Main Dukun

Main Dukun
Aku tidak sakit


__ADS_3

"Mel, mas boleh tanya sesuatu?" tanya Iyan pelan, menatap penuh cinta, menyelami kedalaman bola mata Melati.


"Boleh Mas, memangnya Mas Iyan mau tanya apa?" jawab Melati masih menikmati tatapan Iyan.


"Melati benar-benar cinta sama Mas Iyan?" mencari keyakinan sendiri di wajah Melati.


"Iya." Melati mengangguk pelan namun berkali-kali. "Apakah Melati bisa minta tolong sama kamu Mas?"


"Apa?" tanya Iyan juga sangat pelan.


"Kalau Melati berubah, Mas Iyan yang harus buat Melati kembali." ucapnya sendu, bulir bening jatuh pelan di pipi halus Melati membuat Iyan tersentuh dengan ucapan tulus dari hati terdalam Melati.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Mel?" tanya Iyan lagi sambil mengusap air mata Melati, dalam hatinya ia tahu, tapi untuk lebih yakin Iyan perlu tahu dari bibir Melati.


"Entahlah Mas, rasanya hidup ku ini banyak sekali keanehan. Dan itu terjadi pada orang-orang di sekelilingku, kamu dan juga ibu Mas." tatapannya berubah khawatir.


Iyan paham apa yang di bicarakan Melati, juga sangat paham betapa rumitnya kehidupan gadis yang yang ada di hadapannya ini. Sempat terpikir ingin menyerah, namun melihat dia begitu ingin bebas, rasanya Iyan kembali bersemangat untuk mempertahankan Melati. Terlebih lagi kelakuan Arka, pria egois itu tak akan berhenti sebelum mendapat apa yang diinginkannya.


"Mas." panggil Melati lagi.


"Ya." jawab Iyan menarik nafas yang terdengar berat.


"Aku tidak tahu harus minta tolong dengan siapa, kecuali kamu yang sudah terlanjur mengetahui semuanya melebihi Ibu. Aku janji akan benar-benar menjadi istri yang baik untukmu, akan menuruti apa maumu Mas. Asal aku bisa bebas dari keadaan yang serba sulit ini."


"Ibu hanya takut terjadi sesuatu yang tidak baik padamu Mel, mungkin Ibu heran melihat kau lebih memilih aku daripada Arka."


"Bukankah dari awal memang begitu Mas?" tanya Melati lagi.


"Mas tau Sayang." Iyan kembali mengusap air mata Melati, ada rasa hangat ikut mengalir ke dalam hati pemuda itu. "Mas ingin kamu menurut saja apa kemauan Ibu, aku tak bisa berbuat apa-apa jika sudah menyangkut Ibu. Soal kecurigaan Ibu tentang aku memelet kamu, itu tidak benar dan apa yang akan di obati jika peletnya tidak ada? Jadi tidak usah takut." Iyan meyakinkannya.


"Tetap saja aku takut Mas."


"Aku akan selalu berdoa untukmu Mel. Yakin saja Allah Maha Besar, Dia tidak tidur Mel. Maha melihat siapa yang benar dan siapa yang salah. Hanya belum waktunya semuanya terungkap. Jadi kita harus hadapi apapun yang terjadi, sampai pertolongan itu datang setelah waktunya." Iyan tersenyum memberi semangat dan keyakinan untuk Melati.

__ADS_1


"Artinya aku harus berangkat mengikut Ibu Mas?" tanya Melati sendu.


"Ya, hadapi semuanya sesuai rencana yang di atas. Yakin saja semua sudah diatur." ucap Iya lagi.


Melati mengangguk, rasanya ucapan-ucapan Iyan sangat memberi kekuatan untuknya, pemuda itu membuatnya berani. "Makasih Mas, aku tidak tahu apa jadinya aku jika tidak bertemu denganmu."


"Ya jadi Melati, bunga desa yang cantik, putih dan wangi. Tentu dari kejauhan Mas dapat mencium wangi dirimu, mana mungkin kita tidak bertemu." Iyan merayunya dengan tulus.


Melati mengangguk lagi, tersenyum senang karena memiliki Iyan sebagai pengganti Arka dan dia jauh lebih baik, membuka matanya untuk lebih melihat dunia yang ternyata tak hanya seluas rumah kayu milik ibunya. Ada banyak hal buruk yang harus di rubah, ada hal yang lebih baik selain hanya bertahan dengan harapan kosong bersama Arka.


"Tunggu di sini ya, Mas mau beli makanan buat kita semua. Mas laper tadi pagi belum sempat makan." Iyan kembali meraih tasnya.


"Ini uangnya Mas." Melati membuka buku keuangan yang ada uang beberapa lembar terselip di dalamnya.


"Buat kamu saja." Iyan menolak.


"Tapi ini uang jatah untuk kita beli makan Mas?" Melati tak ingin Iyan memakai uang pribadi.


"Iya, kamu simpan saja." Iyan tersenyum sambil berlalu.


Tak lama kemudian Iyan sudah kembali membawa tiga kotak makanan di dalam kantong plastik berukuran lumayan besar.


"Mas beli dimana? Kan bisa pesan yang dekat sini, mereka yang hantar." ucap Melati sambil meraih kantong plastik, mengeluarkan tiga kotak makanan tersebut dan meletakkannya di atas meja masing-masing.


"Sekalian foto copy." jawabnya tersenyum.


"Aku harus pulang Mas, Ibu sudah menunggu." benar saja meja Melati sudah rapi.


"Tapi kamu belum makan Mel?" Iyan jadi khawatir.


"Melati bawa pulang saja makanannya. Dari pada Ibu menunggu." jawab Melati memasukkan lagi makanan miliknya ke dalam kantong plastik.


"Mas antar." Iyan menutup kembali kotak makanan miliknya.

__ADS_1


"Tidak Mas. Kamu belum makan." Melati mencegah tangan Iyan yang akan meraih kunci motor miliknya. "Ibu sedang melarang Mas Iyan datang ke rumah." jelasnya lagi.


Iyan mendengus kesal, namun kemudian berusaha setenang mungkin. "Ya sudah." ucapnya kembali duduk, namun matanya masih menatap Melati.


Hingga Melati berlalu bersama ojek pesanannya, Iyan masih menatap jalanan di depan dealer. Kesal dan bingung dengan semua yang terjadi.


Sedangkan di rumah Melati, Ibu sudah bersiap dengan pakaian rapi. Duduk di ruang tamu menunggu Melati.


"Assalamualaikum Ibu." Melati masuk dengan menenteng sepatu. Namun terkejut bahwa ternyata ibunya tidak sendiri, Melati menatap ibunya juga Arka bergantian.


"Aku akan mengantarmu Mel." Arka berdiri melihat Melati yang tampak memperhatikan dirinya.


"Hanya mengantar, ibu akan berangkat bersama ojek." ucap Ibu yakin.


"Apa sebaiknya kita naik ojek saja Bu, tidak usah merepotkan Mas Arka." Melati mencoba menolak.


"Aku tidak repot Mel, aku rela melakukan apa saja asal kau sembuh." ucap Arka sedikit memelas.


"Aku tidak sakit Mas!" kesal Melati, menatap tajam Arka.


Tentu sikap itu membuat Arka semakin yakin bahwa ada sesuatu pada diri Melati. Ia memilih diam dan membiarkan Melati menuju dapur, sepertinya ia makan terlebih dahulu. Hingga beberapa saat kemudian Melati sudah selesai dan berangkat bersama Arka.


Perjalanan lumayan lama, beberapa jam mereka baru sampai di kecamatan berbeda dengan tempat tinggal Melati. Mereka langsung menuju rumah Aryo, saudara ibunya Melati.


"Melati?" Aryo keluar dari rumahnya.


"Iya Paman." Melati mendekati Aryo dan meraih tangan laki-laki yang masih tergolong muda itu.


Tak lama kemudian Ibu Nur juga sudah datang bersama ojek langganannya.


"Mbak." Aryo meraih tas yang di bawa Ibu Nur. Sedikit curiga ia melirik Arka.


Merasa di perhatikan dengan menyelidik oleh Aryo, akhirnya Arka memilih pulang. "Arka pamit ya Bu, kalau nanti mau di jemput hubungi saja aku." ungkapnya sedikit gugup.

__ADS_1


"Makasih Nak Arka!"


__ADS_2