
Ketukan yang beberapa kali tak mendapat jawaban dari dalam gubuk sederhana itu, Arka langsung membuka pintu, dan melangkah masuk setelahnya.
"Ki!" panggil Arka ketika sudah ada di dalam rumah.
"Kau membawanya Arka?" tanya Ki Arjuno ternyata dia duduk di ranjang pojok sebelah kiri, sengaja menunggu Arka masuk.
"Iya Ki, aku ingin dia kembali mencintaiku dan lepas dari Iyan." ucap Arka.
"Sabar, air pemisah sedang bekerja Arka. Air itu memang tidak mengenai Iyan, karena dia di jaga oleh amalnya. Tidak mengenai Melati, karena Melati juga memiliki jin di dalam tubuhnya, itu di karenakan mantera dari dukun pengasingan itu sudah menetap di dalam dirinya, tapi pasangannya tidak lagi bersemayam di dalam tubuhmu, itu sebabnya dia ingin berpisah. Tapi air pemisah itu sudah bersemayam di dalam tubuh ibu dari kekasihmu, dan akan memisahkan kekasihmu dan laki-laki bernama Iyan. Hahahha." Aki tua itu tertawa.
"Tetap saja masih sulit bagiku untuk mendapatkan Melati." Arka benar-benar tak sabar.
"Baiklah, kalau begitu suruh dia masuk, aku akan memberikan air minum dan sesuatu yang akan membuatnya kembali padamu. Tapi prosesnya akan sedikit memakan waktu."
"Tidak masalah." Arka langsung menjawab dan kemudian keluar memanggil Melati juga ibunya.
Clegar... ciiiiittt.
Semua jendela rumah Ki Juno terbuka dengan sendirinya ketika Melati dan ibu Nur memasuki ruang rumah yang gelap tersebut, membuat keduanya bergidik ngeri, suasana remang minim cahaya matahari membuat aura mistis semakin terasa membuat menggigil tubuh Melati.
Aki Juno tersenyum penuh arti. 'Ternyata kekasihmu memang sangat cantik' Ki Juno berbicara melalui telepati kepada Arka.
Tentu pria berkulit putih itu juga tersenyum bangga mendengar bisikan hatinya, mengatakan bahwa Aki Juno mengakui kecantikan Melati.
Ibu Nur dan Melati duduk di tikar sederhana berhadapan dengan Ki Juno yang kini duduk di lantai yang sama, dengan dupa kemenyan sudah menyala.
"Aku tahu kalian akan datang kemari, kau ingin putrimu bebas dari pemuda itu?" tanya Aki Juno seakan sudah tahu semuanya.
"Benar Aki, aku ingin Melati bersih dari pengaruh Pelet." ungkap Ibu Nur yakin sekali. Sedangkan Melati hanya diam tak merasa takut atau khawatir dengan dirinya sendiri.
Aki Juno mengangguk-angguk, Pria tua itu memercikkan sesuatu ke dalam perapian kecil di hadapannya tersebut, hingga asap mengepul dan memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Bau menyengat, menusuk ke dalam hidung Melati juga Ibunya, Melati sampai terbatuk-batuk menghirup aromanya.
__ADS_1
"Sayang." Arka dengan gesitnya mendekati Melati yang sedang terbaruk.
"Uhugk,,uhugh. Ini bau apa Mas?" Melati benar-benar tidak tahan.
"Hanya kemenyan Mel." Arka beranjak dari tempat duduknya, menuang air di dalam kendi tanah di atas meja rumah Ki Juno. "Minumlah Mel." Arka memberikan air putih tersebut kepada Melati.
Sedikit ragu, tapi karena kerongkongan Melati semakin terasa kering dan tercekik, mau tak mau dia harus meminumnya. "Terimakasih Mas Arka." Melati sedikit merasa lebih baik.
Hingga beberapa saat kemudian, pria tua itu sudah selesai dengan kegiatan yang hanya dia sendiri mengerti.
"Kau merasa sesak?" tanya Aki Juno kepada Melati yang sesekali masih terbatuk dan memegang dadanya.
Melati mengangguk, malas bicara karena menahan sesak dan gatal.
"Bawalah air ini, dan minum menjelang Maghrib, sesak dan gatal di tenggorokan mu akan berangsur hilang." ucap Aki Juno dengan sikap penuh wibawa.
"Apakah itu tandanya dia dalam pengaruh jahat Ki?" tanya ibu Nur dengan wajah khawatir.
"Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja, dan Melati akan kembali seperti dulu lagi." jelas Aki Juno lagi.
Aki Juno mengangguk-angguk.
"Mari Ki, terimakasih sebelumnya." ucap Ibu Nur memberikan amplop kepada Aki tua tersebut.
"Tidak usah Bu, biar aku saja." Arka mencegah tangan Ibu yang akan menyerahkan amplop, dan menggantinya dengan amplop milik Arka.
"Tapi-"
"Asalkan Melati sembuh Bu, aku akan melakukan apa saja." Arka memberikan amplop kepada Aki Juno, mencari perhatian kepada Melati, dan simpati dari Ibu Nur.
"Baiklah." Ibu Nur mengalah, menyusul Melati yang sudah dari tadi keluar lebih dulu, mencari udara segar dan menarik nafas dalam-dalam di luar rumah itu.
__ADS_1
"Ki, bagaimana jika Melati masih tak mau?" tanya Arka khawatir.
"Artinya dia bukan jodohmu." jelas Aki Juno singkat, namun cukup membuat Arka lemas.
"Aku tidak mau mendengar kata tidak jodoh diantara aku dan Melati Ki, aku bisa gila jika benar-benar berpisah dengannya."
Wajah memelas Arka sungguh membuat Aki Juno menarik nafas. Meski kelakuannya membuat kesal, sikapnya egois dan menyebalkan tapi cintanya kepada Melati tak terkalahkan. Aki Juno tahu benar hal itu, hatinya akan hancur kacau dan lemah jika dia benar-benar kehilangan Melati.
"Aku akan berusaha semampuku untuk mempertahankan hubunganmu dengan Melati." jawab Ki Juno dengan serius.
"Ya, terimakasih Ki, aku benar-benar berharap padamu." sedikit senyum terukir di wajah Arka. Paling tidak dia masih punya harapan untuk hidup bersama dengan Melati.
"Aku pulang." ucapnya pelan, tatapan sendu dan sedih masih terlihat di wajah Arka.
Aki Juno menatap punggung Arka hingga menghilang di balik pintu sederhana rumahnya.
Sedangkan di luar, Melati sedang menunggu Arka, mereka akan segera kembali pulang hari sudah sore dan dapat dipastikan akan tiba di rumah menjelang Maghrib.
"Ayo Nak Arka." Ibu sudah siap dengan jaketnya.
"Iya Bu." Arka mulai menaiki sepeda motor, menghidupkan mesin dan berbelok ke arah jalan pulang. "Ayo Mel, kita akan pulang." ucap Arka lembut.
Melati mengangguk, naik di belakang Arka. Sampai ketika motor mereka melaju, keduanya masih tak saling bicara. Arka melaju dengan kecepatan sedang, tak mengebut seperti awal mereka berangkat. Kebisuan mereka bukan tanpa alasan, melainkan hati yang tiba-tiba merasa sedih dan banyak menyesali semua yang telah terjadi, terutama Arka.
"Jaketmu di tutup kan Mel?" Arka memastikan, karena udara sore mulai terasa dingin ketika melewati banyak hutan di perjalanan menuju desa tempat mereka tinggal.
Melati menutup resleting jaketnya yang tadi setengah terbuka. Arka pun tak ketinggalan meraih tangan Melati agar melingkar di perutnya.
Adzan berkumandang menandakan Maghrib telah tiba, kedua sepeda motor mereka sudah memasuki desa, dan tak sampai hitungan menit, mereka sudah sampai di depan rumah Melati.
"Masuk dulu Nak." Ibu Nur meminta Arka dan juga tukang ojek sewaannya masuk.
__ADS_1
"Terimakasih Bu, langsung pulang saja." ojek itu menolak, ia langsung pulang setelah berpamitan.
Sedangkan Arka masuk ke dalam rumah, meraih tangan Melati dan sepertinya ia ingin bicara.