Main Dukun

Main Dukun
Mimpi buruk


__ADS_3

"Tolong!" teriak Iyan ketika pintu rumah itu sulit sekali terbuka, rumah kosong yang gelap.


Berlari kesana-kemari tapi tak menemukan jalan keluar, Iyan mencoba menggedor-gedor pintu meminta tolong. Tapi sia-sia dia lakukan tak ada seorangpun di sana.


"Hahahaha." suara menyeramkan itu menggema di ruangan besar yang sama sekali tak di kenal Iyan.


Iyan berbalik melihat sekeliling tak ada siapapun di sana. Nafasnya naik turun lelah mencari jalan keluar tapi tak kunjung menemukannya.


"Tidak, ini pasti tidak nyata." Iyan mencoba mengingat-ingat jika sebelumnya dia sedang tertidur.


"Hahaha. Kau tidak bisa kemana-mana." suara itu kembali menggema, sepertinya yang sedang bicara itu adalah orang berukuran besar.


"Buka pintunya, aku ingin keluar." teriak Iyan, melihat ke langit-langit rumah kosong itu mencari-cari siapa yang berbicara.


Terdengar suara angin berhembus memutar di ruangan besar itu, semakin lama semakin mendekat dan kali ini di hadapan Iyan, berputar semakin kuat menyedot tubuh Iyan, lalu kemudian membuat tubuh Iyan terpental di dinding lainnya.


Brugh!


"Agh." Iyan meringis terjatuh di lantai. "Allahuakbar." ucapnya tanpa sadar karena kebiasaannya ketika melihat atau mengalami hal yang mengejutkan dia akan mengingat Allah.


"Arrghhhh." suara mengerikan itu tepat di hadapan Iyan. Sosok hitam itu semakin membentuk, hingga jelas seperti tubuh manusia tapi memiliki kuku panjang dan berbulu, matanya besar seperti bola pingpong bercahaya merah, rambutnya gimbal dan panjang melewati bahu, giginya tak rapi dengan taring lebih jelas.


"Astaghfirullah." Iyan sangat terkejut hingga terpaksa berdiri dan merapatkan tubuhnya di dinding.


Makhluk besar itu mendekati Iyan mengangkat satu tangannya dan mulai menyerang. "Gerrrghh." suaranya menggelegar beserta gerakan sangat ganas.


Iyan menghindar, mencoba mengelak dan menghindar dari makhluk jelek itu.


Melihat Iyan berhasil mengelak, malah membuat makhluk itu semakin mengamuk Menyerang dan berteriak. Iyan sampai kewalahan, hingga cukup lama Iyan lelah dan pukulan makhluk itu mengenai dadanya.


"Agh!" Iyan terpental di dinding itu lagi


Makhluk itu tertawa senang, kepalanya mendongak dan memukul-mukul dadanya menunjukkan bahwa dia tak terkalahkan.


"Ya Allah, ini tidak nyata. Aku sedang tidur dan tolong bangunkan aku, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar." Iyan sungguh meminta pertolongan sambil memegangi dadanya yang semakin sesak.

__ADS_1


Makhluk itu kembali mendekat, semakin mendengar ucapan dan doa Iyan semakin beringas pula dia menyerang, memandang dan memukul meski sesekali berhasil di tahan oleh Iyan tapi pada akhirnya Iya kalah lagi.


"Ya Allah, aku benar-benar tidak tahu jalan keluar. Tunjukkan ya Allah." dengan nafas yang tersengal-sengal, batuk dan semakin sesak.


Tak lama terdengar suara memanggil. "Yan! Bangun!" lambat terdengar suara khas ibunya, wanita yang sudah melahirkan dan menyayangi Iyan itu terlihat ketika Iyan memejamkan mata. Ibunya sedang menunduk membangunkan sepertinya benar jika Iyan sedang tidur.


"Ibu." pelan Iyan mencari asal suara itu, membuka mata, menoleh kesana-kemari sambil memegangi dadanya.


"Grrrrrhhhh." suara makhluk itu kembali terdengar mengalahkan suara ibunya Iyan. Dia mendekat dan kali ini mengeluarkan cahaya merah di tangannya, sepertinya akan memukul Iyan dengan tenaga dalam.


"Allahuakbar, Astaghfirullah." Iyan berusaha berdiri dan berlari, tanpa sadar langkahnya mundur dan mundur tanpa di ketahui ke arah mana, yang sebelumnya hanya terlihat dinding mengelilingi tapi kali ini sepertinya ada ruang yang tak terlihat. Menyadari itu Iyan berbalik.


Ada cahaya, sepertinya jendela. Iyan segera berlari ke arah jendela di ujung kegelapan yang panjang, meski di kejar oleh makhluk mengerikan itu tapi Iyan berusaha berlari sekuat tenaga dan tidak menoleh.


"Yan Bagun!" suara ibu terdengar jelas.


"Ibu." bibirnya berhasil mengucapkan kata-kata Ibu.


"Kamu mimpi apa Nak?" tanya Ibu khawatir, memegangi wajah Iyan yang sudah basah dengan keringat.


"uhugk, uhugk. Oweek." tak bisa di tahan lagi, Iyan memuntahkan darah segar di samping ranjang miliknya.


"Astaghfirullah Yan!" Ibunya memekik. "Pak!" teriak ibu memanggil suaminya.


"Minum Bu." pinta Iyan meminta Ibu mengambilkan air putih setelah mengusap bibirnya yang masih ada sisa darah di sana.


"Iya, iya." Ibu pergi ke dapur dengan tergopoh-gopoh, mengambilkan air putih dan segera kembali.


"Ada apa Bu?" Ayah dan saudara Iyan masuk dan melihat apa yang terjadi.


"Kok bisa muntah darah Yan?" kakak tertuanya Iyan bertanya dengan sangat heran.


"Tidak tahu Mas, tadi Iyan mimpi berkelahi sama makhluk aneh, terus kena pukul di dada. Sesak dan sakit, terus pas lagi bangun pingin muntah." jawab Iyan mengelap mulutnya sehabis minum.


"Kamu tadi dari mana saja?" tanya Ibu dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Iyan tidak kemana-mana Bu, hanya ke rumah Melati sebentar terus pulang." jelas Iyan lagi.


Ibu tampak berpikir, lalu saling pandang dengan kakak juga ayah Iyan.


"Kalian makan-makan?" tanya ayahnya buka suara.


"Tidak Pak, hanya mengobrol saja, minum pun tidak." jawab Iyan.


Ibu tampak ketakutan, segala macam pikir menghinggapi kepalannya, tangannya bertaut bingung.


Kakak tertua Iyan bernama Angga, mengambil lap dan segera membersihkan muntahan Iyan. Dia tahu jika Ibunya sedang khawatir terlihat dari tangannya yang gemetar.


"Sakit Yan?" tanya Bapak duduk di samping Iyan.


"Tidak Pak, tadi hanya sesak." jawab Iyan menarik nafas dalam-dalam, menekan sedikit dadanya memastikan jika dadanya tidak sakit.


"Kamu tidak pernah bermimpi seperti ini. Kok bisa mimpi berkelahi, tapi lukanya nyata." ayah nya Iyan tampak berpikir sambil mengelus punggung Iyan.


"Mungkin Iyan memang sudah tak enak badan, lalu terbawa mimpi." Iyan tak ingin orangtuanya berprasangka.


"Besok tidak usah bekerja, istirahat dan periksa dulu ke dokter." saran ayahnya.


Iyan mengangguk, tentu saja dia juga merasa aneh. Iyan sama sekali tidak sedang sakit atau tak enak badan, hanya saat terbangun dari mimpi dia merasakan sakit dan sesak sekali. 'Apa sebenarnya maksud mimpi buruk itu, apakah ada kaitannya dengan Arka?'


"Astaghfirullah." Iyan mengusap wajahnya, kembali mengatur bantal dan kembali berbaring.


"Ibu sholat dulu ya." Ibu melihat jam dinding menunjukkan pukul Tiga.


"Angga akan menemani Iyan." ucap Kakak tertua Iyan itu, diangguki ayahnya yang kemudian berlalu mengikuti ibu.


"Mas kalau mau istirahat silahkan." Iyan menggeser posisi tidurnya.


"Gampang." Angga duduk di samping Iyan. "Kamu punya musuh?" tanya Angga tiba-tiba, dari tadi sorot matanya menatap Iyan dengan sorot yang berbeda.


"Tidak Mas." jawabnya sedikit meninggikan bantalnya.

__ADS_1


"Tapi yang mas lihat ada. Dan dia benci sekali sama kamu." Angga masih menatap wajah Iyan.


__ADS_2