Main Dukun

Main Dukun
Menunda Lamaran


__ADS_3

Memainkan ponselnya sambil berpikir. Melati tak pernah datang ke rumah teman laki-laki kecuali di jemput, seperti Arka. Alasan 'malu' membuat Melati enggan datang ke rumah pacarnya sendirian, berbeda jika itu atas permintaan dan di jemput Arka.


"Ada apa Mel?" tanya Adi melihat keponakannya sedikit melamun.


"Itu Mas, eh! Paman!" Melati sampai salah memanggil.


Adi terkekeh mendengarnya.


"Mas Iyan sakit." jawab Melati kemudian dengan malu-malu.


"Oh, sakit apa Mel?" tanya Adi serius.


"Masuk angin katanya, tapi minta Melati ke rumahnya, sama Paman juga." ucap Melati pelan.


"Ya sudah, kita akan ke rumah Iyan nanti, Jam makan siang." Adi setuju.


"Apa tidak malu Paman?" Melati tampak ragu.


"'Kan sama aku!"


Melati mengangguk, walaupun sedikit ragu tapi ia tetap harus ke rumah kekasihnya, keduanya mulai sibuk bekerja, terutama Melati yang hari ini menulis Nota pengeluaran sepeda motor sebanyak 15 unit serentak akan di keluarkan sore nanti, hingga pukul 11:30.


"Kita berangkat Mel?" Adi sudah menutup laptop dan meraih tas pinggang miliknya.


"Iya." Melati membereskan mejanya.


Sedangkan di rumah Iyan, pria itu duduk di kasur lantai menonton Televisi, sesekali melihat layar ponselnya tak ada pesan ataupun panggilan, tentu saja kabar dari Melati yang sedang dia tunggu.


"Assalamualaikum." suara Adi memanggil membuat Iyan tersenyum senang. 'Pasti Adi tidak sendirian.' gumamnya dalam hati.


"Wa'alaikum salam." Ibunya menyahut dari belakang.


"Bu, Iyan ada?" tanya Adi meraih tangan ibu.


"Ada." ibu melirik Melati yang maju juga ingin meraih tangan ibu.


"Bu, maaf kami datang mengganggu." ucapnya lembut dengan ciuman lembut pula di punggung tangan ibu.


"Oh, sama sekali tidak. Ibu senang kamu datang." ibu tersenyum ramah, mata yang sudah mengendur itu berbinar menatap wajah cantik calon menantu. "Mari masuk."


Keduanya masuk mengikut ibunya Iyan, tampak di ruang tengah Iyan memiringkan kepala menunggu Adi dan Melati masuk.


"Duduk Nak!" ibu Iyan mempersilahkan di kursi Jati ruang tengah, namun Adi juga Melati memilih duduk di bawah dekat dengan Iyan.


"Di sini saja Bu, 'kan lagi besuk orang sakit." Adi menggoda sahabatnya, mengundang tawa semua orang termasuk Iyan.


"Sebenarnya Iyan tidak sakit, hanya semalam dia mimpi buruk terus muntah. Ibu khawatir! jadinya hari ini istirahat saja." ucap Ibu sambil membawa beberapa toples makanan ringan.

__ADS_1


"Muntah bagaimana Bu?" tanya Melati tidak tahan untuk tidak bertanya.


"Katanya mimpi buruk, terus pas bangun dia mual dan muntah darah." ucap Ibu sedikit melirik Iyan yang terlihat serba salah.


Melati sangat heran, begitu juga Adi membuat keduanya saling berpandangan.


Adi menoleh Iyan dengan wajah khawatir.


"Aku tidak apa-apa." jawab Iyan mendapat tatapan dari keduanya.


"Apa sudah berobat Bu?" Melati kembali berbicara dengan ibu.


"Sudah, kata dokter tidak ada sakit apa-apa." jawab ibu lagi.


Melati dan juga Adi kembali saling menatap, mereka sama-sama sedang memikirkan sesuatu.


"Ibu bikin minum dulu." ibu beranjak.


"Tidak usah repot-repot Bu, Melati tidak bisa lama-lama." Melati meraih lengan ibu.


"Ah cuma teh." Ibu tetap pergi ke dapur memberi ruang untuk mereka yang muda berbicara.


"Mel." Iyan memanggil Melati yang masih menatap punggung ibunya.


"Iya Mas!" Melati menoleh Iyan.


"Kamu benar muntah darah Mas?" Melati mendekat dengan wajah khawatir.


Iyan mengangguk, sedikit tersenyum memandangi wajah cantik Melati. "Tapi sudah sembuh karena kamu sudah datang." jawabnya sedikit melirik Adi.


"Mas, aku serius!" Melati tak membalas senyuman kekasihnya.


"Itu aneh Yan. Apa sebaiknya kamu berobat konsultasi di pesantren saja." Adi menyarankan.


"Aku sudah sembuh." jawab Iyan yakin.


"Aku khawatir Mas." ucap Melati lagi.


"Sudah, tidak perlu khawatir. Kita akan tetap menikah." Iyan malah menggoda Melati dengan menaik-turunkan alisnya.


Melati hanya bisa menarik nafas, ia tak bisa apa-apa jika Iyan sudah menggoda.


"Mel kamu susul Ibu ke dapur, bilang tak usah repot-repot, kita harus kembali bekerja." Adi menyuruh keponakannya ke dapur.


Melati mengangguk mengerti.


"Kau tidak curiga?" tanya Adi setelah Melati ke dapur.

__ADS_1


"Iya." jawab Iyan dengan wajahnya yang selalu santai.


"Sebaiknya pernikahanmu di undur dulu Yan." saran Adi.


"Melati akan kecewa kalau aku mengundur waktunya, Aku tidak mau dia berpikiran aneh-aneh tentang aku nantinya." Iyan menatap pintu dapur.


"Tapi ini mempertaruhkan kesehatanmu, salah sedikit nyawamu." Adi membuat Iyan berpikir.


"Lalu Melati bagaimana? Jujur saja aku tidak mau kehilangan Melati." Iyan menunduk.


"Kamu pikirkan baik-baik, sementara undur saja kedatangan orang tuamu, Minggu depan. Aku akan berbicara langsung dengan Mbak yu Nur." Adi memberi solusi.


Meskipun Adi ingin Iyan menikah dengan Melati, tapi mengorbankan Iyan juga salah. Tentu dia ingin keponakannya hidup bahagia, bukan pernikahan yang penuh masalah.


Sedangkan di rumah yang lain, Arka sedang membaca pesan dari seseorang. Isinya mengabarkan jika Melati dan Adi datang ke rumah Iyan siang ini. Sudut bibir Iyan tertarik dengan mata menatap nanar ponselnya.


"Ku rasa air pemisah itu akan segera bereaksi. Iyan meninggalkan Melati, dan Melati akan kembali padaku."


...****...


Beberapa hari kemudian.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kita akan menikah secepatnya, lalu mengapa sekarang malah kedatangan orangtuamu diundur Minggu depan?" tanya Melati tak menerima kabar yang di sampaikan Iyan.


"Hanya ada keperluan sedikit Mel, hanya Satu Minggu, itu tidak lama." Iyan meraih tangan Melati dan meyakinkannya.


"Entahlah Mas, ku rasa kau punya alasan lain." Melati merajuk.


"Mel." Iyan menarik tangan Melati agar lebih dekat.


"Bilang saja jika kau menyesal sudah memilih aku." Melati menatap kesal, air matanya lolos begitu saja di hadapan Iyan.


"Mel, Sayang." Iyan semakin merasa bersalah, jujur saja dia tak ingin semuanya di undur tapi keluarga keduanya sepakat untuk menunda sedikit waktu. "Jangan menangis." Iyan mengusap air mata Melati.


"Aku memang bukan gadis yang baik untukmu Mas." ucap Melati dengan terisak sedih.


"Tidak, kau salah paham Sayang." Iyan memegang kedua tangan Melati.


"Melati mengerti Mas." Melati melepaskan tangan Iyan dan meninggalkan keluar.


Dealer yang kebetulan sepi membuat keduanya semakin banyak melamun. Terlebih lagi Melati hanya berdiam di mejanya tanpa menoleh Iyan. Hingga sore hari keduanya masih seperti anak kecil yang sedang bermusuhan.


"Mas antar ya?" Iyan mendekati Melati yang sudah meraih tasnya.


"Tidak usah Mas, Melati bisa pulang sendiri." Melati tak meliriknya sama sekali.


Iyan menarik nafas lelah, dia bingung harus menjelaskan apa pada Melati, salah paham ini membuat kepala Iyan berputar pusing sekali.

__ADS_1


__ADS_2