
Sore itu Melati kembali berjalan sendiri, pulang tanpa ada yang mengantar tentu tak masalah baginya, tapi dengan pikiran yang berkeliaran kemana-mana membuat dirinya lemas walau hanya melangkahkan kaki. Satu sisi Melati memikirkan Arka yang aneh menurutnya, satu sisi lagi memikirkan Iyan yang sempat menyatakan perasaannya.
Terkadang berpikir untuk tetap bertahan, tapi lelah rasanya Tiga tahun lebih menunggu dan hanya menunggu seorang Arka, tentu bukan sedikit pengorbanan Melati untuknya. Rasanya ingin berlari dan terlepas dari Arka, walaupun pernah mencoba dan akhirnya tetap kembali.
Tapi kali ini, rasanya hati Melati ingin memilih Iyan, laki-laki sederhana yang sudah berhasil membuka matanya, laki-laki baik dan apa adanya, tulus dan tak menuntut banyak pada dirinya, walau masih ragu apakah pantas Melati untuk Iyan?
Andai bisa meminta, mengapa tidak Arka saja yang seperti itu? Mengapa tidak Arka saja yang melamar dan mencintainya dengan tulus dan sabar. Walau bukan berarti Arka tidak tulus, tapi hubungan yang sudah sangat lama ini butuh keberanian untuk membuktikan kata serius. Segelintir harapan untuk bahagia, beradu dan bercampur aduk dengan banyak kekecewaan terhadap Arka.
Entahlah, tentu tak mudah untuk melupakan Arka. Sedih dan terluka sudah pasti akan sangat terasa.
"Sudah pulang Mel!" Ibu sedang menyapu halaman rumah. Tanpa terasa langkah pelannya sudah memasuki halaman.
"Iya Bu!" Melati meraih sapu lidi dari tangan ibunya.
"Biar Ibu saja." Ibu Nur tak memberikan sapunya. "Mending beli shampo, tadi Ibu lihat shamponya habis."
"Melati lupa beli Bu, harusnya beli di pasar." Melati beranjak dari duduknya yang baru saja, melangkah menuju warung depan yang tak seberapa jauh.
"Bu Lek, beli shamponya Empat!" ucap Melati seraya mengambil uang dari tasnya.
"Empat ya?" tanya ibu pemilik warung, diangguki Melati.
"Baru pulang Mel?" seorang ibu-ibu muda datang menyapa Melati.
"Iya Bu Lek." senyum Melati.
"Kamu kapan nikahnya Mel? Kalian sudah cocok sekali lho!" wanita berdaster itu berbicara layaknya memulai percakapan seru.
"Belum tahu Bu Lek." jawab Melati sopan.
"Kok belum tahu? 'Kan pacaran sudah lama? Apa karena ibunya Arka enggak setuju sama kamu Mel?" tanya Bu Lek Tuti sangat ingin tahu.
Melati tersenyum merasa bingung harus menjawab apa, tentunya itulah yang selalu ibunya rasakan saat sedang bertemu dengan banyak tetangga atau siapa saja di kampung ini. Kini Melati paham mengapa Ibu sering kesal dan bertanya perihal hubungannya dengan Arka jika sehabis dari warung atau dari pasar saat menjual hasil kebun sayur.
__ADS_1
"Aku pernah dengar, katanya! Ibunya Arka tidak setuju sama kamu. Pinginnya punya mantu yang pandai masak apalagi kalau di bawa ketempat keluarga saat bersedekah. Harus pandai memasak dan bikin kue begitu, biar enggak malu-maluin!" ucapnya dengan sangat bersemangat.
"Melati memang tidak pandai memasak Bu Lek, kalau ibunya Mas Arka tidak setuju tidak apa-apa." Melati menjawab halus.
"Ah kamu Mel, kalau Arka-nya cinta ya pertahankan saja. Tapi percuma juga sih, pacaran sudah bertahun-tahun tapi ibunya tidak setuju, artinya Arka tidak bisa melangkahi restu ibunya, ya kan?" ucapnya lagi dengan bibir yang terlalu maju.
"Melati pulang dulu Bu Lek, mari!" Melati mengambil shampo dan memberikan uangnya segera.
"Ternyata! Ibu sangat tersiksa dengan hubunganku dan Mas Arka selama ini!"
Malam itu Melati duduk bersama Ibunya di dapur, sengaja tak beranjak dari duduknya setelah makan dia ingin berbicara dengan Ibu.
"Ibu! Maaf jika selama ini ibu tersudutkan karena hubunganku dengan Mas Arka." Melati menatap ibu dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa Mel, Ibu hanya merasa sedih saat mendengarkan pembicaraan mereka, tapi setelah pulang Ibu melupakannya. Ibu selalu berdoa semoga kamu cepat menikah, dan mendapatkan jodoh yang baik. Ibu yakin Allah akan mengabulkannya." Ibu tersenyum tipis, tampak sekali perasaan tulus di wajah tuanya.
"Iya Bu, Melati juga ingin seperti itu." jawab Melati meraih tangan Ibu dan mengelus jari keriputnya.
"Siapa Bu?" tanya Melati menatap wajah Ibu.
"Mungkin Arka? Siapa lagi selain dia." Ibu tak ambil peduli dengan ketukan pintu itu.
"Tapi ketukan tangan Mas Arka tidak seperti itu." Melati tampak berpikir.
"Kalau begitu biar Ibu yang membukanya." Ibu beranjak dari duduk dan menuju ruang tamu.
Melati yang penasaran juga ikut berdiri, ia ingin tahu siapa yang datang.
"Nak Iyan!" suara Ibu berseru menyebut nama Iyan, membuat Melati mempercepat langkahnya.
"Assalamu'alaikum Bu." terdengar suara Iyan mengucap salam dengan lembut, rasanya Arka tidak seperti itu.
"Wa'alaikum salam Nak Iyan." jawab Ibu senang.
__ADS_1
"Melati Ada Bu?" tanya Iyan masih berdiri di luar.
"Ada, masuk Nak Iyan. Mel!" seru ibu Nur memanggil Melati.
"Iya Bu!" Melati keluar dengan mata yang sudah tidak sabar melihat sosok Iyan.
Benar saja, Iyan terlihat manis dan mendamaikan hati. Dia begitu meneduhkan dengan kening yang terlihat sempurna karena rambutnya di sisir ke atas, rapi dan tampan.
"Selamat malam Melati." menyapa dengan lembut sekali.
"Selamat malam Mas Iyan." jawab Melati tersenyum dan kemudian menunduk malu.
"Mas beli ini buat kamu." Iyan memperlihatkan barang terbungkus plastik lumayan besar yang sejak tadi ia sembunyikan di belakangnya.
Melati menatapnya dengan hati teramat senang, boneka panda berwana coklat susu. Sudah lama sekali Melati ingin membeli boneka besar dan menggemaskan seperti itu, tapi tak pernah kesampaian sebab selain harganya mahal di kampung itu jarang ada yang menjual.
"Mas belinya di pinggir jalan, mungkin kamu suka? Karena Mas tidak sempat pergi ke Mall atau toko boneka, jadinya Mas beli yang ada saja sekalian pulang." Iyan merasa hadiahnya tak terlalu layak untuk di berikan kepada Melati.
"Aku menyukainya Mas, terimakasih banyak." ucap Melati dengan perasaan penuh haru.
Iyan meraih tangan Melati dan segera duduk di kursi sederhana ruangan itu. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan Iyan pada Melati.
"Ada apa Mas?" tanya Melati menatap wajah Iyan yang tampak sumringah.
"Mel, Apa kamu sudah memikirkan lamaranku kemarin itu?" tanya Iyan tetap menggenggam tangan Melati.
Melati merasa gugup, sesekali matanya melihat ke arah dapur dimana Ibu sedang membuat kopi untuk Iyan.
"Mel!" panggilnya lembut. "Jika Melati sudah siap, Mas mau lamar kamu dengan ibu langsung malam ini!" Iyan kembali mengutarakan semuanya tanpa basa-basi, tidak sedang merayu juga tidak terlihat takut dilihat ibu, tangannya tak juga ia lepaskan.
"Mas! Apa Mas Iyan yakin memilih aku?" tanya Melati dengan menatap sendu, ia merasa tak pantas untuk Iyan.
"Mas yakin Mel, apa kamu mau menjadi istriku?" tanya Iyan lagi dengan begitu tegas.
__ADS_1