
"Ini pasti karena bujukan mu." kesal Arka kepada Iyan.
"Melati hanya sedang mencari ketenangan, mengapa Mas Arka marah? bukannya malah bagus." Iyan menjawabnya dengan santai.
"Bagus kepalamu!" marah Arka dan langsung mematikan ponselnya.
Iyan melihat ponsel Melati, ia berpikir apa yang akan dilakukan Arka sekarang.
Iyan beranjak dari duduknya, meraih jaket dan kunci motor. Ia segera keluar.
"Yan!" Angga yang barus saja kembali dari luar kota mengejar Iyan.
"Iya Mas?" Iyan memakai jaket sambil berbalik menghadap Angga.
"Mau kemana?" Angga menatapnya penuh selidik.
"Mau keluar sebentar." Iyan menuju motornya.
"Ikut!" Angga juga meraih jaketnya dan duduk di belakang Iyan.
Iyan tak peduli Angga mau ikut atau hanya bercanda, tetap menyalakan mesinnya dan memasang helm.
"Tidak jadi ah." Angga kembali turun dari sepeda motor Iyan.
"Kenapa Mas?" Iyan menoleh kakaknya.
"Bau-bau mau susah, mending di rumah saja." Angga kembali masuk tanpa menoleh Iyan.
Iyan hanya menggeleng, kemudian berlalu meninggalkan rumahnya.
"Hampir 20 menit sepeda motor Iyan melaju, memasuki desa tetangga dengan suasana berbeda, Iyan tetap melaju hingga terlihat rumah berwarna hijau muda, rumah paman Aryo.
Benar dugaannya jika Arka akan datang ke sana menemui Melati, pria itu melintas dari arah yang berbeda dan sedikit lebih dahulu dari Iyan, sehingga Iyan dapat melihat dan mengawasinya dari jarak yang aman.
"Assalamualaikum." terdengar Arka mengetuk pintu rumah Aryo.
Tak ada jawaban, tapi beberapa saat kemudian pintu terbuka, tampak gadis cantik dengan rambut lurus bersama seorang ibu-ibu muda berkerudung sederhana.
"Assalamualaikum Bu." Arka bersikap sopan.
"Waalaikum salam." jawab ibu-ibu muda, istri Aryo.
"Maaf Bu, mau bertemu Melati sebentar, karena ada titipan dari Ibu Nur." Arka mengeluarkan kantong dari kertas ala mall-mall.
__ADS_1
"Oh, ini Melati. Tapi sebentar saja ya, dan di luar saja soalnya Mas Aryo sedang di mesjid." ternyata di izinkan dan hanya sebentar.
"Iya Bu, tidak lama kok." Arka senang sekali melihat Melati keluar dari pintu rumah Aryo.
"Mel, kenapa tidak bilang kalau mau ke sini." Arka menatapnya lembut, tak memungkiri jika cinta Arka kepada Melati juga sangat besar.
"Mendadak Mas, paman memintaku ke sini." jawab Melati berbohong.
"Ya sudah, ini titipan Ibu. Jangan lupa di minum ini sudah lewat waktunya." Arka melihat jam, dan memang hampir jam delapan.
"Nanti saja Mas." tolak Melati pelan, tentu ia tak ingin membuat keributan.
"Sekarang Mel!" Arka membuka kantong kertas yang di bawanya, dan mengeluarkan botol air mineral. Arka membukanya dan memberikan kepada Melati.
"Aku bisa sendiri!" Melati meraihnya dari tangan Arka, namun Arka tak mau dan memaksanya lagi minum saat itu juga.
"Sekarang Mel, ini pesan Ibu lho." Arka meraih bahu Melati agar lebih dekat.
"Mas!" kesal Melati.
Iyan datang dengan sigap merebut botol plastik tersebut dari tangan Arka.
Arka melotot juga terkejut, merebut botol tersebut dari tangan Iyan tapi tak berhasil.
Kali ini Iyan tak tinggal diam, mengelak dan menangkis pukulan Arka. Namun kemudian tendangan Arka yang lincah mengenai perut Iyan.
Arka tersnyum sinis, tentu ia berpikir jika Iyan bukanlah lawan yang sebanding dengan Arka. Namun kemudian senyumnya memudar, wajahnya berubah semakin marah karena air putih di tangan Iyan jatuh dan di injak oleh Iyan.
"Brengsek! B*jingan!" teriaknya dengan mata memerah, wajahnya yang tadi biasa saja, sekarang berubah menjadi hitam dan menyeramkan.
"Mas!" teriak Melati takut, mendekati Iyan menarik lengannya agar menghindar.
"Masuklah Mel!" pinta Iyan masih terlihat tenang.
"Tapi Mas!" Melati tampak ketakutan.
"Masuklah, semua akan baik-baik saja." Iyan sedikit mendorong Melati, bersiap dengan serangan Arka yang pasti akan menggila.
"Arrgghh.." Arka mengamuk. Meninju dan menendang dengan membabi buta. Jelas Iyan sedikit kewalahan, mundur dan menghindar tanpa sempat membalas serangan.
"Berhenti!"
Suara seseorang yang begitu keras, membuat Arka menoleh terkejut, seringai mengerikan terlihat jelas memantul dari cahaya lampu teras rumah Aryo, namun kemudian memudar ketika melihat siapa yang bersuara.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu datang?" tanya Aryo kepada Arka.
Arka masih mengatur nafas, ia kesulitan mengendalikan amarahnya yang menampakkan wajah seram.
"Kau, siapa namamu?" tanya Aryo yang memang belum pernah melihat Iyan, walaupun banyak tahu tentang pemuda itu dari Adi sepupunya.
"Iyan Paman." Iyan mengulurkan tangannya dengan sopan.
Aryo membalas uluran tangan Iyan, dapat di lihat jika Iyan adalah pemuda yang baik. Wajahnya juga menenangkan walaupun tak setinggi Arka, tapi bedanya hanya tipis saja.
"Apa yang membuat kalian berkelahi?" tanya Aryo melirik keduanya bergantian.
"Dia melarangku bertemu Melati." tunjuk Arka pada Iyan, sedangkan Iyan tetap bersikap tenang.
"Kau? Datang kemari untuk apa?" tanya Aryo kepadanya Iyan.
"Aku ingin bertemu dengan Paman Aryo, aku ingin bicara penting." jawab Iyan mantap.
Arka mendelik tajam. 'Ternyata dia pandai juga, menyebalkan.'
"Baiklah, aku melarang kalian bertemu Melatih. Jadi pulanglah!" Aryo meminta Arka pulang.
"Melati masuklah!" perintah Aryo.
"Iya Paman." Melati masuk ke dalam sebelumnya melirik Iyan terlebih dahulu.
"Tapi aku ada keperluan dengan Melati." Arka masih tak terima di minta pulang lebih dulu, sedangkan Iyan tidak.
"Tidak ada yang boleh bertemu Melati, dia hanya akan bicara denganku. Kau juga jika ingin bicara denganku maka boleh bicara sekarang."
Dengan rasa kesal yang mengonggok di dadanya, Arka meninggalkan rumah Aryo. Tentu ia tidak sedang ingin bicara dengan Aryo.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku." tanya Aryo tanpa basa-basi.
"Begini Paman, tadinya aku hanya ingin memastikan kedatangan Arka kemari, dan benar dia membawa air dari dukun itu untuk Melati." Iyan menunjuk botol plastik yang sudah gepeng di injak olehnya.
"Ya." Aryo mengangguk.
"Tapi tak hanya itu, aku punya tujuan lain walaupun mungkin malam ini bukan waktu yang tepat. Aku ingin menikahi Melati, dan mungkin Paman sendiri tau mengapa niat baikku belum bisa terlaksana. Dan aku ingin melamarnya dengan Paman Aryo langsung di sini. Aku benar-benar ingin menikahinya kalau bisa dalam waktu dekat. Aku tidak tahu harus berbicara kepada siapa selain dengan Paman Aryo, sedangkan ayahnya aku belum pernah bertemu." Iyan benar-benar berbicara dengan berani, jelas dan bersungguh-sungguh.
Aryo tersenyum sambil menarik nafas lega, ternyata dia tidak salah menilai meskipun hanya dalam cerita saja. Secara langsung malah membuat Aryo semakin yakin akan kesungguhan Iyan.
"Apakah kau sudah pikir baik-baik untuk menikahi Melati?" tanya Aryo.
__ADS_1
"Aku sudah sangat yakin Paman." jawab Iyan lagi.