
Pagi hari yang cerah, diantara hembusan angin yang perlahan juga terdengar suara burung berkicau. Suasana pedesaan yang khas, terasa memanjakan telinga ketika bangun dan menarik nafas lega, udara sejuk menelusup diantara celah jendela.
Indah rasanya, terlebih lagi ada sosok wanita cantik yang masih terpejam dengan nafas teratur. jari lentiknya masih tertahan di atas dada Iyan, sisa pelukan sebelum ia tertidur nyenyak.
Bibirnya mungil dengan garis membelah di bagian tengahnya terlihat seksi dan memanggil ketika terlalu lama memandangnya.
Cup
Iyan mengecupnya sekilas, meraih dan menggenggam jari lentik yang terlihat menggemaskan. Memeluknya erat, menyibak rambut lurusnya yang menghalangi sebagian kening halus Melati.
"Hemm." tubuh indahnya menggeliat merasa terganggu oleh sentuhan sang suami.
Iyan tersenyum memandangi istrinya terlihat enggan membuka mata. Lelah, tentu karena dirinya yang membuat Melati lelah.
"Bangun Sayang." bisik Iyan sambil bergerak nakal mengecup pipinya.
"Hemmm Mas."
Melati kembali menggeliat, tangannya terangkat ke atas kepala lalu memeluk Iyan.
"Kalau begini Mas jadi ikutan malas bangun." Iyan memeluknya begitu erat, menyalurkan kehangatan dan kasih sayang yang besar.
"Capek Mas, pegal." Melati merengek manja di dalam pelukan Iyan, matanya kembali terpejam dan menyembunyikan wajahnya di leher Iyan.
"Mas pijat mau?" tawar Iyan seraya mengelus punggung halus Melat.
"Mau Mas." jawabnya masih terdengar merengek.
Iyan mulai memijat punggung Melati, sesekali kecupan hangat menghampiri wajah dan telinga Melati yang terlihat nyaman di dadanya.
"Mas." panggilnya halus.
"Hem. Ada apa Sayang?" Iyan tak merubah posisinya.
"Terimakasih sudah menjadi suami terbaik untukku, aku berharap bisa membahagiakanmu sampai ajal menjemput."
Melati mendongak wajah tampan Iyan, menyentuh pipinya dan menekan pipi sebelah kanan yang selalu menarik ketika tersenyum.
"Justru aku yang berterimakasih banyak sama kamu, sudah bersedia menikah denganku, mewujudkan impian dan khayalan saat masih bujangan. Mas sering membayangkan memeluk kamu seperti ini." Iyan terkekeh geli, merasa konyol dengan dirinya sendiri.
"Aku bahagia menjadi istrimu Mas." ucap Melati lagi.
Iyan menunduk melonggarkan sedikit pelukannya agar bisa menatap wajah Melati.
"Tentu aku lebih bahagia memilikimu. Istri yang cantik, baik, penurut, dan membuat bahagia." Iyan tersenyum manis dan memujinya.
"Kalau aku memiliki kekurangan, Mas bilang saja agar aku bisa memperbaikinya." ucap Melati menatap Iyan sendu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Iyan mengelus wajah Melati.
"Aku takut kehilanganmu Mas, aku yakin ada banyak gadis di luar sana yang menyukaimu. Bahkan mungkin lebih segala-galanya dari pada aku." ucapnya terdengar sedih.
Iyan tersenyum penuh haru, sungguh dia juga sangat bahagia mendengar ungkapan hati Melati.
"Buktinya aku di sini, berada dalam selimut yang sama dan memeluk tubuh indah istriku yang bernama Melati. Apa perlu diingatkan bagaimana Mas berjuang mendapatkan kamu? Itu berat Sayang." Iyan menyentuh hidung Melati yang meruncing. "Kalau sampai Mas meninggal malam itu, sudah pasti saat ini Arka yang ada di sini."
"Aku tidak mau." Melati memeluk Iyan lagi, semakin erat dan manja.
"Mas juga tidak rela."
Begitu indahnya setiap pagi terlewati dengan kemesraan, memberi ketenangan dan kenyamanan pada jiwa masing-masing ketika suatu hubungan sudah sah dalam ikatan halal. Tidak takut ketahuan ketika bermesraan, tidak takut dosa ketika menyentuh semuanya, tidak takut ditinggalkan, tidak takut kehilangan...
"Pengantin baru sudah masuk bekerja." Adi menggoda Iyan dan Melati.
"Bosan di rumah katanya." jawab Iyan dengan senyum mengembang.
"Bosan apa takut suamimu di gaet orang?" gurau Adi lagi.
"Dua-duanya Paman." jawab Melati duduk di mejanya.
Iyan hanya terkekeh mendengar jawaban dari istrinya, ternyata Melati bisa cemburu juga.
"Tenang, pegawai baru orangnya biasa saja, tidak lebih cantik dari kamu." jawab Adi pada Melati sambil terkekeh kecil.
"Berapa orang?" tanya Melati tampak serius.
"Oh." Melati tidak terlalu tertarik dengan obrolan mereka, apalagi sudah menyebut nama Arka.
"Kita bakalan ramai." Iyan menyahut sambil merapikan mejanya.
"Iya, lagi pula dari pusat sudah mengizinkan mencari pegawai baru, hitung-hitung meringankan pekerjaan kalian berdua." Adi meriah kopi dan minum sedikit.
"Tapi bukan mau pecat Melati kan?" tanya Melati pelan.
"Uhuk...uhuk..."
Adi langsung tersedak hebat, bahkan beberapa lembar kertas di mejanya terkena cipratan kopi.
"Minum." Iyan memberikan botol air mineral miliknya.
"Asem." ucap Adi merutuk'i dirinya sendiri.
Sementara Melati menatap curiga pada dua laki-laki tersebut.
"Aku tidak mau berhenti." ucap Melati mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Siapa yang mau berhentiin kamu?" Adi melirik Melati.
"Mas!" Melati memanggil Iyan dengan nada merajuk.
Iyan jadi serba salah rencananya diketahui Melati sebelum waktunya.
"Iya, masih boleh bekerja kok untuk sekarang." jawab Iyan membujuknya.
"Sekarang bagaimana?" kesal Melati lagi.
Iyan menarik nafas dalam, mengusap rambutnya menoleh Adi.
"Gak ikut-ikutan." jawab Adi tahu maksud Iyan meminta pertolongan.
"Tu kan?" Melati semakin merajuk.
"Mas cuma tidak mau kamu kelelahan nantinya, tidak ada maksud lain Sayang. Biar Mas saja yang cari uang buat kamu." bujuk Iyan lembut.
"Tapi Mas, aku masih suka bekerja. Lagi pula aku masih punya Ibu yang_"
"Ya, masih boleh bekerja tapi tidak untuk selamanya. Akan ada waktunya nanti Mas larang kamu." Iyan masih membujuknya.
"Lagian gaji kamu cuma satu juta, mending duduk dirumah." Adi ikut menyahuti.
"Kan lumayan, masa mau di bebankan sama Mas Iyan semuanya." Melati masih protes.
"Ih bocah!" Adi jadi gemas sendiri dengan keponakannya.
Iyan terkekeh mendengarkan dua Paman dan keponakan itu berdebat.
"Bocah apa?" kesal Melati lagi.
"Kamu itu polos apa bodoh, suamimu banyak duitnya! Ya kamu manfaatkan saja dia, habisin sana habisin tidak perlu capek-capek bekerja! Orang disuruh santai malah ngotot." Adi mengomeli Melati.
"Mas!" Melati kesal karena Iyan diam saja.
"Mas harus bilang apa?" tanya Iyan semakin membuat jengkel keduanya.
"Karepmu (Terserah kamu)"ucap Adi, melangkah keluar meninggalkan Iyan dan Melati.
Melati masih menekuk wajahnya, tak mau menatap Iyan.
"Mas tidak melarang kok." Iyan mendekati Melati dan mulai merayunya.
"Tapi ingin Melati berhenti." jawabnya masih merajuk.
"Ya, karena Mas tidak mau kamu capek. Apalagi nanti setelah kamu hamil anak Mas, anak kita."
__ADS_1
Iyan membujuknya lagi, pelan dan lembut. Iyan mengusap pipi halus Melati, memintanya menatap Iyan.
"Mas bekerja disini karena Mas tidak tahu kalau Mas punya banyak aset pemberian ayah kandungku. Dan bertahan hingga saat ini karena ingin mendekati kamu Mel." ucap Iyan masih membelai wajah Melati. "Dan sekarang Mas sudah mendapatkan kamu."