Main Dukun

Main Dukun
Kangen


__ADS_3

"Hemh." Iyan tersenyum. "Tidak ada Mas." jawab Iyan lagi.


"Jangan bohong, kamu tahu kalau aku punya feeling sangat kuat dari dulu." ucap Angga tertawa sedikit.


Iyan menarik nafas, tentu dia tahu jika kakaknya memiliki firasat yang kuat, hanya dia tak mau terlarut dalam prasangka.


"Sainganmu?" tanya Angga lagi.


"Kayaknya." jawab Iyan tak bisa menjelaskan apa-apa.


"Itu darah segar Yan, hanya ilmu hitam yang bisa melakukan itu." Angga menunjuk lap di dalam keranjang pakaian kotor.


Iyan bangun dan duduk menghadap kakaknya, sepertinya dia ingin berbicara serius.


"Mas, sebenarnya tadi sore itu aku sempat bertengkar dengan seseorang. Dia marah sekali sama aku, dan tentunya juga benci." Iyan bercerita.


"Terus?" tanya Angga lagi.


"Wanita yang akan ku nikahi itu punya pacar sudah sangat lama. Beberapa waktu lalu aku mencoba mengutarakan keinginanku untuk melamar, dan ternyata di terima." jelas Iyan sedikit serba salah, karena dia memang salah merebut Melati dari Arka.


"Siapa pacarnya?" tanya Angga semakin penasaran.


"Arka, anaknya kepala sekolah." jawab Iyan masih posisi duduk lemas.


"Kamu yang menggangu mereka, ya harus terima akibatnya." Angga menggeleng.


"Tapi Melatinya mau Mas, aku sudah lama sekali ingin mendekatinya, takut ditolak. Dan tidak menyangka akhirnya aku bekerja di Dealer itu, dia pun bekerja di sana setelah satu bulan aku bekerja. Aku semakin tidak tahan hingga akhirnya aku melamar, dan sekarang dia sudah mencintai aku."


"Kamu, tidak pernah pacaran, sekalinya pacaran malah mengambil punya orang. Yang punya marah ini, terus kamu bisa apa?" Angga meninju pelan bahu adiknya.


"Ya aku bisa menikahinya." jawab Iyan membuat Angga tertawa.


"Jadi penasaran." Angga melirik ponsel Iyan.


"Jangan Mas, nanti naksir terus nikung aku." Iyan meraih ponselnya.


"Asem!" Angga terkekeh, tapi sangat yakin jika orang yang akan di nikahi adiknya adalah gadis yang cantik.


"Aku akan tetap menikahinya Mas."


Angga menarik nafas melihat kesungguhan di wajah adiknya. "Mas tidak yakin."


"Kenapa bisa tidak yakin, kan dia sudah mau?" Iyan tak suka mendengar ungkapan kakaknya.


"Keadaannya terlalu rumit, dia tidak akan melepaskan calon istrimu itu begitu saja." saling bertatap, mencari jalan keluar atas kebingungan Iyan.

__ADS_1


Iyan mengusap kasar wajahnya. Yang dikatakan Angga memanglah benar, tapi Iyan bisa apa.


"Baiknya ditunda dulu." ucap Angga lagi, membuat Iyan menoleh cepat.


"Tidak Mas, aku sudah berjanji untuk tetap menikahi Melati apapun yang terjadi." Iyan menggelengkan kepalanya.


"Ya, kita lihat saja nanti." Angga meminta Iyan kembali tidur.


"Temenin ya Mas!" ucapnya sambil meraih selimut menutupi bahunya.


"Minta sama Melati." Angga menggoda adiknya.


Iyan tertawa dan mulai memejamkan mata, sedangkan Angga masih sibuk dengan pikirannya mengenai mimpi buruk aneh yang baru saja dialami adiknya. Kembali melirik ponsel Iyan, Angga benar-benar penasaran dengan wanita bernama Melati.


...***...


Pagi yang cerah itu, Melati sudah bersiap dengan pakaian panjang dan rapi, meskipun tidak memakai kerudung tapi sedikit mengurangi kesan seksi, Melati menurut apa yang di katakan Iyan, memakai pakaian yang di belikan Iyan, hatinya sungguh bahagia melihat model pakaian yang berbeda menempel di tubuhnya, sesekali berkhayal jika pakaian itu mewakili pelukan hangat Iyan padanya. Bibir merah Melati tertarik, dia benar-benar jatuh cinta.


"Bawa bekal Mel?" Ibu Nur menghampiri Melati yang sedang memakai sepatu di pintu.


"Air saja Bu, nanti Melati beli makan di pasar bersama Paman Adi." jawab Melati meraih botol berisi air putih.


"Ya sudah." Ibu membawa kotak makanan itu kembali masuk ke dalam.


"Melati berangkat Bu!" sedikit berteriak.


Berjalan kaki dengan suasana hati bahagia. Ya, karena semalam sempat berduaan dengan Iyan. Selama ini tak pernah terpikir untuk jatuh cinta pada Iyan, tidak pernah membayangkan bagaimana asyiknya bercanda dan tertawa bersama Iyan.


"Mel!" seseorang memanggil bersamaan dengan suara motor berhenti di sampingnya.


Melati menoleh sedikit, tampak Arka sedang memandangi Melati di atas sepeda motornya.


"Mas antar ya?" Arka berkata lembut, berharap Melati akan naik dan menurut seperti biasa.


"Tidak terimakasih Mas Arka, Melati jalan kaki saja." Melati melanjutkan langkahnya.


"Mel." Arka memanggilnya lagi setengah merengek.


Melati tak mau merasa kasihan melihat wajah Arka yang memelas, walaupun cintanya besar tapi besar pula kesombongannya. Apalagi cemburunya yang bikin mengusap dada.


"Mel, dengarkan aku sebentar." Arka menghadang langkah Melati dengan sepeda motor. "Naiklah Mel, aku akan mengantarmu." Arka tak putus asa.


"Mas, kita sudah selesai. Jadi kau tidak perlu repot-repot mengantarku, aku bisa berjalan kaki." jawab Melati.


"Aku tidak mau kau berjalan kaki, bukankah Iyan sudah melamarmu? Lalu mengapa dia tak pernah datang menjemput, membiarkanmu pergi sendiri, dia tidak sebenarnya mencintaimu Mel." Arka mencoba mengatakan kekurangan Iyan.

__ADS_1


"Dia tidak seperti itu Mas Arka." Melati membela Iyan.


"Buktinya seperti itu Mel." Arka meraih tangan Melati dan kembali di tepis olehnya.


"Aku berangkat sendiri Mas, pulanglah."


"Mel, aku tidak akan menyerah sampai kau mau naik dan aku akan mengantarmu." Arka bersikeras.


"Malu Mas!" kesal Melati.


"Aku tidak peduli dengan orang-orang, yang penting aku bisa mengantar dan bersamamu." Arka tak memberi jalan untuk Melati.


"Astaga Mas." Melati menutup wajahnya, banyak orang juga yang lewat dan melihat mereka berdebat di pinggir jalan.


"Aku tidak akan menyerah sampai kau mau." Arka semakin membuat Melati tak punya pilihan.


"Baiklah." Melati menaiki motor Arka, tak ada pilihan pagi ini selain mengikut kemauan Arka. Ya, hanya naik motor, bukan menerima Arka kembali.


Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tiba di depan dealer tempat Melati bekerja. Melati turun tanpa menoleh Arka, pikirannya hanya tertuju kepada Iyan, mana tahu dia sudah ada di dalam.


"Baikan?" tanya Paman Adi langsung melotot.


"Tidak, Mas Arka memaksa jadinya terpaksa." kesal Melati duduk di mejanya, sekilas melihat meja Iyan masih kosong.


Adi tak melanjutkan pertanyaannya, tampak seseorang datang untuk pengajuan motor besar yang nominal uangnya lumayan. Tentu semua kebagian tipsnya nanti, tapi Melati tak begitu senang karena Iyan belum datang.


Melati meraih ponselnya, mungkin mengirim pesan kepada Iyan akan membuat hatinya tidak bertanya-tanya.


"*Mas, kamu dimana?" pesan di kirim.


"Aku di rumah Sayang, sedang tidak enak badan. Maaf ya tidak sempat memberi kabar." balas Iyan.


"Kamu sakit apa Mas?" kembali di kirim.


"Masuk angin mungkin, ini lagi istirahat." balas Iyan lagi.


"Oh." kirim lagi.


"Kok cuma Oh?" balas Iyan.


"Lalu harus bagaimana Mas?" tanya Melati kembali mengirim pesan.


"Kangen." balas Iyan singkat.


"Terus Melati harus bagaimana?" Melati jadi bingung, antara senang dan rindu yang sama.

__ADS_1


"Ke rumah ya, ajak pamanmu." di ikuti emoji memohon*.


__ADS_2