
"Mas pulang ya!" Iyan tidak ikut turun dari motornya.
"Tidak mampir dulu Mas Iyan?" ucap Melati lembut.
"Tidak Mel, aku ada keperluan bersama kakak tertua ku." Iyan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah, terimakasih Mas." Melati tersenyum manis sekali.
"Sama-sama Mel." Iyan memasang helm di kepalanya, tersenyum sedikit dan kemudian berlalu.
Melati menghembus nafas lega, bahwa tak selamanya harus berkutat dengan Arka yang egois, berharap ini adalah awal yang indah untuk Melati.
"Ibu!" panggil Melati setelah membuka pintu, ibunya sudah pulang lebih dulu.
"Kamu sudah pulang Mel?" ibu baru sja selesai sholat.
"Iya Bu, tadi diantar Mas Iyan." Melati mencium punggung tangan ibu.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu Mel? Yakin tidak akan sedih memutuskan Arka?" Ibu Nur langsung bertanya, sepertinya hal itu mengganjal hatinya sepanjang hari.
"Tidak Bu, Melati sudah memikirkannya sejak lama. Bukan karena Mas Iyan datang melamar, tapi sudah sejak lama Melati ingin berlari dari hubungan yang rumit ini." Melati duduk di dapur seperti biasa, tempat yang asyik saat mengobrol bersama ibu.
"Ibu hanya ingin kau tidak menyesal. Sejujurnya Arka juga pemuda yang baik, dia benar-benar mencintaimu. Hanya saja dia tidak di arahkan untuk menjadi laki-laki yang memegang teguh prinsip dan tanggung jawab." Ibu ikut duduk berhadapan dengan Melati.
"Ya, mungkin karena mereka orang berada. Dan Melati tidak mau harga diri ibu menjadi bahan gosip tetangga, biarlah hubungan ini berakhir agar berakhir pula gunjingan tetangga terhadap kita. Melati Ingin pembahasan tentang restu ibunya Mas Arka berakhir, kita berhak mendapatkan udara segar di rumah kita sendiri, Melati tidak akan membiarkan tetangga terus mencemarinya. Sudah cukup semuanya." Melati meraih gelas dan menuang air putih di dalamnya.
"Maafkan Ibu Mel, seandainya Ibu orang berada seperti keluarga Arka, kau tidak akan mendapatkan perlakuan seperti ini." ucap Ibu dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Melati tidak pernah menyesali hal itu, bagi Melati ibu adalah harta paling berharga." Melati menggenggam tangan Ibu.
"Siapa Mel? Seperti ada yang memanggil." Ibu Nur mengangkat wajahnya mendengarkan orang memanggil, namun akhirnya beranjak dari tempat duduk melepaskan tangan Melati.
Mungkin tetangga, begitu pikir Melati. Namun sepertinya berbeda dari cara Ibu menyambut kedatangan orang yang ada di luar.
"Mas Arka?" Melati mendengar jika suara orang yang datang adalah Arka.
Ibu kembali ke dapur dengan membenarkan kain yang melilit di pinggangnya. "Arka datang dengan ibunya Mel!" seru Ibu dengan berbisik.
"Apa?" Melati sungguh tidak percaya hingga membulatkan matanya.
"Kamu temui saja." pinta Ibu sambil berjalan kembali menuju ruang tamu dimana Dua orang itu sudah menunggu.
Entah mengapa kedatangan Arka membuat Melati semakin tidak ingin bertemu dengan keduanya. Melati tidak tau harus berbicara apa seandainya menemui ibunya Arka, bukankah sudah jelas tadi pagi sudah memutuskan hubungan mereka? Lalu untuk apa lagi mereka datang?
Melati berjalan pelan menuju kamarnya, mungkin menguping adalah pilihan terbaik saat ini.
"Bagaimana Nak Arka? Apa sudah berbicara dengan Melati?" tanya Ibu Nur dengan baik dan pelan.
"Sudah Bu! Melati memutuskan hubungan kami, dan lebih memilih Iyan daripada aku." jawab Arka menunduk sedih.
Ibu Nur menarik nafas dalam-dalam, boleh jujur jika Ibu Nur merasa kasihan dengan Arka. Tentu diputuskan secara sepihak oleh Melati adalah pukulan yang dahsyat baginya, sekian lama bersama dan bertemu hampir setiap hari, kini malah harus berpisah.
"Ibu tidak tahu masalah yang sebenarnya apa, tentunya yang bisa menyelesaikan permasalahan kalian adalah kalian sendiri, Ibu hanya menurut saja." Ibu Nur tak bisa banyak bicara.
"Dek Nur, untuk masalah lamaran, sebenarnya tujuan kami datang kemari juga ingin melamar Melati untuk Arka. Soal emas dan uang syukuran yang pernah di sebutkan Arka itu saya sudah setuju, yang penting Arka dan Melati sama-sama suka dan bisa hidup bahagia." ucapnya sedikit serba salah, tampak jelas di wajah wanita yang masih ayu itu bahwa apa yang dikatakannya menyimpan sebuah kesalahan. Bisa dikatakan terlambat setelah sekian lama Melati membicarakan perihal lamaran kepada Arka, namun sepertinya tak mendapat respon baik dari Arka juga keluarganya. Dan kini, malah datang setelah Iya melamar lebih dulu.
__ADS_1
"Soal itu juga, saya hanya menurut saja Mbak, semua tergantung pada Melati." Bu Nur berusaha tetap tenang, tidak ingin ada perdebatan atau saling menyalahkan.
"Kalau begitu, bisakah saya bertemu dengan Melati?" pinta Ibunya Arka.
"Sebentar saya panggilkan orangnya." Ibu Melati masuk ke dalam. Sekalian membuatkan teh hangat untuk tamunya.
"Ayo Mel, temui Arka dan ibunya." pinta Ibu Nur, Melati mengikut di belakang ibunya
"Selamat Sore Bu!" Sapa Melati lembut dan sopan. Melati keluar dengan pakaian panjang, anggun sekali.
"Selamat sore Melati." Jawab ibu Arka menatap kagum dengan penampilan Melati, pakaian yang lumayan mahal, bagus dan pas sekali, jauh berbeda dengan selama ini Melati hanya berpakaian biasa.
Begitu pula dengan Arka, pemuda itu tampak menganga melihat anggunnya seorang Melati, sudah pasti Melati habis membeli baju baru. Begitu pikir Arka.
"Mel, Kami datang untuk melamarmu, apa kamu bersedia menerima Arka? Lagi pula kalian sudah lama berpacaran." Ibunya Arka tampak yakin.
"Soal itu biar kami saja yang menyelesaikan Bu, lagi pula hubunganku dengan Mas Arka sudah selesai." jawab Melati tegas.
"Mungkin kalian hanya sedang salah paham, jangan terlalu cepat mengambil keputusan agar tidak menyesal di kemudian hari." bujuk ibunya Arka lagi.
"Kalau begitu kami butuh bicara Bu, biarkan kami menyelesaikan semuanya. Kalaupun ada yang menyesal dalam hubungan ini, sudah tentu itu Melati, harusnya kami tak usah saling mengenal." jawab Melati tegas namun terdengar lembut menusuk.
"Jangan seperti itu to Nduk! ( jangan seperti itu Nak!)" ibunya Arka merasa tersentil hatinya.
"Mas Arka orang yang tampan, berpendidikan, dan memiliki banyak keluarga. Jadi tak akan sulit baginya menemukan pengganti Melati."
"Mel!" Arka sudah tidak tahan mendengar jawaban menyindir dari mulut kekasihnya itu, terlebih lagi bicara dengan ibunya.
__ADS_1
"Melati cukup sadar diri Bu Dhe, itu sebabnya Melati memilih putus dari Mas Arka." jawab Melati halus.
Tampak serba salah dari wanita ayu itu, namun tak bisa berbuat apa-apa terlebih lagi posisinya sedang melamar untuk Arka.