
Melati bergegas bangun, keluar menuju kamar mandi yang berdekatan dengan dapur. Tak peduli ibunya sibuk menyiapkan sarapan ia langsung masuk dan segera membersihkan diri.
Tak lama setelahnya ia sudah keluar dengan wajah yang lebih segar. "Bu, Melati bawa bekal ya." ucapnya mengingatkan ibunya.
"Apa tidak sebaiknya sarapan dulu?" tanya ibunya sedikit berteriak karena Melati sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak Bu, telat!" jawabnya juga sedikit berteriak.
Ibunya langsung mengisi kotak makanan juga air minum berukuran kecil untuk di bawa Melati.
"Sudah siap Bu?" tanya Melati keluar dari kamarnya.
"Sudah." Ibu memasukkan bekal Melati ke dalam kantong plastik berwarna hitam.
"Melati berangkat Bu, assalamualaikum." Melati meraih tangan dan mengecup punggung tangan ibunya.
"Ya, hati-hati. Wa'alaikum salam." jawab ibu, hanya menatap punggung anaknya sampai hilang di balik ruang tamu.
Melati berjalan kaki lagi pagi ini, sedikit terburu-buru ia merekatkan tali sepatunya yang belum pas.
Tin,,,,tin.
Melati menoleh, mendengar suara klakson motor yang tak asing baginya.
Pria itu tersenyum, wajah segar dan tampan tanpa helm ia terlihat santai.
"Mas!" panggil Melati berdiri tegak dengan senyum mengembang.
"Sini." Iyan meraih kantong plastik di tangan Melati, meletakkan di atas motornya.
"Cuma makanan saja, aku tidak di suruh naik?" tanya Melati dengan bibir mengerucut.
Iyan tertawa sedikit, sungguh Melati yang cantik membuat Iyan gemas setengah mati.
"Kan bisa naik sendiri, apa mau Mas Iyan yang naikin Melati?" Iyan menggodanya, sengaja membuat pipi halus Melati merona merah muda.
Melati langsung memposisikan dirinya di belakang Iyan, sedikit berjinjit dan naik duduk dengan sempurna.
"Sudah?" tanya Iyan menoleh sedikit, meski hanya ekor matanya yang menangkap sebagian diri Melati.
"Sudah Mas?" jawab Melati halus.
"Peluk dong!" Iyan semakin jahil menggoda Melati.
__ADS_1
"Ih, malu Mas." Melati mendorong punggung Iyan sedikit, membuat pria itu terkekeh.
"Ya sudah, nanti tunggu berdua ya, biar tidak malu." Iyan masih saja melanjutkan kata-katanya, sambil mulai melaju.
Nafas yang tadinya sesak sekarang lega setelah melihat Iyan dan duduk di belakangnya dengan tak berjarak. Entah mengapa pagi ini hati Melati semakin berbunga-bunga hanya menatapnya senyum Iyan dan mendengar ucapan jahilnya.
"Mel." panggil Iyan pelan.
"Hem?" Melati lebih mendekatkan dirinya, hingga nyaris menempel.
"Sudah sampai." ucap Iyan hanya setengah menoleh agar ucapannya di dengar Melati.
"Astaga." Melati bergegas turun, ia sampai lupa jika motornya sudah berhenti.
Iyan hanya tersenyum-senyum sendiri, memarkirkan sepeda motornya lalu ikut masuk menyusul Melati.
Melati yang masih merasa malu, sibuk atau pura-pura sibuk menyiapkan mejanya, sekalian mengatur letak laptop dan berkas lainnya. Itu di rasa lebih baik daripada mendapat ledekan Iyan lagi.
"Kenapa? Malu?" tanya Iyan mendekati Melati, bahkan sangat dekat.
"Tidak, tadi hanya sedikit melamun." jawab Melati berusaha untuk tidak serba salah.
"Bilang saja kamu sedang rindu." Iyan duduk di meja, menatap wajah Melati sangat dekat.
Iyan meraih bahu Melati dan mau tak mau wajahnya kembali berhadapan meskipun tak mau menatap.
"Aku tidak punya yang lain Mel. Justru kamu, punya yang lain dan dia selalu bersamamu." ucap Iyan lebih serius, lembut namun terdengar sedih.
Melati menatap Iyan dengan rasa yang bercampur aduk, benar apa yang dikatakan Iyan jika Arka selalu bersamanya, tentu Iyan tahu semuanya karena pemuda seperti Iyan tidaklah bodoh, tapi saat ini Melati bisa apa?
Melati menangis dan langsung memeluk Iyan erat sekali, bersembunyi di dada hangatnya menumpahkan segala kegelisahan yang tak menentu.
Iyan membalasnya, longgar namun terasa hangat, tulus dan penuh kasih sayang.
"Aku harus bagaimana Mel?" tanya Iyan pelan, tak memungkiri hatinya juga gelisah karena Melati.
"Bawa aku pergi Mas, aku sudah lelah." ucap Melati masih dengan air mata mengalir di dada Iyan.
"Minggu ini, Mas Angga sudah akan kembali ke Kalimantan." jawab Iyan seperti menahan beban.
Melati mendongak menatap wajah Iyan, nafas pemuda tampan itu sungguh wangi dan hangat masuk kedalam dada Melati, semakin ingin menghirupnya dalam waktu lama.
"Aku akan datang ke rumahmu nanti malam. Aku akan memperjelas hubungan kita." ucap Iyan masih memeluk Melati.
__ADS_1
"Bagaimana jika Ibu menolakmu Mas?" tanya Melati khawatir.
Iyan tak menjawab, melihat wajah Melati sangat lama.
"Melati maunya bagaimana?" tanya Iyan masih tak lepas melihat wajah Melati, saling menyelami kedalam bola mata masing-masing.
"Mengapa tanya aku Mas, apakah sekarang kau ingin menyerah?" tanya Melati dengan hati yang mulai kacau. "Lalu apa artinya kamu membuatku jatuh cinta dan melupakan Mas Arka. Jika sekarang kau malah ingin kita berpisah." air matanya jatuh semakin deras.
Iyan benar-benar bingung, meskipun tangannya memeluk dan satunya mengusap air mata Melati, tapi hati dan pikirannya berkelana, tidak tau harus bagaimana dengan hubungan mereka. Sikap Ibu Nur yang aneh dan berubah-ubah membuat Iyan bingung sendiri, belum lagi kejadian aneh yang menimpanya menjadi pertimbangan sendiri bagi keluarga Iyan.
"Mas!" Melati menarik kemeja Iyan dengan sedikit merengek dalam tangisnya.
Iyan menunduk dan entah mengapa pagi ini pria itu melupakan prinsipnya untuk menahan diri bersama Melati. Menyambar bibir merah Melati yang basah, sedikit mengecupnya tanpa menutup mata, Iyan menyaksikan betapa cantiknya Melati saat dicium olehnya.
Hanya sekilas, namun cukup hebat membuat jiwa Melati bergetar, aliran darahnya terasa lebih deras berpacu dengan jantungnya yang berdegup kencang. Melati tak menyangka sebegitu hebatnya seorang Iyan membuatnya melayang hanya dengan ciuman di ujung bibirnya.
"Mas." Melati semakin memeluk erat, jelas jika Melati tak mau lepas.
"Nanti Pamanmu datang Mel." bisik Iyan mengelus punggung Melati.
"Jangan tinggalkan aku Mas." ucapnya menyandarkan kepala di dada Iyan.
"Iya, tapi lepas dulu Sayang, nanti ada orang." Iyan jadi serba salah, selain nikmatnya di peluk melati, tapi was-was karena mereka sudah di tempat kerja. Pemuda itu jadi serba salah dengan sikap Melati yang tak munafik menurutnya sangat menyenangkan.
"Tidak mau, Mas Iyan yang memulai." jawabnya masih di posisinya.
"Maaf, Mas tidak tahan." jawab Iyan jujur, mungkin dengan begitu Melati mau lepas.
"Dosa Mas." ucap Melati mendongak wajahnya.
"Hem, kamu malah keenakan mau nambah lagi." Iyan menggodanya lagi.
Melati tersenyum malu. "Apakah benar aku sedang di pelet kamu Mas?" tanya Melati sedikit melonggarkan pelukannya.
"Artinya kamu mencintaiku." jawab Iyan tersenyum mesra.
"Sangat." Melati menjawabnya jujur.
"Kenapa?" tanya Iyan lagi.
Melati menggeleng.
"Kalau ibu masih menolak, aku akan membawamu pergi!" ucap Iyan mantap.
__ADS_1