Main Dukun

Main Dukun
Malam yang membuat gugup


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, suasana di rumah Aryo tampak hangat dengan berangsur membaiknya Ibu Nur. Pagi itu ia sudah bangun lebih pagi dan melaksanakan sholat di kamarnya. Tentu perubahan itu membuat semua orang merasa senang, terlebih lagi Melati.


"Apa yang membuat istriku tersenyum?" Iyan memeluk pinggang Melati, dan bertanya dekat sekali dengan wajahnya.


"Ibu sudah sembuh Mas." jawab Melati tersenyum semakin lebar.


"Alhamdulillah, artinya kita bisa lebih tenang menjalani hari-hari kita." Iyan mengecup bahu Melati.


"Hari ini kita bisa pulang." ungkap Melati lagi.


"Ya, Mas juga sudah tidak sabar untuk membawa istriku pulang." Iyan menggodanya sedikit.


"Bukan itu Mas, hanya merasa sungkan karena harus menginap di rumah Paman, terlebih lagi kita bertiga. Takut semakin merepotkan." ungkap Melati lagi sambil sibuk memasak di dapur.


"Siang ini kita pulang ke rumah kita saja." jawab Iyan ikut membantu Melati memotong kentang.


"Aku mau Mas, tapi tidak tahu dengan Ibu." jawab Melati lagi.


Iyan tampak berpikir, lalu mengangguk. Pulang kemana saja baginya tak masalah, hanya takut terjadi sesuatu kepada Melati, karena Arka tak mungkin diam saja.


Hingga siang hari kemudian, seperti dugaan Melati, Ibu tidak mau pulang ke rumah Iyan, alasan lebih suka tinggal di rumahnya tak dapat di paksakan oleh Iyan dan Melati. Akhirnya mereka pulang bersama ke rumah Melati.


"Ibu istirahat saja, biar Melati yang beres-beres." Melati meminta Ibu masuk ke kamarnya.


"Kalau kalian mau pulang ke rumah Nak Iyan, Ibu tidak apa-apa." ucap Ibu Nur kepada Iyan dan Melati.


Iyan tersenyum karena Ibu Nur sudah mulai bicara kepada Iyan. Rasa tak sukanya sudah tak terlihat di wajahnya. "Aku tidak masalah Bu, hanya jika Ibu mau ikut kita akan pulang bersama-sama. Di sini juga sama saja, yang penting Ibu sudah sembuh dan Melati baik-baik saja." jawab Iyan.


"Ya, Ibu sudah baik-baik saja. Hanya tak habis pikir, kok bisa Ibu sedih sekali kalau teringat dengan Arka." ucap Ibu bingung, dia tak juga masuk ke kamar.


"Apa sekarang masih sedih Bu?" tanya Iyan menatap wajah ibu mertuanya.


"Buat apa, kan kalian sudah menikah." jawab Ibu, lalu masuk ke kamarnya.


Melati menoleh Iyan dan tersenyum manis.

__ADS_1


Jika dipikir-pikir, ada benarnya jika mereka pulang ke rumah Melati, lagi pula mereka menikah di tempat Paman Aryo dan tetangga tak ada yang tahu selain Bule Tuti. Namum untuk melaksanakan syukuran kecil-kecilan masih sulit dilaksanakan, lantaran Ibu belum sembuh total.


'Tapi tak apa, yang terpenting sekarang sudah sah!'


Iyan tersenyum sendiri, dia tak lagi khawatir tentang kepemilikan. Hanya masih manjadi bahan pikiran ketika mengingat Arka pasti datang.


Malam tak lagi sepi karena kehadiran Iyan, pemuda tampan tapi sederhana itu membuat Melati merasa aman. Tak perlu takut dengan kehadiran Arka, meskipun dia datang maka tak ada hak untuk kembali bertemu karena statusnya sekarang adalah sebagi istri Iyan Rahendra.


"Mel!" Iyan memanggil Melati ketika pukul 20:00 sudah terasa sepi. Di rumah itu tak ada televisi, sekalinya ada sudah tua dan Rusak.


"Iya Mas." Melati mendekati Iyan yang duduk di ruang tamu.


"Mas mau keluar sebentar."


"Mau kemana?" tanya Melati, sepertinya Iyan tak punya keperluan di luar.


"Mau ke warung depan." jawab Iyan, beranjak.


"Besok saja jika tak terlalu penting Mas, lagi pula sudah malam." Melati meraih lengan Iyan dan memeluknya.


"Aku tidak butuh cemilan, aku butuh Mas Iyan saja." jawab Melati manja.


Iyan terkekeh mendengar rayuan Melati, sehingga ia tak jadi keluar dan berbalik memeluk Melati.


Sebenarnya bukan sebab tak tak mau ditinggal, hanya teringat malam yang lalu saat Iyan keluar tanpa memberitahu siapapun. Melati tidak mau Iyan kembali keluar dan ternyata berkelahi dengan Arka.


Iyan masih tersenyum memandangi wajah cantik Melati, semakin dekat semakin cantik di mata Iyan.


"Apa sudah tidak sabar?" bisik Iyan di wajah Melati, nafasnya hangat menerpa wajah yang penuh damba.


Melati tersenyum manis, sedikit malu-malu tapi tak mau berpaling dari tatapan Iyan. Tangannya melingkar di pundak dan yang satu di pinggang Iyan.


Iyan mengecup keningnya sejenak.


"Mas kunci pintu dulu." ucapnya meminta Melati masuk ke dalam kamarnya lebih dulu.

__ADS_1


Melati masuk lebih dulu, tak menyia-nyiakan kesempatan sedikit merapikan rambutnya, membuka sweater yang menutup pakaian minim yang sedang digunakannya, berharap Iyan suka dan semakin menginginkannya.


Melati menarik nafas, memegang dada yang tiba-tiba berdegup kencang.


'Mengapa gugup sekali saat bersama dengan Mas Iyan. Apakah karena aku sudah tidak perawan lagi?'


Melati merem*s tangannya sendiri, menyesali mengapa harus bertemu saat dirinya sudah tak suci lagi. Harusnya Iyan mendapatkan yang lebih sempurna dari dirinya.


Tangan Iyan menelusup di perut Melati, bibirnya yang basah langsung menempel di pundaknya yang terekspos mulus. Tak hanya membuat terkejut, tapi membuat jantung Melati semakin berolahraga.


"Mas." panggil Melati mendongak wajah Iyan yang berada di atas telinganya.


"Istriku cantik sekali." pujinya dengan senyum mengembang, matanya menatap mesra kepada Melati.


Wajah Melati berubah sendu memandangi wajah suaminya yang semakin tampan di lihat dalam remang lampu kamar mereka.


"Ada apa?" tanya Iyan lagi semakin mendekat bahkan menyambar bibir merahnya sedikit.


"Aku gugup Mas." Melati menunduk, tangan halusnya meraih kaos bagian dada Iyan.


Iyan mengerti, sepertinya tak hanya gugup tapi Melati takut melewati malam ini.


"Dulu, Mas cuma bisa berkhayal memiliki kamu. Tapi sekarang semuanya menjadi nyata." rayu Iyan mengerti kegelisahan Melati.


"Aku_"


"Mas hampir mati karena ingin mendapatkan kamu, jadi jangan buat Mas sedih karena Melati tak bahagia malam ini." bisik Iyan lagi.


Melati tak menjawab melainkan meneteskan air mata.


"Sekarang kamu milikku, aku tak peduli di luar sana Arka sedang menggila, mengamuk dan marah kepada siapa saja. Yang aku tahu sekarang kamu benar-benar milikku." Iyan mengusap air mata Melati, menggantinya dengan kecupan di wajah halusnya, menelusuri setiap lekuk wajahnya. Tak terkecuali di tempat yang di sukai Melati, bibir merahnya selalu menggoda.


Ternyata Iyan Rahendra lebih gila dari yang dibayangkan Melati, gerakan dan perlakuannya selalu membuat Melati hanyut, melambung dan tak berdaya dalam waktu bersamaan.


Pria yang selalu menjaga jarak saat pacaran, malah lebih ganas saat sudah terikat pernikahan. Melati bahkan merasakan puncak sebelum Iyan melakukan inti dari malam pertama mereka.

__ADS_1


Iyan tersenyum puas saat lenguhan panjang Melati manggil namanya, terlebih lagi ketika melihat tubuh yang semakin meliuk tak beraturan, indah dan menantang untuk di taklukkan.


__ADS_2