Main Dukun

Main Dukun
Pisahkan Iyan dan Melati


__ADS_3

"Kalau begitu saya pamit pulang, mungkin Melati dan Arka butuh bicara berduaan. Semoga masalah ini cepat terselesaikan." ibu Kartina beranjak dan bersalaman kemudian, begitu juga Arka, mengantarkan ibunya pulang ke rumah.


"Aku akan kembali setelah menghantarkan Mama, kita butuh bicara Mel." Arka berlalu keluar menyusul ibunya.


"Apa tidak salah Nduk, kok ibu merasa tidak enak hati ya?" ibu Nur memegang dadanya.


"Justru selama ini mereka tak pernah merasakan bagaimana perasaan kita Bu, biarkan sekarang mereka kecewa. Gantian!" ucap Melati kesal.


Melati tak beranjak dari duduknya, sengaja menunggu Arka datang dan berbicara sesuai keinginannya. Percuma menghindar karena Arka tidak akan menyerah, lebih baik hadapi semuanya dengan berani.


Beberapa saat kemudian, Arka kembali datang sendirian. Wajah sedikit pucat dengan kening berkerut tak itu sudah biasa Melati saksikan ketika laki-laki itu merasa tak suka atau sedang banyak pikiran.


"Mel!" panggilnya setelah masuk pintu rumah Melati.


"Hem? Apalagi yang akan kita bicarakan Mas, semua sudah jelas bukan?" Melati tak menoleh Arka sama sekali.


"Pikirkan lagi tentang hubungan kita, bukankah ini adalah akhir dari tujuan hubungan kita, menikah adalah impian kita Mel." ucap Arka sedikit memelas.


"Aku tidak tahu jika hubungan ini punya tujuan Mas Arka, bahkan punya impian menikah itu hanyalah aku saja. Kau mana pernah mengerti tentang perasanku yang sangat lelah hanya berpacaran denganmu." Melati menggeleng.


"Tapi Mel, bagaimana dengan semua yang sudah terjadi? Ku rasa Iyan tidak akan mau menerimamu jika dia tahu kau sudah tidak suci lagi." wajah memelas namun ucapannya sombong. Begitulah Arka Wijaya.


"Itu urusanku Mas, kau tak perlu berteriak soal kebodohan yang ku lakukan bersamamu." kesal Melati.


"Tidak Mel, aku yakin Iyan akan menolakmu, Jangan sampai kau hanya dibuat malu setalah menolak ku." ucap Arka lagi, merendahkan sekaligus bujukan.


"Mas Iyan sudah tahu semuanya, Mas Arka tak perlu khawatirkan aku. Lebih baik Mas Arka benahi diri sendiri, semua kelakuanmu itu menjengkelkan Mas. Dan berhenti bersikap seolah hanya kaulah yang paling sempurna di dunia, setiap orang punya kelebihan masing-masing, tidak perlu memperlihatkan kelebihan dengan merendahkan orang lain." Melati beranjak dari duduknya.


"Me!" Arka menarik tangan Melati.

__ADS_1


Melati Menarik tangannya walaupun tak berhasil.


"Maafkan aku Mel, aku akan berubah jika kau tidak menyukai sikapku. Aku janji tidak akan mengecewakanmu asal kau batalkan keputusanmu." mohon Arka dengan duduk bersimpuh memegang tangan Melati.


"Maaf Mas Arka, keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap menerima Mas Iyan apapun yang terjadi." jawab Melati tak peduli dengan wajah memelas Arka.


"Tapi Mel, apakah kau lupa jika hanya aku yang selama ini mencintaimu dengan tulus, selama ini hanya aku yang menerima semua kekurangan dan kelebihan mu Mel."


"Kekurangan yang mana Mas?" marah Melati selalu mendengar kata 'kekuranganmu' dari bibir Arka. "Jika kelebihan memang aku tak punya, tapi kekurangan yang kau maksud selama ini apa? Pendidikanku? Atau karena aku anak orang tidak mampu?" tanya Melati kemudian tersenyum sinis.


"Rendah sekali dirimu hanya menilai aku dari kekurangan, tidak kah sedikit saja kau bisa menghargai aku sebagai wanita yang utuh saat mengenalmu? Dan kau merusak hidupku Mas Arka!"


"Bukan begitu Mel." Arka seperti kehabisan kata-kata kali ini, kemarahan Melati membuat nyalinya menciut, tak di sangka wanita lembut dan selalu sopan itu kini bisa marah juga.


"Pulanglah Mas, meskipun kau menangis di kakiku tak akan merubah apapun. Kita sudah selesai, kau dan aku sudah tak memiliki hubungan apa-apa" Melati meninggalkan Arka masuk ke dalam kamarnya.


Arka tetap mengejar namun Ibu Nur keluar dari dapur dan mencegah Arka. "Biarkan dia tenang dulu, nanti biar ibu yang mengajaknya bicara." Ibu Nur menengahi.


Ibu Nur menatap heran pada kekasih anaknya itu, matanya membulat dengan bibirnya sedikit terbuka.


"Benar Bu, aku sangat yakin." Arka mengulang ucapannya, melihat wajah terkejut Ibu Nur membuatnya memiliki peluang jika Ibunya Melati akan mempercayai ucapannya.


Ibu Nur menoleh kamar Melati, ia seperti sedang berpikir. "Apa iya?" Ibu Nur terpengaruh.


"Aku akan mengobati Melati, aku tidak mau kekasihku di rebut dengan cara licik seperti ini. Aku akan membalasnya." geram Arka menoleh kamar Melati.


"Ya sudah, sekarang Nak Arka pulang dulu. Nanti ibu pikirkan, dan akan mencari solusinya seperti apa." ucap Ibu Nur membuat Arka mengangguk.


"Aku pulang Bu."

__ADS_1


Akhirnya pulang meski tak mendapatkan jawaban memuaskan dari Melati.


Ibu kembali ke dapur dengan wajah masih berpikir keras. 'Opo Iyo Melati di pelet sama Iyan? Tapi si Iyan kan rajin sholat. Masa main pelet-peletan."


Sibuk dengan peralatan dapur, tapi pikirannya kemana-mana.


Sedangkan di rumah Arka, pemuda itu mengambil helm dan jaket kulit miliknya. Dapat dipastikan Arka akan bepergian lumayan jauh. Ya, dia akan mendatangi Aki Arjuno. Laki-laki tua yang di panggil Ki Juno itu adalah tempat mengadu Arka, juga tempat meminta solusi bagi Arka Wijaya.


Lama di perjalanan, hari sudah gelap. Malam itu Arka berencana menginap di rumah Aki tua itu, sekalian ingin mengadukan kekesalannya. Dia tidak suka jika keinginannya tidak terpenuhi, egois, begitulah seorang Arka.


"Aki!" teriaknya belum lagi turun dari sepeda motor miliknya.


Rumah di bawah pohon itu tampak seram di malam hari.


"Aki! Dimana kau!" kesal Arka menerobos pintu dengan kasar.


"Datang malam-malam, mbok ya yang sopan!" Ki Juno duduk bersila di tempat biasa.


"Aku sudah kehilangan kesopanan semenjak kekasihku tidak lagi menurut padaku, dia memutuskan aku, dan memilih laki-laki lain untuk di jadikan suaminya. Aku tidak terima!" bentak Arka pada lelaki tua itu.


"Kau keras kepala Arka, bukankah sudah ku katakan padamu untuk segera melamarnya jika kau ingin dia menjadi milikmu. Kau malah tidak percaya." jawab Ki Juno santai.


"Ki, aku ingin kau melakukan sesuatu. Aku ingin Melati kembali padaku, kali ini aku akan menikahnya." Arka kembali memohon.


"Sulit Arka, dia sudah memilih." jawab Ki Juno menabur kemenyan di perapian kecil itu.


"Tidak Ki, sesulit apapun asal dia kembali. Atau jangan-jangan Iyan menggunakan Pelet?" Arka menatap wajah Ki Juno.


Ki Juno tertawa, menggeleng dengan prasangka-prasangka dari Arka. "Kau ingin bagaimana?" tanya Aki Juno menatap Arka.

__ADS_1


"Pisahkan Iyan dan Melati!"


__ADS_2