
Sore itu Melati dan Iyan akan datang ke rumah ibunya untuk memastikan keadaan Ibu Nur, setelah kemarin tetangga sekaligus saudara jauh Melati menghubungi Aryo, memberitahukan jika Ibu Nur sering menangis dan meratapi Melati yang tak mau menikah dengan Arka.
"Mas, kok Melati takut pulang ke rumah." Melati tampak ragu ketika Iyan sudah memakai helm untuk mengantarnya.
"Kan sama aku Mel, tidak usah takut." Iyan meyakinkan, meraih tangan Melati mengajaknya keluar dari dealer.
"Apa tidak usah pulang ya Mas, nanti di sana Ibu pasti tidak mengizinkan Melati kembali ke rumah paman Aryo." Melati masih ragu.
Iyan menoleh Melati, Iyan juga merasakan hal yang sama, tapi biar bagaimanapun juga harus melihat keadaan ibunya.
"Belum lagi kalau ada Mas Arka, aku tidak mau bertemu dengannya dan membuat kalian bertengkar lagi." Melati menatap Iyan dengan sendu.
"Terus bagaimana? Mas ikut bingung Mel." Iyan duduk di motornya sambil menatap Melati.
Melati menggeleng pelan.
"Kenapa belum berangkat juga." Adi keluar dan mengunci dealer.
"Bingung." Iyan yang menjawab, mata hitam pekatnya tak henti menatap wajah Melati.
"Jangan kebanyakan mikir. Kita ke rumahmu sama-sama." Adi memakai helmnya dan menghidupkan sepeda motor lebih dulu.
Iyan tersenyum lebar, merasa lebih baik kalau Adi ikut bersama mereka.
"Nanti kalau Ibumu menahan, aku yang mengahadapi." Adi berkata lagi.
"Kau hadapi calon ibu mertuaku, aku yang akan membawa pergi anaknya." ucap Iyan membuat kesal sahabatnya.
"Aku juga mertuamu!" Adi menunjuk dirinya sendiri.
Melati terkekeh geli bersama Iyan, mereka berangkat bersama ke rumah Melati.
Tiba di rumah sederhana itu, Melati turun dari motor Iyan, melihat keadaan tak sebersih biasanya, banyak daun kering tak di sapu, padahal baru dua hari Melati menginap di rumah Aryo.
Melati menoleh Iyan sejenak, hingga pemuda tampan itu mengangguk, agar Melati yakin masuk ke rumah itu.
"Assalamualaikum Ibu." Melati memanggil Ibu Nur, melihat ke dalam rumah, sepi.
Iyan ikut menemani bersama Adi juga di belakangnya. Pintunya tidak dikunci tapi sepertinya tak ada siapa-siapa.
__ADS_1
"Mas." Melati memeluk lengan Iyan, merasa aneh dengan suasana rumahnya.
"Tidak ada apa-apa, mungkin ibu di luar Sayang." Iyan mengelus tangan Melati.
"Kok suasana rumah jadi berbeda ya." Melati masuk ke dalam melihat dapur dan kamar Ibunya. Dan semakin terkejut ketika melihat kamar Ibu yang berantakan, pakaian kotor berserakan dan sepertinya tak pernah sholat. Alat sholatnya tergeletak di bawah ranjang. Melati keluar dan kembali menghampiri Adi dan Iyan.
"Ibu tidak ada Paman." Melati berbicara kepada Adi.
"Biar aku lihat ke sebelah, mungkin Ibumu ada di rumah Mbak yu Tuti." Adi bergegas keluar.
Iyan meraih tubuh ramping Melati, mendekatkannya dan memeluknya sejenak. Iyan merasa jika Ibu Nur sedang tidak baik-baik saja.
"Mas, aku khawatir. Ibu tidak pernah seperti ini." Melati menunjuk rumah yang tidak rapi.
"Aku tahu." Iyan kembali memeluk dan mengelus kepalanya.
Melati mengajak Iyan duduk di kursi sederhana, menunggu Adi yang beberapa menit tapi belum juga kembali.
"Mel, Mas mau bicara serius." Iyan menggenggam tangan Melati dan menatap wajah cantiknya.
"Bicara apa Mas?" Melati selalu terlihat manja dan penuh harap jika berbicara kepada Iyan.
"Aku bersedia Mas, aku hanya sedang khawatir dengan Ibu." jawab Melati.
"Walaupun tanpa Ibu?" desak Iyan lagi, membuat Melati sedikit terkejut.
"Ibu masih ada Mas, mengapa bisa tanpa Ibu?" tanya Melati sedikit tersinggung.
"Aku tidak tahu apa yang bisa terjadi nanti Mel, hanya aku tidak mau kehilanganmu. Apapun yang terjadi aku ingin kita menikah, kau menjadi istriku dan hanya milikku." ucap Iyan lagi dengan wajah serius, meyakinkan Melati.
Melati tertegun menatap wajah Iyan yang selalu membuatnya rindu. Ada kelembutan di sana, kasih sayang juga ketulusan yang sudah terbukti benar adanya.
"Sayang, apakah mau jadi istriku?" tanya Iyan lagi lebih lembut.
Melati kembali meleleh di buatnya, untuk kesekian kali Iyan mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Melati istrinya.
Merasa Melati masih ragu menjawab, Iyan menarik wajah Melati dan mengecup pipinya sedikit. "Kita menikah ya?" ucapnya lagi.
Melati mengangguk bahagia, memeluk Iyan dengan erat sekali. "Mau Mas." jawab Melati merengek dalam pelukan Iyan.
__ADS_1
Pemuda itu tersenyum senang, ia tidak akan membuang waktu lagi kali ini. Membiarkan Melati memeluk dirinya dengan manja, sementara matanya menatap keluar menerawang jauh.
"Mas." Melati memanggilnya, mendongak wajah Iyan yang tampak melamun.
"Hem." Iyan menunduk, melihat wajah cantik di dadanya.
"Mas mikir apa?" tanya Melati sedikit memberi jarak.
Iyan menarik nafas dalam-dalam, mengelus rambut panjang Melati dengan penuh kasih sayang. "Mas cuma mikir bagaimana nanti setelah kamu menjadi istriku. Masih pacaran saja kamu manja begini." Iyan tidak bicara sesungguhnya, berbeda dengan apa yang baru saja dia pikirkan.
"Mas tidak suka?" tanya Melati mengerucutkan bibirnya.
Iyan tertawa sedikit, menikmati wajah cantik Melati yang merajuk. "Suka Sayang. Kalau tidak suka Mas tidak akan ada di sini. aku sudah tidak sabar memilikimu, memelukmu setiap waktu, siang malam tanpa takut ada setan diantara kita." Iyan mencolek hidung mancung Melati.
"Berarti sekarang ada setan Mas?" Melati membulatkan matanya.
"Iya." Iyan tertawa gemas.
"Kalau digosipkan seperti ini setannya pasti tegang." Melati berbicara dengan wajah polosnya.
"Bukan tegang lagi Sayang, tapi sudah bengkak." jawab Iyan terkekeh menggoda Melati.
"Apa sih Mas?" Melati tidak mengerti maksud Iyan.
Sementara pemuda itu semakin terkekeh dan memeluk gemas Melati, menciumi pundaknya.
Di luar terdengar suara Adi berbicara kepada Ibunya Melati, sepertinya Adi berhasil menemukan Ibu Nur dan membawanya pulang.
"Ibu Mas." Melati memiringkan kepalanya melihat pintu. Sementara Iyan membenarkan posisi duduknya berjarak dengan Melati.
"Nanti bicara pelan-pelan sama Ibu ya." Iyan mengusap kepala Melati sedikit.
Melati mengangguk mengerti, sikapnya selalu membuat Iyan gemas dan semakin sayang. Iyan jadi berpikir jika wajar saja Arka sampai menggila di buatnya.
"Melati." Ibu masuk dan langsung mendekati Melati, ia menangis dengan sangat menyedihkan. Wajahnya pucat, bajunya tidak rapi, tangannya terasa dingin di bagian ujung-ujung jari.
"Ibu sakit?" tanya Melati pelan, seperti kata Iyan harus berbicara pelan.
"Ibu mikirin kamu Mel, kamu malah ke rumah Aryo." ucapnya terlihat lemas dan tak berhenti mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Melati baik-baik saja, mengapa harus dipikirkan?" ucap Melati. "Ibu juga jangan terus menangis, karena air mata juga mengurangi tenaga, lihat ibu kurus dan lemas." bujuk Melati lagi, memeluk ibunya.