Main Dukun

Main Dukun
Masa lalu


__ADS_3

"Nak, bawalah Melati pindah ke rumahmu. Sesuai janji ibu, setelah ayah pulang maka kau bisa mengajak Melati." ujar Ibu di malam itu, mereka duduk bersama di ruang tamu..


Iyan menoleh Melati, meminta pendapat istri tercintanya. Kemudian menunduk berpikir sejenak.


"Silahkan saja, dia istrimu sekarang. Bapak tak bisa melarang terlebih lagi itu semuanya baik. kecuali kau membawa Melati dalam keburukan, bapak akan melarang dan menghalangi."


"Baiklah Pak, Bu. Aku akan membawa Melati pulang ke rumahku. Bersama Bapak dan Ibu juga, agar kalian tahu bagaimana tempat tinggal kami di sana."


"Tentu saja, Bapak dan Ibu akan mengantarkan kalian. Masak di lepas begitulah saja." Ayah Melati tertawa lebar.


Siang itu mereka langsung berangkat bersama menuju rumah Iyan sekaligus berkunjung ke rumah besan mereka, orang tua Iyan yang juga berada tak begitu jauh dari rumah yang akan di tempati Iyan dan Melati.


Hingga malam hari kemudian, kedua orang tua Melati juga orang tua Iyan semuanya pulang ke rumahnya masing-masing.


"Mengapa tidak menginap saja Bu, Pak?" Iyan mengantar keduanya naik ojek yang telah di pesan.


"Lain kali saja, bapak ada janji dengan pamanmu." ayah Melati menolak karena memang sedang ada janji dengan Aryo.


Rumah baru itu tak begitu besar, memiliki dua kamar dan ruang tamu tak begitulah luas, tapi cukup nyaman untuk di tinggali bahkan jika orang tua mereka bertandang, tak akan kekurangan tempat untuk beristirahat.


Di kiri kanannya ada beberapa unit yang hampir sama, yaitu rumah yang dikontrakkan Iyan kepada pekerja proyek atau juga guru perantau. Dari situlah Iyan memiliki penghasilan yang lumayan walaupun tidak bekerja.


Bahkan penghasilan yang sejak lama di gunakan untuk pendidikan Iyan, semuanya bersumber dari sana. Orang tua Iyan tak pernah memanfaatkan penghasilan yang berasal dari aset milik ayah kandung Iyan Rahendra.


"Sepi ya Mas." Ungkap Melati melihat di depan sana, namun ramai di samping kiri kanan mereka.


"Ya, lahan di depan masih kosong, belum ada yang membangun." Jelas Iyan melihat ke depan sana yang tampak bangunan rumah masih berjarak.

__ADS_1


Melati menyandarkan kepalanya di bahu Iyan, menikmati suasana baru di rumah baru. Dia merasa asing, tapi bahagia tetap bersama dengan Iyan.


"Makan ya?"


Iyan membujuk Melati lagi, terkadang butuh bujukan beberapa kali baru kemudian Melati menurut dan makan sedikit, walaupun hanya beberapa sendok saja dan berakhir dengan percintaan panas agar melupakan mual yang menyerang mendadak ketika nasi mengisi lambungnya.


Malam yang kian merayap di rumah baru mereka, Melati sudah tertidur pulas seperti biasa. Merasa aman, nyaman, lelah tapi bahagia membuat gadis itu enggan berpikir tentang apapun termasuk masa depan, baginya Iyan adalah segalanya.


Jam menunjukkan pukul 23:00, sunyi dan gelap diluar sana masih dapat dilihat Iyan melalui gorden jendela yang sedikit terbuka. Tak ada orang yang lewat ataupun bersuara, hanya kelap-kelip lampu di rumah warga yang berjarak dari rumah Iyan.


'Benar kata Adi, kalau merebut punya orang itu hidupnya tidak tenang.' gumam Iyan di dalam hati.


Bahkan tak bisa tidur nyenyak, tapi mau bagaimana lagi, keinginan satu-satunya Iyan adalah memiliki Melati, mana mungkin menyerah setelah menjadikannya istri.


"Harusnya dia datang." Ucap Iyan pelan, masih menatap jendela dan mencoba merasakan kehadiran Arka, namun sepertinya pemuda ambisius itu tak datang.


"Kakimu harus menyentuh dahan kayu itu Arka!" Aki menunjuk dahan pohon beringin yang tingginya berbeda di atas kepala.


Arka mengangguk, kemudian kembali membidik dahan kayu tersebut dan menendang lebih tinggi hingga tubuhnya terlihat melayang.


"Bagus Arka!" Aki Juno mendekati Arka yang sudah bercucuran keringat di seluruh tubuhnya. Wajahnya yang memang putih kini terlihat kemerah-merahan.


Pemuda itu tertunduk dengan perasaan yang mendadak kacau, membayangkan bagaimana mereka selalu bersama di setiap hari.


"Arka, jika kali ini kau kalah. Aku harap kau pergi dan berhenti." Aki duduk membelakangi Arka yang masih tak bisa mengalihkan pikirannya dari Melati.


"Aku tidak rela milikku diambil orang Ki." jawab Arka masih tak mau menyerah.

__ADS_1


"Ya, hanya aku tidak ingin kau menjadi abu karena perasan cintamu yang berlebihan itu Arka."


"Bukankah cintamu kepada wanita yang melahirkan Iyan juga berlebihan Ki?" Arka mengikuti Aki duduk di bangku kayu.


"Kau benar, tapi kemudian menjadi penyesalan untukku. Dan sekarang, mau tidak mau aku harus terlibat permasalahan mu dengan mereka, aku tidak mau kau menjadi abu, ataupun menang jadi arang karena sudah tak ada yang tersisa setelah perkelahian kalian nanti."


Arka menatap wajah tua Aki Juno yang terlihat jelas ada penyesalan di sana.


"Sepertinya takdir sedang memanggilku untuk membayar hutang perbuatan ku pada Dimas Mahendra." Aki Juno menunduk sedih.


"Mengapa kau tidak menikah Ki?" tanya Arka baru pertama kali ia menyadari kesendirian Aki gurunya itu.


Aki terkekeh kecil, "Akhirnya kau sadar juga dengan kesendirian ku ini." Dia kembali terkekeh. "Begitulah kalau rasa bersalah dan cinta menjadi satu. Akhirnya membuat hatimu beku, tak memikirkan masa depan, dan selalu terkenang masa lalu."


Kali ini Arka yang terkekeh. "Itu aku Ki." jelasnya kembali tertawa namun ada kegetiran di wajahnya. "Seandainya aku menuruti katamu, aku tak perlu berjuang sekeras ini untuk merebut Melati."


"Apakah kau ingin menyerah? Dan semuanya selesai tak perlu ada perkelahian lagi." Aki Arjuna sedikit membujuk.


"Sayangnya tidak Ki." jawab Arka tersenyum namun menatap tajam.


Aki menarik nafas begitu dalam, dia tak mungkin bisa menghindari perkelahian yang memang sudah di takdirkan untuk dirinya. Arka hanyalah lantaran yang entah apa penyebabnya sehingga ikut dalam kisah rumit seolah mengulang masa lalu.


Kisah yang harusnya tak serumit saat ini. Dulu Dimas Mahendra adalah pemuda biasa yang bekerja sebagai petani di kampungnya. Namun memiliki tampang yang rupawan, seperti halnya juga Iyan saat ini, muda, gagah, baik dan sopan.


Sedang Arjuna adalah putra dari seorang pedagang yang lumayan berada seperti halnya juga Arka. Satu kampung dan berteman membuat keduanya sering duduk berdua dan mengobrol tentang masa depan. Pematang sawah jadi saksinya ketika mereka membicarakan hal menyenangkan, tak terkecuali jika itu tentang perempuan.


Hingga akhirnya bertemu seorang gadis yang baru saja pindah ke kampung tersebut, gadis yang amat cantik anak seorang bangsawan.

__ADS_1


Gadis yang cantik tersebut begitu menghebohkan pemuda kampung karena kecantikannya. Seperti halnya Melati yang menjadi buah bibir para laki-laki muda.


__ADS_2