
"Artinya?" Arka semakin tercengang.
"Selama ini, jin itu mencintai Melati, menunggu laki-laki yang akan menjadi kekasihnya agar ia juga bisa menikmati cinta kekasihmu."
"Artinya jin itu yang membuat Melati jatuh cinta dengan Iyan?" dada Arka semakin berdegup kencang.
"Tidak juga. Jin akan datang ke dalam mimpi seseorang menyerupai orang yang di cintainya. Walaupun Iya, itu berpengaruh dengan perasaan, sebab mimpi dicintai dan mencintai akan terbawa hingga ke alam nyata, seperti khayalan. Kebetulan yang dicintainya adalah Iyan sainganmu."
"Lalu aku harus bagaimana Ki, aku tidak mau kehilangan Melati." rengek Arka bingung.
"Entahlah Arka, Kesempatan memang tidak datang dua kali, jika dua kali maka itu adalah keajaiban. Dan semuanya itu sudah kau sia-siakan." Aki Juno beranjak dari duduknya menuju dapur.
"Ki!" Arka memanggilnya dengan wajah memelas.
Aki Juno tak menjawab, juga tak menoleh.
"Ki ajari aku ilmu andalanmu! Aku masih ingin memperjuangkan Melati." Arka merangkak menarik baju Aki Juno.
Aki Juno berhenti, menoleh dengan menarik nafas berat. "Nanti malam." jawabnya lalu kembali melanjutan langkahnya menuju dapur.
"Aku tak mungkin menyerah, aku sangat mencintainya walaupun aku terlambat menyadari bahwa pernikahanlah yang sebenarnya akan mengikat aku dan dia."
Malam itu Arka tidak tidur semalaman, di tengah malam ia melakukan latihan dan mengisi tenaga dalam bersama Ki Juno. Sesekali teriakan terdengar dari mulut Arka, ia merasa sakit dan sesak di dadanya ketika Aki Juno mengirim tenaga dalam melalui punggungnya. Sakit, lelah, mengantuk tidak di rasa olehnya, yang terpenting bagi Arka adalah bisa bersama Melati kembali. Bayangan saat bercinta dan tertawa bersama tak pernah lepas dari ingatan Arka, ia tak pernah tertarik dengan gadis manapun semenjak memiliki Melati sebagai kekasihnya, baginya Melati adalah gadis yang sangat sempurna, luar dalam sesuai dengan apa maunya.
Pukul empat subuh keduanya baru selesai mempelajari ilmu andalan milik Aki Juno, keduanya terlentang lelah, tidur untuk beberapa waktu saja.
Sementara itu selesai sholat subuh Iyan langsung minum kopi dengan roti kering saja, mengeluarkan sepeda motornya dan melaju menuju desa Aryo untuk menjemput Melati.
Pukul enam pagi ia sudah sampai di rumah berwarna hijau tersebut.
"Assalamualaikum." Iyan mengucap salam di depan pintu.
Pintu terbuka dan ternyata Melati yang membukanya. "Wa'alaikum salam Mas." jawab Melati sudah siap dengan make up tipis dan baju kemeja putih dan jeans yang tampak serasi.
Tapi tidak nyaman bagi Iyan, kemeja yang tampak sesak membuat dada Iyan ikut sesak menahan sesuatu. Dua buah kancing kemeja bagian atas yang tidak tertutup membuatnya serba salah.
Di pandang takut dosa, tidak di pandang rugi!
Iyan mengusap-usap tengkuknya. "Paman mana?" tanya Iyan melihat ke arah belakang tak ada siapa-siapa.
__ADS_1
"Paman sama Bibi sedang melayat, baru saja pergi." jawab Melati meraih tasnya dan sudah siap mengunci pintu.
"Mel!" Iyan meraih bahu Melati memintanya menghadap Iyan.
"Ada apa Mas?" Melati menatap Iyan dengan tersenyum. Jujur saja sehari tak bertemu membuatnya rindu.
"Kenapa pakai baju ini?" Iyan menatap kemeja Melati, lagi-lagi pemandangan yang menghangatkan tubuh itu menggoda imannya.
"Bajuku di rumah semua Mas, ini bajuku yang dulu, ketinggalan terus nemu lagi." jawab Melati mendongak Iyan, belum sadar maksud Iyan adalah bagian yang menantang itu yang jadi masalah.
"Ya sudah, nanti diboncengannya sedikit mepet ya." Iyan meraih kunci dari tangan Melati dan mengajaknya keluar. Sedangkan Melati senyum-senyum sendiri dengan permintaan Iyan, biasanya Iyan tak pernah seperti itu.
"Bisa Mas?" tanya Melati melihat Iyan mengunci pintu.
"Bisa Mel." jawabnya lembut, tersenyum hangat dan mengajaknya segera naik.
"Mau ngebut atau pelan?" tanya. mengajak bercanda.
"Pelan saja Mas, biar bisa menikmati suasana sejuk." pinta Melati melingkarkan tangannya di perut Iyan.
Sementara Iyan merasa panas dingin dengan sesuatu yang hangat pas sekali menempel hangat di punggungnya. Sesekali menarik nafas dan menelan ludah paksa, gelisah melihat kanan kiri jalanan.
Iyan tak langsung masuk melainkan membuka tas dan mengambil sesuatu di dalamnya lebih dulu.
Di dalam Melati sudah ada di meja sedang merapikan berkas yang belum di tumpuk. Namun kemudian terkejut dengan tangan Iyan yang mengungkungnya di meja hingga tak bisa bergerak.
"Mas." Melati mendongak wajah yang sekarang sangat dekat.
Iyan terus menatap wajah cantik Melati, tangannya merapikan rambut hingga tampak seluruh wajah dan leher mulusnya. Mata beningnya tak melewatkan setiap centi pemandangan yang bening dan indah tersebut, tak terkecuali bagian yang membuatnya panas dingin.
"Mas." panggil Melati lembut, ia tahu tatapan Iyan tak biasa, tak hanya cinta seperti biasa tapi bercampur gairah yang sulit di kendalikan.
Iyan semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling menyentuh.
Melati mulai terpancing dengan nafas naik turun, hatinya bersorak gembira, sepertinya akan mendapat ciuman dahsyat dari Iyan.
"Lain kali, jangan pakai ini." Iyan menunjuk belahan dada Melati yang terbuka, bahkan kancingnya seperti akan terlepas semuanya. Jari Iyan menyelip nakal ke dalam tengah dada Melati, menggoda gadis itu dengan sengaja, membiarkan Melati semakin tak karuan karena ulahnya.
"Mas." rengeknya memeluk Iyan.
__ADS_1
Tapi tak di balas, bahkan tangan Iyan sudah jauh meraih sesuatu di belakangnya.
"Ini pake!" Iyan memberikan kaos miliknya, meminta Melati mengganti baju.
Melati mengambilnya dengan masih memeluk Iyan, seperti biasa dia tak mau lepas.
"Mel!" panggil Iyan memintanya lepas segera mengganti baju.
"Tidak mau." jawab Melati malah semakin erat.
"Astaga." Iyan mengusap wajahnya, menahan gejolaknya sendiri hingga sesak dan terasa pusing di kepala.
"Mas." Melati mendongak manja.
"Apa?" tanya Iyan mencoba masih waras.
"Cium sedikit." pinta Melati semakin berani. Sebelumnya di gadis penurut dan pemalu, sekarang malah tak peduli.
Iyan menelan ludahnya berkali-kali, mengatur nafas dan mencoba melihat wajah cantik di dadanya.
Iyan menunduk dan mencium kening Melati, lembut dan mesra membuat Melati memejamkan matanya.
"Sudah." ucap Iyan masih tak membalas pelukan Melati.
"Hanya begitu?" Melati membulatkan matanya.
Iyan menggeleng pelan, lalu memeluk Melati erat.
"Mel, kamu membuat aku setengah gila." bisik Iyan di telinga Melati, menghisap aroma wangi rambutnya.
"Aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu." Melati memeluk erat Iyan.
Iyan tersenyum mendengarnya, kemudian melepas pelukan Melati, dan memintanya mengganti baju.
"Ganti ya! Nanti kemejanya bisa diluar." bujuk Iyan lagi, lembut dan mesra sekali.
Melati mengangguk, tatapan manja dan senyum manisnya membuatnya semakin cantik di mata Iyan.
Iyan menarik nafas lega, ternyata memiliki Melati membuat jantungnya lebih berpacu, kesulitan menahan nafsu.
__ADS_1