
Iyan kembali bangkit dan memasang kuda-kuda, mencoba melihat siapa yang menyerangnya tiba-tiba.
Kali pertama Iyan melihat seseorang yang selama ini berada di belakang Arka.
Laki-laki yang sudah menjadi penyebab berpisahnya kedua orang tua Iyan, membuat Iyan tak pernah melihat wajah ibunya, juga tak tahu bagaimana wajah ayahnya.
Iyan melonggarkan tangan yang tadi mengepal dengan kuda-kuda sempurna, ia mendekati aki-aki tua itu dengan mata tak melepaskan wajahnya.
Aki Juno mendadak gugup, bahkan bingung harus menyerang atau hanya menunggu apa yang akan di lakukan Iyan padanya. Mendadak bayangan gadis bernama cempaka itu melintas di pelupuk mata, senyum dan matanya mirip sekali dengan Iyan putranya.
"Cempaka." gumamnya pelan, wajah tuanya terlihat sendu memandang wajah Iyan yang semakin dekat.
Iyan berdiri tegap. "Aku memang bukan lawan yang seimbang bagimu, bahkan belum seberapa asam garam yang ku makan di bandingkan denganmu. Tapi aku tak akan menyerah sebelum menemukan Melati istriku." ucap Iyan tak terlihat takut.
Iyan menyerang Aki tersebut lebih dulu, meski jauh di bawah laki-laki tua itu namun gerakan Iyan cukup merepotkan. Pukulan dan gerakannya begitu gesit bahkan membuat Aki-aki tersebut mudur beberapa langkah.
Namun dari segi kematangan dan tenaga dalam jelas Iyan kalah jauh di bawah Aki Juno. Beberapa menit berikutnya Iyan terkena pukulan dan Aki Juno tak melepaskan begitu saja, mengejar Iyan yang terpental berniat memukulnya lagi.
Bugh
Sebuah tendangan melesat cepat menghalangi Aki Juno.
"Akulah lawan sebenarnya Arjuna, dia tak tahu apa-apa bahkan tidak tahu tentang kekuatan yang ia miliki." ucap laki-laki tegap itu menatap lurus kepada Arjuna yang terhuyung ke belakang.
"Dimas Mahendra." ucapnya tidak terkejut, tapi tentu hatinya berdenyut dengan pertemuan kembali setelah dua puluh tahunan yang lalu.
Laki-laki bernama Dimas Mahendra itu menoleh Iyan putranya. "Pakai telingamu, pergi dan bawa istrimu segera."
Iyan berdiri dengan bahu yang sedikit nyeri, ia berjalan masuk ke dalam goa yang bercabang tersebut.
Iyan mencoba saran ayahnya, menajamkan telinganya dan mencoba mendengarkan nafas Melati.
Perlahan langkahnya menelusuri lorong gelap, hingga tiba di sebuah ruangan, dan terlihat dua orang di dalamnya.
"Melati." gumamnya melihat istrinya terbaring di atas batu, tak sadarkan diri.
Tapi yang membuat Iyan tak habis pikir adalah Arka yang sedang bersemedi dengan air putih ada di hadapannya.
Belum sempat Iyan melangkah, Arka membuka mata dan meraih cangkir keramik yang sudah tak layak pakai itu, akan memberikan kepada Melati.
Tanpa berpikir lagi Iyan melompat dan menendang tangan Arka hingga tumpah air tersebut.
Arka menoleh dengan seringai kebencian, matanya nanar ingin membunuh.
Tak melewatkan kesempatan itu lagi, Iyan mendengar wajah Arka hingga sedikit goyah posisi duduknya. Namun tak tinggal diam, Arka berdiri dan menyerang Iyan membabi buta.
"Kau akan mati ditangan ku." geram Arka dengan mata berkilat merah, wajahnya menghitam seram dan gerakannya sangat brutal tak terkendali.
"Aku tidak akan menyerah." jawab Iyan di sela usahanya mengelak, menghindari serangan Arka yang semakin menyudutkannya.
Sedangkan di depan sana, perkelahian antara Dimas Mahendra dan Arjuna sedang berlangsung, tak kalah seru keduanya beradu kekuatan hingga hancur batu yang bertumpuk di sekitar mereka. Ledakan dan angin terdengar riuh tak juga reda meskipun salah satunya terkadang mundur atau terluka.
"Kau semakin hebat Dimas." puji Aki Juno pada sahabat lama sekaligus lawannya itu.
"Tentu saja Arjuna, kematian istriku belum terbayar." jawabnya dingin.
Mata hitam pekat Aki Juno menajam, terlihat seram lebih dari perangai Arka saat marah kepadanya.
"Aku tidak bermaksud membuat Cempaka meninggal Dimas, sungguh aku pun ingin dia tetap hidup." jelas Arjuna mengenang kesalahannya.
"Tapi nyatanya istriku pergi karena ulahmu. Dia menahan sakit berbulan-bulan, terpisah dariku dengan perut yang membesar. Sungguh kau tak punya perasaan Arjuna! Jika yang kau sebut cinta adalah membuatnya menderita, maka itu salah besar." Dimas kembali menyerang dengan lebih ganas.
"Dimas!" panggil Arjuna ingin kembali berbicara.
Namun laki-laki itu tak mau mendengarkan apapun, kesedihan terpisah dengan istri tercinta membuat hatinya dingin dan di penuhi dendam. Cinta istrinya begitu besar hingga memilih mati dari pada harus menahan perasaan yang semakin menyiksa dirinya, dan itu tanpa sepengetahuan Dimas Mahendra.
__ADS_1
Namun apa hendak di kata, dulu Dimas adalah orang yang polos, tidak mengerti tentang ilmu perdukunan.
Berbeda saat ini ia sudah bertekad untuk menghajar Arjuna sahabatnya hingga tak berkutik atau mati, agar sakit yang dialami ia dan Cempaka terbayar lunas.
Di dalam sana perkelahian semakin sengit, Iyan dengan wajah yang memar dan darah di sudut bibirnya. Sedangkan Arka dengan keringat mengucur juga memar di wajahnya. Dapat dipastikan dia lebih kuat daripada Iyan, terlebih lagi tenaga Iyan sudah terkuras sebelumnya, melawan dedemit dan pagar yang di buat Aki-aki tua itu.
"Aku akan benar-benar menghabisi mu, kau harus mati agar tidak dicintai Melati, juga tak perlu mencintai Melati. Dia milikku!" geram Arka terdengar menggelegar seperti bukan suara pemuda itu.
"Dia istriku." jawab Iyan tak juga menyerah walau tubuhnya mulai lemah, tenaganya mulai terkuras.
Arka tertawa lebar, dia melihat jika kemenangan sudah di depan mata. Tak sia-sia dia meminta makhluk menyeramkan itu di depan goa untuk menguras tenaga Iyan terlebih dulu.
Dengan kekuatan penuh Arka menyerang Iyan, mengarahkan telapak tangan tepat di dada Iyan Rahendra.
Bugh
"Akh."
Iyan terpental jauh hingga membentur dinding, mulutnya mengeluarkan darah cukup banyak, dia benar-benar tak mampu berdiri.
"Iyan!"
Panggil Dimas Mahendra menggema, namun tak bisa menolong karena Arjuna juga menyerang habis-habisan. Laki-laki tua itu seolah sedang kembali ke masa lalu di saat mereka memperebutkan Cempaka yang cantik. Panas dan cemburu mendadak menguasai otaknya, matanya memerah dengan gerakan yang brutal. Dimas Mahendra sampai kewalahan menghadapinya, tak sekali dua kali serangan dukun itu mengenai tubuhnya, benar-benar ingin membunuh.
Arka berdiri tegap di hadapan Iyan yang tak berdaya, menatap remeh pada laki-laki yang merebut kekasihnya.
"Mas."
Suara halus Melati membuat fokus kedua pemuda itu menoleh, Melati sadar.
Iyan beranjak ingin melihat keadaan Melati namun menendang Iyan hingga terjatuh, lalu mendahului menghampiri Melati.
"Mel." panggil Iyan lemah.
Sedangkan Arka membantu Melati duduk, meraih cangkir yang sempat tumpah dan ternyata masih ada isinya tak menyia-nyiakan kesempatan Arka meminumkan kepada Melati.
Serangan tak di duga dari Dimas Mahendra menjatuhkan cangkir tersebut dan pecah kali ini.
"Kurang ajar!"
Arka mengumpat dan marah besar. Meninggalkan Melati yang kembali terpejam lalu tak membuang waktu, mengarahkan tenaga dalam untuk menghabisi Iyan.
Iyan tak tinggal diam melawan dengan sisa tenaga yang ada. Tak lupa doa tulus ia panjatkan memohon pertolongan hanya kepada Allah semata.
"Tolong aku Ya Allah, untuk membunuh kejahatan yang jelas-jelas terpampang di depan mata ini."
Iyan menarik nafas dalam dan memaksa untuk berdiri, tangannya mengepal erat, bersiap beradu pukulan dengan Arka.
Bugh
Benar saja mereka beradu tinju disertai tenaga dalam, pukulan itu berhasil di tahan dengan kepalan tangan tak kalah kuat, hingga beberapa saat kemudian keduanya mundur tak bisa menahan kekuatan masing-masing.
Tapi kemudian dengan tak duga Iyan melesat cepat hampir tak bisa di percaya. Pemuda itu memukul dada Arka yang jelas belum siap karena adu kekuatan sebelumnya.
Bugh.
"Agh."
Arka jatuh di lantai goa yang lembab, darah mengalir dari mulutnya, matanya menatap Iyan dengan tak terima, namun kalah dengan kesakitan yang menguasai dadanya.
"Maaf Mas Arka." ucap Iyan memukul ubun-ubun Arka hingga pemuda itu jatuh tak bergerak.
Iyan berdiri lemas.
Tak menyangka akan berakhir sesadis ini kisah mereka, Melati, Arka, dan Iyan Rahendra.
__ADS_1
"Arkaa......!" teriak Arjuna terpecah fokusnya menyerang Dimas Mahendra. Tak di sia-siakan kesempatan itu, Dimas Mahendra memukul Aki-aki tersebut hingga limbung dan jatuh karena pukulan susulan tak kalah menyakitkan.
"Melati." ucap Iyan meraih tubuh istrinya yang tak juga sadar.
Sementara warga sudah ada di luar mendekati goa tersebut, berteriak memanggil-manggil nama Melati.
"Ada di sini!" teriakan Paman Aryo menyahuti mereka.
Dimas Mahendra mendekati anak dan menantunya, membantu Iyan membangunkan Melati.
"Biar Ayah sadarkan istrimu." ucap Laki-laki itu kepada Iyan.
Iyan menoleh, hatinya menghangat ketika suara Dimas menyebut dirinya 'ayah'.
"Terimakasih Ayah." jawab Iyan dengan mata berkaca-kaca, tangannya terulur memeluk sang ayah.
Dimas memeluknya sejenak juga tak kalah terharu.
"Kita harus membawanya pulang." ucap Dimas Mahendra lagi.
...***...
"Mel."
Suara berat Iyan terdengar menelusup di telinga Melati, tubuh lemah Melati mulai bergerak dan membuka mata.
"Alhamdulillah."
Kali ini suara ustadz Ahmad terdengar mendominasi. Aryo sengaja memintanya datang untuk menolong semua orang, tapi Aki Arjuna tak tertolong, dia meninggal sesuai permintaannya, setelah membayar lunas hutangnya pada Dimas Mahendra.
"Kau sudah berhasil melepaskan ilmu Arka Wijaya." ucap Ustadz Ahmad kepada Iyan setelah membantu Melati melati menyandar.
"Aku tidak tahu akan terjadi seperti itu Paman." ucapnya kepada ustadz Ahmad. "Apakah bisa semua kekuatan yang aku miliki ini di lepaskan saja?" tanya Iyan lagi.
Ustadz Ahmad menarik nafas begitu dalam.
"Aku tidak tahu Yan, hanya mungkin guruku di pesantren bisa memberikan solusi." ucap Ustadz Ahmad menjelaskan.
"Bukankah kau juga tahu semua tentang ilmu seperti ini?" tanya Iyan lagi.
"Tapi itu bawaan lahir, dan tak bisa ku temukan Jin dan makhluk lain di dalam dirimu." ucap Ustadz Ahmad setelah memperhatikan Iyan dari ujung kepala hingga kaki. "Saran ku, lebih baik kau jalani semuanya dengan baik, tetap selalu berada di jalan Allah. Aku yakin semua ada hikmahnya."
"Kalau begitu aku saja, aku ingin melepaskan semua kekuatan yang aku miliki. Semuanya sudah selesai, berakhir semua kejahatan tentang perdukunan sahabatku Arjuna." Dimas menyahut ucapan Ustadz muda tersebut.
"Baiklah, kalau begitu Paman ikut aku ke pesantren. Di sana Paman akan menemukan banyak ketenangan setelah melepaskan ilmumu." jelas ustadz Ahmad.
"Terimakasih." jawab Dimas Mahendra.
Melati masih berpikir dengan apa yang telah terjadi. "Bagaimana dengan Mas Arka?" tanya Melati pelan kepada Iyan.
"Dia tak apa-apa, hanya masih lemas dan tak punya tenaga. Ayah dan ibunya membawa keluar kota." jelas Iyan membuat Melati tenang.
"Syukurlah." jawab Melati mengusap dada.
"Mungkin, masih ada tugas yang membutuhkan kekuatan mu." Ustadz Ahmad menoleh Iyan. "Nanti setelah Melati melahirkan, kau boleh datang ke pesantren untuk memastikan kekuatan dalam dirimu."
Iyan menarik nafasnya, sungguh kekuatan seperti itu tak pernah diinginkannya.
Tapi terlepas dari semua yang aneh ini, Iyan yakin semua yang di berikan Allah adalah yang terbaik untuknya dan semua orang di sekelilingnya.
*
*
*
__ADS_1
...**TamaT**...