
Suara yang membuat Arka menoleh, mencari dan menelusuri asal suara.
"Siapa?" tanya Arka menajamkan telinga, mengikuti kata hatinya dan berjalan ke arah pohon kayu di ujung jalan.
"Keluarlah!" ucap Arka.
"Aku tak perlu keluar, sejak tadi aku disini." jawab laki-laki yang berdiri di balik pohon dan melangkah santai sekali.
"Kau rupanya!" Arka tersenyum sinis, "Pantas saja anakmu sembuh begitu cepat, tenyata kau sengaja datang menolongnya."
"Aku tidak pernah menolongnya atau ikut campur urusan pribadinya, tapi tidak bisa pula tinggal diam jika kau terus licik dan menyerang putraku dengan kekuatan Arjuna." jawab Dimas Mahendra ayah dari Iyan Rahendra.
"Tentu saja aku akan menyerang dan menghabisi putramu, dia sudah merebut milikku, merampas kebahagiaanku." marah Arka, wajahnya mulai terlihat menakutkan di kegelapan malam.
"Dia tidak merampas Arka, Melati sudah memilihnya sendiri." jawab Dimas Mahendra santai, wajahnya masih terlihat tampan di usia yang tak lagi muda ini.
"Kau pikir aku tidak tahu, Iyan juga menggunakan pelet untuk mendapatkan Melati. Bisa-bisanya kalian sok paling benar padahal kalian sama saja. Kau juga memberikan aku mantera yang akhirnya membuat aku tersingkir dari hati Melati, kau sengaja!"
"Itu salahmu sendiri! Dari awal sudah ku katakan bahwa kau harus segera melamar Melati, tapi kau malah larut dalam kesenangan dunia, sesukamu kau mempermainkan Melati, kau bahkan tak ingat mati! Jadi jangan salahkan jika mantera itu mencari sendiri pemilik yang sesungguhnya, laki-laki yang lebih tulus dan bersungguh-sungguh, berhati bersih dan tidak hanya bersenang-senang."
"Itu hanya alasanmu!" Arka benar-benar marah, tangannya mengepal dengan tak diduga melesatkan pukulan bercahaya kearah Dimas Mahendra.
"Sebaiknya kau hentikan pertikaian dan balas dendam ini Arka, karena ini hanya akan merugikan diri sendiri. Tak hanya anakku, tapi juga dirimu." Dimas Mahendra mengingatkan.
"Aku akan tetap menghabisi putramu, entah besok atau nanti aku tidak akan membiarkan mereka bahagia, ingatlah jika kalian sudah menghancurkan kebahagiaanku. Artinya kalian juga harus membayar sakit hatiku ini." Arka menatap tajam Dimas Mahendra, matanya berkilat merah, wajahnya menghitam siap menerkam.
"Aku hanya mengingatkan, jika kau tidak mau mendengar bagiku tidak masalah."
Dimas Mahendra berbalik, membelakangi Arka dan berjalan meninggalkan tempat itu, terlalu lelah rasanya harus berdebat dengan yang lebih muda.
"Aku tidak butuh nasehatmu." geram Arka, tentu saja Arka tidak akan mendengarkan sekalipun itu benar, terlebih lagi nasehat itu datang dari seorang musuh.
Arka mengikuti kemana arah laki-laki lima puluh tahunan itu berjalan, tapi kemudian kehilangan jejak di antara pohon dipinggir jalan, tempat yang gelap membuat laki-laki itu cepat menghilang.
Petir menyambar diantara gumpalan awan tebal menutupi cahaya bulan, sepertinya hujan akan segera turun.
Hati Arka kembali teriris mengingat Iyan dan Melati sedang menghabiskan malam pertamanya, hujan yang deras akan menjadikan percintaan mereka semakin hebat.
"Melati benar-benar hilang, tak hanya hatinya tapi tubuhnya sudah diambil orang. Habis sudah, aku tak akan lagi ada di hatinya." Arka meratapi nasibnya, berjalan pulang dengan langkah lemas.
__ADS_1
...***...
Pagi hari yang cerah, matahari mulai beranjak dari peraduannya. Daun-daun yang hijau tampak bercahaya dengan butiran air hujan masih menyisa di sudut-sudutnya.
Pagi itu pula Iyan sedang bersiap untuk kembali bekerja.
"Mas mau bekerja?" tanya Melati membantu Iyan memakai kemejanya.
"Iya Sayang, kasihan pamanmu jika di biarkan sendiri." Iyan membiarkan jari-jari lentik Melati merapikan kerah bajunya.
"Aku juga bekerja ya Mas." ucap gadis itu lagi.
"Sebaiknya besok saja, ibu baru sembuh Sayang." Iyan menyibak rambut yang menghalangi wajah Melati.
"Tapi aku akan rindu kalau di tinggal bekerja." Melati masih memainkan kancing kemeja Iyan.
"Mas juga rindu." Iyan tersenyum sambil memeluk pinggang langsing Melati.
Melati tersenyum senang dengan kehangatan Iyan di pagi itu, jika biasanya Iyan hanya menggoda, tidak untuk saat ini, setelah menikah Iyan memberikan semua perhatiannya.
"Mas juga nanti mau ke rumah Ibu, sekalian mau mengambil motor dan pakaian. Lagi pula Mas Angga lusa mau kembali ke Kalimantan." jelas Iyan sambil menarik hidung Melati.
"Sepertinya Mas belum berangkat, mungkin nanti kita bisa menyusul. Lagi pula Ibu baru sembuh dan Mas juga masih ada urusan."
"Begitu." Melati kembali berpikir mungkin maksud Iyan ada urusan adalah perihal ayah kandung Iyan.
Iyan menarik Melati ke dalam pelukannya, mengecup keningnya dan seluruh wajahnya.
"Ternyata Mas tidak sepolos yang ku pikirkan." ucap Melati ketika bibir Iyan selesai mendarat di bibirnya.
"Mana ada laki-laki seumuran Mas yang masih polos, terlebih lagi Mas sangat normal. Waktu masih pacaran saja mas sering sakit kepala karena menahan untuk tidak menyentuh kamu." Iyan terus mencium dan memeluk Melati.
"Aku sangat mencintaimu Mas." bisik Melati sambil mengecup pipi suaminya.
"Memang harus seperti itu Sayang, selamanya harus begitu, Mas tidak mau Melati berubah." bisik Iyan tak kalah romantis.
Melati memeluk Iyan sangat erat, tidak mau jauh walau sedikit saja.
"Mas tidak jadi bekerja jika seperti ini." bisik Iyan sudah bergerak liar, nafasnya memburu dengan sangat tak sabar, pergulatan panas kembali terjadi.
__ADS_1
"Semalam tidak seperti itu." ucap Melati mengerucutkan bibirnya setelah beberapa menit Iyan mengakhiri kegiatan mereka.
"Semalam bagaimana?" Iyan kembali memeluk Melati setelah merapikan kemejanya.
Melati tak menjawab, hanya menyandar manja di dada Iyan.
"Mas kasar ya?" Iyan tersenyum dan kembali mengecup kening Melati yang semakin tak berkutik di dadanya.
"Nanti Melati mau ke pasar Mas." rengek Melati manja.
"Iya, tunggu Mas pulang ya. Mas sudah sejak lama ingin mengajak kamu belanja."
Melati mengangguk, melepas pelukannya karena jam dinding di kamar itu sudah menunjuk pukul 07:30.
"Mas berangkat ya." Iyan meraih tas dan memakainya sambil berjalan keluar kamar.
"Tunggu Mas." Melati meraih bahu Iyan.
"Ada apa Sayang?" Iyan berhenti diambang pintu.
"Baju Mas kusut." Melati merapikan sedikit, menyelipkan di bagian ikat pinggang yang longgar.
"Biarkan saja, kan kamu yang membuat baju Mas kusut." Iyan mengusap kepala Melati.
"Bukannya terbalik, Mas yang buat Melati berantakan." Melati membalas godaan Iyan.
Iyan terkekeh geli, dia bahagia sekali di pagi ini.
"Assalamualaikum Sayang."
"Wa'alaikum salam Mas." Melati mengantar Iyan hingga keluar rumah, menatap suaminya yang pergi berjalan kaki.
Suasana luar rumah sedikit kacau karena hujan deras semalam. Melati mengambil sapu yang menyandar di samping rumahnya dan mulai mengumpulkan dedaunan.
"Mel!" suara Bule Tuti memanggil Melati.
"Iya Bule." Melati berdiri dan berhenti dari aktifitasnya.
"Mel, semalam Bule mendengar suara Arka berteriak."
__ADS_1