
Tentu tak mudah berbicara dengan Arka, perihal pernikahan bukanlah pembahasan yang pertama atau kedua kalinya. Dan hasilnya masih sama.
'Oh Tuhan, sulitnya menjadi aku. Bukan tak sempat aku berpikir untuk memutuskan hubungan ku dengan Mas Arka, tapi aku takut tak ada orang lagi yang dapat menerima gadis tak perawan seperti diriku.'
Hanya mengeluh didalam hati, setengah hati sadar jika dirinya ingin keluar dari lingkaran dosa itu, tapi separuh hatinya tak bisa membantah Arka, takut dan cinta! Sungguh rasa itu sulit dicerna. Tapi rasanya lelah juga ketika mengharap dan mengharap lamaran Arka, malah hingga sekarang ini tak kunjung mendengarnya.
"Ibu." lirihnya, kasihan sekali ibu Nur saat ini tak hanya saat ini tapi sudah bertahun-tahun mendapat cercaan dan sindiran akibat hubungannya dengan Arka. Selain karena memang hubungan yang sudah lama dan membuat curiga, tapi juga tak sederajat menurut mereka, tak sedikit dari ibu-ibu mengatakan jika Melati sanggup melakukan apa saja untuk mendapatkan Arka. Tega sekali mereka! Akhir-akhir ini Melati sering menyimak, meski mencuri dengar namun sesekali Melati keluar dengan memperlihatkan wajah cantik dan rapi saat bekerja atau pulang bekerja. Bukannya malah kagum tapi malah membuat iri mereka semua. Sungguh hidup desa semua serba salah, cantik salah, jelek pun salah! Punya kekasih tampan dan berada salah, tak punya kekasih pun dianggap tak laku. Sesekali Melati menjawab obrolan mereka dengan nada lembut namu tegas, tapi tak mudah membuat mereka jera, tetap saja orang-orang nyinyir itu akan bersenang-senang dengan menggosipkan dirinya.
Entah mengapa malam ini Arka tak datang, padahal tadi sore dia sudah berjanji. Melati meraih ponsel miliknya.
'Sedang apa Mas Arka?' pesan dikirim.
Tak lama kemudian ponsel Melati berbunyi, mungkin malas mengetik sehingga Arka memilih menelpon saja.
"Halo Mas Arka!" jawab Melati lembut.
"Sedang apa Mel?" tanya Arka cepat.
"Sedang di kamar Mas, hanya melihat bintang-bintang." Melati memang sedang melihat bintang.
"Maaf ya, Mas tidak datang karena sedang ada acara keluarga di rumah saudaranya Ibu." ungkap Arka jujur, riuh di seberang sana dapat di dengar Melati.
"Iya Mas, aku juga lelah ingin istirahat."
__ADS_1
"Istirahatlah, besok Mas jemput ya!" ucap Arka terdengar manis.
"Iya." Melati menjawab dengan senyum dan hati yang damai. Ya, damai sekali mendengar ucapan lembut dan perhatian dari Arka, rasanya dia begitu manis, penuh kasih sayang dan mesra.
Melati tersenyum menatap layar yang sudah mati, secepat itu hatinya berubah ketika mendengar suara Arka dia kembali jatuh cinta, lupa jika baru saja dia berpikir tentang menikah, dan benci dengan hubungan yang tak kunjung menemukan titik akhirnya. Tapi sekarang sudah hilang semua gundah dan kesalnya.
...***...
"Mel, ada Arka di luar!" teriak Ibu Nur, pagi itu Ibu Nur juga sedang bersiap untuk panen cabai di kebun sayur miliknya.
"Iya Bu!" Melati keluar dengan kemeja berwarna coklat susu dan jeans hitam yang tampak pas membalut tubuhnya.
"Kamu cantik Mel!" ucap Arka namun tak terlihat suka.
Melati hanya tersenyum dan naik ke motor Arka, berboncengan hanya beberapa menit itu terlewati dengan diam.
"Apa Arka Marah kemarin Mel?" tanya Iyan pelan.
"Tidak Mas, hanya sedikit merajuk." jawab Melati disertai senyum manis.
"Syukurlah, Mas hanya khawatir dia memarahimu." ungkap Iyan balas tersenyum manis pula.
"Kenapa harus khawatir Mas Iyan. Melati akan baik-baik saja." suaranya lembut tapi terdengar seperti merayu.
__ADS_1
"Kau memang harus baik-baik saja Mel, Mas ingin kamu baik-baik saja dan bahagia." ungkap Iyan mendekati Melati dengan tatapan mesra. Sungguh ini kali pertama Melati melihat sikap berbeda dan membuat jantungnya tak karuan.
"Aku juga ingin selalu bahagia Mas Iyan, tapi terkadang harapan tak sesuai kenyataan. Bisa jadi bahagia dan baik-baik saja itu hanyalah mimpi untuk Melati." ungkapnya tersenyum namun tergurat kesedihan yang dalam.
"Jika Mas mampu membuatmu bahagia? Apa Melati bersedia?" tanya Iyan pelan, lembut dan mesra. Ah lagi-lagi sikap laki-laki yang lebih muda dari Arka itu membuat Melati salah tingkah.
"Melati tidak pantas bersamamu Mas, kau tahu sendiri jika aku sudah seburuk ini." Melati menunduk sedih.
"Tidak Mel! Aku serius. Jika Arka tak juga punya niat melamar mu, biar aku saja yang akan melamar mu. Kita menikah dan jauh dari semua yang di sebut dosa." Iyan semakin meyakinkan Melati.
"Aku tak punya pilihan Mas, dia berbuat, aku juga ikut berbuat. Tidak adil jika kau yang akan menerima sisanya, aku hanyalah barang bekas yang tak layak kau cintai." Melati benar-benar mengungkapkan semua yang ada dipikirannya.
"Barang bekas yang kau sebut itu, terkadang banyak di cari dan di gilai, termasuk aku. Aku mencintaimu dan menerimamu." ucap Iyan mantap.
Melati jadi bingung sendiri, ia harus bahagia atau juga kecewa. Tentu saja bahagia karena di cintai pria baik seperti Iyan, tapi kecewa sebab tak bisa menjadikan Iyan yang pertama. Harusnya laki-laki seperti Iyan 'lah yang mendapatkan hidangan utuhnya Melati, tapi malah mendapatkan sisa di piring Arka. Melati benar-benar merasa seperti sampah, dan menyadari betapa berartinya sebuah mahkota seorang wanita. Ya, Melati merasa sangat bodoh karena sudah memberikannya kepada Arka.
"Pikirkanlah baik-baik Mel, jika Arka melamar mu dan kau masih mencintainya maka terimalah dan menikahlah dengannya. Tapi jika tidak? Mas mohon kau mau membuka hatimu. Kita akan pergi dari sini, ikutlah bersamaku membangun rumah tangga yang jauh dari masa lalu." Iyan kembali mengatakan itu ketika sore hari mereka berkemas pulang. Tentu saja Arka sudah datang menjemput, dan Iyan mengalah.
"Tadi Iyan bicara apa Mel?" tanya Arka setelah di rumah, ia sempat melihat Iyan mendekat dan berkata serius.
"Besok harus menyiapkan berkas kredit Mas, banyak yang udah minta cepat, dan besok sepeda motonya baru masuk dari kabupaten." jawab Melati menjawab tentang pekerjaan mereka.
"Oh." jawab Arka menyandar.
__ADS_1
Melati pun ikut duduk menyandar, lelah dan penat. Tapi Arka tentu tak akan diam saja, pria itu memulai kegiatan mesumnya, tentu karena dari dua hari ini ia tak mendapatkan jatah dari Melati.
"Mas, apa tidak bisa yang ini di tahan dulu. Kita belum menikah dan dosa kita sudah banyak sekali." bisik Melati mencoba membujuk ketika tangan Arka membuka resleting jeans miliknya.