Main Dukun

Main Dukun
Mari bertarung hingga mati


__ADS_3

Malam itu Arka duduk bersilang dengan mata menutup, tangannya menangkup di depan dada.


"Melati." panggilnya pelan, masih dengan mata terpejam. Dan sejenak kemudian pria itu kembali mengulang panggilannya.


"Ini aku Melati." panggilnya pelan dan lembut sekali.


Melati bangun dari tidurnya, matanya mencari dimana orang yang sedang memanggil dirinya. Namun tak melihat siapa-siapa kecuali kegelapan yang menyelimuti sejauh apapun matanya memandang.


"Rasa-rasanya aku pernah berada di tempat ini." gumam Melati, samar melihat tempat yang gelap bangunan tua yang telah lama tak terpakai.


"Melati." panggilan suara itu membuat Melati berhenti mengamati tempat ia berdiri.


"Siapa?" tanya Melati menajamkan pendengarannya, tangan lentiknya meraba-raba.


"Aku Mel." jawab seseorang yang berdiri tegap membelakangi dirinya.


Melati pun menajamkan matanya, mencoba mengamati laki-laki itu, samar terlihat rambutnya yang tampak halus dan di pangkas rapi. Cahaya rembulan di atas sana mendadak memberi cahaya lebih terang ketika pemuda itu hadir dengan tubuh gagah sempurna. Wajah yang menoleh menyamping itu terlihat mempesona dengan rahang tegas namun berisi, pipinya halus dengan hidung mancung, Alis tebal dan terlihat sangat pas dengan kulitnya yang putih bersih.


"Mas Arka!" Lirihnya tak menyangka akan bertemu di tempat seperti itu.


Arka berbalik perlahan, menghadap Melati dan melangkah pelan. Mendekatinya dengan senyum manis tak pernah lepas di bibir tebal Arka. Dia tampan dan mempesona sekali malam ini.


"Akhirnya kita bisa bertemu Melati." ucapnya lembut, tatapannya sangat mesra.


"Untuk apa Mas Arka menemui aku?" tanya Melati menatap wajah Arka yang tak bosan di pandang, semakin lama semakin tampan saja.


"Tentu saja karena Mas sangat rindu." jawabnya lembut, meraih tangan Melati dan menggenggam jari-jari lentik itu erat.


"Tapi_"


"Tidak ada tapi, ini hanya mimpi yang tak perlu kau takuti Sayang. Kau tidak sedang berselingkuh atau menyakiti hati siapapun. Aku sangat merindukanmu." Arka mengecup jari Melati begitu lama, menyalurkan kehangatan hingga ke dalam hati wanita muda itu.


'Benar juga, ini hanyalah mimpi yang tidak nyatanya, mana mungkin aku berdosa hanya karena sebuah mimpi.' Melati berpikir lagi.


"Mas sangat rindu." Arka meraih tubuh ramping Melati masuk ke dalam pelukannya, menikmati wangi yang telah lama tidak di rasa.


"Mas Arka." Melati mendorong tubuh Arka agar menjauh, ia masih punya sedikit ingatan jika saat ini Iyan suaminya sedang tidur di kamar mereka.


"Tidak Sayang, jangan takutkan apapun." Arka mulai mengunci tubuh Melati, memeluknya dan menikmati semua yang bisa di sentuh.

__ADS_1


"Mas!" Melati mencoba menolak namun sulit sekali rasanya, terlanjur ia sudah jatuh ke dalam pelukan Arka.


Tak membuang waktu pemuda itu melakukan hal yang dulu pernah mereka lakukan hingga selesai walaupun dalam durasi yang sangat singkat.


Melati meringis menyaksikan pemandangan yang sama saat dulu mereka bersama, namun dengan penampilan yang berbeda, lebih lembut, sabar dan tampan.


"Terimakasih Sayang, kau cantik sekali saat seperti itu." Arka memujinya, masih membelai wajah Melati.


"Aku harus pulang." jawab Melati dengan sikap yang serba salah karena sudah melakukan hal itu dengan laki-laki yang bukan suaminya.


Arka mengangguk. "Jangan melupakan malam ini." ucapnya berbisik, lalu membiarkan Melati pergi melewati kegelapan tanpa menemaninya.


Wanita muda itu terseok-seok melewati lorong gelap dan tak sengaja kakinya tersandung batu dan terjatuh.


"Aaahhh.."


Melati menjerit dan memegangi keningnya yang terasa sakit.


"Sayang."


Suara dan wajah tampan Iyan membuat mata Melati semakin terbuka.


"Mas." panggilnya pelan, memijat dan meraba keningnya yang tadi sangat sakit atau mungkin berdarah.


"Tidak Mas, tadi aku tersandung dan terluka." jawabnya masih meraba keningnya sendiri.


Iyan terkekeh. "Kau sedang bermimpi Sayang.


"Tapi Mas!" Melati menoleh seluruh kamarnya, juga posisi mereka sedang tidur di ranjang berdua.


"Apa?" tanya Iyan mengecup kening Melati dan memeluknya.


"Tadi aku bermimpi bercinta_"


Iya terkekeh lagi, memeluk semakin erat tubuh Melati. "Mungkin karena akhir-akhir ini Mas tidak menyentuh kamu." jawab Iyan mesra. "Mas tidak tega melihat kamu yang semakin hari semakin lemas." sambung Iyan lagi.


Melati jadi berpikir jika apa yang dikatakan Iyan ada benarnya, mana mungkin ia bertemu dengan Arka. Jelas sekali jika itu hanya mimpi.


Iyan menyipitkan matanya, sedikit curiga dengan wajah istrinya yang masih bingung setelah bangun dari mimpi di tengah malam ini.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu Iyan melakukan apa yang baru saja di ucapkan istrinya, mewujudkan mimpi yang akan menjadi bumerang jika ditunda hanya karena Melati sedang lemah.


"Mas." Melati sedikit heran dengan perlakuan Iyan, tetap lembut tapi seperti sedang terburu-buru.


"Mas sangat mencintai kamu." jawab Iyan tak memberi waktu Melati untuk protes.


Hingga beberapa saat kemudian aktifitas mereka selesai, walaupun singkat tapi cukup ampuh membuat istrinya tertidur pulas.


Iyan menarik nafas lega, selain dia juga sedang meluapkan hasrat yang tertahan beberapa hari ini, dia juga berhasil mengalihkan pikiran Melati.


"Pintar sekali Arka, memanfaatkan keinginan Melati yang belum terpenuhi." gumam Iyan menatap tajam dinding yang polos sambil memeluk dan mengelus rambut Melati.


Iyan memahami satu hal malam ini, kebutuhan batin istri yang tidak terpenuhi juga memancing makhluk lain datang dan memanfaatkan emosi dan keinginannya.


"Licik." gumam Iyan lagi.


Namun berbeda di rumah Arka, pemuda itu mengakhiri semedinya dengan senyum mengembang. Wajahnya terlihat puas, namun terdapat kelicikan di satu sisinya.


"Sering-seringlah mengabaikan istrimu, aku akan menggantikan mu untuk menyentuhnya, hingga merebutnya dalam dunia nyata." Arka terkekeh senang.


Tentu saja esok malam ia akan mengulanginya.


Arka tertawa hingga beberapa kali, ia sungguh senang dengan ilmu baru yang di dapatkan dari wanita cantik itu. Dia bisa bermain-main dengan Melati sesuka hati, membuat Iyan ketar-ketir ketakutan.


"Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan Melati." ucapnya pelan.


Arka berbaring lega, ia menyukai malam yang indah ini.


Kali ini Arka terbangun dari tidurnya yang baru sejenak, ia berada di tempat yang gelap, sebuah rumah yang tidak memiliki pintu. Arka memperhatikan tempat itu. "Aku pernah di sini." gumamnya menunggu siapa yang sedang membawanya di tempat itu. Tentu yang mengunjunginya di dalam mimpi bukan orang sembarangan.


"Masih ingat tempat ini Mas Arka?" tanya seorang yang mendekat tapi tak terlihat.


"Hemh, keluar dan kita bertarung hingga mati!" geram Arka dengan seringai kejam.


"Sabar Mas Arka, aku tidak seperti dirimu yang pengecut, beraninya hanya di dalam mimpi." ucap Iyan semakin mendekati Arka, namun seolah berputar suaranya mengelilingi pemuda itu.


"Keluar!" bentak Arka mulai marah.


"Aku di belakangmu."

__ADS_1


Arka menghantam sekuat tenaga, namun tak ada siapa-siapa.


"Iyan Rahendra!" Arka berteriak marah.


__ADS_2