
Penglihatan yang terganggu dengan bayang-bayang kebersamaan dengan kedua laki-laki itu melintas bergantian, Arka yang egois tapi menghangatkan, lalu Iyan yang lembut, tulus dan menyenangkan.
Melati menutup matanya dan yang kembali terlihat adalah Arka, lalu membuka matanya dan yang terlihat jelas adalah Iyan. Melati berjalan dengan kepala berputar menuju ranjang miliknya, tangannya terulur menggapai ujung ranjang dan tak sempat duduk ia sudah terjatuh.
"Mel."
Suara itu terdengar memanggil dekat sekali dengan telinga, antara suara Iyan dan juga Arka.
"Mas!" panggil Melati meringis pening, berharap keduanya berhenti memanggil dan menghantui pikirannya.
"Mel?" suara Iyan terdengar lebih jelas dan terlihat jelas wajah suaminya itu menatap dirinya. Namun kemudian ruangan semakin gelap dan tak melihat apa-apa.
...***...
"Mel."
suara itu masih saja memanggil, namun tak bisa melihatnya karena kelopak mata Melati seperti sedang di tindih benda yang erat.
"Mel bangun Nak!"
Kali ini suara Ibu, terdengar sedang menangis.
"Bangun Nduk." tangis Ibu semakin jelas terdengar.
Lalu sebuah tangan yang halus dan hangat menyentuh wajah Melati, mengusap pelan lalu mengecup keningnya.
"Bangunlah Sayang." bisiknya dengan suara yang menggetarkan, hangat menelusup hingga ke dalam hati.
Beban yang tadinya menimpa kelopak mata Melati berangsur terasa ringan dan menghilang, ia membuka mata.
"Alhamdulillah."
Ternyata ada banyak orang di rumah Melati, bahkan ibu dan ayah mertuanya ada di sana.
Iyan memandangi wajah Melati dengan sedikit tersenyum tapi juga iba.
"Mas." panggilnya berusaha bangun dan menatap bingung pada semua orang.
Iyan membantunya duduk dan memeluknya, bertumpu pada sebelah dada Iyan.
"Kamu pingsan Nak, hampir dua jam." Ibu mengusap sisa air matanya.
__ADS_1
"Pingsan?" Melati melihat keluar jendela yang tertutup, benar saja sudah tak ada cahaya matahari di luar sana. Mencoba mengingat-ingat bagaimana ia bisa pingsan.
"Mas Arka." gumamnya menoleh Iyan.
Iyan menautkan alisnya, menatap wajah Melati yang mendadak tegang. "Arka?" tanya Iyan pelan agar tak di dengar semua orang.
Melati menunduk tak menjawab, namun dapat dimengerti Iyan jika tadi Arka menemui istrinya.
Malam yang semakin larut tak juga membuat mata Iyan terpejam, malah semakin banyak berpikir tentang Melati dan Arka. Malam-malam bahagia itu tak berlangsung lama setelah kehadiran kembali Arka Wijaya.
Iyan keluar dari kamarnya, meninggalkan Melati yang kini tertidur pulas, mencoba mencari udara di luar, mana tahu bisa mengantuk setelahnya.
"Kenapa belum tidur Nak Iyan?" suara Ibu membuat Iyan menoleh, ternyata ibu mertuanya juga belum tidur dan duduk di dapur sambil memasak air. Iyan berbalik melangkah mendekati ibu.
"Lha Ibu kenapa belum tidur? Ini sudah pukul dua belas." Iyan ikut duduk bersama ibu.
"Orang tua ya begitu Yan, kalau ada yang di pikirkan pasti tak bisa tidur." jawab Ibu membuka tudung saji dan mengeluarkan piring berisi potongan kue.
"Memangnya apa yang ibu pikirkan?" Iyan tersenyum mendengarkan ibu.
"Banyak, salah satunya ya istrimu. Ibu kasihan dengan keadaan yang selalu di persulit di saat dia mulai bahagia bersama kamu. Ibu khawatir kamu menyerah pada akhirnya." jawab Ibu melirik menantunya itu sambil menuang air untuk Iyan.
"Besok bapak mertuamu pulang. Lusa kamu boleh membawa Melati ke rumahmu agar sedikit lebih jauh dari Arka." ungkap ibu atas kegelisahannya.
"Jika Bapak sudah pulang, aku akan benar-benar membawa Melati. Aku juga tak khawatir lagi dengan keadaan Ibu di sini." jawab Iyan setuju.
"Sebenarnya Ibu juga tak masalah tinggal sendirian, hanya kalian saja yang terlalu khawatir." jawab Ibu.
"Mulai besok aku akan berhenti bekerja Bu, lagi pula teman kerjaku sudah bisa menggantikan aku."
Ibu menatap menantunya, berpikir apakah itu yang terbaik.
"Melati tidak bisa di tinggal sendiri, aku juga selalu was-was dengan kehadiran Arka yang bisa saja dimana-mana dan kapan saja." jelas Iyan.
"Apakah ada solusi yang lain Yan?" tanya ibu dengan wajah khawatir.
"Aku belum tahu Bu." Iyan menarik nafas dalam-dalam. "Terkadang aku menggunakan kemampuan mataku untuk membuat Melati menurut dan tetap dalam posisi yang benar, tidak tergoda dengan Arka. Bukan perihal cemburu saja, tapi menyukai laki-laki lain setelah bersuami adalah dosa besar yang tak ada ampunan nya. Sadar ataupun tidak itu tetap dosa, jadi jangan sampai Melati melakukan kesalahan itu Bu."
"Ibu semakin bingung." Ibu memijat kepalanya.
"Jika tidak seperti itu, Melati tak akan bisa bertahan. Tapi sepertinya Arka juga lebih kuat Bu, dan aku yakin Melati sudah terpengaruh. Hanya saja sepertinya ada yang melawan di dalam tubuh Melati, dan aku tidak tahu."
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita bawa ke rumah ustadz Ahmad saja?" usul Ibu Nur.
"Ya, setelah aku bertemu ayahku dan menyelesaikan urusanku dengan Arka Bu. Dia tak bisa di biarkan begitu saja."
Namun Iyan masih memikirkan bagaimana cara menemui ayahnya.
Hingga keesokan harinya, Iyan berangkat lebih pagi ke tempat ia bekerja. Mengambil beberapa barang miliknya dan mengundurkan diri seperti yang direncanakan semalam.
"Yakin kamu tidak bosan nganggur?" tanya Adi kepada Iyan.
"Ya bosan! Tapi mau bagaimana lagi, Melati tidak bisa ditinggal sendiri." jawab Iyan sambil mengemas beberapa barang miliknya.
"Terus bagaimana?" Adi menarik kursinya mendekati Iyan.
"Aku takut Arka nekat Di, menghabisi nyawa Melati kalau tak berhasil merebutnya dariku." ungkap Iyan terlihat sedih.
"Ya Allah Yan." Adi menatap iba pada sahabatnya itu.
"Arka tidak main-main. Kemarin sore Melati pingsan sangat lama, dia bertarung dengan bisikan-bisikan Arka." ungkap Iyan lagi, wajah tampannya terlihat sendu dan khawatir.
"Aku bisa bantu apa?" tanya Adi juga khawatir.
"Doakan saja agar keponakanmu selalu dilindungi Allah SWT, itu yang paling penting." jawabnya menutup tas ransel miliknya.
"Ya kamu juga, semoga Allah selalu melindungi kamu." jawab Adi sedikit tersenyum.
"Aku pulang ya." Iyan berpamitan.
"Selamat menjadi pengangguran." jawab Adi tertawa.
"Makasih." Iyan juga ikut tertawa.
Sepanjang jalan yang tak begitu jauh, Iyan terus memikirkan bagaimana caranya mengalahkan ilmu-ilmu yang dimiliki Arka, semakin hari pemuda itu semakin hebat saja.
Belum lagi masalah ayah kandungnya.
'Dia ada di sekitarmu, dan akan menemui mu jika sudah waktunya.' Iyan jadi teringat kata-kata ayahnya.
"Jika aku dalam keadaan terdesak, pasti ayah akan muncul."
Kedua sudut bibir Iyan tertarik, dia berpikir jika bertarung dengan Arka akan membuat ayahnya datang dan menemuinya.
__ADS_1