Main Dukun

Main Dukun
Kembalikan Melati


__ADS_3

"Aku tidak menyangka, ku pikir Mas Iya hanya bercanda saja." ucap Melati masih berlinang air mata.


"Arka menggunakan banyak cara untuk menahan mu, dia membuatmu menurut tak bisa menuntut hak mu sebagai seorang gadis yang harus dihargai dan hormati. Aku tidak suka itu, aku tidak rela."


"Apakah tidak bisa Mas mencintai aku dengan cara biasa?" Melati menatap wajah Iyan yang tak berubah, masih tampak walaupun sudah mengaku memakai pelet untuk miliki Melati.


"Sebenarnya, aku tak sengaja." Iyan menyibak rambut Melati, wajah sendu itu tak menolak, bahkan masih menikmati sentuhan jari Iyan. "Aku baru tahu jika aku memiliki kemampuan di luar nalar manusia, aku bisa melihat hal yang tidak bisa kamu lihat. Dan ketika aku menyukai seseorang maka seseorang itu akan menyukai aku sesuai keinginanku." jelas Iyan semakin menggenggam tangan Melati.


Melati hanya menatap wajah Iyan, sambil berpikir. "Mas pernah menyukai seorang gadis?" tanya Melati sedikit menaikkan alisnya.


"Ya, saat kuliah, tapi tidak terlalu. Aku hanya mengaguminya karena dia gadis yang pintar."


Melati membuang pandangannya, entah mengapa jadi tak rela membayangkan Iyan menyukai gadis yang lain.


"Aku hanya jatuh cinta pada satu orang saja, yaitu kamu." ucap Iyan lagi merasa Melati tak suka dengan ceritanya.


Melati masih tak mau menatap wajah Iyan, menoleh ke Samping dan menunduk.


Iyan menarik nafas berat, dia jadi bingung apakah Melati sedang merajuk atau sudah tak suka dengan dirinya. Iyan sendiri tidak yakin dengan apa yang sedang dia rasakan.


Iyan meninggalkan kamar Melati, memberi waktu gadis itu untuk berpikir tanpa dirinya memenuhi ruangan.


Dan Melati menarik nafas hanya sekedar membuang sesak, memejamkan mata sejenak merasakan hatinya yang sempat goyah.


Tapi Iyan benar-benar menyayanginya, dia tidak seperti Arka, dia sungguh-sungguh menjaga Melati hingga rela begadang seperti ini. Sedangkan Arka? Dia hanya bisa meminta Melati untuk menuntaskan hasratnya, tanpa memikirkan kehidupan Melati seterusnya seperti apa.


"Mas." Melati memanggil pelan, Iyan tak juga kembali ke kamarnya padahal sudah beberapa menit, mungkin lebih dari lima belas menit.

__ADS_1


Melati jadi penasaran, 'Atau jangan-jangan Mas Iyan pulang?' pikir Melati. Ia memilih turun dari ranjang dan melihat ke luar.


Melati melangkah pelan menuju dapur. Sepi dan tidak ada siapa-siapa. Kemudian Melati melangkah menuju ruang tamu, dimana Adi tidur di sana, mungkin Iyan bersamanya.


Ternyata juga tidak ada!


Melati menoleh ke dapur, memastikan jika Iyan tidak keluar, mana mungkin Iyan pulang tanpa memberitahu Melati.


Melati kembali ke dapur dan memeriksa kamar mandi, tapi memang benar-benar tak ada.


"Apa Mas Iyan marah?" gumam Melati menatap pintu dengan sendu.


Dia laki-laki baik, dia sungguh menyayangi Melati. Seketika bayangan bersama Iyan menari-nari di kepala Melati, senyumnya yang manis, pelukannya yang hangat dan ciumannya yang sedikit tapi terasa hangat dan mesra, dia melakukanya sepenuh hati, bukan karena nafsu.


Melati menarik pintu yang ternyata tidak di kunci, membuatnya semakin yakin bahwa Iyan pergi ke luar atau pulang meninggalkan Melati. Melati membukanya tanpa ragu, melangkah keluar dan ternyata dia melihat Iyan sedang berhadapan dengan Arka.


"Kembalikan Melati atau mati?" ucap Arka melangkah pelan mendekati Iyan, tampak gagah dan santai, tapi sorot matanya menyeramkan.


"Maaf Mas Arka, Melati bukan barang yang sedang ku pinjam." jawab Iyan di tegas, dapat di dengar jelas oleh Melati.


"Hem, dia milikku! Kau sengaja membuatnya berpaling dariku, berlagak jadi pahlawan padahal kau tidak jauh lebih baik daripada aku." Arka menunjuk dadanya sendiri.


"Aku memang tak lebih baik daripada dirimu Mas Arka, tapi niatku lebih baik, aku tidak menjadikan Melati sebagai pemuas nafsu saja, aku ingin menikahinya."


"Hahahaha." Arka tertawa terbahak-bahak. "Bahkan hampir semua pemuda di kampung ini menginginkan Melati untuk menjadi istrinya, jangankan dirimu. Bukankah kau selalu mengagumi Melati selama ini? Dan tak mungkin kau mendapatkannya kalau tidak memakai pelet atau mantera dari ayahmu!" tunjuk Arka tepat di wajah Iyan.


"Aku saja tidak tahu dimana ayahku? Bagaimana kau tahu jika ayahku memiliki mantera pengasih untuk membuat wanita jatuh cinta?" Iyan menatap tajam Arka.

__ADS_1


"Tentu saja aku tahu. Dia hanya seorang laki-laki pengecut yang ditinggal mati istrinya, karena istrinya jatuh cinta kepada laki-laki lain?" Arka kembali tertawa senang.


Iyan merasa nyeri mendengar ucapan Arka, berarti benar jika dukun hitam gurunya adalah laki-laki yang menjadi penyebab jatuhnya ibu Iyan di tepi jurang.


"Ya, dan aku adalah anaknya yang menjadi saksi bagaimana Ibuki menderita dengan kelakuan orang-orang seperti kalian. Aku memang belum lahir, tapi hatiku merasakannya." Iyan mencoba mengendalikan emosi di hatinya, dia takut mengamuk. "Aku tidak akan membiarkan Melati jatuh ke tanganmu."


"Dia akan meninggalkanmu setelah tahu kau adalah anak seorang dukun, dan kau juga menggunakan cara yang licik." Arka sengaja meninggikan suaranya agar di dengar Melati, dia melirik gadis yang sejak tadi berdiri di pintu belakang.


"Jangan membawa orang tuaku Mas Arka, mereka tidak ada hubungan dengan urusan kita." Iyan menjadi semakin marah dan kesulitan menahan diri.


"Apakah kau malu mendengarkan kata-kataku, Ayahmu seorang dukun, kau tak bisa memungkiri itu." Arka tertawa dengan sengaja, bahkan lebih mendekat di telinga Iyan.


Bugh


Iyan memukul perut Arka, satu tangan sudah cukup membuatnya terpental lumayan jauh, membuat Arka berhenti tertawa.


"Kurang ajar!" teriak Arka berlari menyerang Iyan, perkelahian tak terelakkan lagi, saling memukul juga menendang, melesat seperti bisa meringankan tubuh, keduanya seimbang. Semakin bergerak kaki dan tangan mereka, semakin banyak pula daun yang berguguran.


Melati hanya bisa menutup mulutnya, melihat kejadian yang benar-benar di luar nalar. Tak menyangka kedua pria itu memiliki kekuatan yang hampir sama.


Ya, Arka berhasil membuat Iyan marah, menyerang dan berkelahi hingga puas hati mereka melampiaskan amarah. Tentu Arka menunggu saat-saat seperti ini, dia menginginkan Iyan berada di puncak emosi dan kalah. Arka akan menang dan mendapatkan Melati.


"Sebaiknya hentikan Mas Arka, aku tidak menghendaki perkelahian yang hanya akan merugikan kita berdua." Iyan masih sedikit sadar ketika bisa mengelak dan berdiri tegak.


"Aku tidak akan berhenti!" bentak Arka dengan wajah hitam dan mata memerah.


"Kau lupa, kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah perkelahian tak akan mendapatkan kebaikan." Iyan berusaha menjauh.

__ADS_1


__ADS_2