Main Dukun

Main Dukun
Berantakan


__ADS_3

"Sebenarnya aku juga mendengarnya Bule, tapi Mas Iyan biasa saja." Melati tampak berpikir.


"Bukan cuma itu, Bule coba mengintip. Dia sedang mengobrol dengan seseorang Mel, tapi seperti bukan temannya karena Arka terlihat marah pada laki-laki itu." lanjut Bule Tuti lagi.


"Siapa ya Bule, apa ayahnya?" tanya Melati semakin berpikir.


"Bule tidak tahu, tidak jelas juga karena gelap."


Melati hanya menarik nafas, dia juga tidak tahu siapa, jika itu tetangga mana mungkin tengah malam bersedia keluar hanya untuk berbicara dengan Arka.


"Ya sudah, Bule mau bertemu Ibu mu." Bule berlalu masuk ke dalam rumah Melati untuk melihat keadaan Ibu Nur.


Sedangkan di tempat lain, Arka baru saja bangun dari tidurnya. Kamarnya yang sudah di renovasi kini kembali berantakan lantaran Arka membuang puntung rokok dan bekas minuman di sembarang tempat. Tak peduli kasur atau meja semuanya sama, penuh dengan sampah.


Bangun dengan kepala pening, penglihatan yang buram dan bingung. Arka membuang selimutnya ke lantai, meraih apa saja yang bisa di pegang agar bisa bangun. Sedikit memukul kepalanya sendiri, Arka membuka matanya lebih lebar. Dia melangkah ke kamar mandi pelan dan sempoyongan.


Beberapa menit di dalam sana, Arka memuntahkan semua isi perutnya, baru setelah itu mencuci muka dan mengguyur tubuhnya dengan air tanpa membuka baju terlebih dahulu. Dia melakukan apapun sesuka hatinya.


Sesekali ia berteriak di kamar mandi tersebut, meluapkan kekesalannya kepada Iyan juga Melati, atau kepada dirinya sendiri.


"Arka!" suara wanita yang sangat di kenal Arka itu memanggil hingga beberapa kali di depan pintu kamar mandi.


Arka membuka pintu kamar mandi dengan nafasnya naik turun.


"Ya Ampun Arka!" teriak ibunya melihat Arka membasahi tubuhnya sendiri, tapi bukan mandi. Ibunya mengambil handuk dan memberikannya kepada Arka.


Sementara Arka di dalam kamar mandi, wanita itu membereskan kamar Arka yang selalu berantakan.


"Ampun,,, ampun Arka! Mengapa jadi seperti ini anak Mama." begitu wanita itu meratapi kelakuan Arka.


Wanita yang selalu tampil modis dan sombong itu pusing tujuh keliling menghadapi kekecewaan Arka padanya. Arka sengaja membuatnya marah dan lelah, mengambil banyak minuman dan segala macam di warung tetangga, dan semua itu di catat sebagai hutang.


"Anakmu itu Pak!" pekik wanita itu lagi ketika suaminya melihat keadaan kamar anak satu-satunya itu.


"Kamu juga yang salah, jadi kamu harus sabar menghadapinya. Seandainya kamu turutkan apa yang di minta Melati saat itu, mungkin mereka sudah menikah." begitu suaminya menyesalkan apa yang sudah di lakukan istrinya.

__ADS_1


"Tapi Arka tak masalah saat itu, Mama kira semuanya aman terkendali." jawab wanita mengerucutkan bibirnya.


"Aman apanya? Kalau anak sudah meminta untuk menikah, nikahkan saja. Uang tak seberapa kau malah main tawar lalu di abaikan. Anak tak tau arah malah kamu biarkan saja, harusnya kamu yang mendorong dan mendukung!"


Ayah Arka yang merupakan seorang guru itu lebih sederhana, hanya kesibukan membuat pria yang lebih suka di panggil bapak itu tidak terlalu memperhatikan Arka. Dan ketika semuanya sudah terjadi, dia menyesalkan sikap istrinya yang selama ini selalu benar kalau berbicara, tapi ternyata membuatnya kecewa.


Berantakan.


Begitulah kata-kata yang sedang tertulis di kepala pria berumur Lima puluh tahun itu. Putra semata wayang harapan keluarga malah menjadi salah jalan seperti itu. Mabuk, malas-malasan, tidak mau bekerja dan belakang dia mengetahui jika putranya belajar ilmu kepada seorang dukun.


Arka keluar dari kamarnya dengan wajah lebih segar walaupun matanya merah karena sisa pengaruh minuman semalam.


"Duduk!" perintah pria itu kepada Arka, hari ini dia sengaja tak masuk bekerja karena ingin bicara serius dengan Arka.


Arka duduk di kursi empuk bersebelahan dengan ayahnya.


"Kamu semakin kacau saja Arka." ucap ayahnya pelan, mata tuanya memandangi Arka.


Arka tak menjawab, sesekali handuk di tangannya kembali di usapkan ke kepala Arka, rambutnya masih basah.


"Apa kamu tidak malu di usia sudah hampir tiga puluh tahun malah pengangguran. Sudah nganggur mabuk dan main ilmu-ilmuan!" kesal ayahnya, menggeleng dan menarik nafas begitu berat.


"Kau kecewa? Tapi menurut Bapak Melati lah yang kecewa padamu Arka." pelan sekali ucapan ayahnya. Namun membuat Arka langsung menatap wajah ayahnya.


"Maksud Bapak apa?" tanya Arka tidak mengerti.


Ayah Arka yang bernama Pramono itu menggeleng, bagaimana mungkin Arka tak paham. Istrinya benar-benar tak pernah memberi nasehat tentang kehidupan kepada Arka.


"Lamaran mu telat, kerjaanmu tak jelas, bagaimana Melati mau menerimamu sebagai suami? Perempuan itu butuh kejelasan, bukan harapan. Jika suatu hubungan hanya di beri harapan, maka ujungnya pasti akan ditinggalkan. Ya ini buktinya." Pramono menunjuk meja tempat mereka sama-sama memandang.


"Aku sudah berusaha, tapi surat lamaran ku tak juga di terima." jawabnya tak mau disalahkan.


"Mencari kerja itu tak harus di kantor besar Arka, Kuli bangunan saja itu pekerjaan. Mereka punya status dan sebutan, pekerja bangunan." jelas Pak Pramono lagi.


"Aku tidak mau menjadi kuli Pak!" kesal Arka dengan wajah tak suka.

__ADS_1


"Itu hanya umpama." Pak Pramono kembali menggeleng, sifat sombong istrinya benar-benar menurun 100 persen.


Arka tak mau peduli, pikirannya masih saja tertuju pada Melati.


"Kau lihat Iyan anaknya si Yanto, dia bekerja sebagai sales marketing dealer sepeda motor. Dia Diploma lho! Dia juga bukan orang miskin di kampung ini. Tapi tetap mau bekerja, dan Bapak yakin itu yang membuat Melati memutuskan untuk menerima dan menikah dengannya." jelas Pak Pramono lagi.


"Pak, jangan memuji Iyan di depanku. Aku tidak suka!" Arka beranjak dari duduknya dengan mata menatap tajam.


"Astaghfirullah." ucap Pak Pramono ketika Arka sudah pergi masuk kembali ke kamarnya.


Dia benar-benar putus asa, salah besar selama ini memanjakan Arka. Hasilnya malah membuat pusing kepala.


Hingga sore hari kemudian, Melati sudah bersiap dengan pakaian rapi. Janji untuk pergi ke pasar bersama Iyan membuatnya sedikit berdandan agar Iyan semakin menyukainya.


Benar saja Iyan datang dengan sepeda motor besar miliknya, wajah tampannya tersenyum senang ketika melihat Melati membuka pintu dengan senyum mengembang.


"Mas." sapa Melati meraih tangan Iyan dan mengecup punggungnya.


Iyan langsung memeluk dan mengecup pipi Melati, seraya berjalan menuju kamar mereka.


"Tadi Mas keluar?" tanya Melati sambil meletakkan tas Iyan.


"Iya, tapi di dekat sini saja." Iyan mengganti kemejanya dengan kaos biasa.


"Mau istirahat dulu Mas?" tanya Melati lagi.


"Kita langsung pergi saja Sayang, takutnya bukan istirahat malah capek." Iyan menggoda Melati.


Melati tersenyum lebar, kemudian mereka berangkat ke pasar dengan sangat mesra.


Jarak yang tak begitu jauh, mereka tak butuh waktu lama untuk tiba di pasar, keduanya melepas helm dan berjalan bergandengan.


"Mau beli apa saja?" tanya Iyan merangkul bahu Melati.


"Kebutuhan dapur pastinya, sama cemilan agar Mas tidak perlu keluar malam-malam untuk membelinya." Melati menggoda Iyan yang juga terkekeh, membuat keduanya terlihat sangat mesra.

__ADS_1


Dari kejauhan seseorang tak sengaja melihat mereka, matanya terlihat sedih sekaligus marah.


"Aku harus bisa mendapatkan Melati lagi, apapun caranya. Jika Aki sudah tak bisa membantuku, aku akan mencari orang lain."


__ADS_2