
"Ada apa Mas?" tanya Melati menoleh, lelah dan dingin membuatnya ingin segera ke kamar mandi, namun tertahan oleh Arka.
"Pikirkan lagi tentang kita Mel, aku benar-benar mencintaimu dan berjanji akan berubah menjadi seperti apa yang kau inginkan." ucap Arka bersungguh-sungguh.
Melati menarik tangannya yang sedang di genggam Arka, ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Mel, dengarkan aku dulu. Hubungan yang sudah sangat dekat ini, harusnya berlabuh ke pelaminan. Agar berakhir indah seperti selayaknya. Kita akan bahagia Mel, kita akan menjalani hari-hari kita bersama." ucap Arka lagi benar-benar tulus.
Kembali Melati menarik tangannya kali ini lebih kuat.
"Mel!" Arka semakin menariknya.
"Aku ingin pipis Mas." ucapnya dengan kesulitan, karena rasa sesak dan gatal di tenggorokannya masih terasa.
"Oh, maaf Sayang." Arka melepaskan tangan Melati, ia sedikit merasa bersalah karena menahan Melati, sungguh perjalanan dari tadi siang bahkan Melati belum sekalipun ke kamar mandi. "Sekalian airnya di minum Mel!" Arka sedikit berteriak, tentu ibu juga mendengarkan teriakannya.
Selang beberapa menit setelahnya, Ibu Nur keluar dari dapur membawa kopi untuk Arka. "Diminum Nak Arka." ucap Ibu Nur meletakkan kopi di atas meja.
"Terimakasih Bu." Arka senang sekali dengan perubahan sikap Ibu.
Dulunya Ibu memang baik, namun seiring waktu berjalan banyak gosip beredar tentang ibunya Arka yang tak merestui hubungannya dengan Melati membuat Ibu Nur menjaga jarak dengan Arka, bahkan semakin hari semakin menjadi gosip-gosip itu beredar, membuat ibu benar-benar jenuh dengan hubungan mereka. Belum lagi Arka yang tak kunjung melamar, dia merasa kecewa dan tak suka dengan Arka.
"Terimakasih sudah menghantarkan Melati ke rumah Aki-"
"Aki Juno Bu." Arka memberitahunya.
"Ya." Ibu menunjuk sambil tersenyum, ia bahkan lupa nama Aki-aki tersebut.
"Tidak masalah Bu, aku sudah kenal lama dengan dia, dia orang baik." jelas Arka lagi.
"Ibu percaya, semoga Melati cepat sadar." ungkapnya sedih.
Sedangkan Melati yang baru saja dari kamar mandi berjalan pelan menuju kamarnya. Ia mendengarkan obrolan antara Ibunya dan Arka. Sedikit mengernyitkan kening, ia sungguh bingung yang di maksud sadar oleh ibunya itu seperti apa. Malah yang Melati rasakan saat ini ibunya lah yang semakin tidak sadar dengan perubahan sikapnya.
__ADS_1
"Iya Bu, aku berharap juga seperti itu. Aku ingin Melati kembali seperti dulu." ujarnya penuh harap.
"Kembali seperti dulu bagaimana Mas Arka, apakah maksudmu menjadi budak nafsumu seperti kemarin itu?" gumam Melati menatap sinis di balik gorden pintu.
"Mel!" suara Ibu memanggil Melati.
Padahal baru saja ia masuk ke kamar dan akan berbaring di ranjang miliknya. "Iya Bu!" jawabnya sedikit keras.
"Ini jangan lupa kamu minum." Ibu membawa air di dalam botol plastik, lalu menuangkannya ke dalam gelas.
"Apa sebaiknya besok saja Bu." tolak Melati tak menyukai air dari aki-aki tersebut.
"Tidak bisa, yang namanya obat harus diminum segera. Pasti kamu tidak suka?" tebak Ibu segera menyodorkan gelas berisi air putih tersebut.
"Sebenarnya ini air apa Bu?" Melati semakin tak suka, malas namun terpaksa mengambil gelas berisi air dari tangan ibu.
"Cuma air putih ini, kan kamu juga melihat saat aki-aki itu mengambilnya." Ibu membujuk.
"Ayo minum." Ibu meminta minum saat itu juga.
Melati meneguk beberapa, kemudian menyerahkan kembali sisanya ke tangan Ibu.
Ibu Nur tersenyum puas, akhirnya Melati menurut padanya.
"Bu!" terdengar suara Arka dari ruang tamu, sepertinya pria itu ingin berpamitan.
Ibu bergegas keluar dari kamar Melati. "Iya Nak Arka?" Ibu mendekati Arka.
"Arka pamit pulang Bu, mungkin Ibu dan Melati ingin istirahat." Arka memakai kembali jaket yang sempat di lepasnya.
"Ya sudah. Nak Arka juga pasti lelah, terimakasih ya." Ibu Nur meletakkan botol plastik dan gelas ditangannya.
"Sama-sama Bu, sampaikan pada Melati aku pulang." ucapnya kemudian beranjak membuka pintu.
__ADS_1
"Iya." ucap Ibu lalu menutup pintu setelah Arka berlalu.
"Makan Mel?" Ibu kembali menanyai Melati.
"Nanti saja Bu capek." jawab Melati asyik menyandar di ranjangnya, ada rasa lega tersendiri setelah meminum air putih yang di berikan ibunya.
"Kamu harus pikirkan lagi untuk menikah dengan Iyan." ucap Ibu sedikit melirik tangan Melati sedang memegang ponsel, tentu dia sedang berkirim pesan dengan Iyan, pikir Ibu Nur.
"Kenapa? Bukanya Mas Iyan adalah laki-laki yang baik untuk menjadi suamiku Bu?" Melati ingin tahu mengapa ibunya berubah mendukung Arka.
"Bukan perkara baik Mel, tapi ibu sangat kasihan sama Arka. Dia sanggup melakukan apa saja untuk kamu Mel? Lihat dia rela capek-capek menghantarkan kita ke tempat yang jauh untuk membantu kita. Dia benar-benar tulus sama kamu Mel. Coba kamu ingat-ingat lagi, bagaimana kemarin-kemarin dia sangat cinta sama kamu, terus mengapa sekarang malah dia harus kamu tinggalkan, kamu tidak berpikir bagaimana tersiksanya Arka jika kamu tinggalkan? Sekarang saja dia terlihat pucat dan kurus semenjak kamu dekat dengan Iyan Mel?" Ibu berbicara banyak sekali, dan lagi-lagi ia berbicara tentang rasa kasihan kepada Arka, parahnya lagi kali ini dia menangis.
"Bu, mengapa harus ditangisi, anak ibu Melati lho, bukan Mas Arka!" kesal Melati melihat sikap Ibu mulai berlebihan.
"Tapi benar Mel, ibu sangat kasihan kepada Arka." Ibu Nur masih terisak-isak.
Melati memijat kepalanya yang mulai berputar, lelah dan lelah. Rasanya lelahnya berkali lipat setelah mendengar ungkapan Ibu Nur yang benar-benar di luar dugaan.
"Ya sudah, sebaiknya kita istirahat dulu, besok Ibu sambung lagi memikirkan Mas Arka." kesal Melati, ia tak mau berdebat dengan Ibunya.
Ibu beranjak dari duduknya, dambil mengusap air mata ia menuju dapur, entah mau makan atau mau lanjut menangis, Melati tak mau mengganggunya.
"Ada-ada saja." Melati menarik selimut dan kemudian kembali membuka layar ponselnya. Dia tidak sedang berkirim pesan melainkan hanya melihat foto-foto Iyan di dalam akun Facebook milik Iyan Rahendra. Melati tersenyum-senyum sendiri melihat pemuda itu berfoto dengan gaya keren, dan senyum manis bak gula di atas donat, menggoda dan membuat rindu ingin melihatnya langsung.
Seperti sedang tersambung, Iyan di sana juga sedang memikirkan Melati, dan menulis sebuah status.
..."Merindukan seseorang di sana, apakah dia juga rindu?"...
Mata indah Melati membulat sempurna, bibirnya tertarik di kedua sudutnya.
"Aku merindukanmu Mas."
Balas Melati langsung melalui pesan pribadi, dan memberikan emoji hati di status Iyan.
__ADS_1