Main Dukun

Main Dukun
Tantangan


__ADS_3

"Tak perlu berteriak Mas Arka, kau berbisik di dalam hati saja aku bisa tahu." ucap Iyan lagi semakin membuat Arka marah.


"Kau tahu apa, hah?" Arka terkekeh kali ini, senang rasanya membuat Iyan marah besar.


"Semuanya, termasuk ilmu baru mu yang menyesatkan kaum wanita." ucap Iyan tak juga bisa di lihat Arka.


"Oh, kau tahu rupanya. Hebat bukan? Kau sampai ketakutan. Dan itu menyenangkan sekali bagiku." Arka kembali tertawa.


"Apakah tubuhmu tidak berat dengan banyaknya jin yang kau pelihara di dalam sana? Satu saja rasanya sangat merepotkan. Hari ini kau mengendalikan mereka, besok mereka akan mengajakmu berteman, lalu besoknya lagi kau lah budak mereka."


"Omong kosong! Mana mungkin makhluk halus bisa membuat aku seperti budak. Bilang saja jika kau sedang membujukku melepaskan semua ilmu ku. Lalu kau akan hidup tenang bersama Melati? Jangan mimpi!" Arka tersenyum sinis.


"Jangan terlalu membenci Mas Arka, segala yang berlebihan itu tidak baik. Apalagi membenci kebahagiaan orang lain, sama artinya kau sedang membenci kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Kau membuat kami tak bahagia, tanpa sadar kaulah yang tak pernah bahagia."


"Sok bijak! Padahal kau juga licik memanfaatkan kepolosan Melati." Arka semakin geram namun tak dapat melakukan apa-apa, Iyan tak juga muncul. Ia hanya melihat ke sana kemari di tengah kegelapan.


"Tentu saja, dan dia menyukainya." terdengar sedikit tawa menyertai ucapan Iyan.


"Keluar kataku! Dasar pengecut." Arka berteriak-teriak mencari keberadaan Iyan.


Sadar kelakuannya sia-sia, Arka menutup matanya sejenak, merapalkan mantera yang entah hanya dia saja yang tahu. Pemuda itu kemudian menggerak-gerakkan kepalanya menajamkan telinga dan mencari dimana asal suara dan gerak-gerik Iyan.


Sejenak kemudian Arka tersenyum sinis, tangan yang tadinya lurus kini mengepal erat.


Bugh!


Arka berhasil memukul namun sedikit meleset, hanya mengenai bahu Iyan.


Iyan muncul dan mundur beberapa langkah dari posisinya. Pemuda itu menatap Arka dengan sedikit waspada.


Arka membuka matanya perlahan. "Mengapa kau tidak memukulku?" Arka memandang remeh, menganggap Iyan bodoh namun menyelidik.


"Sudah ku katakan jika aku bukan pengecut. Kita akan bertarung di dunia nyata, buka di sini Mas Arka. Aku menunggu kedatangan mu setelah ini, kita akan selesaikan semuanya secara jantan."


"Cuiihh.. Kau pikir aku tidak jantan?" Arka meludah dan menatap kesal pada Iyan Rahendra.


"Karena jantan akan bertarung habis-habisan walaupun kalah pada akhirnya, harga diri seekor ayam lebih tinggi daripada seorang yang suka menyelinap di alam mimpi."


"Kurang ajar! Berani sekali kau Bandingkan aku dengan ayam." Arka maju dan memandang Iyan, namun meleset.


"Aku menunggu kedatangan mu Arka Wijaya." ucap Iyan lagi dengan wajah sinis.

__ADS_1


"Kurang ajaaarrrr!" teriak Arka lagi ketika Iyan sudah pergi menghilang dalam kegelapan malam.


Arka kembali mengumpat keras, tak terima rasanya dengan sikap Iyan baru saja. Arka juga baru tahu jika Iyan bisa masuk ke alam mimpi.


"Tunggu!" Arka mengingat sesuatu.


"Dia!"


Arka semakin menganga tak percaya, ia baru menyadari jika pemuda yang sering menggagalkan rencananya melalui alam bawah sadar itu adalah Iyan Rahendra.


"Artinya Iyan sudah menjaga Melati sejak lama, hanya tak ada yang tahu, tak ada yang menyadari hal itu." Arka semakin marah.


Kali ini ia mengeluarkan kekuatannya untuk menghancurkan tempat itu. Dia mengamuk sendirian, mengeluarkan seluruh kekuatannya menyerang ke sembarang arah


"Aku harus membuat perhitungan dengan mereka." kesal Arka lagi dengan mata yang memerah.


...***...


Dengan nafas yang masih teratur, Melati menggerakkan tangannya ke kiri dan kanan. meraba seseorang yang selalu ada setiap ia bangun semenjak beberapa bulan terakhir. Wajah tampan dan sikap lembutnya membuat Melati tak mau jauh walau sebentar saja.


Iyan membuka matanya yang sempat terpejam tapi bukan tidur, kembali menatap wajah cantik Melati dalam pelukan, tangan yang bergerak bebas itu mengenai hidung Iyan, ia tersenyum tipis.


"Mel!" suara ibu membangunkan dua insan yang bangun kesiangan pagi ini.


"Mas tidak kram?" tanya Melati masih memejamkan matanya, dapat dipastikan dia juga mendengar suara ibu memanggil.


"Sedikit." Iyan tersenyum manis mengelus rambut Melati.


"Maaf ya Mas." Melati mengangkat kepalanya agar Iyan bisa menarik tangannya yang menjadi bantal sejak beberapa jam lalu.


"Tak apa Sayang, mas bahagia bisa berbagi nafas denganmu." Iyan merayu istrinya yang terlihat menggemaskan saat bangun tidur.


Namun terdengar suara-suara di luar seperti sedang mengobrol.


"Siapa?" tanya Iyan lagi menatap wajah Melati.


"Bapak Mas." jawab Melati membulatkan matanya.


"Astaghfirullah." Iyan segera beranjak dari tempat tidur, seolah sedang mengumpat diri sendiri karena bangun kesiangan saat pertama bertemu dengan ayah mertua.


Melati terkekeh menyaksikan suaminya bangun tergesa-gesa, memakai baju dan segera keluar menyambut ayah Melati.

__ADS_1


Iyan langsung menuju ruang tamu, meraih tangan ayah mertuanya dengan sopan.


"Kamu anaknya Mas Yanto kan?" tanya ayah Melati menatap wajah Iyan.


"Iya Pak, maaf Iyan tak menjemput bapak." ucap Iyan menunduk dalam posisi masih berdiri.


"Tidak apa-apa, bapak dianter temen tadi." Ayah Melati menunjuk kursi di hadapannya, sepertinya dia ingin mengobrol.


Iyan pun duduk di kursi ruang tamu tersebut, sedikit serba salah dan takut jika pernikahan mendadak itu di permasalahkan oleh Gutama, ayah Melati.


"Bapak sudah tahu perihal pernikahan kamu dengan Melati."


Iyan menautkan tangannya, mendadak ujung jarinya terasa dingin dan kaku.


"Bapak cuma merasa kecewa, tidak dapat menikahkan anak satu-satunya dengan tangan bapak sendiri." sambungnya lagi.


Iyan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap wajah ayah mertuanya. "Maaf Pak."


Hening


Gutama tersenyum lebar, menatap Iyan yang terlihat tegang. "Untuk apa?" tanya pria itu kepada Iyan.


"Telah lancang menikahi anak bapak." jawab Iyan lagi masih terlihat gugup.


Ayah Melati terkekeh, dia menarik nafas lalu menghembuskan sampai habis.


"Bapak tidak marah, hanya kecewa sedikit." ucapnya kemudian. "Lagi pula Aryo sudahi cerita semuanya kepadaku. Bapak malah berterima kasih sudah berkunjung menjaga Melati juga ibumu."


Iyan tersenyum lega, tadinya sempat tegang gugup kini sudah lebih baik.


"Mana istrimu?" tanya ayah mertuanya lagi.


"Melati ada di kamar Pak, dia_"


"Lagi di kamar mandi, lagi muntah-muntah." jelas Ibu membawa nampan berisi kopi dan roti.


"Muntah Bu?" tanya Iyan khawatir.


"Iya." jawab Ibu dengan senyum di wajahnya.


"Maaf Pak." Iyan beranjak menuju belakang.

__ADS_1


"Kita akan punya cucu." bisik ibu kepada ayah Melati.


"Alhamdulillah." jawab pria tua itu tertawa lebar.


__ADS_2