
Malam Minggu itu Arka sedang bersiap menuju rumah Melati, kabar tentang urungnya lamaran keluarga Iyan ke rumah Melati sudah tentu terdengar lebih dulu di telinga Arka membuat pemuda berkulit putih itu sangat bahagia.
Melaju cepat menuju rumah Melati, bibir tebal Arka tertarik menggosokkan telapak tangannya dan meniup sedikit. "Huh." Dia menarik nafas lalu mengetuk pintu rumah Melati.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
Arka tersenyum manis, tentu saja manis karena senang dengan urungnya Melati di lamar kekasih hati.
"Ada apa Mas?" tanya Melati dengan wajah tak suka.
"Mas datang bertamu, kok kamu seperti itu?" tanya Arka lembut sekali.
"Aku capek, mau istirahat." Melati masih berdiri di pintu.
"Mas mau bicara sebentar saja. Janji tidak lama." Arka lebih serius kali ini.
Lama berpikir, namun sepertinya Arka tak akan begitu saja mau di totak Melati. "Baiklah." Melati menyerah, sedikit menyingkir memberi jalan untuk Arka masuk.
"Sebentar ya Mas?" Melati duduk berjarak, memilih duduk di dekat jendela sambil mengingatkan Arka.
"Mel, aku tidak bisa melupakan kamu." Arka menatap Melati dengan sayang.
"Tapi kita sudah selesai, dan Mas Arka bisa mencari gadis lain yang lebih cantik daripada aku." jawab Melati tak mau menatap wajah Arka.
Arka beranjak mendekati Melati, duduk berlutut dan meraih tangannya.
"Apa sih Mas, tidak baik seperti ini." Melati menarik tangannya namun percuma, Arka tak melepaskan bahkan tak melonggarkan tangannya.
"Mel, ingatlah kita sudah menghabiskan waktu selama Tiga tahun lebih, selama itu pula kita menikmati hari bahagia, menyatukan rasa, menyatukan keinginan dan menyatukan keringat kita. Tidak mungkin rasanya kau sudah melupakan semua itu." ucap Arka menatap sendu.
Melati tak bergeming, tentu saja dia tidak lupa, tapi ada banyak kecewa pula yang kemudian menghapus cintanya yang dulunya begitu besar, laki-laki yang sudah menemani harinya selama Tiga tahun lebih.
__ADS_1
"Bahkan aku sudah sangat hafal dengan semua lekuk tubuhmu." tangan Arka mulai naik meraih pinggang Melati.
"Tapi Mas, aku hanya ingin mengakhiri dosa kita ini. Aku ingin menikah dan menikmati hubungan yang halal." Melati mengalihkan pandangannya menghindari tatapan Arka.
"Kita akan menikah Mel, kita akhiri semuanya. Aku sungguh tidak bisa melupakan dirimu." mengecup jari Melati.
Tak mendapat penolakan membuat Arka senang, sangat yakin jika Melati akan menerimanya kembali.
"Kita mulai dari awal ya?" Arka membelai wajah Melati sedikit membuat Melati menatap wajahnya. "Aku yakin di dalam sini masih ada aku." Arka menyentuh dada Melati, tentu sentuhan yang sudah biasa itu kembali menghadirkan desiran hebat di dada Melati. Lama tak di sentuh membuatnya merasa terpancing dengan ulah Arka.
Melati menatap wajah Arka, semakin lama mata beningnya semakin tak bisa berkedip. Wajah yang tadinya biasa malah setiap detiknya berubah menjadi semakin tampan, manis, dan penuh kehangatan. Tanpa ia sadari wajah Arka sudah sangat dekat, dan menyambar pelan bibir merah Melati.
Hangat, lembut, sedikit bunyi decapan itu malah meningkatkan semangat Arka, hingga akhirnya larut dan Melati ikut terbuai dalam sentuhan dan belaian Arka.
"Mel!" suara seseorang mengejutkan ciuman panas mereka.
Melati mendorong Arka untuk menjauh, tapi Arka tak mau melepaskan bahkan semakin erat memeluk pinggang Melati, satu tangannya malah ingin meraih baju dan membuka paksa.
"Emh, Mas Lepas!" Melati berhasil melepas tautan bibir Arka, dan mendorong dada Arka agar menjauh.
Iyan masuk dengan langkah pelan namun pasti, matanya menatap tajam pada Dua orang yang sedang berpelukan, bahkan Melati terlihat tak berdaya dalam Kungkungan Arka.
Iyan meraih bahu Arka, lumayan keras agar pelukannya terhadap Melati bisa terlepas.
"Mas!" Melati ikut mendorong Arka hingga lebih menjauh, lalu memilih berdiri di samping Iyan.
Iyan menatap Melati, juga Arka bergantian, tampak Arka juga menantang tatapan Iyan dengan sombong. Ibu jarinya mengelap bibir yang basah, sengaja sangat lambat memamerkan kepada Iyan bahwa mereka baru saja berciuman.
Iyan diam seribu bahasa, tak ada yang tahu apa yang sedang ia rasakan, dia sedang menahan kekesalannya sangat rapi.
"Mas, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Melati memeluk lengan Iyan, menatap sedih dan bersalah.
__ADS_1
Iyan tak menjawab, masih menatap Arka lurus dan tanpa ekspresi apa-apa.
"Kenapa?"
"Kau kecewa?"
"Sakit?"
"Cemburu?" tanya Arka tersenyum sinis, suaranya semakin meninggi.
Iyan masih tak menjawab, bahkan matanya enggan berkedip.
Arka terkekeh dengan gaya sombong dan mengejek. "Begitulah perasaanku ketika kau mendekati Melati dan melamarnya diam-diam." Arka menunjuk wajah Iyan. "Sejak awal kau tahu persis jika dia adalah milikku. Aku sudah menjaganya Tiga tahunan, aku menyayanginya dan mencintainya selama itu. Aku hafal bagaimana sikap dan sifat Melati, aku juga sudah hafal seluruh lekuk tubuhnya, tak Satu tahi lalat-pun tak terlewat dari mata dan sentuhanku." Arka mendekati Iyan, hatinya begitu lega dengan kedatangan tiba-tiba Iyan malam ini.
Iyan masih tak menjawab, membiarkan Arka bicara juga Melati yang memeluk lengannya semakin erat. Sesekali terlihat tulang lehernya bergerak, menelan paksa ludah sendiri mencoba tidak emosi.
"Hanya melihat aku memeluk dan mencium milikku, kau sudah ingin mati." Arka terkekeh lagi.
"Cukup Mas!" Melati tidak suka Arka terus memanas-manasi Iyan.
"Agar dia tahu semua tentang kita Mel. Dan kau bisa lihat bagaimana dia meninggalkanmu sebentar lagi." Arka melanjutkan tawanya.
"Mas." Melati menggoyang bahu Iyan, diamnya pria baik itu membuat Melati sakit sendiri. Takut Iyan kecewa dan meninggalkannya, takut Iyan marah dan membencinya, dan banyak lagi ketakutan Melati atas diamnya Iyan.
"Untuk apa kau menangis? Sudah jelas bukan, dia akan meninggalkanmu. Kecewa karena kau masih menikmati ciuman dariku." Arka semakin senang.
"Cukup Mas! Harusnya aku tak mengizinkanmu masuk ke rumah ini lagi. Aku sungguh tak menyangka kau akan memanfaatkan keadaan untuk menyakiti hati Mas Iyan juga aku!" kesal Melati dengan tangis tak bisa di tahan lagi.
"Aku tidak menyakiti siapapun, justru kau! Kau yang sudah menyakiti dan meninggalkan aku Mel, dan aku sedang berjuang membuatmu kembali. Apa aku salah?" Arka bertanya pada Melati juga Iyan. "Justru yang salah itu dia." Arka menunjuk Iyan.
"Dia tidak salah Mas." Melati menjawab sambil masih memeluk lengan Iyan.
__ADS_1
"Lalu siapa yang salah? Jika kau melarangku menyalahkannya." Arka tak kehabisan kata-kata, malam ini dia benar-benar menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala yang mengganjal di hatinya. Sayangnya Iyan masih bungkam.
"Katakan padaku, apa aku harus mengalah saat milikku di rebut orang?" tanya Arka lagi pada Iyan yang menarik nafas dalam-dalam.