun entah hati ini rasanya bosan sekali. Mendadak hidung mancung miliknya mencium aroma gorengan di warung depan rumah.


"Ibu." panggil Melati, namun tak terdengar suara ibunya menyahut.


Melati beranjak dari duduknya, masuk ke kamar mengambil uang lalu pergi ke warung depan.


Dengan rambut yang di kuncir longgar ia melangkah menuju warung gorengan Bu Tuti si biang gosip, nama yang sama seperti Bule yang di samping rumahnya tapi berbeda orang dan kebiasaannya.


"Gorengan Bu sepuluh saja." pesan Melati.


"Eh Melati, dengar-dengar kamu lagi ngidam ya?" tanya wanita bertubuh besar itu.


Melati hanya tersenyum menunggu gorengan hangat itu di kemas.


"Ini gorengannya." Bu Tuti menyerahkan kantong plastik kepada Melati.


Melati membuka dompetnya, namun sangat terkejut ketika sebuah tangan terulur di hadapannya membayar gorengan milik Melati.

__ADS_1


"Biar aku saja." ucapnya membuat Melati menoleh suara orang yang sangat di kenalnya.


"Mas Arka!"


__ADS_2