Main Dukun

Main Dukun
Tengah-tengahnya


__ADS_3

Di tengah doa-doa yang di Panjatkan Ustadz Ahmad, tiba-tiba Ibu Nur menjadi gelisah, meraba tengkuk dan bahunya, lalu dada dan semakin menjadi ketika Ustadz Ahmad memegang tangan Ibu Nur.


"Istighfar Mbak." Bule Astri mengingatkan. Tapi tak di dengarkan oleh Ibu Nur, malah menangis semakin menjadi-jadi.


"Ibu, kenapa harus menangis?" tanya Melati mendekati Ibunya.


"Kamu jahat Mel, kamu jahat!" teriaknya tak terkendali. Semakin di bujuk ibu semakin meronta-ronta, tak peduli pada siapa saja, bahkan banyak orang di sekelilingnya tak dianggap ada.


Hingga beberapa saat, Ustadz Ahmad membiarkan ibu menangis sepuasnya.


"Bagaimana Bu, sudah lega?" tanya Ustadz Ahmad setelah doanya selesai.


Ibu mengangguk, wajahnya yang tadi lusuh dan pucat mendadak terlihat lega dan lebih segar walaupun dengan mata yang sedikit sembab.


"Alhamdulillah." ucap Ustadz Ahmad lagi.


Begitu pula yang lain tampak lega dan bisa tersenyum.


Adi yang sudah sejak tadi sudah ada di luar tak berani masuk melihat Ibu Nur meronta-ronta, kini melangkah dengan tatapan heran kepada Ibu Nur. "Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." jawab semuanya menoleh Adi.


"Itu tadi apa ya, kok sedih begitu?" tanya Adi menunjuk Ibu Nur.


"Jin kali." jawab Aryo asal.


"Jin kok nangis?" Adi masih penasaran.


"Sedih, ditinggal pacarnya nikah!" jawab Ustadz Ahmad ikut bercanda, mengundang gelak tawa semua orang.


Tak terkecuali Iyan, dia tertawa sambil melirik Melati. Sama saja artinya tangisan itu adalah ungkapan hati seseorang yang sedang ditinggalkan kekasihnya, seperti Arka. Tentunya Iyan tahu jika itu semua adalah ulahnya.


"Ada-ada saja sih Mbak Nur, orang sudah di putusin masih saja di kasih peluang, sudah begitu percaya lagi kalau Melati di pelet. Yang ada Mbak Nur yang kena pelet sama si Arka." Adi sedikit mengomel, sedangkan Ibu Nur di bawa kembali masuk ke kamarnya oleh Melati dan Bule Astri.


"Alhamdulillah yang penting sudah sembuh." ucap Ustadz Ahmad.


"Mengapa orang yang rajin sholat bisa kena guna-guna Paman?" tanya Melati yang baru saja keluar dari kamar ibunya.

__ADS_1


"Ya bisa, manusia tak selalu ingat kepada Allah. Dan saat lengah itu ada makhluk lain mengincar kita. Itu sebabnya kata orang dulu-dulu mengingatkan anak cucunya. Jangan melamun, nanti kesambet! Itu maksudnya ya seperti itu tadi, jangan membiarkan pikiran kita kosong. Terlebih lagi sudah ada yang mengincar seperti Mbak Nur dan Melati."


"Melati Paman?" tanya Melati membulatkan matanya.


"Ya. Sebenarnya Melati sasarannya, tapi Mbak Nur yang lengah, mungkin Mbak Nur sedang banyak pikiran, sedih atau bagaimana? Akhirnya Mbak Nur yang kena." jelas Ustadz Ahmad.


"Memangnya apa yang membuat Mbak Nur sedih?" tanya Adi lagi.


"Mungkin saat kemarin mencoba menghubungi Mas Gutama, mereka semuanya tak bisa di hubungi." jawab Aryo menebak waktu yang bertepatan dengan masalah rumitnya Melati.


"Buat kalian yang masih muda harus paham. *Sebaik-baiknya perkara adalah tengah-tengahnya.* Jadi kalau bersedih, janganlah terlalu bersedih, mana tahu sedihnya hanya sementara. Kalau bahagia, janganlah terlalu bahagia, baiknya di syukuri saja, belum tentu besok kita masih bahagia. Kalau kaya, jangan terlalu kaya, kekayaan juga ujian. Kalau miskin, janganlah terlalu miskin kalau bisa, teruslah berusaha. Begitulah seterusnya." Ustadz Ahmad mengatur duduknya dan minum kopi buatan Melati.


"Kalau jelek ya jangan terlalu jelek, ngenes!" sambung Adi kembali membuat orang tertawa.


"Kalau gemuk yang jangan terlalu gemuk, berat!" Aryo juga menyahuti Adi, sekaligus menyindir adik sepupunya itu.


"Kalau mencari suami, jangan terlalu ganteng." ucap Ustadz Ahmad kembali bicara.


"Kenapa Paman." tanya Melati polos.


"Banyak di lirik janda." Adi menyahuti Melati, sebelum Ustadz Ahmad menjawab.


"Kenapa?" tanya Adi penasaran.


"Banyak yang ngincer!" Ustadz Ahmad menunjuk Melati, tapi matanya melihat Iyan.


Kembali ruangan itu di penuhi gelak tawa, tak terkecuali Melatih hanya mengulum senyum melirik Iyan suaminya.


"Kalau yang itu sudah jelas." Adi kembali menyahut di tengah tawa mereka.


"Saya doakan semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan, dan bertemu kembali di surganya Allah, aamiin."


Di ikuti semua orang meng-aamiinkan doa Ustadz Ahmad untuk Melati dan Iyan.


"Kalau begitu saya pulang dulu, sebentar lagi sholat Isya." ucap Ustadz Ahmad kemudian menghabiskan minumnya terlebih dahulu.


"Baiknya makan dulu Mad." Aryo menawari sahabatnya.

__ADS_1


"Besok-besok saja, aku ada janji nanti habis isya." jawabnya beranjak sambil melihat jam di tangannya.


"Ya sudah sekalian kita sholat." Aryo ikut beranjak bersama Iyan.


"Terimakasih banyak Paman." Melati menunduk dengan salam di dadanya.


"Ya, assalamualaikum." ucapnya keluar dari pintu rumah Aryo.


"Wa'alaikum salam." jawab Melati dan Bule Astri.


"Syukurlah, Mbak Nur sudah lebih baik." ucap Bule Astri mengajak Melati kembali ke kamar menemani ibunya.


"Iya Bule, aku saja sampai putus asa karena ustadz Ahmad tak pulang-pulang." jawab Melati tersenyum senang.


...***...


Sedangkan di tempat yang berbeda, seorang laki-laki muda sedang mengamuk. Kamarnya hancur berantakan, tak terkecuali selimut dan bantal sudah tak berbentuk hanya menyisakan kapas yang berterbangan. Dinding yang polos itu kini sudah berubah menjadi seperti mading sekolah, yang isinya hanya foto seorang gadis, Melati tercinta.


"Ya ampun Arka!" suara ibunya melengking terdengar hingga ke luar.


"Keluar!" usir Arka pada wanita yang dipanggilnya Mama.


"Ada apa Nak, jangan seperti ini!" wanita itu tak juga pergi, malah semakin ketakutan melihat semua barang sudah hancur, tak terkecuali cermin sudah di tinju Arka, hingga menyisakan luka di punggung jarinya.


"Ini semua gara-gara Mama!"


Arka menatap nanar ibunya, menunjuk dan seperti sedang bermusuhan.


"Salah apa? Mama tidak punya salah, semua yang kamu mau Mama turuti semuanya Arka!" ibunya mulai ketakutan.


"Tapi tidak dengan hubunganku dan Melati, Mama tidak suka! Mama malah bercerita pada semua orang bahwa dia tak layak untukku! Mama pikir aku tidak tahu?" marah Arka berteriak tak peduli.


"Tidak Arka, Mama tidak seperti itu." wanita yang sangat memanjakan Arka itu menangis kencang.


"Ada apa?" tiba-tiba ayahnya masuk, laki-laki berwibawa itu masuk ke kamar Arka.


"Itu Pa." Istrinya menunjuk kamar Arka yang sangat hancur.

__ADS_1


"Arka!" bentak ayahnya.


"Gara-gara Mama, Melati meninggalkan aku, dia menikah dengan laki-laki lain dan tidak peduli dengan aku! Mama penyebabnya, Mama yang sengaja mengatakan kekurangan dan keburukan Melati pada orang-orang, sampai akhirnya dia menyerah, bahkan benci sekali padaku." Arka marah dan menangis bersamaan. "Tak hanya itu, tapi dengan sengaja tak mau menuruti permintaan Melati, mahar yang tak seberapa itu Mama anggap mahal untuk Melati, tapi murah ketika Mama berbelanja dan memamerkannya kepada teman Mama."


__ADS_2