
"Apa sampai begitu Mas berusaha mendekati aku?" tanya Melati pelan, matanya tak melepaskan tatapan Iyan.
"Ya, Mas sangat-sangat menginginkan kamu." jawab Iyan terlihat sangat tulus.
Begitulah seorang Iyan Rahendra membujuk Melati, semuanya terlihat tulus, dan memang sangat tulus dari hati.
"Satu bulan saja ya Mas." pintanya lembut dan pelan.
"Iya, Mas tidak melarang. Hanya rasanya akan lebih baik kamu di rumah menunggu Mas pulang bekerja, atau nanti kita bikin usaha lainnya. Yang penting kamu senang dan bahagia, hanya itu yang Mas mau. Apalagi setelah nanti kamu hamil dan kita punya anak. Mengurus anak kita saja kamu pasti sudah sangat repot."
Melatih mengangguk, tak mungkin dia menolak pada laki-laki yang selalu menginginkan dia bahagia.
"Mas sangat mencintaimu." ucapnya lagi setengah berbisik.
Melati memeluknya, dan mengecup pipi Iyan.
Iyan tersenyum manis, lega rasanya setelah membuat Melati mengerti.
Tak lama kemudian Adi masuk dengan minuman kaleng dan satu kotak gorengan.
"Laper?" tanya Iyan melihat Adi membuka kotak makanan tersebut.
"Dikit." jawabnya tak peduli, membuat Iyan terkekeh geli.
"Aku mau foto copy sebentar Mas." Melati beranjak seraya berpamitan.
"Iya Sayang." jawab Iyan tersenyum.
"Udah beres?" tanya Adi kepada Iyan.
"Sudah Paman." jawab Iyan terkekeh.
"Jinak cuma sama pawangnya." ucap Adi lagi sambil terus mengunyah makanan.
"Dia perempuan yang sangat baik Di, yakin orang yang sudah mengenalnya akan sulit melupakan." Iyan duduk ikut makan bersama Adi.
"Iya itu, kaya tetangga." Adi menyahut dan kembali membahas Arka, sedikit menyadarkan Iyan bahwa sebenarnya mereka masih belum aman.
Iyan tampak berpikir.
"Pasti lagi khawatir." Adi menebak apa yang dipikirkan Iyan.
"Aku khawatir kali ini Melati yang jadi sasarannya." Iyan meletakkan makanannya lagi.
"Terus gimana?"
"Ingin rasanya aku menemui Ayahku, tapi aku khawatir meninggalkan Melati sendirian. Apa aku meminta bantuan Paman Aryo saja?" Iyan menoleh Adi meminta pendapat sahabatnya.
"Kapan kamu mau pergi?" tanya Adi serius.
__ADS_1
"Secepatnya, tapi aku perlu bertanya dulu kepada bapakku." ungkap Iyan lagi.
"Mas Angga sudah berangkat apa belum?" tanya Adi lagi.
"Besok." jawab Iyan.
"Kamu pergi sore ini, minta Mas Angga menemani aku ke rumah Melati." usul Adi lagi.
"Serius kamu, aku harus berangkat dari siang lho?" Iyan masih belum yakin.
"Serius, ngapain aku bercanda." Adi kembali sibuk dengan makanannya.
"Ya sudah, nanti aku pergi. Aku ingin tahu seperti apa dukun hitam gurunya Arka, dan tentang aku." ucapnya pelan di akhir kalimatnya.
Siang itu seperti rencananya Iyan pergi ke rumah orangtuanya, rasa penasaran dan ingin bertemu membuatnya sudah tidak bisa menunda untuk mendatangi ayah kandungnya.
"Pak, bisakah memberi tahu aku dimana tempat tinggal ayahku?" tanya Iyan di siang itu.
"Untuk apa Le ?"( panggilan untuk anak laki-laki ).
"Hanya ingin bertemu Pak, tapi aku tidak tahu harus pergi ke arah mana di tengah hamparan kebun kelapa yang luas." ungkap Iyan.
"Kau tak perlu bersusah-susah mencari keberadaan ayahmu, sejak beberapa waktu ini dia ada di sekitarmu, hanya belum waktunya dia menemui mu secara langsung." jelas Ayah angkat Iyan.
"Benarkah Pak? Bagaimana bisa aku tidak tahu, dan alangkah buruknya aku jika sampai tidak mengenal ayahku sendiri." ucap Iyan terdengar sedih.
"Setahuku dia tak ikut campur, hanya membantu Arka dengan ilmunya." jelas Iyan lagi.
"Itu sama saja, lama-lama dia turun tangan kalau Arka dalam kesulitan." jawab Pak Yanto lagi.
"Artinya aku tak usah pergi?" tanya Iyan merasa tak yakin.
"Ya, pulanglah dan temani istrimu." Ibu tersenyum lembut sekali.
"Baiklah, terimakasih Bu." jawab Iyan begitu menyayangi istri dari Yanto tersebut, wanita yang membesarkan dan mengurusnya penuh kasih sayang.
"Kalau begitu aku pamit pulang." Iyan beranjak dari duduknya.
"Ya, sampaikan salam Ibu pada Ibu mertuamu. Dia sudah sembuh bukan?" tanya Ibunya lagi.
"Sudah Bu, nanti Iyan sampaikan." Iyan memakai kembali jaketnya. "Assalamualaikum." Iyan meraih tangan ayah dan ibunya bergantian.
"Wa'alaikum salam." jawab mereka bersamaan.
Iyan melaju menuju dealer sepeda motor tempat ia bekerja. Terlepas dari rasa penasaran terhadap ayah kandungnya, mungkin menunggu waktunya tepat itu lebih baik. Lagi pula Melati yang harus selalu di jaga saat ini, firasatnya mengatakan Arka sedang bersiap untuk menyerang dengan cara yang berbeda.
'Jangan sampai masa lalu Ibu terulang lagi, aku tidak mau berpisah dengan Melati. Apapun keadaannya, apapun caranya dia harus tetap bersamaku.'
Dia selalu berpikir hingga sepeda motornya sudah berada di depan dealer.
__ADS_1
"Mas!" Melati mendekatinya, kebetulan ia sedang berdiri di depan melihat stok motor baru yang sedang di pajang.
"Mas tidak jadi pergi." jawab Iyan tersenyum sambil melepas helmnya.
"Kenapa tidak jadi Mas?" tanya Melati lagi.
"Kata Ibu, mending menemani kamu saja." Iyan sedikit terkekeh.
"Kata Ibu atau kata Mas Iyan?" goda Melati.
"Dua-duanya, kebetulan Ibu mendukung. Ya Mas putar balik!"
Melati terkekeh mendengarnya. "Itu mau mu Mas."
Sementara di tempat lain, Arka sedang bepergian ke rumah dukun perempuan yang di maksudnya kemarin sore bersama Aki Juno.
"Kalau tidak yakin kita pulang." ucap Aki itu lagi dengan tegas.
"Aku yakin." ucap Arka sangat tegas.
Aki Juno mengangguk, kemudian melangkah di halaman rumah kayu tersebut. Tangan yang memegang tongkat itu terulur dan mengetuk pintu rumah sederhana itu.
"Mak!" panggilnya sekali.
Lalu mengulang beberapa kali, tetap tak ada jawaban.
"Ada orangnya atau tidak Ki?" Arka semakin penasaran.
"Tidak tahu, coba kamu yang panggil?" perintah Aki Arjuno.
Arka menurut, ia melangkah pelan dan mengetuk pintunya dengan tangan.
Belum lagi Arka memanggilnya, pintu sudah terbuka dengan seseorang tampak di dalam rumah tersebut.
Wanita itu tersenyum begitu manis, berdiri begitu cantik dan menggoda. Rambutnya hitam terurai, wajahnya mulus dan mata yang bening seperti bola mata Melati. Bibirnya mungil dengan hidung mancung bertengger. Arka sampai tak bisa berkedip memandangnya, wanita itu sungguh terlalu sempurna.
"Selamat sore Mak?" sapa Aki Juno pada wanita itu.
"Selamat sore Arjuna." jawabnya dengan suara halus dan merdu. Matanya tak henti melirik Arka yang tak juga berkedip.
"Arka!" panggil Aki Juno sedikit menyentak.
"I,,, iya Ki." jawabnya gugup, semua sendinya mendadak kaku.
"Itu yang kamu cari." ucap Ki Juno menunjuk wanita itu.
"Dia Ki?" tanya Arka menunjuk wanita tersebut.
"Iya, siapa lagi?" Aki Juno melenggang masuk ke dalam rumah itu.
__ADS_1