Main Dukun

Main Dukun
Ritual


__ADS_3

"Ki!" panggil Arka pelan, matanya tak berhenti menatap punggung wanita yang kini sedang ada di dapur sederhana.


"Ada apa?" tanya Aki Juno duduk santai di kursi kayu.


"Katanya emak-emak, kenapa masih muda?" tanya Arka sangat penasaran dengan wanta cantik di rumah itu.


"Ya itu ilmu andalannya, dia awet muda dan semakin tua semakin cantik saja. Bahkan membuat laki-laki susah berkedip." ucap Aki menyindir Arka.


"Dia cantik hampir sama seperti Melati." jawab Arka menggaruk-garuk kepala.


"Ya tentu, rasa suka mu terhadap Melati membuatmu melihat dia mirip Melati. Coba kamu suka sama yang lebih tua, dia akan terlihat seperti yang sudah tua." jelas Aki Juno lagi.


"Kalau aku memiliki ilmunya, aku bisa membuat Melati jatuh cinta lagi padaku, dia akan melihat aku lebih tampan daripada Iyan." Arka tersenyum penuh arti.


"Ya itu syaratnya. Kamu bersedia atau tidak?" tanya Aki Juno lagi.


"Aku mau Ki." ucapnya tak berpikir lagi.


"Soknya paling setia sama satu cinta, giliran lihat yang bening kamu embat juga. Jangan salahkan aku jika suatu saat kamu melihat dia seperti ibumu." Ki Juno mengingatkan.


"Melati saja sedang bersenang-senang dengan Iyan Ki, apa salahnya aku sedikit mencari selingan. Soal dia seperti ibuku atau apapun itu urusan nanti." Arka menyandar dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.


"Perasaanmu itu bukan cinta Arka, tapi obsesi dengan kecantikan yang dimiliki Melati. Aku ragu suatu saat kamu bertemu dengan gadis yang lebih cantik kau juga akan mengejarnya." Aki masih tertarik berbicara dengan muridnya tersebut.


"Tapi setahuku hanya Melati yang paling cantik dan aku tak bisa melupakan dia. Dia lembut dan penurut, semuanya sangat pas dan sempurna." jawab Arka sedikit membayangkan Melati.


Kemudian pembicaraan mereka terhenti ketika Rahayu datang membawa minuman.


"Silahkan di minum." ucap wanita bernama Rahayu tersebut.


"Terimakasih." jawab Arka tanpa ragu mengambil satu gelas kopi dan meminumnya sedikit.


"Apa tidak panas?" tanya Aki sedikit heran dengan sikap Arka yang terburu-buru.


"Panas." jawabnya meletakkan kopi itu lagi.


Sementara wanita yang juga di panggil Mak Ra tersebut hanya tersipu malu, dia tahu persis laki-laki muda itu sedang mengagumi kecantikannya.

__ADS_1


Malam itu, sesuai keinginan Arka, Wanita bernama Rahayu itu sedang mempersiapkan ritual mandi untuk mendapatkan ilmu awet muda dan pengasih yang terkenal keampuhannya.


"Harus mandi ya?" tanya Arka tampak ragu melihat air kembang setaman di dalam gentong air lumayan besar.


"Harus, agar aura ketampananmu semakin keluar." ucap wanita itu lagi lembut dan menggoda.


"Baiklah." Arka menurut, duduk di depan Rahayu dengan bertelanjang dada, bahkan di bagian bawah Arka hanya menggunakan sarung saja.


Ritual mandi itu dimulai dengan menyiram tubuh gagah Arka, lalu membasahi rambutnya dan selanjutnya seluruh tubuh Arka.


"Dingin sekali." ucap Arka memejamkan mata, sedikit bergetar tubuhnya tersebut menahan dinginnya udara dan air bersatu mengguyur tubuhnya. Namun terasa berbeda pada akhirnya ketika tangan lentik wanita itu mengusap tubuh Arka bersamaan dengan bunga-bunga yang jatuh dari gayung berisi air tersebut.


"Kau sudah tidak bisa mundur lagi Arka, tapi masih punya waktu jika ingin berhenti sebelum ritual selanjutnya kita lakukan." Wanita itu kembali mengingatkan sambil menutupi punggung Arka dengan handuk.


Arka membuka mata dan berdiri dari duduknya, berbalik menghadap Rahayu. "Aku tidak akan mundur, aku malah tak sabar menyatukan keringat kita, dan mendapatkan ilmu dari mu."


Arka semakin mendekati Mak Rahayu dengan tatapan seorang laki-laki yang ingin memangsa. Wajah tampannya terlihat buas dengan hasrat menggebu dan ambisi yang tinggi.


"Aku menyukaimu." ucap wanita tersebut, sengaja membiarkan Arka membuka pakaian bagian atasnya yang basah karena memandikan Arka.


Di bawah sinar bulan yang remang, keduanya memulai hal terlarang namun terasa nikmat bagi keduanya. Tadinya hanya sekedar pemanasan sekarang sudah berpindah ke ranjang hangat Mak Rahayu, ranjang pengantin tanpa menikah untuk yang kesekian kali.


...***...


Satu bulan kemudian


Di rumah sederhana yang asri, Iyan sedang khawatir dengan istrinya yang tiba-tiba sakit dan lemas. Beruntung ini hari terakhir Melati kerja di dealer sepeda motor. Sesuai dengan keinginan Iyan suaminya, dia akan berhenti dan hanya di rumah saja.


"Mas antar berobat ya." ucap Iyan khawatir memegang tangan Melati dan menyibak rambut istrinya yang menyandar lemas di ranjang.


"Tidak Mas, Melati mau tidur." jawabnya menarik selimut dan mengatur posisi tidurnya.


"Tapi kamu lemas Sayang." Iyan memeluk dan mengelus wajah Melati, tentu ia sangat khawatir.


"Mas disini saja, tidak usah bekerja." pintanya menatap wajah Iyan penuh damba.


Iyan tersenyum hangat, entah karena sedang sakit Melati jadi semakin manja. Tapi Iyan menyukainya, sangat suka karena cintanya sangat besar untuk Melati.

__ADS_1


"Mas tidak akan kemana-mana." jawab Iyan mengusap kepala istrinya yang mulai memejamkan mata.


Sejenak kemudian Melati benar-benar tidur.


"Yan." panggil ibu dari luar.


"Iya Bu." jawab Iyan mengatur selimut Melati dan beranjak keluar.


"Kamu tidak kerja?" tanya Ibu menenteng bakul wadah bermacam-macam sayuran hasil dari kebun.


"Tidak Bu, Melati tidak mau ditinggal, juga tidak mau di bawa ke dokter." jelas Iyan khawatir.


Ibu malah tersenyum. "Ibu rasa istrimu tidak sakit."


Iyan sedikit bingung, tapi kemudian ikut tersenyum.


"Ibu mau ke pasar, sekalian membeli alat tes untuk istrimu." ucap Ibu meletakkan bakul sayur di atas meja dapur.


"Biar Iyan saja Bu. Ibu catat saja apa yang ingin di beli." Iyan menjadi bersemangat, sudah tidak sabar mengetahui hasilnya nanti.


"Ya sudah, Ibu tulis dulu." Ibu pergi ke ruang tamu mengambil kertas, sementara Iyan kembali masuk ke kamar mengganti baju.


Menoleh gadis idamannya dulu, kini tengah tidur pulas di kamar mereka. Rasanya baru kemarin Iyan menikahinya, dan sekarang mendapatkan kebahagiaan yang baru.


Iyan mendekati Melati, mengecup keningnya begitu lama, hingga membuat gadis itu membuka mata.


"Mas mau kemana?" rengek Melati menyadari suaminya telah berpakaian sedikit rapi.


"Mas mau ke pasar sebentar, Ibu mau membeli sesuatu." jelas Iyan memeluk Melati.


"Sebentar saja ya Mas." pintanya masih enggan bergerak.


"Iya, hanya sebentar. Sekalian beli buah-buahan, mana tahu kamu suka." ucap Iyan memancing keinginan Melati.


"Aku titip gado-gado pedas ya Mas." pintanya sangat manja.


"Ada lagi?" tanya Iyan menggenggam tangan Melati.

__ADS_1


Melati menggeleng, hanya rasanya tidak ingin jauh-jauh dari Iyan walau sedikit saja.


__ADS_2