
"Ulah apa Mel?" Adi menautkan kedua alisnya.
"Mas Arka mengatakan jika Mas Iyan itu menggunakan pelet untuk mendapatkan Melati. Dan itu berhasil membuat ibu berpikir Paman." Melati mengadukan apa yang tadi pagi menjadi pembahasan antara Melati dan Ibunya.
"Ibumu percaya?" Adi tertawa menggeleng kepala, tak habis pikir dengan ibunya Melati.
"Itu dia Paman, Mas Arka belum menyerah juga. Melati takut nanti terjadi pertengkaran antara Mas Iyan dan Mas Arka. Melati tidak mau sampai seperti itu." jelas Melati sangat khawatir.
Adi tampak berpikir, sudah tentu Arka tak akan semudah itu mengalah, apalagi di lihat dari berapa lama mereka berpacaran, hampir setiap hari mereka bertemu, Arka tak pernah absen datang ke rumah Melati. Terselip rasa kasihan pada Arka, sebagai laki-laki Adi jelas tahu jika melepas kekasih hati untuk menikah dengan orang lain sangatlah sulit, bahkan tak Mungin di lakukan. Mestilah rasa cinta itu semuanya ingin memiliki, begitu pula Arka.
"Nanti Paman akan bicarakan pada ibumu. Soal Arka, paman tak bisa berbuat banyak Mel, dia itu cinta mati sama kamu, tentu dia tidak akan menyerah."
"Lalu Melati harus bagaimana Paman?" Melati semakin khawatir.
"Sabar Mel, kamu harus kuat dan sabar. Kalau Iyan sih Paman yakin, dia tidak akan mudah goyah hanya karena Arka masih mengejar kamu. Yang terpenting untuk Iyan kamu memilih dia." jelas Adi paham betul seperti apa sikap dan watak Iyan sahabatnya.
"Aku berharap juga begitu, aku takut Mas Iyan goyah dan meninggalkan Melati." ucapnya sendu.
"Sudah benar-benar cinta sama Iyan ya Mel?" Adi menggoda keponakannya.
Melati tersenyum dengan ucapan Adi, tanpa sadar saat ini ia lebih takut kehilangan Iyan dari pada Arka. Cinta itu tumbuh tak butuh waktu lama, bahkan hanya dalam hitungan hari rasa rindunya pindah ke lain hati.
Pukul 03:30 Iyan baru saja kembali dari perjalanan survei ke rumah warga, pria itu membuka helm dan langsung tersenyum mencari wajah Melati.
"Asem! Aku tak dilirik sama sekali." gerutu Adi padahal dia berada di meja berhadapan dengan pintu.
Iyan terkekeh geli, membiarkan sahabatnya menggerutu sendiri.
"Apakah sudah siap Sayang?" Iyan semakin memamerkan kemesraannya kepada Adi.
"Sebentar ya Mas Iyan." Melati memasukkan barang-barangnya ke tas kecil berwarna hitam miliknya.
"Ok, Mas Iyan selalu menunggu." tersenyum nakal, seraya duduk di hadapan Adi menyerahkan berkas yang sudah ditunggu.
__ADS_1
"Lengkap Yan?" tanya Adi melihat beberapa lembar kertas.
"Iya." jawab Iyan kembali menyimpan berkas miliknya. "Oh iya, ada tetangga yang mau melamar menggantikan aku." Iyan menyerahkan berkas yang hampir saja lupa diserahkan kepada Adi.
"Kamu benar-benar mau berangkat ke Kalimantan?" Adi menatap wajah sahabat itu dengan serius.
"Iya. Setelah menikah dengan Melati aku akan mengajaknya ke Kalimantan. Karena kakak tertuaku memang sengaja pulang untuk menjemput." jawab Iyan juga tak kalah serius.
Adi melirik Melati lalu kembali menatap sahabatnya. "Kalau kamu benar-benar ingin menikahi Melati, kamu harus siap menghadapi Arka."
"Tentu saja, aku tahu resikonya merebut milik orang." Iyan menjawab yakin.
"Dia benar-benar sudah jatuh cinta sama kamu Yan! Jangan kecewakan dia, jangan mundur hanya karena hal yang mungkin akan dilakukan Arka." Adi mengingatkan, sambil melirik Melati yang masih pergi ke belakang.
Iyan sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum yakin. "Aku tahu." jawab Iyan yakin.
"Melati orang yang polos, dan Arka kau tahu sendiri. Jujur saja sudah lama aku tak suka, karena dia selalu saja belajar ilmu dari dukun hitam kulon sana. Meskipun tak membahayakan keponakanku, tapi untuk hal seperti itu aku tidak suka. Dan Melati tidak pernah tahu." jelas Adi sedikit memelankan suaranya.
"Mas Aryo, dia paham tentang ilmu-ilmu seperti itu, dia pernah mengatakan melihat wajah Arka yang menyerupai dedemit saat berkunjung ke rumah Mbak yu Nur. Rumah Melati!"
"Serius kamu?" Iyan membulatkan matanya, benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan Arka yang merupakan seorang sarjana. Untuk apalagi pemuda itu mempelajari ilmu seperti itu.
"Ya serius! Ngapain aku main-main sama hal begituan, aku bukan emak-emak yang suka menggosip di warung sayur!" kesal Adi.
Iyan masih sibuk berpikir, artinya Melati? Iyan jadi banyak berprasangka setelah mendengar penjelasan Adi.
"Mas! Ayo pulang!" suara Melati membuat Iyan berhenti dari segala macam pikiran, sedikit kelabakan dia tampak bingung mencari kunci sepeda motor miliknya.
"Dimana ya?" Iyan meraba saku jaket, celana sampai kemeja, mencari kunci miliknya.
"Apa Mas?" Melati mendekati Iyan.
"Kunci Mel." jawabnya terus mencari.
__ADS_1
"Ini kuncinya Mas!" Melati menunjuk kunci tergeletak di atas meja.
"Kok bisa tidak lihat ya?" Iyan meraihnya sambil tersenyum memaksa. Tentu saja Adi sedang menatap heran dengan menggelengkan kepala.
"Paman, Melati duluan." Pamit Melati, diangguki Adi pamannya.
"Pegangan Mel?" Iyan menggoda Melati.
"Udah Mas, apa tidak terasa?" balas Melati, memang dia sudah memegang jaketnya Iyan.
"Tidak seperti itu! Tapi di peluk maksudnya." ucap Iyan sambil terkekeh kecil.
"Jangan main peluk-pelukkan, nanti tetangga terbakar!" teriak Adi dari dalam ruangan.
"Iya!" jawab Iyan berlalu, tentu saja Iyan tahu jika tetangga maksud Adi adalah Arka.
Benar saja jika di pertigaan jalan, Arka sudah menunggu mereka lewat, tak menampakkan batang hidungnya hanya lebih terkesan bersembunyi, mengintai dua orang yang baru saja pulang dari bekerja.
"Tega sekali kamu Mel! Lihat saja nanti Iyan akan meninggalkanmu. Dan kau akan kembali merengek, mengemis cinta padaku. Aku sungguh tidak rela di campakkan begitu saja." gumam Arka.
Mencoba tak ingin melihat hubungan keduanya, tapi akhirnya tidak tahan juga. Arka menyalakan sepeda motor dan menyusul ke rumah Melati.
"Masuk dulu ya Mas?" pinta Melati terdengar hingga ke telinga Arka yang baru saja berhenti di depan rumah Melati. Ya tentu sampai lebih cepat karena motornya berjalan mengebut seperti peluru tembak.
Belum lagi Iyan menjawab, Arka sudah turun dengan wajah masam dan mata memerah. Hatinya marah, terbakar cemburu dan tidak terima.
Iyan melepas helmnya, turun perlahan dan selalu bersikap tenang. Tapi tidak dengan Melati, jantungnya dag-dig-dug takut, karena Arka terlihat sangat marah, dan Iyan juga tak terlihat akan mengalah.
"Mas Arka!" Iyan menyapa, tenang seperti biasa, tak takut sedikitpun melihat wajah Arka yang seakan ingin menyerang segera.
Arka membuang muka.
"Masuk Mas!" Melati mengajak keduanya masuk, tentu sangat malu jika sampai berkelahi di depan rumah, belum lagi tetangga pada memasang mata dan telinga setiap ada Arka atau Iyan datang bertamu.
__ADS_1