Main Dukun

Main Dukun
Bagaimana jika benar?


__ADS_3

"Apakah kita pernah bertemu?" tanya Melati memberanikan diri ketika mereka sudah melewati hutan, tangan pemuda itu memeluk pinggang Melati dengan sangat pas sekali.


Pemuda itu tersenyum sedikit, lalu menunduk wajah Melati, menatap mesra dan lembut. Dia tidak menjawab.


Jika di tanya dia tak mau, tapi wajahnya terlihat sangat menyayangi Melati.


Rembulan terlihat terang, di setengah perjalanan mereka berjalan kaki, pemuda itu terus menggenggam tangan kecil Melati. Matanya menatap ke depan, tapi sekali Melati memandangnya pemuda itu juga membalas pandangan Melati, dia menoleh dan tersenyum sedikit.


"Terimakasih." ucap Melati singkat, dia tidak ingin berkata apa-apa.


Pemuda itu berhenti sejenak, dia menghadap Melati dan meraih kedua tangannya. Wajahnya mendekat dan mengecup sudut bibir Melati, dia berbicara.


"Bangunlah!"


Dengan setia Iyan memegangi tangan Melati, wajahnya bersembunyi di antara bahu dan telinga Melati. Dapat dipastikan dia sudah di posisi itu lumayan lama.


"Mas!" ucapan yang keluar dari bibir mungil Melati, terdengar hingga ke telinga Iyan.


Perlahan Iyan bangun dan melihat Melati, wajahnya kusut tapi tidak tidur. "Akhirnya kau bisa bangun Mel?" ucapnya pelan.


"Mas Iyan kenapa?" tanya Melati berusaha beralih posisi, memiringkan tubuhnya menghadap Iyan.


"Mas takut kamu tidak bangun, tadi Mas Iyan panggil kamu tidak bangun-bangun." Iyan menggenggam tangan Melati dan mengecupnya.


"Bagaimana Yan?" tanya Adi juga Bule Tuti ikut masuk ke dalam kamar setelah mendengar suara Melati.


"Alhamdulillah bangun Bule." jawab Iyan menoleh kedua orang itu.


"Alhamdulillah, hampir saja." Bule mengelus dadanya sendiri.


"Hampir saja apa Mas?" tanya Melati menatap wajah Iyan dengan bingung.


"Kamu tidak bisa bangun tadi." jelas Iyan tersenyum, memberikan minum yang sudah di siapkan Bule Tuti kepada Melati.


"Makasih Mas." Melati berusaha bangun untuk minum lebih banyak. "Tubuhku sakit semua." ungkap Melati sedikit meringis memijat punggungnya sendiri.


"Kasih minyak angin ya?" Iyan memberikan minyak angin kepada Melati.


Sedangkan Adi sudah bisa bernafas lega, pria tambun itu kembali ke ruang tamu, dia sudah sangat mengantuk, sejak sore belum tidur sama sekali.


Melati mengambilnya, sedikit menggosok pundak dan tengkuknya dengan minyak tersebut.

__ADS_1


"Tadi aku bermimpi Mas, di kejar dua orang raksasa yang menyeramkan. Aku ketakutan." Melati menatap Iyan dengan rasa takut masih tersisa.


"Terus?" tanya Iyan menyibak rambut Melati yang menghalangi wajahnya.


"Rasanya seperti nyata, mereka memukul aku, pegal dan sakit." Melati masih menggosok punggungnya.


"Jangan-jangan itu benar Mel, kan tadi tidak bisa bangun." Bule Tuti menyahut, dia masih setia berdiri di ujung ranjang Melati.


"Entahlah Bule." Melati sedikit meringis.


"Biar Bule pijat sebentar." Bule mendekati Melati.


"Aku benar-benar lelah Mas." Melati merengek dan semakin menggenggam tangan Iyan.


"Ya, tapi tidak boleh kembali tidur, nanti setelah jam tiga saja."


"Apa?" Melati mendongak jam didinding kamarnya. Masih pukul 00:00.


"Mas temenin kamu." Iyan tersenyum manis, tentu dia juga mengantuk, bahkan belum tidur sama sekali.


"Gantian nanti." Bule sudah selesai memijat Melati.


"Bule tidurlah sebentar, nanti Iyan bangunkan kalau sudah pukul dua." ucap Iyan lagi.


"Iya Bule." Iyan dan Melati menjawab bersamaan.


"Mas tidak mengantuk?" tanya Melati kembali menatap wajah Iyan.


"Mas bisa tahan, asal bersamamu, jangankan hanya setengah malam, sampai pagi juga aku akan siap menemanimu." Iyan tersenyum menggoda Melati.


"Aku tidak yakin." Melati balas menggoda Iyan dengan senyuman manja miliknya.


"Nanti kamu akan kewalahan." Iyan tertawa melanjutkan godaannya, mendekatkan wajahnya dengan Melati.


"Tidak percaya." Melati sengaja membuat Iyan gemas berbicara dengannya.


"Harus percaya Sayang." Iyan mengelus kepala Melati, dia sungguh menyayangi gadis itu.


"Aku sangat menyayangimu Mas." Melati meraih meraih lengan Iyan untuk saat ini duduk berdua di ranjang Melati.


"Aku lebih daripada itu, hanya Melati tidak tahu." jawab Iyan terdengar tulus.

__ADS_1


"Aku tahu Mas, dan aku sangat takut kehilanganmu. Wajar saja jika Ibu bilang aku sedang terkena pelet darimu, aku takut sekali jauh darimu Mas." ungkap Melati dengan mata sendu.


"Bagaimana kalau benar aku memeletmu?" ucap Iyan dekat sekali dengan wajah Melati, matanya menatap sangat mesra, bagai menyalurkan keinginan untuk lebih dari sekedar berdekatan seperti saat ini.


Melati membalas pandangan Iyan, matanya menembus sangat dalam. "Aku rasa itu lebih baik, buatlah aku selalu jatuh cinta padamu Mas. Jangan lepaskan aku walau sebentar saja, buat aku tak mau jauh darimu. Karena sudah pasti aku tidak akan mampu jika tanpa dirimu. Buat aku seperti yang kau mau, asal jangan menyakiti hatiku." jawab Melati terdengar tulus dan pasrah.


Iyan memeluk Melati, tak begitu erat namun menghangatkan. "Maaf." ucapnya pelan.


Melati melonggarkan pelukan Iyan, dia mendongak wajah tampan itu lagi. "Maaf buat apa Mas?"


"Aku benar-benar melakukannya."


Ucapan Iyan membuat Melati terkejut, dia tidak menyangka Iyan akan berkata seperti itu.


"Bagaimana?" tanya Iyan menatap Melati lembut, tak ada kekhawatiran di wajahnya, hanya dia butuh jawaban.


Melati masih tak habis terkejut, ternyata dugaan ibunya benar, dugaan Arka benar! Dia tampak berpikir hingga beberapa saat dia masih tak tahu harus bicara apa.


"Sayang." panggil Iyan menyadarkan Melati, membuat matanya berkedip dan menatap wajah Iyan lagi.


"Mas hanya bercanda." ucap Melati tersenyum sedikit, masih tak mengalihkan pandangannya di wajah Iyan.


"Tidak." jawab Iyan lagi.


Melati semakin tak percaya. Mata indahnya tak mau berpaling, menelusuri wajah Iyan sedikit demi sedikit tanpa terlewatkan.


"Aku sungguh menyayangimu, sangat." ucap Iyan lagi, lembut dan mesra sekali.


Melati masih membisu.


"Mas sangat menyayangi Melati." ulangnya ingin Melati menjawab.


Air mata Melati keluar perlahan, bibir merahnya bergerak-gerak menahan tangis yang hebat.


"Tapi, Mas masih ingin kamu menjadi istriku, membangun rumah tangga dan memiliki anak-anak yang lucu, cantik dan tampan sepertimu." Iyan mengelus pipi Melati, mengusap air mata yang jatuh perlahan.


"Mengapa harus pakai hal seperti itu?" tanya Melati dengan tangisan yang membuat bibirnya menciut.


"Karena aku terlalu mencintaimu, aku tidak rela Arka mempermainkan mu selamanya. Aku ingin memilikimu sejak lama, dan ku rasa aku memang salah merebut mu dari Arka. Mas bersalah, tak hanya kepada Arka, tapi padamu, juga Ibu. Mas minta maaf, sungguh Mas minta maaf." ucap Iyan memohon, kali ini wajah tampannya menampakkan kekhawatiran dan sendu.


"Sekarang bagaimana?" tanya Melati masih tak bergerak, hanya melihat dan berbicara.

__ADS_1


"Mas hanya tak ingin menutupi apapun. Dan Mas perlu tahu perasaan sebenarnya calon istriku, tak hanya saling merayu, tapi yang sebenarnya di hatinya aku perlu tahu." Iyan masih tak melepaskan bola mata Melati.


__ADS_2