Main Dukun

Main Dukun
Pernikahan mendadak


__ADS_3

Kali ini Iyan tidak sendirian, berangkat ke rumah Aryo dengan mobil keluarga, membawa beberapa seserahan secukupnya walaupun tidak banyak seperti pada umumnya. Pernikahan yang terburu-buru itu membuat kedua belah pihak keluarga hanya menyiapkan sebisanya.


"Kamu duduk sama Melati di belakang, tutup gordennya. Ibu duduk sama Angga saja. Bapak duduk di tengah sama Adi." Angga mengatur posisi duduk semua orang, sepertinya dia sedang mewanti-wanti kemunculan Arka.


"Iya Mas." Iyan meminta Melati masuk lebih dulu, seperti kata Angga untuk menutup semua gorden termasuk di belakang sopir. Mereka akan berangkat melewati jalan yang berbeda dari jalan biasanya, jalan yang sedikit berliku sehingga memakan waktu lebih lama untuk sampai ke rumah Aryo di desa sebelah.


"Jalannya banyak tikungan." ucap Melati sedikit ngeri, dia mabuk kendaraan.


Iyan meraih tangan Melati dan menggenggamnya. Wajah cantiknya terlihat sempurna saat sudah di make up oleh tetangga yang sudah di bayar Iyan untuk merias Melati. Tentu saja membuat Iyan semakin tak rela jika Melati sampai jatuh ke tangan Arka.


"Tangan kamu dingin Mel." Iyan menggenggamnya erat.


"Gugup ya?" Adi ikut menggoda.


"Kalau bisa jangan ngobrol sebelum sampai ke rumah Paman Aryo." Angga memperingatkan.


Melati menoleh Iyan, hatinya sungguh gelisah dengan peringatan dari Angga.


Hingga sudah memasuki desa, mobil berwarna hitam itu sedikit melambat.


"Ke arah mana?" tanya Angga menoleh persimpangan.


"Ke kanan Mas." Adi menjawab.


Mobil kembali melaju sesuai arahan Adi, hingga sampai di rumah bercat hijau muda.


Semua orang turun di sambut keluarga Aryo sebagai wali dari Melati.


"Semuanya sudah siap, hanya menunggu kalian." Aryo mempersilahkan semuanya masuk, terutama Melati yang sudah di sambut Bule Astri, istri dari Aryo.


Ruangan berukuran 5x5 itu sudah di penuhi banyak orang, mereka semua sudah bersiap sejak beberapa saat yang lalu.


"Bagaimana apakah sudah siap untuk di mulai?" tanya Paman Aryo yang mengerti keadaan Iyan dan Melati.


"Sudah Paman." Iyan menjawab dengan lantang.


"Baiklah, kita akan langsung mulai."

__ADS_1


Diangguki semua orang yang hadir, Iyan dan Aryo berhadapan dengan tangan sudah siap saling berjabat.


Ijab Kabul itu terdengar lantang didalam ruangan tersebut, terlebih lagi saat Iyan menjawab.


"Saya terima nikah dan kawinnya Melati binti Gutama, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


"Sah!" begitu serentak beberapa orang saksi menjawab lalu mengucap syukur bersama-sama.


Acara yang sederhana, makan pagi dengan rasa kekeluargaan menjadi acara penutup ijab Kabul Iyan dan Melati.


Iya mendekati Melati yang sejak tadi murung dan menyendiri, dia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Melati.


"Sebentar lagi kita bisa pulang." ucap Iyan pelan.


"Aku hanya bersedih mengingat keadaan Ibu, tadinya dia sangat menyukaimu Mas, bahkan pernah mengatakan jika kau lebih baik daripada Mas Arka. Tapi sekarang dia malah seperti tak mengenal aku." Melati kembali meneteskan air mata setelah ijab yang juga membuatnya terharu.


"Kita akan pulang ke rumah kita, Ibu juga akan kita ajak." Iyan menghiburnya.


"Apakah sebaiknya kita tinggal di rumah saja Mas, tak pantas rasanya aku membawa Ibu pulang ke rumah orang tua Mas Iyan."


"Bapak kandung?" Melati menatap Iyan penuh tanyakan.


"Ya, kita sama saja. Menikah tanpa orang tua sebenarnya, yang saat ini kita punya hanyalah mereka." Iyan menunjuk semua keluarga yang sedang mengobrol setelah makan bersama.


Melati memperhatikan mereka, yang di katakan Iyan memanglah benar.


"Yan." Paman Aryo memanggil Iyan.


"Iya Paman." Iyan memutar posisi duduknya menghadap Aryo.


"Aku akan ke rumah kalian bersama Bule mu untuk mengurus Mbak Nur. Nanti sore ustad Ahmad akan kembali dan jika dia tak bisa datang ke rumah ibumu maka nanti terpaksa kita akan membawanya kemari." jelas Aryo.


"Itu lebih baik Paman, rumah Melati sudah tak nyaman untuk ditinggali saat ini." jawab Iyan tak menutupi apa yang dia lihat dan rasakan ketika di sana.


"Ya! Aku sangat lega setelah menikahkan kalian, Melati akan lebih aman bersamamu." Aryo melihat keponakannya sekilas, dia tahu Melati sedang memikirkan ibunya.


"Aku akan menjaga Melati Paman, aku akan membawanya pulang ke rumah." ucap Iyan.

__ADS_1


"Aku rasamemang itu lebih baik." Aryo menyetujui keputusan mereka.


Sore itu Aryo beserta istrinya memutuskan untuk membawa Ibu Nur ke rumah mereka. Sedangkan Melati dan Iyan tetap menunggu di rumah Paman Aryo.


"Apa boleh kita di sini dulu Mas?" tanya Melati pelan, takut Iyan keberatan dengan situasi ini.


"Tentu saja, Mas masih bisa tahan kok." Iyan menaikkan alisnya menggoda Melati.


"Maaf ya Mas." Melati menyelipkan tangannya di antara bahu Iyan, sekarang memeluknya lebih dulu tidak akan canggung lagi bagi Melati. Berbeda jika masih pacaran, Iyan tampak membatasi kedekatan mereka.


"Yang penting kamu sudah menjadi milikku, jadi aku tak perlu panas jika tiba-tiba Arka datang dan mengatakan Melati adalah miliknya." Iyan memeluk Melati dan mengecup pucuk kepalanya.


"Aku memang milikmu Mas." jawab Melati menyukai pelukan Iyan, hangat dan menenangkan.


"Kita lagi berdua ini." Iyan menggoda Melati, teringat jika sedang pacaran Iyan sering sekali menggoda dan menggantung Melati.


"Melati mau minta dicium." Melati mendongak Iyan dan memandangi wajahnya.


Iyan terkekeh dengan permintaan istrinya yang sudah tidak sabar dengan rasa yang membuatnya penasaran.


"Yang mana?" Iyan menunduk wajah cantik di dadanya.


Melati tak mau menjawab, karena dia tahu Iyan sedang menggodanya lagi.


"Yang ini?" Iyan mengecup keningnya.


"Atau yang ini?" Iyan melanjutkan pipinya.


Sedikit memejamkan mata Melati hanya menikmati sentuhan di wajahnya, membiarkan Iyan menciumnya hingga puas, kemudian berlabuh di bibir merah muda miliknya.


Kembali rasa yang berbeda itu hadir menggelitik jiwa Melati, entah bagaimana caranya Iyan bisa membuatnya melayang seperti akan mencapai puncak hanya dengan permainan lembut dibibir Melati. Terlebih lagi saat ini mereka hanya berdua, duduk di sofa empuk dan menikmati suasana sore pengantin baru. Ciuman Iyan semakin dalam, halus dan hangat.


Hingga beberapa saat barulah Iyan melepaskan ciumannya. Dia menyukai wajah Melati yang sepertinya tak bisa menahan untuk di habisi semuanya, merasakan segala-galanya.


"Mas tidak tahan ingin menghabisimu, tapi sayang belum waktunya." bisik Iyan mengadu keningnya dengan Melati, nafasnya memburu dan sedikit sesak di bawah sana melihat Melati yang cantik semakin pasrah di pelukannya.


"Mau mas." jawab Melati dengan sengaja, dia juga merasakan hal yang sama bahkan sudah sejak lama. Iyan Rahendra berhasil membuat Melati tergila-gila dengan perlakuan lembutnya.

__ADS_1


__ADS_2