Main Dukun

Main Dukun
Melati hilang


__ADS_3

Pilih di pilih dan sayang di sayang, pilihan gadis bernama Cempaka itu jatuh kepada pemuda sederhana dan tak banyak tingkah, yaitu Dimas Mahendra.


Penampilan yang biasa saja itu malah lebih menarik perhatian Cempaka. Membuat kecewa banyak pemuda yang sudah berusaha mati-matian mencari perhatian termasuk Arjuna yang tampan.


Ya, Aki Juno saat masih muda sangat tampan dengan perawakan tinggi dan kulit kuning, rambutnya lurus dan hidung yang mancung. Harusnya, Cempaka lebih memilih dia daripada Dimas yang hanya anak seorang petani biasa. Walaupun iya, Dimas juga tak kalah tampan, kulitnya bening, putih kekuning-kuningan, matanya hitam pekat dengan hidung mancung. Nilai plusnya lagi adalah sikap sopan dan ramah persis seperti anaknya Iyan Rajendra.


Sungguh kesederhanaan yang berakhir pada pilihan Cempaka itu membuat Arjuna marah besar, padahal dia sudah berusaha mendekati Cempaka dengan segala cara, termasuk memberinya hadiah dan sebagainya. Berbeda jauh dengan Dimas, pemuda itu tak pernah sibuk mencari perhatian Cempaka, hanya ketika sesekali bertemu dia menyapa dan tersenyum kagum.


Ternyata tak semua wanita menyukai laki-laki yang gencar dan gesit mengejar, bisa jadi dia menyukai laki-laki yang mengagumi dalam diam atau juga jinak-jinak merpati.


Dan lebih mematahkan hati Arjuna ketika Cempaka semakin jatuh cinta dan malah terbalik, mengejar Dimas hingga mengantar bekal untuk pemuda itu ke ladang milik orang tuanya.


Dapat dibayangkan betapa beruntungnya Dimas Mahendra ketika itu, didatangi Cempaka yang cantik dengan senyum manis dan sikap yang lembut, dia terlihat malu-malu tapi mau ketika berhadapan dengan Dimas Mahendra.


Tak tanggung-tanggung, melihat perhatian Cempaka yang telah jatuh sepenuhnya, Dimas Mahendra menyatakan perasaannya dan meminta gadis itu menjadi istrinya.


Tentu saja gadis itu menerima, bahkan setiap malam-malamnya wanita itu memimpikan hidup bersama dengan Dimas yang sederhana.


Karena sakit hati Arjuna mempelajari ilmu hitam dan berusaha merebutnya persis dengan apa yang di lakukan Arka.


Aki Juno tahu persis bagaimana rasanya menjadi Arka, itu pula sebabnya ia selalu menemani muridnya itu. Walaupun semuanya itu salah, tapi berusaha mendapatkan cinta yang sangat diinginkan tidaklah salah. Perasaan tak bisa di cegah, cinta jatuh dimana saja menurut maunya, dan Arka sedang berjuang mendapatkannya.


...***...


Malam selanjutnya, kebetulan malam Jum'at saat bulan bersinar terang. Membuat suasana lepas Maghrib itu seperti pagi hari.


"Jangan keluar Sayang." Iyan memeluk Melati dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


"Diluar cerah sekali Mas." jawab Melati melihat jam dinding masih pukul 17:25.


"Menjelang Maghrib yang terlalu terang tidak baik berada di luar, walau tidak terang pun tetap masuk ke dalam rumah. Bukan perihal mitos orang tua saja, karena Maghrib itu waktunya ibadah, juga mempersiapkan makanan untuk semua keluarga yang berkumpul. Maka dari itu sesibuk apapun bekerja, baiknya pulang sebelum Maghrib, demi menjaga hubungan baik dan kebersamaan. Malah dianjurkan untuk pulang sebelum ashar."


Melati tersenyum mendengarkan suaminya berbicara banyak.


"Mas ke belakang sebentar, lupa tadi Mas masak air."

__ADS_1


"Iya Mas." jawabnya menatap Iyan keluar dari kamar mereka.


Melati membenarkan gorden jendela yang sedikit terbuka, beberapa kali menarik gorden tapi tak berhasil. Melati beranjak dari duduknya dan melihat apa yang membuat gorden tersebut tak bisa menutup sempurna.


"Nyangkut." Melati bergumam sendiri melihat ujung gorden tersebut terjepit jendela yang ditutup dengan terburu-buru oleh suaminya.


Melati membuka jendela tersebut, niat hati ingin membenarkan gorden, namun ketika jendela terbuka malah hal lain yang terjadi.


Sosok hitam yang tak jelas rupanya, hanya sepasang mata merah terlihat diantara cahaya merah yang menerpa di langit barat, tepat ketika Adzan sedang berkumandang, suara jeritan Melati terdengar hingga ke belakang ketika suaminya sedang berwudhu.


"Melati!"


Iyan meninggalkan keran air yang masih mengucur, berlari menuju kamar mereka dan melihat Melati tak ada di sana.


"Melati!"


Teriak Iyan khawatir, melihat keluar pintu kamar, menoleh ruang tamu juga kamar sebelah mereka tetap tak ada.


Iyan kembali masuk ke dalam kamar mereka dan memeriksa jendela.


Iyan mengusap wajahnya, sendi yang mendadak lemas itu tak di rasa, Iyan berlari keluar memeriksa sekitar mana tahu istrinya ada di sana.


"Melati." panggilnya berkali-kali hingga menyita pendengaran tetangga sekitar.


"Ada apa Mas?" tanya seorang bapak-bapak membuka pintu.


"Pak, tolong bantu aku mencari istriku, tadi dia menjerit dan hilang." ucap Iyan dengan nafas tak beraturan, takut dan khawatir dengan keadaan istrinya.


"Baik Mas sebentar saya minta bantuan sama yang lain." laki-laki itu kembali masuk memanggil teman-temannya yang merupakan pekerja proyek.


Iyan kembali masuk ke kamarnya dan mencari ponsel miliknya.


"Pak, tolong segera ke sini, Melati hilang dari kamarnya." ucap Iyan menghubungi ayahnya juga ayah mertuanya.


Iyan mengatur nafas sejenak, mencoba berkonsentrasi dan mencari keberadaan Melati.

__ADS_1


"Melati." panggilnya pelan namun terdengar jauh, Iyan mengulangi hingga beberapa kali.


"Yan!" terdengar suara memanggilnya dari luar sehingga terhenti menelusuri jejak Melati.


Iyan keluar membukakan pintu, dan ternyata ibu mertuanya datang bersama Bule Astri.


"Ibu." Iyan meraih tangan kedua wanita itu bergantian.


"Bagaimana bisa hilang Yan?" ucap Ibu menangis masuk ke dalam rumah itu diiringi Bule Astri. Di luar ayah Melati dan ayah Iyan beserta Paman Aryo juga sudah menyusul.


"Tadi ku tinggal di kamar Bu, aku sedang berwudhu dan kemudian terdengar suara Melati menjerit. Dan saat aku melihatnya, dia sudah tak ada." jelas Iyan khawatir.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Aryo dan ayah Melati juga memasuki rumah Iyan.


"Bapak akan mencari di sekitar hutan belakang sana bersama warga, nanti akan di bagi dua dengan sebagiannya ke arah utara dan selatan." Ayah Iyan menyusun rencana pencarian Melati.


"Bapak akan ikut rombongan ke Utara, di sana sepi." Ayah Melati menyetujui rencana besannya.


"Aku akan menyusul, karena ada yang perlu aku bicarakan kepada Iyan." ucap Aryo menatap wajah Iyan yang kusut dan khawatir.


"Baiklah kalau begitu, kita akan berangkat sekarang." Ayah Iyan beranjak bersama ayah Melati, mereka akan membagi warga menjadi beberapa bagian.


"Ceritakan bagaimana kejadian rincinya." pinta Aryo kepada Iyan.


"Tadi Melati ada di kamar Paman, bahkan aku mengunci semua pintu dan jendela. Namun ketika aku mendengar suaranya menjerit, aku pergi ke kamar dan jendela sudah tidak di kunci."


Aryo menautkan alisnya.


"Jika dia pergi maka tak mungkin menjerit terlebih dahulu. Lagi pula tak mungkin rasanya jika Melati pergi melewati jendela, sedangkan pintu depan masih terkunci rapat beserta kuncinya masih ada." Iyan menjelaskan.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Aryo kepada menantu kakaknya itu.


"Arka!"

__ADS_1


__ADS_2