
"Mas tidak bohong kan?" tanya Melati masih di posisi memeluk Iyan.
"Tidak Sayang." jawabnya dengan senyum manis.
Sungguh bahagia hati Melati mendengar Iyan akan memperjuangkan dirinya. Artinya, cinta Melati berbalas, yakin dan jika Iyan tidak akan meninggalkan dirinya seperti yang dikatakan Arka.
Suara deru motor berhenti di depan, sepertinya Adi sudah datang. Iyan buru-buru kembali ke mejanya, begitu juga dengan Melati, gadis itu mengulum senyum, masih begitu terasa ciuman Iyan yang singkat, membuatnya jatuh cinta sangat dalam.
"Pagi-pagi udah berduaan, tumben?" Adi melirik Melati yang duduk di mejanya, dan Iyan juga duduk tapi masih menoleh Melati.
"Tadi Mas Iyan sedang baik hati, dia jemput aku." jawab Melati tak mau ketahuan jika mereka habis berduaan.
Adi tertawa, membiarkan Iyan tersenyum-senyum sendiri.
"Terus Mbak Yu bagaimana?" tanya Adi.
"Masih seperti itu saja, malah semakin aneh." jawab Melati terlihat pasrah.
"Aneh bagaimana Mel? Bukannya kemarin kamu ke rumahnya Mas Aryo?" Adi menatap Melati.
"Bukan ke rumah Paman Aryo, tapi ke rumah aki-aki. dan tempatnya sangat jauh." jawab Melati.
"Aki-aki?" Adi dan Iyan bertanya bersamaan.
Melati mengangguk, sedang Iyan dan Adi saling berpandangan.
"Dukun?" tanya Adi lagi memastikan.
"Iya." Melati menyandar lelah.
"Astaghfirullah." ucap Adi dan Iyan bersamaan.
Iyan sudah tidak tahan dan mendekati Melati.
"Kenapa bisa ke dukun Mel?" tanya Iyan pelan, dia tahu jika Melati juga sedang dalam masalah, tertekan dan bingung.
"Aku tidak tahu Mas, Ibu meminta aku pulang dan bersiap-siap. Seperti biasa Mas Arka sudah ada di rumah."
"Aku tahu kalau Arka selalu ada di rumahmu." potong Iyan.
"Aku hanya menurut saja, dan di jalan aku baru tahu jika ternyata Mas Arka dan Ibu sudah sepakat untuk pergi ke rumah dukun." ungkap Melati benar-benar tak berdaya, dia tak punya siapa-siapa untuk menolongnya kali ini.
Iyan menoleh Adi. "Apa ada saudara perempuan yang lain tinggal di sini Di?" tanya Iyan cepat.
"Tidak ada." Adi tahu maksud Iyan ingin Melati tinggal di rumah keluarga yang lain untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Kalau begitu tinggallah di rumah paman Aryo-mu saja." Iyan benar-benar kacau mendengar Arka dan ibu Melati membawanya ke dukun.
"Tapi jauh Mas, aku akan kesulitan bekerja." jawab Melati menatap sendu wajah Iyan.
"Untuk sementara tidak usah bekerja. Aku yang akan membiayai kebutuhanmu selama di sana. Dan aku akan mengerjakan pekerjaanmu sementara."
"Tapi,"
"Tidak ada tapi Mel! Siang ini aku akan mengantarmu." tegas Iyan lagi.
"Aku akan ikut mengantarmu, biar sekalian menjelaskan sama Mas Aryo apa yang sudah terjadi." ucap Adi.
Melati mengangguk, mata beningnya menatap sendu kepada Iyan, sungguh saat ini ia hanya memiliki Iyan untuk berbagi. Rasa cinta dan butuh membuatnya ingin segera memiliki Iyan, menjadi istrinya dan bebas dari gonjang-ganjing masalah yang rumit, aneh dan terkadang tak masuk akal.
"Ya sudah, kamu copy dulu berkas ini, biar cepat selesai." Adi menyodorkan berkas lumayan tebal kepada Melati, memintanya pergi ke depan.
Melati meraihnya, pergi ke tempat foto copy.
"Arka sudah kelewatan." kesal Iyan setelah Melati menjauh.
"Kita bisa apa?" tanya Adi membuang nafas kasar.
"Aku juga bisa." jawab Melati dengan wajah tegang, marah namun berusaha biasa saja.
"Bisa apa Yan?" Adi meliriknya penuh selidik.
"Jangan terpancing, dia gila kau malah ikut gila. Artinya kau dan dia sama saja." Adi tertawa sinis.
"Kalau tidak di lawan, terus bagaimana? Nunggu Melati parah, atau menjadi gila karena ulahnya terus baru niat menolong begitu?" kesal Iyan lagi.
"Bukan seperti itu." jawab Adi.
"Aku rasa dia memang benar-benar harus dijauhkan dari Arka." Iyan tampak berpikir.
"Sebaiknya kamu tidak usah mengantar, biar aku saja yang mengantarkan Melati ke rumah Mas Aryo. Ini sudah area keluarga dan kamu tidak bisa sembarangan ikut campur." jelas Adi.
"Kalau terus-terusan begini, aku bisa membawa Melati pergi jauh." ucap Iyan dengan wajah serius.
"Kamu sudah tidak waras! Anak gadis orang mau di bawa kabur. Mau jadi buronan polisi, masuk penjara terus di denda?" tanya Adi kesal.
"Aku tidak peduli." jawab Iyan jauh berbeda dari pembawaan hari-hari biasanya.
"Istighfar dulu! Kali bukan cuma Mbak Nur yang kesambet, kau juga!" Adi melempar Iyan dengan kertas. "Jatuh cinta boleh, jangan sampai menjadi gila seperti tetangga." sambung Adi, tetangga maksudnya adalah Arka.
"Yang penting kau bawa dia ke rumah Mas mu itu. Nanti berikan ini padanya, setelah tiba di rumah." Iyan membuka dompetnya dan memberikan uang merah lima lembar kepada Adi.
__ADS_1
"Banyak sekali? Dia masih punya uang Yan." Adi melihat uang di atas mejanya.
"Tidak apa-apa, kemarin aku dapat uang kontrakan." Iyan nyengir kuda.
"Ya sudah, kalau banyak duit ya tidak masalah. Jangan sampai keponakanku merepotkan mu."
"Di tengah kerumitan ini aku sangat bahagia karena Melati benar-benar jatuh cinta padaku. Kau tahu sudah sangat lama aku ingin mendekat Melati, hingga akhirnya dealer ini mempertemukan aku dengannya. Terimakasih ya." Iyan tersenyum pada temannya yang berbadan gemuk itu.
"Terimakasih aja, duit apa?" guraunya.
"Habis, tinggal Dua ratus ribu, mau beli kaos sama baju tidur untuk Melati." jawabnya beranjak dari duduk.
"Tahu ukurannya Melati?" Adi memicingkan matanya.
"Tau lah, sudah pernah." jawabnya, sengaja membuat Adi melotot. "Pernah membeli pakaian buat Melati, otakmu yang salah, bukan aku." Iyan tertawa menuju keluar.
"Bicaramu yang tidak benar!" Adi meneriakinya.
Di luar Melati sudah kembali, ia membawa berkas berpapasan dengan Iyan yang sedang menghidupkan sepeda motor.
"Mas." panggil Melati.
"Mau keluar sebentar Sayang." jawabnya tanpa di tanya, dia sudah tahu maksud Melati memanggilnya.
"Lama?" tanya Melati berhenti dengan berkas di tangannya.
"Tidak." Iyan memasang senyumnya, tahu sebenarnya Melati ingin ikut, tapi Iyan meninggalkannya begitu saja.
Melati sedikit kesal, gaya berpacaran tarik ulur Iyan membuat hatinya naik turun, jatuh bangun, terbang lalu jalan kaki. Tapi bahagia...
"Sudah Mel?" tanya Adi ketika keponakannya masuk dengan wajah ditekuk.
"Sudah." jawabnya langsung meletakkan berkas dan duduk di mejanya.
"Kenapa lagi?" tanya Adi melihat Melati sering sekali berubah wajahnya sesuai suasana hati.
"Mas Iyan mau kemana?" tanya Melati melirik mejanya.
"Entah, cari pacar lagi mungkin." jawab Adi asal, sengaja membuat Melati semakin kesal, malah meninggalkan keluar.
Melati menyusun berkas yang baru saja di copy-nya, namun kemudian ponselnya berdering.
Arka
Melati memandangi layar ponsel miliknya.
__ADS_1
"Siapa Mel?" Iyan baru saja kembali dan langsung melihat ponsel yang ada di tangan Melati.