Main Dukun

Main Dukun
Asyik pacaran


__ADS_3

"Kalau tak percaya ibu bisa lihat nanti, setelah Iyan datang kemari." Arka berkata lebih meyakinkan Ibu, tentu dia akan selalu terlihat benar. Kehadiran Iyan yang mendadak membuatnya tersingkir tentu bisa di manfaatkan untuk membuat Iyan terlihat bersalah.


"Ya." antara yakin dan tidak yakin Ibu memilih meg-iyakan ucapan dari Arka.


Sedikit heran tapi membiarkannya juga, menyiramkan air di sekeliling rumah Melati. Ibu bahkan tidak mengerti tentang hal-hal seperti itu.


"Ini gunanya untuk apa Nak Arka?" Ibu menghampiri Arka yang baru saja selesai menghabiskan air di dalam botol, menyiram lebih banyak di bagian depan pintu.


"Agar peletnya Iyan luntur Ibu, nanti dia datang kan lewat pintu." jawab Arka.


"Ya iyalah Nak Arka, kalau datang ke rumah orang ya lewat pintu, mau lewat mana lagi?" Ibu Nur sedikit kesal, tapi juga bercanda.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu Bu." Arka meraih tangan Ibu, tumben sekali dia bersikap lebih sopan, atau baru saja belajar membenahi diri.


"Iya." jawab Ibu masih bingung dengan kelakuan Arka, juga memikirkan Iyan dan Melati anaknya.


Wajar saja Arka curiga, karena Melati berupah dan berpaling secepat itu. Tapi yang di ucapkan Melati ada benarnya jika memang Iyan lebih baik, bahkan sebelumnya Ibu juga mendukung Melati bersama Iyan.


"Kenapa jadi ribet begini ya?" gumam Ibu Nur setelah menutup pintu.


...***...


"Mel." panggil Iyan di ketika jam istirahat, mereka baru saja selesai makan siang.


"Iya Mas Iyan?" jawab Melati sambil membereskan bekas kotak makanan.


"Nanti sore Mas antar ya!" Iyan tersenyum manis sambil duduk mendekati Melati, memandang dari dekat wajah ayu itu selalu membuatnya rindu.


Melati mengangguk, menatap wajah tampan Iyan yang akhir-akhir ini mengisi hatinya, menghadirkan rindu yang berbeda.


"Mas rindu sama kamu." ucap Iyan lagi menatap dalam bening mata melati, menyalurkan rasa yang sulit di ungkapkan tentang kerinduan.


"Melati juga Mas Iyan." tersenyum tulus lalu menunduk, membiarkan Iyan menatap wajahnya sampai puas.


"Mas geregetan kalau dekat Melati, Mas jadi takut."


"Takut apa Mas?" Melati mengangkat wajahnya menatap wajah Iyan dengan sedikit heran.


"Takut kebablasan." Iyan terkekeh, masih terus memandangi wajah Melati.


"Terimakasih mas." ucap Melati menatap sendu wajah tampan itu kali ini.

__ADS_1


"Untuk apa Sayang?" Iyan meraih jemari Melati dan menggenggamnya.


"Untuk.... Sudah hadir dalam hidupku dan menerima aku. Mas Iyan baik sekali, sopan dan begitu menjaga sikap. Aku menyesal mengapa tidak dari dulu saja aku mengenal Mas Iyan." ungkap Melati tulus.


"Dari dulu aku juga sudah menyukaimu Melati, hanya Allah belum memberikan restu. Dan sekarang kita sudah bertemu dan akan bersama. Rasanya sudah tidak sabar memilikimu secara utuh, dapat di pastikan rasanya sangat bahagia. Terutama aku!" bisik Iyan di akhir ucapannya.


"Kok hanya Mas Iyan?" Melati membalas genggaman tangan Iyan.


"Hemmm, karena Mas ingin mencoba yang Mas pernah lihat waktu itu." ucapnya menggoda Melati, tertawa lebar membuat Melati merasa sangat malu.


"Maaf Mas!" Melati menunduk memejamkan matanya begitu rapat.


"Untuk apa? Mas menyukainya." goda Iyan lagi.


"Mas!" rengek Melati menarik tangan Iyan yang sedang menggenggam jemarinya.


Iyan masih tertawa senang dengan godaannya, berhasil membuat wajah cantik Melati memerah dan sikapnya serba salah.


"Mas!" Melati merengek lagi, wajah memohonnya semakin membuat gemas Iyan.


"Iya Sayang." Iyan berhenti tertawa. "Mas juga minta maaf waktu itu lancang masuk rumah tanpa izin." tangan Iyan terangkat mengusap pipi Melati yang sangat halus.


"Tidak usah Malu. Aku yang merebutmu dari Arka." ucap Iyan menegaskan posisinya lah yang salah, bukan Melati yang sedang memohon cintanya, tapi Iyan yang menginginkan Melati untuk menjadi istrinya.


Melati menatap lekat mata Iyan, banyak keyakinan di sana, tidak merendahkan dan sangat membuat nyaman. 'Ya, benar jika Mas Iyan lah yang merebut Melati dari Mas Arka.'


"Yang direbut mau Mas." jawab Melati tersipu malu.


Iyan kembali tertawa, senang sekali mendengar jawaban Melati. "Berarti cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, kamu membalasnya?" tanya Iyan ingin mendengar lebih banyak kata-kata dari bibir merah Melati.


"Tentu saja Mas Iyan, Melati sudah tidak sabar menjadi istrimu."


Iyan sungguh kegirangan, ingin rasanya melompat dan berteriak mendengar ungkapan Melati. Entah mengapa ungkapan itu membuat Iyan semakin tidak tahan berada di dekat Melati.


Cup


"Mas!" Melati menatap wajah Iyan yang tiba-tiba mengecup sudut bibirnya.


"Maaf, Mas sudah tidak tahan terlalu dekat sama kamu."


"Itu mencuri." ucap Melati mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Sekali lagi ya?" Iyan mendekatkan wajahnya. Meski Melati tak menolak, tapi kemudian Iyan memilih kening Melati untuk dicium sangat lembut.


Hangat, menggetarkan hati yang selama ini kusut. Sungguh berbeda cara Iyan memperlakukan dirinya, genggaman tangan yang lembut itu tak juga di lepaskan Iyan. Hanya perlakuan seperti itu saja sudah membuat Melati sangat bahagia, apalagi nanti setelah menikah. Melati semakin tidak sabar menuju hari itu, rasanya menunggu beberapa Minggu lagi itu sangat lama.


Iyan melepaskan kecupan di kening Melati, menatap bening matanya dari dekat, juga seluruh wajahnya begitu indah di mata Iyan. "Melati cantik sekali." pujinya pelan setengah berbisik.


Melati tak menjawab, rasanya sayang sekali momen hangat itu akan terlewati dengan cepat.


Iyan tersenyum, "Mas keluar sebentar ya, nanti sebelum jam Tiga Mas sudah kembali." Iyan melepaskan tangan genggaman tangannya pada jari Melati.


"Iya." jawab Melati halus.


"Terlalu lama di dekat Melati, membuat jantung Mas Iyan berolah raga, takutnya khilaf! Bisa habis kamu." Iyan meraih ponsel dan tas pinggang di mejanya.


Melati hanya tersenyum mendengar ungkapan-ungkapan gemas dari calon suaminya itu.


"Kamu belum berangkat?" Adi baru saja kembali dari perjalanan luar kecamatan langsung masuk.


"Ini lagi siap-siap Paman Adi!" Iyan juga menggoda sahabatnya.


"Wah, jadi nih calon keponakan." Adi tertawa, meraih air mineral dan membuka tutupnya.


"Jadi lah. Iya kan Sayang?" Iyan mengedipkan mata pada Melati.


"Yo wes, sana pergi! Jangan asyik pacaran kerjaan juga harus beres." Adi menyindir Iyan, sudah tentu selama dia tak ada mereka asyik mengobrol.


"Iya!" Iyan Berlalu dengan tertawa.


"Sudah makan belum Paman?" tanya Melati.


"Sudah tadi di jalan Mel." Adi melepas jaketnya dan duduk menyandar.


Melati melanjutkan pekerjaannya, membuka laptop dan mengetik hasil pekerjaan hari ini.


"Kamu jadi nikah sama Iyan Mel?" tanya Adi penasaran dengan hubungan mereka.


"Iya Paman, malam Minggu nanti orang tuanya akan datang ke rumah untuk melamar Melati."


"Baguslah! Tapi bagaimana dengan Arka?" Adi menatap wajah keponakannya.


"Sudah selesai Paman, tapi malah dia bikin ulah."

__ADS_1


__ADS_2