Main Dukun

Main Dukun
Masa lalu dukun hitam


__ADS_3

"Artinya kau dan dukun pengasingan itu bermusuhan?" tanya Arka mendadak khawatir.


"Istrinya sungguh cantik, aku tidak tahan hanya membayangkannya setiap malam. Setiap kali bertemu aku hanya bisa memandanginya tanpa berani menyapa. Dia sangat mencintai Dimas Rahendra saat itu, dia begitu manja dan mesra sekali, bahkan tak sedetikpun mata indahnya berpaling dari Dimas Rahendra. Aku iri sekali dengan kehidupan mereka, aku ingin merasakan bagaimana di cintai oleh wanita itu. Hingga suatu hari aku bertemu dengan seseorang yang sudah sangat tua, dia tidak bisa meninggal jika tidak menurunkan ilmunya, dia tidak memiliki keturunan. Dan kebetulan aku datang untuk meminta pertolongan, aku ingin istri Dimas Rahendra jatuh cinta kepadaku. Aku belajar bermacam-macam ilmu kepadanya, siang malam tanpa henti hingga beberapa bulan kemudian aku berhasil, dan laki-laki tua itu akhirnya meninggal."


"Apakah Aki juga sama, harus menurunkan ilmu terlebih dahulu baru bisa mati?" tanya Arka semakin penasaran.


"Ya, tapi tidak untuk ilmu pelet andalanku, nanti setelah aku benar-benar siap pergi dari dunia ini." ujarnya.


"Aku ingin memilikinya Ki, aku ingin Melati meninggalkan Iyan sekarang."


"Tidak Arka, kau belum siap."


"Aku siap Ki, apapun resikonya!" Arka meninggikan suaranya.


"Lebih baik kau pakai cara yang lain, kau persiapkan energi untuk keluar dari ragamu. Kita tahan jiwa Melati, agar mereka gagal menikah." Ki Juno sudah mempersiapkan segalanya.


"Kapan kita melakukannya." tanya Arka sangat bersemangat.


"Besok malam." ucapnya mengukir senyum di bibir mereka berdua.


Arka berbalik kembali menuju kamarnya, dimana tubuh gagahnya sedang bersemedi.


Dia membuka mata, sejenak kemudian menatap dinding kamarnya yang di penuhi foto Melati. Setiap malam dia selalu memandangi wajah di dalam gambar itu, mengelusnya dan mengecupnya hingga terbawa mimpi.


"Aku tidak rela kau dimiliki orang lain Mel, jika aku tidak bisa memilikimu, aku tak akan mengizinkan orang lain memilikimu. Apalagi Iyan!" ucapnya penuh kebencian.


...***...


Keesokan harinya, Iyan sengaja tidak menjemput Melati, sesuai janjinya dia tidak akan bekerja, melainkan menemani Ibu di rumah. Melati harus benar-benar mengurus dan menemaninya, karena besok mereka akan menikah di rumah paman Aryo.


Sore itu Iyan membeli perlengkapan menikah, Iyan tak bisa mengajak Melati karena pernikahan mereka adalah rahasia, terutama Ibu, dia tak boleh tahu tentang pernikahan yang akan membuatnya semakin sakit dan tersiksa.

__ADS_1


"Mel, Mas beliin kebaya warna pink muda atau putih?" tanya Iyan memalui pesan singkat.


"Apa saja Mas, menurut Mas Iyan bagus Melati pasti suka." balas Melati.


Iyan jadi tersenyum sendiri membayangkan jawaban itu keluar langsung dari bibir merahnya.


"Putih saja ya Sayang, Mas suka warna putih, seperti kulitmu bunga Melati ku." rayu Iyan mengirim pesan lagi.


"Iya Mas, aku ingin segera di petik olehmu." balas Melati dengan emoji hati sangat banyak sekali.


"Mas jadi ingin datang ke ruma sekarang." Iyan tersenyum-senyum sendiri.


"Sini Mas, Melati rindu." Melati semakin menggodanya.


Iyan menutup pesan tersebut, melanjutkan belanjaannya.


Tak begitu lama, kemudian Iyan pulang menuju rumahnya. Dia harus berbicara kepada kedua orang tua juga kakaknya mengenai pernikahan mendadak ini.


"Serius Mas! Masa aku main-main." Iyan menjawabnya dengan santai.


"Apakah sudah kamu pikirkan Nak, Arka tidak tinggal diam lho!" Ibu menasehati Iyan.


"Aku tahu Bu, dan aku harus siap menghadapi apa saja yang akan terjadi." jawab Iyan halus, dia mendekati ibu dan memegang tangannya, tapi mendadak wajah Ibunya menjadi sendu.


"Ibu punya rahasia yang belum kami beritahukan kepadamu Nak." Ibu menatap wajah Iyan dengan sangat dalam.


Iyan menautkan alisnya, dia merasa ada hal besar yang akan di jelaskan ibunya. "Apa Bu?" tanya Iyan lagi.


"Tapi jangan marah atau kecewa ya, Ibu sayang sekali sama kamu." wajah yang mulai keriput ibu semakin berkerut.


"Tentu saja Bu, tidak punya alasan untuk marah dengan Ibu, dosa!" Iyan tersenyum, bibir merahnya menipis.

__ADS_1


Ibu menoleh suaminya, sejenak mereka beradu pandang, lalu menoleh Angga. Angga tersenyum tipis, mengisyaratkan bahwa memang sudah waktunya ibu berbicara apa adanya kepada Iyan.


Iyan masih menunggu, sambil memperhatikan ketiga orang itu seperti sedang saling menguatkan.


"Sebenarnya, kau bukan anak kandung Ibu."


ucap Ibu menunduk sedih, wajah tuanya bersembunyi begitu dalam menunduk di dada.


"Apa Bu?" Iyan menatap ibu dengan tak percaya, juga ayah dan Angga bergantian, dia sungguh terpukul, tapi tidak sampai membenci mereka.


"Ibumu meninggal saat melahirkanmu." ucap Ibu lagi dengan linangan air mata.


"Ibu meninggal?" tanya Iyan juga tak kalah sedih, mata beningnya mulai berembun.


"Dia terjatuh dari jurang saat mengandungmu. Dia kesakitan dan mengalami pendarahan, lalu Ibu merawatnya, setelah beberapa Minggu Ibumu sembuh, tapi kakinya tak bisa berfungsi dengan baik, dia lumpuh akibat jatuh terlalu tinggi. Tapi beruntung kandungannya tidak apa-apa, hingga akhirnya bisa melahirkanmu dengan selamat, tapi dia tidak selamat." jelas Ibu mengenang kembali masa menyedihkan itu.


"Lalu Ayahku Bu?" tanya Iyan sangat bersedih mendengar cerita Ibunya.


"Ayahmu mencari Ibumu tanpa henti, hingga di hari kau dilahirkan dia menemukan gubuk Ibu di ladang jagung saat itu, kami masih tinggal di area perkebunan yang di kelilingi hutan. Tapi sayang sekali, saat ayahmu datang, ibumu sudah tak bernafas lagi." cerita Ibu benar-benar membuat Iyan meneteskan air mata.


"Lalu dimana Ayahku?" ucap Iyan pelan.


"Setelah kejadian itu dia selalu bersedih, dia tidak mau bicara juga bekerja. Rambut dan jenggotnya panjang tak terurus, kerjanya hanya melamun saja. Hingga kami memutuskan untuk merawatmu atas persetujuan ayahmu. Dia menangis hebat saat itu, dia meraung-raung meratapi kepergian ibumu sambil memeluk tubuh kecilmu Nak. Dengan setengah kesadaran yang tersisa, dia pergi jauh dari desa, dia pergi ke arah barat, dan tidak pernah kembali, dia tinggal di sebuah perkebunan kelapa."


"Apakah aku pernah bertemu dengannya Bu?" Iyan mengusap air mata yang jatuh tanpa ia sadari.


"Pernah, saat kau masih sekolah. Tapi dia tidak mau orang mengetahui jika kau adalah anaknya. Dia takut kau dalam bahaya." Ayah Iyan menyahut.


"Bahaya apa?" Iyan menatap wajah ayahnya dengan heran, sepertinya ayah Iyan tahu sesuatu yang penting.


"Seorang dukun hitam akan mencarimu jika dia tahu bahwa kau ada di dunia ini. Dukun hitam itu mencintai ibumu dan ingin merebutnya dari ayahmu. Itu pula penyebab ibumu jatuh ke jurang, dukun hitam itu memiliki ajian yang bisa menarik jiwa seseorang dan memaksanya jatuh cinta melalui alam bawah sadar. Setelah itu seorang wanita akan mencintai orang yang dimaksud hingga kurus kering tubuhnya, dia tak akan sadar bahwa rasa di dalam hatinya adalah sebuah keinginan yang dipaksakan."

__ADS_1


__ADS_2