
"Tapi Mas."
"Mas yang buat kopi, sebentar lagi Bule Tuti juga akan kesini menemani ibumu." Iyan mendorong Melati menuju kamarnya, lagi-lagi Iyan harus mengeluarkan jurus andalan. Sedikit ciuman hangat di pipi Melati akan membuat gadisnya menurut.
Tak mau kalah, Melati membalas ciuman di pipi Iyan, kemudian menghilang masuk ke kamarnya.
Iyan memegang pipinya sendiri, rasnya sungguh hangat dan nikmat kecupan sekilas di pipi sebelah kirinya.
"Mana kopinya?" Adi menyusul.
"Bentar." Iyan segera pergi ke dapur.
"Assalamualaikum Mel!" suara ketukan di pintu belakang, benar saja Adi meminta tetangganya juga ikut menginap di sana malam ini.
"Wa'alaikum salam. Masuk Bule, maaf merepotkan." Iyan yg berbicara kepada saudara jauh sekaligus tetangga Melati.
"Tidak apa-apa." jawabnya langsung masuk ke dalam.
Malam semakin larut kedua laki-laki itu belum juga tidur terlebih lagi Iyan, pemuda itu sibuk melihat jam, masih menunjukkan pukul 22:00.
"Memangnya ada apa? sampai harus begadang begini." Adi bersungut dengan sarung menutup wajahnya. Mereka tidur menelentang di ruang tamu.
"Aku takut mereka menculik Melati saat lagi tidur." ucap Iyan menatap langit-langit rumah itu.
"Gila! Mana mungkin Arka berani menculik Melati tengah malam." Adi membuka sarung yang menutup wajahnya.
"Bukan begitu, raganya tidur tapi tidak bangun itu bagaimana? Koma istilah sekarang." Iyan menjelaskan.
"Serius?" Adi jadi menoleh Iyan, dia melebarkan matanya tidak jadi mengantuk.
"Serius, kalau tidak serius untuk apa aku begadang di sini? Mending di rumah tidur nyenyak menyiapkan tenaga penuh untuk menjadi pengantin baru." Iyan tersenyum senang.
"Ish, pengantin baru. Yakin malam ini bisa lewat, aman atau tidak itu keponakanku di kamarnya?" Adi jadi khawatir.
"Aku tidak tahu." Iyan ikut duduk bersama Adi.
"Lihat sana!" Adi menyenggol lengan Iyan.
"Percaya?" tanya Iyan membalas Adi.
"Ya percaya, berani macam-macam aku tendang, mau?" Adi kembali menyenggol lengan Iyan.
Pemuda itu beranjak, membuka gorden pintu kamar Melati sehingga bisa di lihat dari luar.
__ADS_1
"Nyenyak sekali." gumam Iyan menoleh Adi.
"Yo wes, sebentar lagi." Adi kembali berbaring sementara Iyan masih memandangi Melati.
Pemuda itu tampak fokus di wajah ayu Melati.
"Jangan di pandangi terus, nanti khilaf." kesal Adi melihat Iyan tak juga pergi dari depan kamar Melati.
Tapi Iyan tak mendengarkan kata-kata sahabat tersebut. Dia malah masuk ke kamar Melati dan membangunkannya.
"Yan!" Adi jadi ikut bangun dan masuk ke kamar keponakannya.
"Mel!" Iyan menggoyang bahu Melati.
"Ada apa Yan?" tanya Adi ikut khawatir.
"Mel!" Iyan menepuk pipi Melati hingga berkali-kali.
Adi yang bingung juga ikut memegang dan menepuk lengan Melati.
"Mel, bangun Sayang. Ini aku!" Iyan semakin khawatir, perkiraannya adalah sekitar pukul sebelas tapi malah pukul sepuluh malam mereka sudah memulai.
"Bagaimana Yan?" tanya Adi bingung.
Sementara di tempat yang gelap, Melati berlari jauh tapi tak menemukan jalan menuju rumah.
"Rasanya aku sudah beberapa kali melewati tempat ini." gumamnya dengan nafas terengah-engah.
Melati kembali berjalan dengan langkah terburu-buru, suasana gelap dingin dan sunyi membuatnya sangat ketakutan.
"Mel." suara seseorang memanggilnya, tapi tidak tahu sumbernya ada dimana.
Melati memasang telinganya juga menajamkan matanya, menunggu suara itu kembali memanggil.
"Tolong!" teriak Melati berharap seseorang bisa mendengarnya.
Tapi dia salah, dari pohon besar itu keluar dua orang laki-laki besar, tinggi menakutkan. Kulitnya mengkilap antara hitam kemerah-merahan, kedua orang itu hanya memakai celana pendek, tanpa baju, rupa mereka sama, bahkan lebih serupa daripada kembar yang sering di lihatnya.
Melati mundur selangkah demi selangkah, nafasnya mulai memburu ketakutan.
"Satu, dua, tiga!"
Melati berlari sekencang-kencangnya menjauhi dua orang laki-laki tersebut, tentu kedua orang itu mengejar bahkan mereka melangkah tak sampai berlari, tapi semakin dekat dengan Melati.
__ADS_1
"Pergi!" terik Melati ketika dua orang tersebut semakin dekat, lelah dan sakit di kakinya membuat berhenti, tak mampu lagi berlari.
Melati terjatuh dan beringsut mundur, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa karena saat ini dua orang pria itu meraih tangannya dan memaksanya berdiri. Dan anehnya lagi, jangankan melawan, bersuara pun dia tak bisa.
Dua orang pria itu menekuk tangan Melati ke belakang, memaksanya duduk berlutut membelakangi mereka berdua, menekan pundaknya agar menurut dan diam di posisi itu.
"Jadilah menantu Wijaya!" ucap mereka berdua bersamaan. suaranya menggema di hutan yang gelap itu. Memukul pundak Melati hingga berkali.
Melati memejamkan mata, sedikit teringat kata-kata Iyan untuk selalu ingat kepada Allah, jagan lengah!
'Ya Allah, bantu aku, hanya kepadamu aku meminta pertolongan. Tolong aku ya Allah, aku yang penuh dosa ini."'
Melati menarik nafas dan membuka matanya, masih terdengar perintah dari dua orang itu, untuk menjadi menantu Wijaya, ayah Arka Wijaya.
"Aku sudah punya calon suami, aku tidak bisa!" jawab Melati tiba-tiba bisa bicara, dia mencoba memberontak walaupun percuma.
"Tidak! Kau hanya akan menjadi menantu Wijaya. Lihatlah putranya, dia sangat tampan sekali. Lihatlah, kau akan merasa bahagia bersamanya." kedua orang itu terus memukul pundak Melati agar tetap duduk berlutut, memandangi tempat yang jauh yang katanya ada Arka di sana.
"Tidak! Aku tidak mau!" Melati menangis dan menjerit-jerit, tapi kedua orang itu tetap pada apa yang dia perintahkan, tak mendengarkan bantahan dari Melati.
"Kau hanya akan menjadi menantu Wijaya." ucap mereka semakin keras.
"Allahuakbar." lirihnya, dia ingin berteriak tapi sudah tak bisa.
Tapi akhirnya datang seseorang yang seperti pernah dilihatnya. Pemuda tampan itu mendekat, pakaiannya seperti seorang pangeran jaman dahulu, dia berjalan tenang dan mendekati Melati.
"Tolong." pinta Melati.
Namun kedua orang di belakangnya menatap tajam kepada pemuda tersebut, mereka memandang penuh permusuhan.
Pemuda itu berusaha melepaskan tangan Melati dari kuncian dua orang tersebut, namun tak mudah hingga terjadi perkelahian sengit antara mereka.
Saling menyerang hingga salah satu pemuda aneh itu terpental, dan seorang lagi tetap melawan, hingga kemudian melati bisa bebas dan beranjak menghindar.
Perkelahian masih berlanjut, semakin ganas dan terlihat akan saling membunuh.
Melati semakin bingung harus berlari ke arah mana, hanya melihat semuanya gelap dan seram tanpa ada jalan yang bisa dilewati.
Tapi tanpa di duga pemuda yang baru saja datang itu berhasil melawan dua orang tersebut dan segera meraih tubuh Melati dan membawanya pergi.
Perjalanan yang jauh tapi seolah sedang terbang. Melati tak berani melihat sekeliling karena tentu semuanya menyeramkan. Dia hanya fokus kepada pria yang memeluknya, wajahnya tampan sekali.
Ya, Melati pernah bertemu dengannya, ini bukan pertama kali.
__ADS_1