
"Artinya Melati dalam bahaya." Iyan menghapus air mata yang bergulir pelan di pipinya. Kemudian beranjak meriah kunci motor.
"Mau kemana lagi?" Angga menarik tangan Iyan.
"Melati dalan bahaya Mas, dia sendirian dan tidak tahu apa-apa. Ibunya sakit karena diperdaya Arka, aku tidak mau Melati juga ikut menjadi budak mereka." Iyan juga mengambil jaket yang baru saja di letakkan.
"Tunggu!" Angga meraih lengan Iyan lagi.
"Mas, kalian doakan agar tidak terjadi apa-apa pada aku dan Melati, besok aku akan tetap menikahinya." ucapan Iyan menatap wajah-wajah orang-orang di ruangan itu.
Ayah Iyan berdiri mendekat. "Pergilah, Jagan biarkan mereka menang. Cukup ibumu saja yang menjadi korban." jelas laki-laki yang sudah tua itu.
Iyan berlalu segera, hari sudah mulai redup, senja berwarna cerah, menyilaukan dan berwarna merah di sebelah barat. Malam Jumat Kliwon yang menyeramkan. Iyan melaju cepat agar segera sampai di rumah Melati kekasihnya.
Hanya beberapa saat saja, tak sampai tiga puluh menit dia sudah tiba di halaman rumah Melati. Suasana sepi lengang dengan aura dingin gelap menyergap membuat bulu kuduknya merinding.
Iyan pura-pura tidak tahu apa-apa dan langsung mengetuk rumah Melati.
Tak berapa lama kemudian pintunya terbuka, tampak wajah ayu itu tersenyum senang.
"Masuk Mas." ucapnya lembut sekali.
"Assalamualaikum." Iyan mengucap salam seperti biasa, dia masuk dan langsung duduk di kursi kayu sederhana.
"Wa'alaikum salam Mas." Melati tersenyum dan ikut duduk bersama Iyan.
"Ibu mana Mel?" tanya Iyan melihat rumah sepi tak ada suara-suara orang di dalam.
"Ibu baru saja selesai makan, istirahat di kamar." jawab Melati tersenyum. "Kenapa datang Maghrib begini Mas, apa ada yang penting?" tanya Melati lagi.
"Aku sengaja datang, nanti Adi juga akan datang. Dia menyusul setelah isya." jawab Iyan mengeluarkan ponsel Melati yang masih ada padanya, menghubungi Iyan segera.
"Oh." Melati mengangguk.
"Mas mau menginap." ucap Iyan lagi, menatap wajah cantik Melati.
__ADS_1
Melati menatap heran, bukankah selama ini dia tidak mau menginap, bahkan datang sebentar lalu pergi lagi.
"Mas tidur di sini sama Pamanmu." Iyan mencolek wajah cantik Melati, sekedar menggoda padahal hatinya sedang tegang tak terkira.
Melati mengangguk dengan senyum manis, dia selalu menggemaskan. "Mas mau sholat boleh?" tanya Iyan merasa tak enak hati datang mengganggu.
"Tentu saja boleh Mas, melati di belakangmu ya?" pinta Melati membuat Iyan tersenyum senang sekali.
Melati beranjak dari duduknya menyingkirkan kursi yang ia duduki, membentang tikar dan menyiapkan tempat, sementara Iyan pergi lebih dulu ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit saja.
"Ibu tidur sepertinya Mel." Iyan sedikit menoleh kamar Ibu.
"Iya Mas." Melati tampak sedih mendengar Iyan menanyakan Ibu. "Dulu Ibu rajin sholat, entah mengapa sekarang malah dia lemas tak bertenaga, jangankan sholat makan saja dia tidak mau, beruntung sejak tadi pagi makan sedikit itupun Melati yang menyuapi." ucap Melati sedih.
"Itu sebabnya kita harus selalu ingat kepada Allah, jangan lengah, banyak makhluk tak kasat mata yang mengincar orang yang lengah, itu juga salah satu penyebab orang bisa sakit, selain pola hidup sehat pikiran yang kusut juga bisa menimbulkan penyakit, apalagi hati yang kusut, semuanya ikut kusut, akhirnya sakit dan sulit disembuhkan."
"Lalu bagaimana dengan Ibu Mas?" tanya Melati dengan wajah sendu.
"Anak kita." lanjut Iyan lagi semakin membuat melati ingin melompat. Iyan hanya tersenyum membiarkan Melati menatap wajahnya seperti itu. Baginya wajah imut Melati adalah seperti boneka, lucu, menggemaskan, lembut, hangat dan, menyenangkan.
Iyan beranjak dari duduknya diikuti Melati, melepas mukena dan menggulung tikar tempat mereka sholat.
"Makan Mas?" Melati menawari Iyan.
"Kalau Melati mau makan silahkan, Mas masih kenyang, tadi ibu membuat kue saat aku pulang beli kebaya untukmu."
"Aku juga masih kenyang Mas, tadi jajan di warung depan." Melati ikut duduk bersama Iyan.
Harap-harap cemas, Iyan menunggu apa yang akan terjadi malam ini, siap atau tidak dia harus menghadapi Arka, atau dukun yang menjadi guru Arka.
Sedikit melamun, Iyan teringat cerita ibunya, jika ayah kandungnya tinggal jauh di perkebunan. Lalu ayahnya yang meminta Iyan menghadapi Arka, membuat Iyan bertanya-tanya jika sebenarnya ayahnya sudah tahu jika Iyan memiliki kelebihan.
Jujur saja, yang di dengarnya adalah jika seorang manusia memiliki kekuatan di luar nalar, artinya di dalam tubuhnya ada makhluk lain. "Lalu aku ini apa?" begitu Iyan berkata di dalam hatinya.
__ADS_1
"Mas!" Melati memanggil Iyan lebih dekat.
"Iya." Iyan menoleh Melati, berusaha tersenyum tak mau bercerita banyak kepada gadis itu.
"Mas memikirkan apa?" Melati mendekati Iyan, duduk di sebelahnya.
"Memikirkan kamu." rayu Iyan menatap mesra Melati.
"Bohong." Melati menyandarkan kepalanya di bahu Iyan.
Dia membiarkannya, kemanjaan Melati menjadi penghibur hati Iyan. "Tidak Sayang."
Melati memeluk lengan Iyan, dia sangat menyukai panggilan sayang dari Iyan. Walaupun dulu Arka juga sering memanggilnya seperti itu, tapi rasanya ucapan dari bibir Iyan lebih menyentuh.
"Sepertinya benar Mas sedang banyak pikiran." Melati mendongak wajah Iyan lebih dekat. "Apakah Mas ragu dengan apa yang sudah kita rencanakan besok?" tanya Melati pelan.
"Itu yang sangat aku tunggu-tunggu, mana mungkin bisa ragu." Iyan menoleh wajah Melati hingga menjadi sangat dekat.
"Tapi Mas memang terlihat sedang berpikir." protes dengan suara manjanya.
"Hanya khawatir malam ini kita tidak bisa melewatinya. Apalagi kalau berduaan seperti ini. Mas takut khilaf lalu malam pertamanya sudah duluan." bisik Iyan menggoda Melati.
"Jangan begitu Mas." Melati menyembunyikan wajahnya di bahu Iyan, dengan tertawa manja.
"Habisnya kamu menggemaskan." Iyan memiringkan kepalanya agar bersentuhan dengan kepala Melati.
"Kan nanti ada Paman Adi?"
"Itu kalau dia masih sadar, biasanya dia tidur seperti orang mati, jangankan buat mengawasi kita, kita kuras dompetnya saja dia tidak tahu." Iyan terkekeh geli.
Melati ikut tertawa senang, dia tahu Iyan hanya menggoda. Jika pemuda itu mau, sejak lama dia sudah melakukannya. Mereka hanya mengobrol dan bercanda hingga pukul delapan Adi baru datang ke rumah Melati.
"Melati buatkan kopi ya, atau kalau mau makan ambil sendiri." ucap Melati setengah bercanda.
Iyan mengikut masuk ke dapur. "Tidurlah lebih awal, nanti mas bangunkan pukul sebelas." ucap Iyan meminta Melati masuk kamarnya.
__ADS_1