Main Dukun

Main Dukun
Cari yang lain


__ADS_3

"Dulu Mas pernah nongkrong di sini saat masih kuliah." Iyan menunjuk sebuah bangku tempat banyak orang menunggu istri atau ibu-ibu yang sedang belanja.


"Ngapain?" tanya Melati menatap Iyan sambil menyusuri jalan di pasar tersebut.


"Mas mengantar Ibu, tapi tidak sengaja lihat kamu." ungkap Iyan mengenang masa dulu.


"Aku Mas?" tanya Melati mencoba mengingat tapi sepertinya dia benar-benar lupa.


"Hem, waktu itu kamu membeli buah jeruk di sana, bersama Arka." Iyan menunjuk tempat biasa mobil buah-buahan terparkir jika pagi hingga pukul empat.


Melati menatap Iyan lagi, membayangkan bagaimana dirinya saat itu.


"Kamu cantik sekali, malamnya Mas sampai tidak bisa tidur memikirkan kamu." Iyan mengeratkan rangkulan tangannya di bahu Melati.


"Apakah aku tidak melihatmu Mas?" tanya Melati sedikit tertawa.


"Tidak. Mas tidak di lirik samasekali." Iyan tersenyum melirik Melati.


Melati kembali tertawa, membayangkan bagaimana dirinya dan Iyan saat itu.


"Mas jatuh cinta sama pacar orang, terus kembali kuliah dan mencoba melupakan. Eh, taunya tidak pernah lupa sampai akhirnya bertemu lagi."


Iyan melanjutkan ceritanya sambil melangkah menuju toko pakaian.


"Dan menjadi istri Mas." Melati mendongak wajah Iyan dengan senyum bahagia.


"Ya, Melati yang cantik menjadi milikku." Iyan menggodanya sedikit.


Sungguh Melati bahagia menjadi istri Iyan Rahendra. Pria sederhana memiliki cinta yang luar biasa, ditambah lagi tampan dan tidak segan berkorban. Rasanya dunia sedang menjadi milik Melati dan Iyan saat ini.


...***...


Sedangkan di tempat lain, Arka sedang melamun memikirkan Melati, dengan tas ransel di punggungnya Arka beristirahat dari perjalanan menuju rumah Ki Arjuno.


"Tak ku sangka kamu tega meninggalkan aku Mel." lirihnya menatap rumput yang gersang di pinggir jalan menanjak.


"Harusnya kamu berpikir lagi dengan hubungan kita yang sudah lama. Masak iya kamu tidak tahu isi hatiku yang teramat sangat mencintaimu di bandingkan Iyan yang baru kamu kenal." Arka terus saja berbicara sendiri.


"Aku harus kemana?" Arka menatap bingung persimpangan jalan di depan sana.


Dia pernah mendengar jika di arah berbeda ada seorang dukun wanita yang terkenal dengan ilmu pengasihan yang manjur.


Arka kembali berpikir, teringat jika Aki Juno selama ini selalu setia mendengarkan apa yang diinginkan Arka.

__ADS_1


"Sebaiknya aku bertemu Aki terlebih dahulu. Baru setelahnya aku meminta pendapat dan pergi ke rumah dukun wanita itu. Aku yakin Aki juga tak akan membiarkan aku kalah, terlebih lagi dulu dia sudah kalah dengan saingannya."


Arka kembali bersemangat, meraih ransel yang sudah melonggar di bahunya dan bersiap melanjutkan perjalanan.


Satu jam kemudian.


"Apa tidak ada gadis lain yang bisa kamu jadikan kekasih atau istri?" kesal Aki Juno pada muridnya yang sedikit bodoh itu.


"Tidak ada Ki, hanya Melati." jawab Arka menyandar dengan wajah di tekuk.


"Dia sudah menikah Arka, bahkan kau hampir menghabisi nyawa siangan mu, tapi tak bisa mencegah pernikahan mereka! Artinya kalian tak jodoh."


"Tidak! Aku tidak terima dengan kecurangan mereka, Melati ingkar janji padaku. Harusnya aku langsung saja membunuhnya malam itu." jawab Arka masih diliputi kekesalan.


"Tapi sekarang sudah berbeda. Aku yakin sekali malam itu Dimas Mahendra ada di sana, dia tidak muncul karena melihat anaknya tidak kau habisi. Coba kau pukul sekali lagi, aku jamin nyawamu yang melayang."


Arka menoleh Aki Juno. Berpikir jika apa yang dikatakan Aki Juno ada benarnya.


Malam itu Melati sangat memohon pada Arka untuk tidak menghabisi Iyan.


Arka mengusap wajahnya berkali-kali.


"Dimas Mahendra tidak akan diam saja Arka, aku yakin sekarang dia tak akan jauh dari Iyan putranya. Hanya dia tidak mau menampakkan diri sebelum waktunya."


"Kalau nyawa anaknya terancam, atau cucunya terancam."


"Cucu?" Arka bertanya sekaligus membentak Aki Juno gurunya.


"Ya." jawab Aki tersebut mengangguk.


"Mereka baru menikah satu malam Ki! Bagaimana mungkin sudah membuat Cucu." kesal Arka.


"Baru semalam tapi langsung jadi, bulan depan satu bulan. Memangnya kamu? Bercocok tanam berpuluh-puluh kali tapi tidak jadi-jadi?" kesal Aki Juno memarahi Arka.


"Aki!" Kesal Arka berteriak.


"Takdirnya sudah begitu. Makanya aku menasehati mu untuk mencari yang lain." Aki Juno berdiri dari duduknya.


"Aki bisa membaca masa depan Melati, lalu bagaimana masa depanku?" tanya Arka membuat pria tua itu menoleh.


"Aku tidak bisa, jin peliharaan ku yang bisa. Dia mencuri informasi katanya, tidak tahu benar apa tidak!" jawab Aki melanjutkan langkahnya menuju meja mengambil cerutu.


"Kalau tidak benar berarti aku tidak harus percaya pada kehamilan Melati, aku berharap mereka belum memiliki keturunan dan aku akan mengambilnya." geram Arka.

__ADS_1


"Tapi sepertinya benar, aku yakin." Aki Juno kembali duduk menghidupkan cerutu khusus miliknya.


Arka menarik nafas kesal.


"Ternyata pergi ke sini hanya menambah kekesalan di hatiku. Aki tak punya solusi!" gerutu Arka meraih batal dan tidur di tikar sederhana itu.


"Memangnya kamu mau apa?" tanya Aki melirik Arka.


"Aku mau Melati kembali mengingatku, dan tidak bahagia bersama Iyan. Aku mendengar jika di persimpangan jalan sana ada seorang wanita tua yang miliki ilmu pengasih yang hebat." Arka menoleh Aki Juno.


Aki tersenyum tipis, "Dia temanku." jawabnya kemudian.


Arka segera bangun dari tidurnya, duduk mendekat dengan Aki Juno.


"Lalu bagaimana jika aku bertemu dengannya Ki?" tanya Arka bersemangat.


"Syaratnya bikin mual, aku tidak yakin kamu bakalan bisa." jawab Aki lagi tersenyum sinis.


"Apa?" tanya Arka begitu penasaran.


Aki Juno tersenyum penuh arti, seraya membisikkan sesuatu yang membuat Arka membulatkan matanya.


"Tapi Melati sangat cantik Ki." ucapnya lemas.


"Terserah padamu." jawab Aki Juno tak peduli.


Arka kembali tidur menelentang di malam itu, membayangkan bagaimana dulu terasa sangat indah malam yang dingin dan sepi sempat ia habiskan bersama Melati.


Lalu harus terluka ketika mengingat saat ini Iyan sedang bersamanya, pastilah laki-laki itu sedang asyik bermain-main dengan Melati yang cantik.


Benar saja, di rumah itu keduanya baru aja selesai sholat berdua, sedangkan Ibu baru saja dijemput Aryo dan Bule Astri untuk ikut pengajian dirumahnya bersama ustadz Ahmad.


"Kita hanya berdua." Iyan memeluk Melati dari belakang ketika gadis itu melepas mukenanya dan melipat di atas meja.


"Iya, memang apa bedanya jika hanya berdua?" tanya Melati menggoda Iyan yang sedang menikmati aroma wangi rambut Melati.


"Tentu berbeda, Mas bisa leluasa membuat kamu menjerit dan berteriak." Iyan membalas godaan Melati.


"Berarti yang semalam belum seberapa?" tanya Melati bergidik ngeri.


"Belum." Iyan mulai bergerak nakal di sela tawa dan canda bahagia.


"Besok aku harus bekerja Mas." Melati menahan dada Iyan.

__ADS_1


"Berhenti saja ya, Mas tidak yakin bisa menahan diri." jawab Iyan terkekeh geli, melihat kekhawatiran di wajah cantik Melati.


__ADS_2