Main Dukun

Main Dukun
Tidak akan mundur


__ADS_3

"Ibu sedih." jawab Ibu Nur masih memeluk Melati, duduk di kursi dengan sangat memprihatinkan, tubuhnya kurus kering.


"Apa yang membuat Ibu sedih? Harusnya Ibu bahagia sekarang Melati memiliki pekerjaan yang lancar. Ibu tak perlu bekerja keras lagi di ladang sayur, kalaupun bekerja tak perlu memaksa." Melati mencoba menasehati.


"Pokoknya Ibu sedih sekali, apalagi kalau melihat Arka datang dengan wajahnya yang sendu, Ibu benar-benar tidak tega Mel!" Ibu semakin menangis kencang.


"Bu!" sungguh tak habis pikir dengan ibunya.


"Kasihan Arka Mel." Ibu masih tersedu-sedu.


"Terus Ibu maunya bagaimana?" Melati masih mencoba sabar, Iyan juga mengisyaratkan melalui matanya agar Melati tak terbawa emosi.


"Menikahlah dengan Arka Mel, Ibu takut dia bunuh diri karena tidak kuat kehilanganmu." tangis Ibu Nur semakin kencang.


"Astaghfirullah Mbak!" Adi geleng-geleng kepala, istighfar karena Ibu nur menangis kencang, juga istighfar karena ucapan bunuh diri, Adi mengusap wajahnya berkali-kali.


Iyan memperhatikan Ibu Nur dan Melati tanpa bicara. Berbeda dengan Adi yang tampak tidak sabar melihat kelakuan saudara iparnya tersebut.


"Ya sudah, Melati antar ke kamar ya. Ibu harus istirahat." Melati membujuknya.


"Ibu tidak bisa tidur Mel, apalagi kamu tidak ada." Ibu masih menjawab, tapi anehnya ia seperti tidak melihat Iyan.


"Sekarang tidur ya Bu, Melati kan sudah pulang." Melati mengajaknya ke kamar.


Ibu Nur menurut, tubuh tuanya sedikit gemetar seperti sudah sakit berbulan-bulan, tak bertenaga karena memang tidak tidur dan tidak makan.


"Parah." ucap Adi duduk gelisah.


"Kau temani Melati di sini, aku akan ke rumah Paman Aryo." ucap Iyan setelah beberapa menit tak bersuara.


"Terus Melati?" Adi menunjuk arah dapur.


"Biarkan dia mengurus Ibu, kasihan beliau tidak bisa istirahat, terlebih lagi jika Arka datang. Maka dari itulah kau tetap di sini, jangan tinggalkan Melati sendiri. Aku tidak akan lama, hanya perlu bicara dengan Paman Aryo, jika memungkinkan aku akan mengajaknya kemari." ucap Iyan serius.


"Ya sudah, ku rasa itu memang lebih baik. Karena jika aku yang pergi, dan kau yang tinggal maka akan memancing perkelahian lagi." Adi mengangguk mengerti.


"Aku akan menghindar sebisaku, sampai waktunya benar-benar tiba, aku tak mungkin menghindar selamanya." Iyan menatap arah dapur, Melati belum juga keluar.


"Aku rada-rada ngeri dengan kisah cintamu ini." Adi menunjuk Iyan.


"Kau yang memberiku dukungan, sekarang mengapa jadi ngeri?" Iyan tersenyum sedikit.


"Aku tidak menyangka akan seperti ini." Adi menghembus nafas kasar.

__ADS_1


"Aku sudah siap dengan semua yang akan terjadi. Aku yang merebut Melati darinya, aku yang memulai, aku juga akan menyelesaikannya." Iyan tersenyum yakin kepada Adi sahabatnya.


"Kau masih punya waktu untuk mundur." Adi ingin tahu jawaban sahabatnya tersebut.


"Aku tidak akan mundur, cinta Melati sudah menjadi milikku, hanya tinggal menunggu sah." jawab Iyan tersenyum semakin lebar.


Adi ikut tertawa mendengarnya.


"Mas." Melati keluar dari kamar ibunya langsung menemui Iyan dan Adi.


"Ibu mana?" tanya Iyan menatap wajah bingung Melati.


"Tidur." ucapnya menyandar, melihat rumah yang seperti kapal pecah membuatnya pusing sebelum membersihkannya.


"Aku beli gorengan dulu, laper." Adi beranjak dari duduknya, pergi ke warung tak jauh dari rumah Melati.


"Air minum sekalian Paman." Melati sedikit berteriak.


"Ya." Adi sudah di halaman.


"Mel." panggil Iyan memintanya duduk di samping Iyan.


"Ada apa Mas?" tanya Melati lembut.


"Aku akan ke rumah Paman Aryo, kau disini saja menjaga Ibu, Adi akan menemanimu." ucap Iyan menyibak rambut Melati.


"Tidak lama, paling dua jam aku sudah kembali." Iyan meraih tangan Melati dan mengelusnya.


"Aku ikut, boleh Mas?" Melati tak rela Iyan pergi.


"Ibu harus dijaga Sayang, mending beresin rumah, masak buat Ibu. Mas juga mau makan masakan Melati." Iyan tersenyum manis, membujuk dan merayu Melati.


Melati tersenyum senang mendapat bujukan maut dari Iyan Rahendra, Melati merasa selalu terbang jika di rayu olehnya.


Melati mengangguk, dia memang penurut. Beruntung sekarang di tangan yang tepat, pemuda tampan dan baik seperti Iyan. Walaupun jiwanya sempat jadi tahanan cinta Arka.


"Mas berangkat ya." Iyan beranjak dari duduknya dengan senyum mesra, menatap wajah cantik Melati yang selalu manja.


"Jangan lama-lama ya Mas." ucapnya halus dan merdu.


"Buat apa lama-lama, calon istriku ada di sini." Iyan kembali merayu, membuat Melati semakin tersenyum-senyum bahagia.


"Tetap di rumah, kalau Arka datang mengajakmu keluar jangan di turuti. Apapun yang terjadi jangan tinggalkan Ibu." pesan Iyan lagi.

__ADS_1


"Kenapa jadi Ibu?" Melati heran dengan pesan Iyan padanya.


"Ya, Ibu butuh teman Sayang." Iyan mendekati wajah Melati, semakin membuat deg-degan gadis cantik itu.


Melati berjinjit mengecup pipi Iyan kali ini, sentuhan bibir yang sedikit itu cukup membuatnya terkejut. Iyan memegang pipinya dan menoleh Melati, menatap tak percaya.


"Pergi sana!" Melati mendorong Iyan yang belum habis terkejut.


"Ini hutang lho!" Iyan menunjuk pipinya.


"Ih, di cium kok hutang." Melati menggeleng.


"Nanti Mas tagih setelah pulang." Iyan menggoda Melati, yang masih memegang lengannya.


"Bayarnya dobel ya Mas." Melati balas menggoda.


"Sekalian Mas makan kamu sampai habis." Iyan terkekeh sendiri sambil melangkah keluar.


"Kapan?" tanya Melati tak mau kalah.


"Maunya kapan?" bisik Iyan seperti biasa, senang sekali melihat Melati terpancing.


"Melati ikut ya Mas?" pintanya merengek manja.


Iyan kembali terkekeh dengan tingkah gadis itu, meski tak bersungguh-sungguh menggodanya, tapi hasilnya membuat Iyan juga ikut tak karuan. Menjadi khayalan indah di setiap jauh darinya.


Mereka tidak sadar jika ada sepasang mata yang mengawasi, melihat dengan tak suka di balik pohon besar milik tetangga.


"Hati-hati ya Mas." ucap Melati melambaikan tangannya kepada Iyan yang sudah melaju.


Iyan hanya menjawab dengan klakson, kemudian menghilang di jalanan yang berliku. Sempat melirik seseorang yang sengaja membelakanginya, Iyan tahu jika itu adalah Arka. Namun ia punya urusan yang lebih penting, menyangkut hubungannya dengan Melati. Lagi pula ada Adi, temannya itu bisa dipercaya.


Benar saja, sepeninggal Iyan Arka keluar menghampiri Melati. Pemuda itu memanggil Melati dan setengah berlari ke arahnya.


"Mas Arka?" Melati sungguh heran dengan kedatangan mendadak pemuda itu.


"Kamu sudah pulang?" tanya Arka memasang senyum semanis mungkin.


"Iya mas. Ibu sedang tidak enak badan, jadi aku harus mengurusnya. Maaf aku tidak bisa berlama-lama di luar." Melati berbalik masuk ke pintu rumahnya.


"Tunggu Mel." Arka meraih tangan Melati, namun di tepis olehnya.


"Aku perlu bicara, aku ingin kau kembali padaku." pinta Arka dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Aku sudah memilih Mas Iyan, mana mungkin aku kembali padamu Mas Arka." jawab Melati lembut.


"Pikirkan lagi Mel, jika kau tidak mau, aku akan menghabisi Iyan!"


__ADS_2