
"Mas mau ke rumah Melati, boleh?" tanya Iyan melalui panggilan telepon.
"Tentu saja boleh Mas, hanya Melati takut kalau bertemu Mas Arka lagi." jawab Melati.
"Mas tidak akan lama, hanya ada yang perlu di tanyakan saja." Iyan sedikit menjelaskan.
"Hem, lama juga boleh Mas." Melati mencoba menggoda Iyan.
"Kalau begitu sekalian Mas tidak pulang." jawab Iyan membalas godaan Melati.
Terdengar tawa dari gadis cantik itu, hanya bercanda seperti itu sudah membuatnya sangat bahagia.
"Ya sudah, buka pintunya." pinta Iyan lagi.
"Nanti setelah Mas Iyan datang, kalau di buka sekarang malah bukan Mas Iyan yang datang, tapi hantu." Melati masih duduk di kamarnya. Dia tidak tahu jika Iyan sudah ada di depan, bahkan bisa mendengar ucapannya tanpa menggunakan telepon.
"Buka Sayang, Mas mau masuk!" pinta Iyan lagi.
"Mas jangan bercanda, aku tidak mau melihat dedemit yang menyerupai manusia setelah membuka pintu." Melati sedikit kesal.
"Mas tidak sedang bercanda. Coba Melati buka pintunya, aku sudah ada di depan." Iyan berkata serius.
Melati menjauhkan ponselnya dari telinga, kemudian beranjak keluar. Mengintip sedikit dari lubang pintu, ternyata benar ada Iyan di luar, dengan kemeja putih dan rapi, Melati segera membukakan pintunya.
"Benar 'kan?" Iyan tersenyum manis sekali, menatap wajah cantik Melati dengan sangat rindu.
"Masuk Mas." Melati tersipu malu, sambil kemudian menutup lagi pintu.
"Mas takut kamu sudah tidur, makanya telepon dulu." Iyan duduk berdekatan dengan Melati.
"Aku belum tidur Mas, ibu belum pulang dari rumah Bu Lek ujung gang sana, sedang minta dibikinkan kue." jawab Melati beranjak dari duduknya. "Mau kopi atau teh Mas?"
"Tidak usah, Mas baru selesai makan." Iyan meraih tangan Melati memintanya duduk kembali.
"Kalau haus minta ya Mas." Melati tertawa.
"Tentu saja, 'kan calon istri." Iyan menatapnya penuh cinta. "Oh iya, tadi Arka pasti sangat marah." tanya Iyan lagi.
__ADS_1
"Tidak juga, hanya sedikit berdebat. Apapun itu aku tidak akan berpaling lagi darimu Mas Iyan, aku ingin kita cepat menikah, bebaskan aku dari suasana rumit ini." ucapnya penuh harap.
"Aku juga sudah tidak sabar untuk memperistrimu. Itu makanya aku datang untuk bertanya kepada Ibu, ibu perlu uang berapa untuk sedekah nanti?" tanya Iyan menggenggam tangan Melati.
"Ibu tidak meminta apa-apa Mas, semampunya Mas Iyan saja." Melati sungguh merasa dihargai, disayangi, dan dicintai dengan sepenuh hati oleh Iyan.
"Ya, kalau begitu ayah ibuku tidak akan bingung mencari uang lagi, kalau hanya untuk syukuran sederhana semua sudah ada." Iyan tersenyum memamerkan bibir merah dan gigi putihnya, tampan sekali.
Melati mengangguk, membiarkan laki-laki tampan itu menikmati cantik wajahnya, juga terus menggenggam tangannya sesekali dikecup dengan mesra.
"Tiga hari lagi orang tuaku akan datang, jangan menolak ya!" Iyan menatap wajah ayu itu penuh harapan.
Melati menggeleng pelan, "Aku sudah tidak bisa menolakmu Mas, sebaliknya aku takut kau pergi meninggalkan aku karena Mas Arka. Entah mengapa aku sangat khawatir akan berpisah denganmu." ada kesedihan di bening mata indahnya setelah ucapan itu.
"Aku juga takut Mel, aku sangat mencintaimu. Ingin rasanya sekarang saja aku membawamu pulang agar tidak bertemu lagi dengan Arka." Iyan semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Masih Mas, dia 'kan sering lewat depan rumahmu kalau lagi mengantar ayahnya bekerja."
Iyan tertawa lebar. "Kalau begitu aku akan mengurungmu di kamar tidak boleh keluar. Hanya aku yang boleh melihat wajah cantikmu." Iyan mendekati wajah Melati.
"Memang harus begitu, aku akan membuatmu lemas dan hanya merengek manja. Itu pasti menyenangkan sekali, menggemaskan." Iyan menarik hidung Melati, kali ini Melati menggandeng lengan kokoh Iyan.
"Ayo Mas!" ucap Melati menggoda Iyan.
Laki-laki itu terkekeh geli, hanya menggeleng melihat gadis ayu di sampingnya, wajah dan tingkahnya semakin membuat jantung Iyan tak karuan. "Ibu lagi tidak ada di rumah kan?" Iyan melanjutkan godaannya.
Melati menyembunyikan wajahnya di bahu Iyan, meskipun hanya godaan semata, tapi cukup membuat Melati salah tingkah.
Iyan meraih bahu Melati dan memeluknya, mengusap dan mengecup pucuk kepala Melati. Menarik nafas dan menghembuskan pelan, dia sedang mengatur sesuatu yang bergejolak sulit di kendalikan.
"Jangan merubah keputusanmu Mel, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika kau meninggalkanku aku." bisik Iyan di telinga Melati.
"Aku tidak akan melakukan itu Mas, aku ingin hidup bersamamu, ikut kemanapun kau pergi. Susah senang kau harus membawa aku selalu." jawab Melati membalas pelukan Iyan.
Iyan tersenyum dengan menopang dagu di atas kepala Melati, ada perasaan lega mendengar ucapan Melati. Artinya Melati benar-benar sudah jatuh cinta padanya.
"Mas harus pulang Sayang." Iya melihat wajah yang masih setia bersembunyi di dada sebelah kirinya.
__ADS_1
"Melati ikut." ucapnya merengek menggoda Iyan, menyenangkan sekali ketika melihat senyum dan tawa di wajah laki-laki tercintanya.
"Nanti ibu marah, terus uang dapurnya minta di tambah." canda Iyan.
Melati terkekeh, melonggarkan pelukan yang lumayan lama. "Paling langsung di bawa ke penghulu Mas."
"Sabar ya Sayang, sebenarnya Mas yang sudah tidak sabar." Iyan tertawa lebar diikuti Melati yang tak kalah bahagia.
"Hati-hati pulangnya Mas, aku tidak ingin kau berkelahi dengan Mas Arka. Jika dia mencari masalah Mas Iyan hindari saja, aku tak mau suamiku wajahnya menjadi jelek karena berkelahi." sambil beranjak dari duduknya.
"Ya, aku juga tidak mau Sayang, tidak mau kamu sampai berpaling gara-gara wajahku bonyok." jawab Iyan merangkul Melati.
"Itu tau." Melati membukakan pintu.
"Mas pulang ya." mengusap kepala Melati lalu pipi halusnya.
"Iya Mas." Melati sungguh menikmati sentuhan tangan Iyan, rasanya sangat menghanyutkan.
"Besok Mas jemput." ucapnya kembali menoleh, rupanya sepeda motor Iyan di letakkan di ujung halaman, mungkin menghindari Arka.
Melati mengangguk, menunggu hingga laki-laki baik itu benar-benar berlalu. Jujur saja merasa tak rela Iyan pulang cepat, tapi itu semua Iyan lakukan agar tidak terjadi lebih dari hanya memeluk Melati.
Malam semakin larut, pukul 00:00 Iyan belum juga tertidur, gelisah dan serba salah.
"Tumben malam ini cuacanya panas." gumam Iyan berdiri menyalakan kipas angin.
Matanya sungguh mengantuk, tapi sepertinya ada yang mengganggu ketika mulai memejamkan mata. Lama gelisah hingga akhirnya tertidur juga.
"Bangun!"
Suara seseorang yang sedang marah mengganggu di telinga Iyan.
"Bangun!" bentaknya lagi, kali ini Iyan mencoba bergerak namun sepertinya dihimpit batu besar, tubuhnya tak bisa sama sekali.
Iyan mencoba membuka mata, namun sulit seperti terkena lem terasa perih dan tertutup rapat sekali.
"Hemp, hemp." niat ingin berteriak meminta tolong tapi mulutnya juga tak bisa terbuka.
__ADS_1