
"Aku akan berusaha menghubungi Kang Mas Gutama, dia harus tahu keadaan yang semakin kacau ini. Sebenarnya aku juga sedang berusaha untuk menghubunginya akhir-akhir ini, namun nomor ponsel mereka tidak ada yang bisa di hubungi. Aku juga sedang khawatir karena mereka bekerja tidak tetap di satu daerah, salah satu rekannya yang bisa ku hubungi sudah berhenti, dan dia mengatakan jika ada dua kemungkinan mereka pergi ke Kalimantan atau ke Maluku." jelas Aryo sedikit bercerita.
"Jika di Kalimantan artinya Mas Angga bisa membantu mencari, tapi jika di daerah lain ku rasa tidak." Iyan ikut berpikir.
"Jika memang tidak bisa dihubungi dan keadaan semakin rumit maka aku bisa menikahkan kalian. Tapi ku harap kau bersabar, karena bagaimanapun juga Melati punya ayah kandung." sambung Aryo lagi.
"Iya Paman, maaf jika aku membuat keributan di sini."
"Tidak apa-apa, aku paham maksudmu." Aryo menatap Iyan dengan penuh wibawa.
Iyan menoleh Melati yang masih menatapnya dari balik tirai jendela, Iyan tersenyum sedikit. "Kalau begitu aku pamit pulang." Iyan kembali meraih tangan Aryo bersalaman dengan menunduk hormat.
"Hati-hati, selalu waspada baik dalam keadaaan tidur sekalipun, ingat Allah meskipun sebatas Bismillah. Karena dengan mengingat-Nya insyaallah Dia akan menjagamu." Aryo berbicara serius kepada Iyan.
Iyan mengangguk mengerti. "Aku tahu Paman, terimakasih, Assalamualaikum." ucap Iyan berbalik setelah mendapat jawaban salam dari Aryo.
Kembali Iyan menoleh Melati, lalu menuju sepeda motornya yang sengaja berhenti di samping rumah tetangga Aryo. Iyan mengeluarkan ponsel Melati dan menghubungi nomor telepon miliknya.
"Mas." suara lembut Melati langsung menyapa.
"Tidurlah, Mas pulang ya." ucap Iyan masih dapat melihat wajah Melati dari jauh, terhalang jendela kaca.
"Iya." jawab Melati seakan tak rela.
"Setelah sampai di rumah aku akan menghubungimu lagi."
"Iya Mas, hati-hati dan hindari Mas Arka, aku takut melihatmu berkelahi." ucap Melati sendu.
"Iya, sudah ya." Iyan menutup ponselnya sambil tersenyum ke arah Melati. Ia melajukan motornya menuju jalan yang kemudian menghilang hingga kejauhan.
Sementara di jalan yang gelap, Arka sedang berdiri menatap langit, mati-matian menahan kesal bercampur kecewa.
"Tiga tahun Mel." ucapnya sedih, mendongak ke atas kemudian menunduk pasrah.
__ADS_1
"Sia-sia karena seorang laki-laki yang baru kau kenal. Apakah kau tidak melihat bagaimana aku mencintaimu, apakah kau tidak merasa jika aku benar-benar ingin bersamamu. Bahkan kita sudah ratusan kali melakukannya! Kau lupakan hanya karena laki-laki bernama Iyan. Apa kurangnya aku Mel?" Arka duduk berlutut di tanah, tubuh gagahnya lemas menahan gejolak di dada.
Dalam gelap ia menangis, laki-laki angkuh, gagah dan selalu bangga dengan dirinya kini menangis karena Melati benar-benar tak peduli lagi. Saat berkelahi dengan Iyan Melati malah tak memilihnya, Melati selalu saja membela dan takut sekali kehilangan Iyan, jauh berbeda saat bersama Arka, melati hanya menjadi gadis penurut dan manis. Tapi dengan Iyan, Melati menjadi sosok yang memuja dan manja.
"MELATIIIIII...!" teriak arka di tempat yang sepi tersebut. Ia tak peduli sekalipun ada yang mendengarnya.
Benar saja, kebetulan Iyan melintas di sana dan mendengar teriakkan Arka.
Arka menoleh cepat, saat mendengar deru motor yang sudah dia hapal suaranya. Iyan tak berhenti dan tak peduli, namun karena rasa benci dan amarah begitu besar Arka mengejar Iyan, mengebut di tengah kegelapan menuju desa mereka.
"Berhenti!" teriak Arka, sekaligus meluapkan kekesalannya.
Iyan hanya melirik dari kaca spion motornya, melihat cahaya semakin terang menuju arahnya tentu Arka akan lebih suka menabraknya dari pada mengalah.
Tin,tin.
Iyan tak juga berhenti.
Teriakan klakson Arka memekakkan telinga, hingga tiba di tempat yang lebih terang, mereka sudah memasuki desa dan Iyan berhenti.
Arka juga berhenti, tak sabar ingin menghajar Iyan.
"Kau benar-benar menantang ku." Arka menatap nyalang kepada Iyan.
"Tidak Mas, aku tidak menantang. Hanya tidak ingin berkelahi." ucapnya seperti biasa selalu tenang.
"Sok sekali kau di hadapan Paman Aryo. Apa yang sudah kau lakukan kepada Melatiku sehingga dia menjadi seperti itu? Dia tidak memungkin melupakan aku hanya demi laki-laki sepertimu!" tunjuk Arka sangat marah.
"Aku tidak melakukan apa-apa Mas Arka. Aku hanya berusaha membuatnya nyaman, dan aku berusaha sekuat hati untuk tidak menyentuhnya seperti apa yang kau lakukan." ucap Iyan menatap tajam Arka.
"Cuih, omong kosong!" bentak Arka.
"Dan tidak mengancamnya Mas Arka." Iyan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku akan mengatakan semuanya pada Ibu Melati. Lihat saja itu akan terjadi! Saat itu aku pasti akan mendapatkan Melati, dia akan dinikahkan dengan aku." ucap Arka sangat yakin.
"Silahkan saja, saat itu tiba aku juga akan mengatakan satu hal kepada Ibu dan semua orang. dan dapat ku pasti akulah yang akan menjadi suami Melati." balas Iyan tak mau kalah dari Arka.
"Apa maksudmu?" semakin marah, mana mungkin ada yang lebih penting dari apa yang ia katakan nanti, Arka berpikir keras.
Iyan tak menjawab, senang melihat Arka bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Arka lagi.
"Menurut Mas Arka? Apa yang membuat Melati selalu menempel padaku, takut kehilangan dan tidak mau berpisah?"
Arka semakin marah, dadanya naik turun dengan kembali berubah seram. "Kau menyentuhnya!" teriak Arka menyerang Iyan dengan semakin membabi buta.
Iyan menghindar dengan gesit, tak munafik dia takut dengan mengamuknya Arka. Pria berkulit putih itu akan lupa segalanya ketika ilmu hitamnya menguasai.
"Berhenti Mas!" bentak Iyan tapi tak di pedulikan Arka.
Ia menyerang terus, menendang dan memukul, emosi yang memuncak membuatnya tak berkonsentrasi, pukulannya meleset walau sekali kemudian mengenai wajah Iyan.
"Arka!" bentak Iyan menatap tajam, Iyan benar-benar marah kali ini.
Iyan menangkis tendangan Arka, kemudian menangkap tinjauannya dan berhasil menekuk lengan besar Arka di belakang tubuhnya.
"Kau menyentuh Melati!" teriak Arka lagi.
"Andaikan kau lebih baik dari ini Mas, aku juga tak akan bersikeras melawan mu. Aku juga laki-laki sama seperti dirimu, punya hati dan perasaan. Tapi perbuatanmu kepada Melati sudah keterlaluan sehingga aku tak bisa hanya diam, karena aku juga ingin memiliki Melati. Dan setelah beberapa waktu bersamanya ternyata dia juga menginginkan aku, jadi maaf! Aku tidak akan menyerahkan Melati pada siapapun juga termasuk ibunya yang sudah kau guna-guna." ucap Iyan di belakang Arka.
"Kaulah yang sudah mengguna-guna Melati! Kau merebutnya dariku! Aku akan pastikan kau tak akan pernah bahagia, aku tidak rela!" geram Arka, tubuhnya semakin lemas di tekuk paksa oleh Iyan.
"Apapun katamu Mas Arka, Aku mencintainya dan ingin menyelamatkannya." jawab Iyan mulai melonggarkan kuncian tubuh Arka. Kemudian meninggalkannya menaiki sepeda motornya.
"Aku tahu sekarang, kau juga memiliki ilmu." Arka menoleh tajam Iyan yang sudah berlalu.
__ADS_1