Main Dukun

Main Dukun
Penangkal pelet


__ADS_3

"Dosanya kau tanggung sendiri!" jawab Ki Juno dengan suara meninggi. Sedikit kesal di dalam hatinya dengan permintaan tak berkesudahan Arka.


"Ya, aku tidak peduli." Arka menjawab yakin, senyum seringai terbit di wajahnya, penuh dengan dendam dan ambisi.


Aki Juno memejamkan mata di hadapan perapian kecil berwadahkan mangkuk dari tanah liat, asap mulai naik ke udara dengan bau menyengat khas getah kayu berwarna cokelat tua. Laki-laki yang selalu berpakaian hitam itu tampak berkonsentrasi penuh, memanggil nama yang terdengar aneh di telinga.


"Datanglah! Datanglah." jari-jari keriputnya bergerak seperti sedang menari.


Arka menyandar di dinding yang terbuat dari bambu itu, membiarkan Aki Juno melakukan ritualnya. Apa dan siapapun di panggilnya dia tak peduli, yang terpenting adalah bisa kembali bersama dengan Melati.


"Arka!" panggil Ki Juno setelah beberapa saat selesai dengan komat-kamit membaca mantra.


"Ya Ki." Arka membenarkan posisi duduknya.


"Bawa air ini dan siramkan di rumah kekasihmu itu." Aki Juno memberikan sebotol air bercampur beberapa macam bunga.


"Baik Aki, ini hal yang mudah." Arka tersenyum senang.


"Mudah, tapi jika kau tidak benar-benar berubah, tidak benar-benar serius dalam niatmu maka kau akan kehilangan kekasihmu untuk selamanya."


"Aku tahu, aku bukan anak kecil yang harus kau peringatkan berulang-ulang Aki." jawab Arka tak mau di sudutkan, nyatanya selama ini ia tak pernah mau mendengarkan apapun nasehat orang, terutama Aki Arjuno. Berkali-kali nasehat untuk segera melamar Melati ia sampaikan, namun sampai kehilangan tak juga dia laksanakan. Berkali-kali pula perdebatan terjadi karena banyaknya kemauan Arka, tetap saja tak berubah hingga akhirnya kecewa nyaris kehilangan kekasihnya.


Bodoh! Bahkan kata-kata tersebut masih lebih baik, Arka tak peduli, hanya menurut apa maunya sendiri.


Sedikit lega, hati Arka lebih tenang setelah mendapatkan air pemisah dari Aki sahabat sekaligus gurunya. Malam itu ia bisa istirahat dengan senyum terukir di wajah tampannya. Bila esok sudah tiba, ia akan segera pulang untuk datang dan merebut Melati kembali, menyingkirkan Iyan yang sudah lancang mendahului lamaran seorang Arka. Pemikiran sombong itu memang sulit di rubah.


"Mel! Sudah bangun?" Ibu masuk ke kamar Melati.

__ADS_1


"Sudah Bu." Melati duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya.


"Kalau sudah bangun mbok yo segera mandi, sholat subuh cuma Dua rakaat, Dua kali sujud sudah selesai bisa main hp lagi." Ibu Nur memberikan ceramah subuh kepada Melati.


"Iya Bu, Mas Iyan yang kirim pesan. Nyuruh sholat juga seperti Ibu." jawab Melati tersenyum senang.


"Ya seperti itu, kalau calon suaminya Soleh, istrinya harus Soleha." Ibu Nur juga tersenyum senang. Ada perasaan lega ketika kekasih anaknya mengajak pada hal kebaikan.


Melati berlalu segera menuju kamar mandi, membiarkan ibunya membuka tirai jendela agar udara pagi masuk menggantikan debu selimut yang sudah mengepul walau tak terlihat.


Melati kembali dengan wajah basah dan lengan baju di gulung, wajah cantiknya semakin terpancar bersama tetesan air wudhu.


"Aku tidak yakin jika Iyan memakai pelet, mana ada orang memakai pelet terus yang di pelet di suruh sholat." Ibu Nur tampak berpikir, mata tuanya terus memandangi Melati yang mulai membaca niat sholat subuh pertama setelah sekian lama tak pernah melaksanakannya.


Ibu Nur keluar dari kamar Melati, kembali sibuk dengan aktivitas di dapur.


"Jam Tujuh Mas." jawab Melati dengan suara lembut dan tersenyum bahagia.


"Iya." jawab Melati lagi entah apa yang sedang mereka bicarakan. Namun sudut mata Melati melihat ibunya mengintip, sehingga Melati segera keluar dari kamar untuk berbicara pada ibunya.


Ibu Nur tampak serba salah, walaupun kemudian ia berjalan ke dapur dan duduk di tempat biasa.


"Ada apa Bu?" Melati ikut duduk bersama ibunya.


"Enggak apa-apa, cuma penasaran kamu mengobrol dengan siapa." jawab Ibu terlihat ada yang masih di tutupi.


"Mas Iyan." jawab Melati jujur.

__ADS_1


"Kamu yakin Mel, dia benar-benar serius dan tidak sedang mempermainkan kamu?" tanya ibu sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang sejak semalam ia tahan.


"Kurang yakin bagaimana Bu, kan Mas Iyan sudah melamar Melati. Apa itu tak cukup membuat Ibu percaya?" tanya Melati.


"Percaya, tapi apa enggak terlalu cepat. Ibu takut ada apa-apanya." ucap Ibu Nur dengan sedikit ragu.


"Apa-apanya bagaimana Bu, lalu Mas Arka? Apa ibu lebih percaya dia?" tanya Melati mulai curiga, tentu saja Melati tidak suka. Hanya Ibu tidak tahu perihal kelakuan Arka selama ini, saat ibunya tak ada maka laki-laki itu akan memangsanya hingga tak berdaya, jauh berbeda dengan Iyan yang begitu menjaga dan tahu betul batasan seseorang laki-laki dan wanita.


"Semalam itu, Arka curiga jika Iyan memakai pelet." Ibu mengatakan apa yang membuatnya gelisah.


"Pelet?" Melati meninggikan suaranya, ia benar-benar tak habis pikir dengan Arka. Lebih kesal lagi ibunya juga terpengaruh. "Melati harus bekerja." Melati beranjak dengan wajah kesal, ingin sekali Melati menampar wajah Arka yang menjengkelkan itu, bisa-bisanya dia memfitnah Iyan yang sudah jelas tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Melati yakin sekali jika Iyan tak akan melakukan itu.


Pukul Tujuh Lima belas menit, Melati sudah berangkat bekerja, tak ingin di jemput siapapun ia memilih berjalan kaki. Selain menghindari gosip tetangga, sekalian olah raga agar tetap sehat dan cantik karena tidak lama lagi akan menjadi istri Iyan.


Namun tanpa sepengetahuan Melati, Arka mendatangi rumahnya dan menemui Ibu Nur.


"Ada apa Nak Arka?" Ibu sangat penasaran dengan Arka yang tiba-tiba datang bukan untuk menemui Melati anaknya.


"Bu, aku sudah tanyakan pada orang pintar perihal Melati." Arka langsung melaporkan apa yang sudah di rencanakan sejak semalam.


"Orang pintar?" tanya Ibu Nur masih tak mengerti.


"Ya! Dan katanya, Melati benar-benar di pelet oleh Iyan." jawab Arka dengan wajah kemenangan.


"Serius kamu?" Ibu bergidik ngeri dengan apa yang baru saja di dengarnya, sekaligus bingung dengan kabar yang Arka bawa.


"Aku serius Bu. Tapi ibu tenang saja, aku sudah meminta penangkal untuk menghilangkan jampi-jampi Iyan, dan dapat di pastikan dalam waktu seminggu ini dia akan mundur dengan sendirinya, peletnya akan hancur." Arka benar-benar meyakinkan.

__ADS_1


"Tapi Ibu sedikit tidak yakin Nak Arka, karena Iyan itu anaknya baik sekali dan rajin sholat." Ibu Nur mencoba menyangkal.


__ADS_2