
"Serius kamu Mel?" Adi jadi penasaran, bahkan membenarkan posisi duduknya agar lebih fokus mendengarkan kata-kata Melati.
"Benar Paman." Melati mengangguk.
"Ya sudah, jika itu sudah keputusanmu. Tiga tahun lho? Apa semudah itu mengatakan putus?" Adi merasa belum yakin dengan ucapan Melati.
"Semuanya mudah kalau Allah sudah berkehendak." Iyan menimpali.
"Apa ada hubungan dengan kamu?" Adi menoleh Iyan yang tampak tenang tidak terkejut dengan cerita Melati.
Iyan hanya tersenyum, sedikit memaksa sehingga kumis tipisnya tersibak mengikut bibir merahnya yang tertarik.
Adi menggeleng, masih belum percaya sepenuhnya. Tapi melihat ketenangan di wajah keponakannya, sudah pasti Melati menjadi berani mengambil keputusan karena adanya Iyan, pengganti tempat menyandarkan hati.
Tiga tahun.... Ya Tiga tahun! Adi merasa lelah sendiri memikirkan hubungan yang begitu lama antara Melati dan Arka, kandas pada akhirnya karena menunggu terlalu lama.
Di rumah Arka.
"Mama!" panggilan khas Arka pada sang ibu, Arka memang terkenal dengan anak kesayangan dan maklum saja, mereka pantas memanjakan karena kondisi keuangan mereka sebagai orang berada.
"Ada apa? Baru saja pulang kau sudah berteriak!"
Seorang wanita usia Empat puluh Delapan tahun duduk di kursi berukir, pakaian santai memperlihatkan kaki dan tangannya yang bersih dan terawat, menandakan tak pernah bekerja apalagi menggarap sawah atau perkebunan seperti ibu Melati.
"Mama! Aku ingin Mama melamar Melati untukku. Sekarang!" rengek Arka duduk di hadapan sang ibu, dan memegang kedua lutut ibunya.
"Melamar bagaimana Arka? Melamar tidak bisa buru-buru, harus ada rencana terlebih dahulu. Kau juga harus sudah yakin memilih Melati untuk menjadi istrimu, jangan sampai menyesal di kemudian hari." jawab ibu Arka dengan santai.
"Aku tidak akan menyesal. Aku tidak mau kehilangan Melati, dia memutuskan hubungan kami." Wajah Arka semakin kusut, bingung dan putus asa dengan permintaan Melati.
__ADS_1
"Apa? Melati ingin putus?" Wanita itu terkejut.
"Iya Ma! Melati memutuskan aku tanpa alasan, aku ingin Mama segera melamarnya hari ini juga." Arka menunduk menahan sedih dan takut yang begitu besar.
"Tidak mungkin tanpa alasan Arka! Jelaskan pada Mama ada masalah apa kau dengannya. Bukankah selama ini dia selalu setia?" tanya ibunya menyelidik.
"Iyan melamarnya dan Melati bersedia." jawab Arka pelan.
"Mama lupa! Kemarin lalu bukankah kau pernah menanyakan perihal mas kawin kepada Melati? Itu berapa?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Emas Sepuluh gram, dan uang Tiga juta Ma!" ucap Arka setengah menangis.
"Baiklah, Mama akan datang dan membawa emas yang diminta oleh kekasihmu itu. Nanti sore aku akan ke sana." ucapnya setuju.
Arka menyandar sedikit merasa bahwa urusannya dengan sang ibu sudah beres. Jika sebelumnya ibunya tak begitu menanggapi perihal ingin menikahi Melati, entah mengapa kali ini tampak setuju dan ingin membantu dalam mempertahankan Melati. Berkali-kali Arka bertanya, apakah benar perihal omongan tetangga, tapi ibunya selalu membantah dan mengatakan semuanya tidak benar. Lalu dari mana orang-orang itu bisa bergosip ria dan dengan bangganya berceritakan seolah mereka yang paling tahu semuanya tentang ibu Arka.
Sore hari kemudian, pukul Tiga sore Melati masih berkutat dengan kertas-kertas pengajuan kredit, laporan bulanan dan banyak lagi yang mesti ia selesaikan bersamaan.
"Iya Mas, laporan bulanan masih perlu di rapikan ulang." Melati tetap serius.
"Mas bantu ya!" Iyan meraih buku besar yang perlu di tulis tangan, dan melihat ulang semuanya.
"Nanti tulisannya beda Mas." Melati meraih buku besar itu kembali.
"Lalu Mas bantu apa?" Iyan melihat wajah cantik itu dengan tersenyum.
"Bacakan saja pengeluaran sepeda motor milikmu, biar Melati lebih mudah mencatatnya." Melati mulai menulis.
"Apa sebaiknya kau istirahat saja Mel, setelah gajian nanti kamu mempersiapkan diri untuk menjadi istriku." ucap Iyan mendekatkan wajahnya ke telinga Melati.
__ADS_1
Melati terkekeh mendengarnya, sungguh laki-laki di sampingnya selalu membuatnya senang dan nyaman. "Tapi Melati masih mau bekerja Mas."
"Biar Mas saja yang bekerja, soal kebutuhan pernikahan nanti aku yang siapkan semuanya. Termasuk jika kau ingin membeli pakaian, make up dan segala macam lainnya." Iyan meraih tangan Melati. "Melati minta mas kawin berapa?" tanya Iyan mengelus jari-jari Melati.
"Mas sanggup memberikan Melati berapa?" jawab Melati lembut.
"Kalau mas kawin harus kamu yang minta Sayang." Iyan menggoda Melati, sungguh panggilan sayang membuat melati tersipu malu.
"Hemmm?"
"Kemarin minta sama Mas Arka?" tanya Iyan yang sepertinya sudah tahu semuanya tentang Melati.
"Iya, emas Sepuluh gram Mas, sama uang untuk syukuran tiga juta. Melati bukan siapa-siapa yang harus meminta banyak kepada laki-laki yang akan menjadi suamiku nanti. Tapi lebih kepada saling menghargai." Melati menunduk.
Iyan menatap iba, wanita yang tulus harus merasa rendah diri dihadapan laki-laki yang mengaku mencintainya. Harusnya Melati lebih berharga dari pada itu. Iyan merasa miris dengan keluarga Arka, bahkan permintaan sekecil itu masih di tawar seperti berbelanja di pasar. Itu salah satu sebab Arka belum berani melamar Melati, ibunya masih mempermasalahkan uang Tiga juta itu.
"Melati tidak usah khawatir soal emas kawin yang kau minta, aku sudah punya jumlahnya 14 gram. Dan untuk uang, ayah dan ibu akan mengantarnya setelah mereka resmi melamar mu Minggu depan. Aku sudah bicarakan ini semalam, dan mereka tidak keberatan."
"Jika Mas Iyan merasa itu terlalu besar, Melati akan menerima berapapun yang Mas Iyan berikan." Melati merasa tidak enak hati dengan pembicara perihal emas dan uang.
"Itu terlalu kecil untuk wanita yang ku cintai." Iyan mengecup jari Melati.
"Mas! Maafkan Melati!" ucapnya sendu, hatinya sedang teriris mendapat perlakuan istimewa dari laki-laki baik, sedangkan dirinya sendiri merasa tak layak, bahkan sangat kotor.
"Mulai sekarang kita perbaiki semuanya." Iyan meraih Dua buah kantong kertas belanjaan yang sejak siang dia sembunyikan di mejanya. "Pakai ini setiap hari, Aku ingin istriku yang cantik hanya bisa di pandang olehku. Tidak dengan orang lain, termasuk Arka." Iyan memberikannya kepada Melati.
"Ini apa Mas?" tanya Melati, wajah cantik dan perangai lembut itu sungguh menggemaskan, wajar saja Arka sampai tergila-gila.
"Pakaian panjang dan beberapa kerudung untukmu." Iyan sedikit membelai wajah Melati dengan punggung jarinya. Dia mengagumi, tapi niatnya benar-benar ingin menyimpan aura seksi dari seorang Melati.
__ADS_1
"Melati akan memakainya mulai besok." Melati tersenyum senang, tak menolak belaian punggung jari Iyan yang menghangatkan hingga ke dalam hati. Sepertinya jatuh cinta tak menunggu besok, sekarang saja Melati sudah tidak sabar ingin menikah dengan Iyan.