Main Dukun

Main Dukun
Menyesal tak ada gunanya.


__ADS_3

memeluknya lebih erat, menikmati wanginya nafas Melati yang menderu hebat. Begitu Iyan juga sedang mengatur nafasnya, tak hanya nafsu yang sedang membuncah tapi cinta yang luar biasa juga sedang di rasakan Iyan saat ini.


Niat untuk menjaga, mencintai dan membahagiakan Melati adalah tujuan utamanya. Bukan semata karena terobsesi dengan tubuh indah Melati seperti Arka.


Teringat tentang Arka, Iyan jadi berpikir dengan apa yang sudah mereka lewati. mungkin itulah yang sedang di takutkan Melati.


Kembali Iyan memandangi wajah cantik istrinya. Matanya bening dan indah, hidungnya mancung dan runcing di ujungnya. Bibirnya mungil, merah dan basah. Wajahnya halus, dengan rambut lurus dan lembut. Iyan tersenyum hangat.


'Wajar saja Arka terus mengejar Melati, ditambah lagi tubuhnya yang langsing namun padat berisi. Berdekatan saja membuat hasrat laki-laki membubung tinggi, tentu Arka sulit melupakannya.


Melati memeluk Iyan menyembunyikan wajahnya, malu sekali saat Iyan baru memulai malah dia sudah kalah duluan.


Iya kembali menciumi Melati, memeluk erat dan kembali memulai dengan sedikit kasar. Seolah sedang berjalan kaki, Iyan sudah hapal karena sudah pernah melewati.


menelusuri setiap lekuk dan berhenti ketika bertemu dengan tanjakan. Semakin membuat mabuk Melati.


Dan kali ini Iyan yang sudah tidak tahan lagi, menyerang di pusat inti kehangatan Melati, mengakhiri status perjakanya malam ini.


Sekali dua kali, ternyata tak semudah yang di bayangkan Iyan, membuat pemuda itu sedikit menautkan alisnya. Terlebih lagi ketika menatap wajah Melati yang sedikit waspada.


'Kenapa susah?' tanya Iyan dalam hati, padahal ini bukan yang pertama untuk istrinya.


Iyan kembali menghujani Melati dengan ciuman, membuat istrinya terhanyut semakin lama dan menekan lebih kuat di bagian bawah sana.


Jari lentik Melati mencengkeram bahu Iyan lumayan keras, hanya bisa menahan tanpa bisa bersuara karena Iyan membungkam bibirnya.


Baru setelah masuk sempurna Iyan melepaskan dan tersenyum mesra.


"Mas." Melati memeluk Iyan erat sekali menikmati rasa yang tercipta ketika raga mereka menyatu, saling menikmati aroma tubuh mewangi, rasanya tak mau berpisah lagi.


Tak henti Iyan tersenyum tipis di sela permainan hangatnya. Melati sangat menyenangkan, terlebih lagi ketika sudah polos tak terbalut apa-apa.


Hingga beberapa puluh menit berikutnya, Iyan mengakhiri perjuangan malam pertamanya, melepaskan tembakan hangat di bawah sana, banyak dan memenuhi milik Melati, berharap setelah beberapa Minggu akan tumbuh menjadi junior Iyan dan Melati.

__ADS_1


"Terimakasih Sayang." Iyan kembali menciumi wajah Melati, baru setelahnya turun perlahan berbaring di samping dan memeluknya erat.


"Aku mencintaimu Mas." ucap Melati memeluk Iyan.


"Mas juga sangat mencintaimu, lebih dari yang Melati tahu." jawab Iyan membalas pelukan Melati.


Iyan masih terpikir dengan apa yang baru saja terjadi. Seperti yang dia tahu jika Melati sudah tak suci lagi, tapi bagaimana bisa butuh perjuangan beberapa kali untuk memasuki Melati.


'Ada dua kemungkinan, yang pertama milik Arka lebih kecil, atau milik Iyan yang lebih besar.' Iyan terkekeh geli di dalam hati, yang penting Melati tidak akan berpaling lagi.


"Mas haus." Iyan menoleh wajah di dadanya, tapi ternyata sudah tertidur pulas.


Kembali pemuda itu membelai wajah Melati, menyibak rambutnya dan mengecup keningnya.


Membayangkan bagaimana dulu Iyan hanya bisa memandanginya dari jauh, memasang telinga lebih tajam ketika tak sengaja bertemu dan dia sedang bicara kepada orang lain. Kemudian hanya bisa mencuri pandang hingga tak berkedip, lalu pura-pura tak melihat ketika Melati melihat ke arahnya.


"Mungkin kamu sudah lupa, tapi aku tak pernah lupa bagaimana kamu melewati aku dengan anggun sekali. Malamnya Mas tidak bisa tidur membayangkan wajahmu." Iyan terkekeh sendiri.


...***...


Sesekali melamun, sekalinya kemudian tangannya mencengkeram erat batang pohon besar itu, hingga seperti terbakar kulit pohonnya.


"Kau pastikan sedang bahagia menikmati sisa ku Iyan Rahendra!" gumamnya di tempat gelap tersebut.


Tapi bukannya tertawa, sebaliknya dia sedang menangis. Hatinya sedang teriris-iris pedih, membayangkan bagaimana Iyan menikmati tubuh indah Melati.


'Dia pasti sangat cantik malam ini, di bawah lampu yang remang laki-laki sialan itu sedang bersenang-senang.'


"Aaaarrggggghhhh!!!"


Arka berteriak tidak tahan lagi, dia ingin sekali menghantam rumah Melati dan menghancurkannya. Agar puas melampiaskan amarah yang belum juga reda. Tak akan reda rasanya sebelum membuat Iyan tak berdaya, atau mungkin mati.


Melati yang sudah tertidur pulas itu sekarang membuka mata, salah terdengar suara orang berteriak dan suaranya seperti Arka.

__ADS_1


"Mas." panggil Melati kepada Iyan, tangan halusnya meraba tapi tak mendapati Iyan di sampingnya.


Melati meraih pakaian yang sudah di letakkan di atas ranjang. Sepertinya Iyan yang sudah mengumpulkannya di sana.


Ia beranjak dan keluar dari kamar tersebut.


"Mas!" panggil Melati lagi, melihat kiri dan kanan, antara dapur dan ruang tamu. Melati memilih ke dapur.


Ternyata Iyan sedang menuang air putih di wadah air minum Melati.


"Mas sedang apa?" tanya Melati pelan.


"Hanya mengambil air putih, takut kamu haus kalau bangun, malah sudah bangun duluan." Iyan menutup botol plastik tersebut dan membawanya.


"Aku khawatir Mas keluar." ucap Melati manja ketika Iyan memeluk tubuhnya masuk ke dalam kamar.


"Buat apa Mas keluar?" Iyan meletakkan botol plastik itu di atas meja kayu sudut kamar Melati.


"Kemarin juga seperti itu, Melati tidak mau terulang lagi." jawab Melati tak mau memberi tahu bahwa baru saja dia mendengar teriakkan Arka, walaupun tak yakin itu nyata atau Melati sedang bermimpi.


"Tidak Sayang, Mas tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tapi yang tadi harus sering diulangi lagi." Iyan menggoda Melati.


Melati tersenyum lebar, menerima belaian tangan Iyan di wajahnya, juga kecupan hangat yang di ulang-ulang di bibir merah Melati.


"Takut bengkak, nanti di tanya Ibu." Iyan mengelap bibir Melati, sambil terkekeh.


"Melati suka." jawabnya halus, membalas senyum Iyan.


"Melati memang harus selalu suka, jangan ingat siapapun di masa lalu, hanya ada aku."


"Tentu saja Mas, semua yang ada padamu membuat aku lupa bahwa ada banyak orang di dunia ini. Bagiku hanya ada Mas Iyan saja.


Iyan kembali membawa tubuh Melati ke dalam pelukannya, ternyata memiliki istri hasil merebut kekasih orang itu membuat hatinya deg-degan. Kadang bangga dan bahagia, tapi kemudian khawatir dia tak bisa menyaingi Arka.

__ADS_1


Pergulatan panas kembali terjadi, tak peduli orang di balik dinding sedang menangis, sedih dan benci.


"Menyesal sudah bukan waktunya Arka! Jika saja dari awal kau menurut untuk melamarnya lebih dulu."


__ADS_2