Main Dukun

Main Dukun
Sudah tak manjur


__ADS_3

Dengan menarik nafas dan wajah kesal, Arka menarik tangannya kembali. Walaupun Arka menurut tapi hatinya tak menerima, ada yang berbeda dengan Melati. Sejenak Arka terdiam memikirkan bagaimana biasanya Melati tak mampu menolak, dia akan menurut dan terhanyut apalagi sudah setengah dari aktivitas pemanasan. 'Apakah mantera dari Ki Juno sudah tak manjur lagi?' Begitu pikir Arka.


Mendadak khawatir, satu sisi dia ingin bertemu Ki Juno, tapi satu sisi dia memikirkan Melati, apakah karena adanya Iyan? Kepala Arka rasanya mau pecah.


"Apa tidak sebaiknya pulang Mas Arka? Sebentar lagi Maghrib." ucap Melati lembut sekali.


"Ibu kemana sampai Maghrib begini masih belum pulang. Biasanya jam Lima sudah ada di rumah?" Arka melihat belum ada tanda-tanda ibu melati di belakang.


"Ibu ke rumah Paman lagi, karena habis panen cabai dan paman mau hajatan. Jadi langsung ke sana sekalian menghantar Cabai." jelas Melati jujur.


"Kalau begitu aku tidak pulang." Arka kembali menyandarkan tubuhnya.


"Mas! Tidak baik jika Maghrib begini tidak pulang, bukankah sebaiknya mandi dan ganti baju, atau sholat mungkin?" Melati membujuk.


"Kamu mengusirku Mel?" Arka menatap tajam pada Melati. Mata merah menyala dengan lingkaran putih itu kembali terlihat.


Melati tercengang menyaksikan secara langsung di depan mata perubahan Arka, ingin berteriak takut tetangga menjadi heboh. Melati menatap keluar jendela yang belum tertutup sempurna itu, tampak cahaya terang merah seperti api di langit barat, bahkan jika di pandang cahaya sore ini membuat silau dan pedih di mata. Kamis malam Jum'at! Melati ingat dia selalu menyaksikan perubahan itu di malam Jum'at. Dia gemetar tapi mencoba tidak takut, tentu dia tahu jika itu masih seorang Arka.


"Ti-tidak Mas Arka!" jawabnya pelan, dia sedang ketakutan.


"Kau tidak pernah seperti ini! Apa karena Iyan?" ucapnya sudah tidak bisa menahan kesal.


"Tidak Mas Arka!" Melati mencoba merayu.


Arka mendekati Melati, matanya masih sesekali merah dan sesekali normal. Langkahnya lambat namun menakutkan bagi Melati yang masih menyandar di dinding.


"Apa yang kau lihat?" tanya Arka menyelidik, dia curiga jika Melati melihat wajah menyeramkan lagi.


"Mas Arka." jawabnya singkat.

__ADS_1


Arka meraih tubuh mungil Melati dan membawanya ke kamar, laki-laki itu tak memberi kesempatan untuk melawan bahkan bergerak bebas, melepaskan semua pakaian mereka dan menyerang tanpa pemanasan.


"Mas!" Melati mencoba menyadarkan Arka, tapi pria yang sudah emosi itu tak mau mendengar, wajah menghitam dengan mata berkilat tajam, terus melakukan pergerakan sesukanya semakin gila.


"Mas Arka!" Melati masih tak biasa dengan kemarahan.


Meski tak sampai menyakiti, namun permainan Arka membuat Melati sungguh tak berdaya. Tak punya pilihan selain pasrah, hingga Arka kembali melakukannya hingga berkali-kali, tanpa lelah dan tanpa istirahat.


"Mas aku lelah." ungkap Melati setelah hampir tiga jam mereka bermain.


"Aku akan terus melakukanya, hingga kau hanya mengingat aku, hanya aku Mel! Kau tidak boleh mengingat siapapun." ucap Arka penuh ambisi.


"Iya Mas, aku mana mungkin bisa melupakanmu." ucap Melati melati setengah tertahan.


"Jauhi Iyan." perintahnya setelah puas melihat mata Melati terpejam.


"Mas pulang dulu ya!" ucapnya lembut, berbeda jauh dengan saat sore tadi dia tampak beringas dan tidak mendengar apapun yang diucapkan Melati.


Melati mengangguk menerima colekan nakal Arka di wajah cantiknya. Tersenyum manis dengan tubuh lemas, namun segera memakai pakaian takut Ibu pulang tiba-tiba.


Suara deru sepeda motor Arka sudah menjauh, selesai mengunci pintu Melati kembali tidur dengan rasa tak nyaman di bagian bawahnya. Entah bagaimana cara Arka bermain hingga terasa perih dan mengganjal di bagian sana. Arka memang seperti itu jika ada kesempatan berdua dengan Melati, seperti orang gila yang tak peduli apapun juga.


Tapi mendadak mata yang sudah sangat mengantuk itu kembali terbuka mengingat bagaimana wajah dan mata Arka saat Maghrib tadi dia marah sekali. "Ada apa dengan Mas Arka sebenarnya? Apa yang dikatakan paman Aryo itu benar jika dia memiliki ilmu? Melati jadi berpikir keras malam ini, takut dan penasaran akan sosok kekasihnya itu.


Pagi hari Melati bangun dengan agak kesiangan, lelah dan remuk seluruh tubuhnya, begitulah kira-kira yang dirasakan Melati. Apalagi di pagi ini Arka tak datang menjemput, entah kemana laki-laki egois itu pagi ini sehingga Melati pergi dengan berjalan kaki.


"Mas Arka bagaimana? Semalam membuatku lelah dan susah berjalan, malah sekarang membuatku harus berjalan kaki." gerutu Melati di pinggir jalan dia berhenti.


Sejenak kemudian melanjutkan langkahnya, hingga tiba di dealer sepeda motor tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Jalan Mel?" Adi menyapa keponakannya yang baru saja datang dengan wajah cemberut.


"Iya." jawab Melati singkat.


Tak ada percakapan selanjutnya, keponakan dan paman yang hampir seumuran itu sibuk dengan berkas masing-masing hingga hampir dua jam.


"Mas Iyan kemana?" tanya Melati pada akhirnya, setelah beberapa kali melihat meja Iyan tetap kosong.


"Ke kabupaten, sepeda motornya cuma ada seratus unit dari pusat, kalau tidak di ambil maka kita tidak kebagian, harus tunggu Minggu depan." jawab Adi masih sibuk dengan kertasnya.


"Mendadak ya Paman?" tanya Melati lagi.


"Iya, Paman yang minta. Hanya satu hari kok, kalau tidak sempat hari ini pulang, paling besok pagi juga sudah pulang." Adi tersenyum melirik keponakannya yang sedang penasaran membahas Iyan.


"Iya." Melati menunduk malu, sungguh senyuman Adi membuatnya sadar.


"Kalau kamu suka, terima saja Iyan." Adi kembali mengatakan dukungannya.


"Melati sedang memikirkannya." jawab Melati jujur. Tentu membuat Adi tersenyum senang.


Sementara Arka baru saja tiba di rumah Ki Juno, pria tampan, berduit dan berpendidikan seperti Arka harusnya tak pergi ke tempat itu untuk menambah rasa percaya diri. Tapi memang pemikiran orang berbeda-beda, salah satunya Arka.


"Ki!" teriaknya keras, dia masih penasaran dengan keampuhan mantera dari dukun hitam itu.


"Kau datang lagi Arka!" Ki Juno saja sudah lelah dengan Arka yang tak pernah puas.


"Ki, mengapa mantera darimu tak lagi manjur? Apa mahar yang ku berikan masih kurang?" tanya Arka dengan nada sombong.


Aki Juno tertawa keras, pria itu menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Arka. "Sudah kukatakan padamu sebaiknya kau lamar segera kekasihmu itu, jika di paksa akhirnya dia akan sakit-sakitan, dan parahnya lagi itu mempermudah jin lain masuk ke dalam tubuhnya." ungkap Ki Juno menegaskan.

__ADS_1


__ADS_2