Main Dukun

Main Dukun
Menerima lamaran Iyan


__ADS_3

"A-, aku-." Melati menoleh Ibu yang sudah ada di ruang tamu membawa kopi, terkejut dan ingin segera melepaskan tangan dari genggaman Iyan, malah ditahan oleh pria itu, sungguh membuat Melati dag-dig-dug tak karuan.


"Ibu!" panggil Iyan sangat berani menatap Ibu meski tak mengurangi sikap sopannya, tapi tangan hangat Iyan tak sedikitpun melonggar dari tangan Melati.


Ibu meletakkan kopi sekali melirik genggaman tangan kedua anak muda di hadapannya. Kemudian Ibu berdiri tegak menatap wajah Iyan yang sejak tadi tampak ingin bicara.


"Bu, Iyan ingin melamar Melati, sungguh-sungguh ingin menjadikan Melati istriku. Dan ku harap Ibu tak keberatan menerima niat tulusku untuk menjadi suami Melati, menantu Ibu." ucapnya tegas, penuh keyakinan, wajahnya terlihat tenang.


Ibu tercekat mendengar lamaran mendadak Iyan, dengan berani sekali pemuda itu tetap menggenggam tangan Melati. Sedangkan Melati hanya bisa menggigit bibirnya dan menunduk gugup.


"Apa kamu sudah bicarakan itu sama Melati?" tanya Ibu menatap Iyan.


Iyan menoleh Melati, memperhatikan sejenak wajah cantik itu hanya menunduk, jari dalam genggaman Iyan terasa membalas. Iyan tersenyum yakin jika Melati mau dan menerima. "Mel?" panggil Iyan lembut.


Melati mengangkat wajahnya perlahan, menatap bening mata Iyan sejenak, lalu mendongak menatap Ibu.


"Kalau Melati sudah setuju, ibu merestui kalian berdua?" Ibu kembali menatap Melati.


"Melati mau Bu, menerima lamaran Mas Iyan." jawabnya dengan suara halus, terdengar merdu di telinga Iyan.


"Kalau begitu kau hubungi Ayahmu, Beri tahukan jika kau akan menerima lamaran Iyan. Tapi, ibu masih kepikiran bagaimana hubunganmu dengan Arka sehingga sudah menerima Iyan. Apakah Iyan sudah tahu jika Melati selama ini dekat dengan Arka?" tanya ibu ikut duduk di kursi berhadapan dengan Iyan dan Melati.


"Sudah tahu Bu, Asalkan Melati sudah bersedia menerimaku, aku akan menghadapi Mas Arka, dan aku akan berbicara baik-baik dengannya nanti." Iyan sangat yakin.


Ada kelegaan tersendiri di hati ibu, tapi juga khawatir dengan nasib Arka. Laki-laki yang sudah menemani Melati selama tiga tahun lebih, tiba-tiba harus kehilangan Melati dalam waktu sekejap, tanpa terduga kehadiran orang baru membuatnya tersingkir dari hati anaknya.


Sedih, mungkin Ibu Nur juga merasakan sedih. Mengapa tidak Arka saja yang melamar Melati seperti Iyan? Mengapa tidak Arka saja yang berani dan tulus seperti Iyan? Ibu dalam dilema malam ini, wanita yang sudah tua itu dapat merasakan betapa Arka sangat mencintai Melati melebihi perasaan cinta biasa, sudah pasti Arka akan terluka.


"Mas! Apa kau tidak akan menyesal memilih aku?" Melati bertanya lagi dengan sangat serius kali ini.

__ADS_1


"Tidak Mel, aku sangat ingin hidup bersamamu. Kakak tertuaku baru saja kembali dari Kalimantan, dan ingin mengajakku ke sana bulan depan. Kita akan menikah secepatnya dan aku ingin kau ikut bersamaku." ungkap Iyan meyakinkan Melati.


"Bagaimana dengan Ibu Mas?" tanya Melati menoleh ke arah dapur, ibu sudah masuk ke kamar.


"Mas akan mengubungi Ayahmu, Ayah akan pulang dan menemani Ibu. Gaji di sana lumayan besar, kita bisa mengirimkan uang kepada Ibu untuk bantu-bantu." Iyan benar-benar sudah memikirkan semuanya.


"Itu tidak perlu Mas. Melati hanya khawatir meninggalkan ibu di kampung sendirian. Jika untuk kebutuhan sehari-hari Melati rasa masih cukup dari perkebunan saja." ungkap Melati lembut. Tentu bahasa dan cara yang seperti itu membuat Iyan sangat menginginkan Melati.


"Ibu akan baik-baik saja, percaya sama Mas." ucapnya mesra.


Melati tersenyum manis, rasanya damai sekali duduk bersama Iyan. Tidak khawatir tangannya akan berkeliaran, tidak takut akan perbuatan dosa meskipun Iyan juga menyukai jari-jari Melati dan menggenggamnya.


Tak henti senyum mengembang di wajah Iyan, laki-laki sederhana namun punya kepribadian istimewa. Hatinya sangat bahagia saat ini, gadis pujaan sejak lama sudah bersedia menjadi istrinya. Mata pria itu juga tak henti menatap wajah cantik Melati. "Aku sangat mencintaimu Melati, tak sabar rasanya menjadi suamimu." ungkap Iyan tulus dan mesra.


"Terimakasih Mas Iyan, Melati bahagia sekali malam ini." balas Melati dengan bibir merahnya merekah indah.


"Kita akan menghadapi hari esok bersama-sama, jangan merubah keputusan ini lagi, sungguh aku ingin kita hidup bersama."


Terdengar suara dering telepon di atas meja, sepertinya itu Arka. Iyan yang sangat mengerti dan memilih untuk pulang, ia tak ingin mendengar pembicaraan mereka karena yang terpenting bagi Iyan adalah Melati sudah bersedia menjadi istrinya.


"Mas, apa kau marah sehingga langsung pulang?" tanya Melati pelan saat sudah diambang pintu.


"Tidak Melati Sayang, hari sudah malam, dan kau butuh bicara dengan Arka." ucapnya tersenyum menikmati kecantikan Melati.


"Baiklah. Apa besok Mas mau jemput Melati?" pinta Melati manja.


Iyan tersenyum lagi. "Lihat besok ya, karena Mas Arka tidak akan tinggal diam, jadi kita harus bersabar. Tapi tetap bertemu di tempat kerja." ucapnya mendekati wajah melati sedikit menggoda.


Melati mengangguk, tak mau membantah ucapan yang memang benar adanya.

__ADS_1


Tak lama setelah Iyan berlalu, Melati segera masuk mengangkat panggilan telepon dari Arka.


"Iya Mas Arka?" jawab Melati lembut.


"Lama sekali Mel? Apa sedang ada tamu?" tanya Arka curiga.


"Tidak Mas, hanya sedang duduk di dapur." jawab Melati berbohong.


"Kamu tidak berbohong kan Mel? Aku pasti tahu kalaupun kamu tidak jujur." Arka sedikit mengancam, tentu itu sudah biasa di dengar Melati.


"Tidak Mas!" kesal Melati, sungguh esok pagi Melati ingin segera memutuskan hubungannya dengan Arka.


Arka Kesal dan langsung mematikan panggilan ponselnya, dia jelas tahu jika Melati sudah mulai tak menurut, dan dia sedang berbohong.


...***...


"Mel!" bentak Arka di pagi itu.


"Ya Mas!" jawab Melati halus, namun tak terlihat menunduk apalagi takut seperti biasa.


"Kau berani membohongiku, tadi malam Iyan datang kesini bukan? Apa kau sudah berpacaran dengannya? Apa yang kau lakukan bersamanya sehingga sulit sekali mengangkat telepon dariku?" marah Arka tak peduli apapun, untung saja Ibu sudah pergi lebih dulu ke perkebunan sayur.


"Mas! Tak seharunya kau marah dan mengamuk seperti ini. Bisakah kau bicara baik-baik padaku?" Melati mencoba mengajak Arka duduk.


"Jelaskan padaku apa yang kalian lakukan semalam? Apa kau sudah tidur dengannya?" Arka menatap tajam dengan mata memerah.


"Mas Iyan tidak seperti itu Mas!" bela Melati.


"Jangan kau pikir aku tidak akan tahu Melati! Katakan untuk apa dia datang kesini tadi malam!" bentak Arka lagi, tentu bentakan berkali-kali itu membuat Melati ikut emosi.

__ADS_1


"Baiklah! Aku akan jujur Mas."


"Apa? Cepat katakan!" Arka semakin kesal, mendekati Melati.


__ADS_2