
Tapi Arka menyerang dengan membabi buta, pria tampan di siang hari itu, malam ini semakin mengerikan. Amarah dan hati yang kecewa membuatnya tidak bisa menahan diri, bergerak semaunya, mengamuk dan benar-benar ingin membunuh, bukan hanya sekedar mengalahkan.
Mau tak mau Iyan harus menghadapinya, pria itu sedikit kewalahan dengan gerakan Arka yang lebih lincah dari biasanya. Iyan berusaha mengamati, namun sepertinya tak terbaca matanya menangkap banyak bayangan dari pergerakan Arka. Dan beberapa saat kemudian, tubuh Iyan limbung dan terjatuh akibat beberapa pukulan yang mengenai dadanya.
"Mas!" Melati keluar mendekati dan memeluk tubuh Iyan yang tersungkur, membalikkan tubuhnya dan melihat keadaan Iyan Rahendra.
"Uhugh uhugh." Iyan terbatuk-batuk, untuk yang ke dua kalinya ia mengeluarkan darah dari mulutnya setelah beberapa bulan lalu berdarah karena dipukul di dalam mimpi.
"Mas." Melati sungguh khawatir dengan batuk Iyan yang berdarah-darah. Menidurkannya di pangkuan Melati.
"Itu balasan bagi orang yang sudah berani mengganggu apa yang menjadi milikku." Arka mendekat perlahan, tersenyum sinis kepada Iyan yang tak berdaya.
"Mas, kamu keterlaluan." Melati mendongak Arka dengan wajah penuh amarah.
"Batalkan pernikahanmu dengan dia, Jika tidak malam ini dia mati!"
"Mas!"
"Hanya itu pilihannya." Arka berdiri menunduk melihat dua orang yang tak berdaya.
Melati menunduk wajah Iyan yang menahan sesak dan sakit, wajah tampannya terlihat masih meringis dibawah cahaya bulan yang utuh.
Melati meraba dadanya, dia tahu jika bagian itu yang menjadi sasaran Arka.
"Mel!" suara Bule Tuti terdengar memanggil di pintu belakang, wanita itu berlarian melihat keadaan Iyan.
"Mas Iyan, Bule." Melati menangis sedih, tangannya mengelus wajah Iyan, sesekali memeluknya hangat.
"Kamu apakan dia?" Bule Tuti memarahi Arka.
"Aku hanya membalas rasa sakit hatiku ketika dia merebut Melati!" ucap Arka lantang, merasa dia sudah menang.
"Dia tidak merebut Mas, aku yang memilihnya!"
"Kau tidak akan memilihnya jika dia tidak menggunakan ajian yang membuatmu jatuh cinta!" bentak Arka.
"Aku sudah tahu semuanya! Dan aku tetap memilih Mas Iyan, aku akan menikah dengannya!" marah Melati semakin menjadi bersamaan dengan tangisnya.
"Apa kau tidak kasihan dengan nyawa yang tinggal sedikit itu?" Arka menunjuk Iyan yang hanya bisa menyandarkan kepalanya di pangkuan Melati.
__ADS_1
"Kau jahat Mas!" Melati semakin menangis.
"Kalau tidak ingin aku semakin jahat, maka tinggalkanlah dia." Arka berkata tegas, sorot matanya menyiratkan kekejaman, tak ada rasa iba walau sedikit saya tercermin di dalamnya.
"Bawa masuk Mel." Bule semakin kesal dengan kelakuan Arka, mungkin akan lebih baik jika Iyan di bawa ke dalam.
"Iya Bule." Melati menurut, beranjak untuk menopang tubuh Iyan.
"Berhenti." Arka menahan bahu Melati.
Melati menyingkir tangan Arka, namun memancing kembali amarah pemuda itu.
"Putuskan Iyan, batalkan pernikahanmu." Arka kembali menarik kerah baju kemeja Iyan yang sudah jelas tak bisa melawan.
"Apa yang kau lakukan Mas? Apakah kau sudah tidak punya hati?" bentak Melati.
"Kau sudah tahu jawabnya." Arka mengangkat tubuh Iyan hingga berjinjit, entah dari mana datangnya tenaga pemuda itu hingga tubuh Iyan yang tak jauh berbeda darinya bisa terangkat hingga hanya ujung kakinya yang menyentuh tanah.
"Jangan Mas." Melati memeluk tubuh Iyan dari belakang sambil menangis.
"Mel!" Bule menarik Melati, bule sadar jika sikap Melati hanya akan menambah kemarahan Arka.
Bule menggeleng, sekali ia melirik Arka yang semakin tajam menatap Iyan.
"Ada apa Bule?" Adi baru saja bangun dan mendengar suara Melati menangis, langsung keluar menuju halaman belakang.
"Baiklah Mas Arka, aku akan membatalkan pernikahanku besok pagi." ucap Melati membuat terkejut Adi yang masih belum terjaga sepenuhnya.
"Gila!" Adi segera menjauhkan tubuh Iyan yang tak berdaya dari cengkeraman Arka.
Arka tersenyum senang, walaupun hatinya tak yakin Melati akan kembali seperti dulu kepadanya.
"Itu bagus, mulai sekarang kau dan dia tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jika aku melihat kau dan dia kembali berhubungan, maka aku akan kembali menyerangnya lebih menyakitkan lagi dari malam ini." Arka mendekati Melati, yang hanya menunduk lemas.
"Perasaan jangan dipaksa Arka?" Adi ikut marah melihat sahabatnya lemas bahkan sulit bicara.
"Dia juga memaksa." jawab Arka dingin, lalu kembali melihat Melati.
"Ya." jawab Melati kemudian, ia tak punya pilihan.
__ADS_1
"Aku izinkan kau dan dia mengucapkan perpisahan." Arka menunjuk Melati lalu Iyan, baru setelahnya ia melenggang pergi berjalan di kegelapan malam.
Melati berbalik mengikuti Bule dan Adi masuk kedalam rumahnya.
"Di kamarku saja Paman." pinta Melati,
"Iya, kamu ambil air hangat Mel?" pinta Adi kepada Melati setelah dikamar Melati, ranjangnya lumayan bagus bisa menyandarkan tubuh Iyan.
Tak lama kemudian Melati membawa segelas air putih, dan langsung memberikannya kepada Iyan.
"Terimakasih." ucap Iyan lumayan lebih baik setelah air hangat melewati tenggorokannya.
"Maafkan aku Mas." Melati memeluk Iyan erat sekali, menangis sejadi-jadinya di dada Iyan. Menumpahkan segala rasa yang sulit di ungkapkan selain hanya dengan air mata.
Satu tangan Iyan terangkat, setelah berkali-kali mengatur nafas, tenaganya mulai pulih.
"Kamu tidak salah, hanya Mas yang terlalu lemah. Maafkan aku yang membuatmu di posisi seperti ini." Iyan memeluk Melati, mengusap kepalanya dengan lembut.
"Aku panggilkan dokter Yan." Adi meraih ponsel Melati.
"Tidak Di, dokter tak akan paham dengan luka seperti ini. Aku bisa mengatasinya, walaupun tidak langsung sembuh." Iyan masih di posisinya, membiarkan Melati memeluk tubuh lemahnya.
"Tapi kamu lemah Le?" Bule ikut khawatir.
"Tidak apa-apa Bule, ini bukan kali pertama Arka menyerang aku, hanya lebih parah karena dia selalu belajar, dan aku tidak tahu harus belajar seperti apa?" jawab Iyan masih merasa bingung dengan diri sendiri.
"Memangnya kamu tidak punya guru?" tanya Bule mengetahui jika Iyan bukan orang biasa.
"Tidak Bule, aku saja baru sadar jika aku bisa seperti ini." Iyan menjawab apa adanya.
Lama mereka diam dengan pikiran masing-masing, tak satu orang pun memberikan pendapat atau jalan keluar untuk Iyan dan Melati.
"Benar Melati ingin kita putus?" tanya Iyan pelan sedikit menunduk menatap wajah yang sejak tadi tak mau beranjak dari dadanya.
Melati menggeleng dan semakin menangis, tangannya semakin erat memeluk Iyan.
Iyan sendiri dalam dilema, rasanya sulit menyerah dalam hubungan yang sudah terlanjur dekat, Melati terlalu manis untuk di lupakan, Melati terlalu cantik untuk di relakan, apalagi Arka akan melakukan segala cara untuk merebut hatinya lagi, sekalipun dengan memaksa dia tentu tak berpikir dua kali untuk melakukan hal jahat kepada Melati.
"Jangan menangis." Iyan memeluknya erat, tak peduli ada Bule dan Adi berada di kamar itu.
__ADS_1