Main Dukun

Main Dukun
Menjemput Melati


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasa Iyan berangkat bekerja dan kali ini lebih pagi karena tak ada Melati, jadi sebagian pekerjaan Melati dia yang akan mengerjakannya.


"Yan?" Adi mendekati Iyan dengan menatap heran.


"Apa?" tanya Iyan hanya menoleh sedikit.


"Itu wajahmu?" Adi menunjuk pipi sebelah kiri Iyan memar hingga ke sudut bibir.


"Oh, semalam aku ketemu Mas Arka. Dia ingin menemui Melati dan memberikan air dari dukun itu. Untuk aku datang dan berhasil menggagalkannya." Iyan sedikit bercerita, sambil tangannya sibuk mengisi buku besar milik Melati.


"Berantem?" tanya Adi lagi.


"Iya." jawab Iyan tapi tak terlihat ada sakit.


"Main pukul-pukulan?" tanya Adi membuat Iyan kesal.


"Ya Iya Di, masa jambak-jambakan seperi ibu-ibu." Iyan menggelengkan kepalanya.


"Kalau Melati tahu bisa struk dia." Adi menertawai Iyan sedikit.


"Makannya jangan kasih tau!" jawab Iyan lagi.


"Ya sudah, berarti besok minta tetangga saja yang jemput dia." Adi semakin menggoda Iyan.


"Enak sekali dia!" Iyan menatap kesal kepada Adi, tentu ia tak akan rela Melati di jemput Arka.


"Ya sudah, mau tak mau besok kamu yang jemput. Soalnya besok kita mau ada yang periksa dari kabupaten." jelas Adi masih tertawa.


"Tentu saja aku mau." Iyan masih kesal.


Dealer yang lumayan ramai membuat keduanya sibuk tanpa Melati. Mereka tidak sadar jika ada seseorang yang sedang mengawasi dari jauh.


Arka menatap Iyan dan Adi dengan wajah memerah menahan amarah, rasa tidak terima dengan kekalahan semalam menimbulkan dendam yang semakin besar di hati Arka.


"Siapa sebenarnya Iyan? Mengapa dia bisa menahan kekuatanku?" gumam Arka sendiri.


Namun kemudian entah kebetulan atau Iyan juga merasakan, Iyan melihat ke arah Arka. Itu membuat Arka terkejut dan bersembunyi.

__ADS_1


"Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini?" kesalnya berbalik memunggungi Iyan, dan pura-pura makan di warung yang tak begitu jauh dari dealer tempat Iyan bekerja.


Merasa dirinya sudah ketahuan, Arka meninggalkan tempat tersebut dan melaju cepat menuju rumah Melati.


Kebetulan sekali ibu Nur sedang ada di depan rumah membersihkan sayur mungkin baru saja di petik dari kebun belakang.


"Bu." Arka mendekati Ibu.


"Nak Arka." Ibu Nur senang dengan kedatangan Arka.


"Apakah Ibu sudah menghubungi Melati? Kapan dia pulang?" tanya Arka memang sempat meminta Ibu menghubunginya. Tentu di rumah Aryo membuat Arka kesulitan menemuinya.


"Belum tahu, Aryo belum memberi izin pulang." jawab Ibu kembali fokus dengan sayuran di tangannya.


"Aku kangen Melati Bu." ungkap Arka dengan wajah sedih.


"Sabar ya Arka, Ibu ingin sekali kau menjadi menantu Ibu. Nak Arka tahu kan kalau Ibu ini sudah tua dan ingin sekali cepat punya menantu." Ibu mulai mengusap-usap air matanya, dia menangis.


"Aku ingin sekali menjadi menantu Ibu. Arka ikut bersedih, juga mengeluarkan air mata.


"Mbak!" suara seseorang membuat kesedihan dua orang tersebut sedikit berhenti.


"Kamu Ti." Ibu Nur menoleh seorang ibu-ibu muda menghampirinya.


"Kok pada nangis?" tanya Surti duduk diantara Arka dan Ibu.


"Aku sedih Ti, keponakanmu itu susah di ajak bicara. Dia sudah pacaran lama sama Arka tapi di ajak nikah malah tidak mau. Dan parahnya lagi malah memilih laki-laki yang lain." tangisan Ibu Nur semakin jadi.


"Ya sudah, Mbak hubungi Melati, biar nanti aku yang bicara. Sekalian menasehatinya." Surti merupakan tetangga sekaligus saudara jauh Ibu Nur.


"Iya." Ibu Nur mengakhiri tangisnya, begitu juga Arka menunduk dengan banyak pikiran, wajahnya lusuh dan sedih.


Harusnya, Melati masih menurut dan tidak berpaling dari Arka. Mengingat jika selama ini mantera dan ajian dari Ki Juno selalu manjur.


"Aki!" Arka jadi ingin mengunjunginya lagi. Dia harus tahu apa dan siapa Iyan sebenarnya, karena tidak mungkin orang biasa-biasa saja bisa menahan kekuatan Arka. Jelas sekali tadi malam Arka mengeluarkan tenaga dalam untuk memukul Iyan, dan jika sampai kena pasti Iyan terluka parah bahkan bisa mati.


"Bu, Arka pamit pulang ya, besok aku akan datang lagi." Arka meraih tangan Ibu dan mencium punggung tangan ibu Nur.

__ADS_1


"Iya." jawab Ibu Nur yang masih sibuk mengusap air matanya, sampai tetangganya bingung harus bagaimana.


Di perjalanan Arka masih sibuk berpikir tentang Iyan. 'Jika di lihat dari kemampuannya, aku sangat yakin jika Melati dalam pengaruh Iyan. Ya, dia pasti mengguna-guna Melati sampai dia tak mau melirikku lagi! Iyan pasti membuatnya bertekuk lutut dengan ajian miliknya. Pantas saja Melati selalu menempel seperti perangko. Bikin panas saja!"


Arka melaju kencang seperti biasa, jalanan yang sepi membuat pemuda itu mengendara motor seperti pembalap liar, tanpa helm ia terus mengebut menampakkan rambutnya yang lumayan panjang dan halus melambai di terpa angin.


Beberapa jam kemudian Arka sudah tiba di rumah aki-aki andalannya.


"Aki!" teriak Arka baru saja turun dari motornya, sudah tak sabar ingin bertemu dengan laki-laki itu.


"Duduklah, aku tahu kau pasti datang." ucapnya setelah Arka memasuki pintu rumahnya.


"Ki, semalam aku dikalahkan oleh pemuda sainganku! Ilmuku tak bisa berfungsi berhadapan dengannya." adu Arka dengan sangat penasaran.


"Aku tahu, jin yang ada dalam tubuhmu melaporkannya padaku." jawab Aki Juno dengan sedikit tegang.


"Ada apa sebenarnya Ki?" tanya Arka.


"Dia bukan orang biasa Arka! Aku baru tahu jika dukun di perkebunan kelapa itu punya anak, dan anaknya adalah sainganmu!"


"Apa?" Arka tercengangnya dibuatnya, bahkan beberapa tahun lalu ia sempat pergi ke sana meminta ilmu pengasihan untuk menjerat Melati.


"Kau akan kesulitan menghadapinya, dia sudah punya kekuatan sejak lahir, entah mengapa sepertinya sengaja di sembunyikan." jelas Ki Juno.


"Maksudnya di sembunyikan Ki?" Arka sungguh-sungguh pemasaran.


"Dia menutupi kekuatannya, dan semalam dia terpancing karena kau membuatnya marah." jelas Aki itu lagi.


Arka menyandar di dinding rumah Aki Juno, ia semakin bingung memikirkan bagaimana cara merebut Melati kembali.


"Harusnya kau tidak keras kepala Arka. Berkali-kali aku mengatakan jika segera lamar Melati dan nikahi dia." Aki Juno duduk di samping Arka, tak seperti biasanya sikapnya lebih merendah dan terlihat menyesalkan sesuatu.


"Bukankah kau bisa


menggunakan ilmu mu untuk mengembalikan Melati Ki?" tanya Arka masih mengharapkan Aki Juno membantu.


"Tidak bisa, karena kalau dipaksakan Melati bisa mati. Dia sudah terlalu banyak menelan ajian dan mantera darimu, jiwanya rapuh dan mudah di sentuh oleh makhluk ghaib, termasuk jin mantera yang kau dapat dari dukun pengasingan itu."

__ADS_1


__ADS_2